
Kevin yang merasa di perhatikan oleh Aluna pun jadi merasa canggung hingga membuatnya jadi salah tingkah. Tapi Kevin mempunyai sedikit rasa penasaran ketika Aluna terus menerus memperhatikannya.
“Kenapa nona itu dari tadi terus memperhatikanku? Apa ada yang salah dari penampilanku?” Gumam Kevin yang kemudian bercermin di pintu jendela kaca bus tersebut. Dia menoleh ke kanan lalu ke kiri untuk memastikan kondisi wajahnya, akan tetapi dia tidak menemui sesuatu hal yang aneh di area wajahnya. Dia pun kembali menatap Aluna sambil memberikan senyum manis nya.
Hal itu pun dibalas oleh Aluna yang juga memberikan senyuman manisnya kepada Kevin seperti malu-malu kucing. Mereka saling pandang memandang dan juga saling menyapa walau hanya sekedar memberikan senyuman lewat bibir mereka masing-masing.
Akan tetapi hal memalukan kembali Aluna jumpai ketika sang kernet bus itu meminta ongkos dari seluruh penumpang yang ada di dalam bus tersebut. Tepat di saat sang Kernet meminta ongkos kepada Aluna, tangan Aluna segera merogoh ke dalam tasnya. Namun tiba-tiba kedua matanya membulat sempurna sembari tangannya terus merogoh tasnya ke dalam sana bahkan juga wajahnya tiba-tiba terlihat tegang saat dia mengetahui kalau ternyata dompetnya ketinggalan di rumah dan bahkan dia pun juga tidak membawa uang cash sama sekali saat itu.
“Mana non ongkosnya?” Tanya sang kernet yang sudah berdiri lama di samping seat penumpang yang Aluna duduki.
Dengan memasang wajah gugup Aluna pun meminta maaf kepada sang kernet.
“Bang, maaf ya, ternyata dompetku ketinggalan,” ucap Aluna lirih dengan wajah setengah memelas kepada sang kernet.
Sang kernet yang mendengar alasan dari Aluna pun seketika langsung kesal dia lalu menyuruh sang supir untuk menghentikan laju kendaraannya saat itu juga dengan maksud ingin menurunkan Aluna di tengah jalan. Karena merasa panik Aluna lalu memohon kepada sang kernet agar tidak di turunkan di jalan, sebab dia sudah dikejar waktu untuk pergi ke kampus.
“Bang, tolong jangan turunkan saya di tengah jalan seperti ini. Saya ada ujian di kampus sekarang. Saya benar-benar lupa bawa dompet bang, dan saya juga tidak membawa uang cash sama sekali. Saya mohon bang. Saya janji saya akan membayar dua kali lipat besok.” Rungut Aluna sembari mengatupkan kedua tangannya di hadapan sang kernet agar tidak diturunkan di tengah jalan.
“Tidak bisa gitu nona, kami juga sedang mengejar setoran. Kalau nona tidak bisa membayar ongkosnya sebaiknya Nona turun aja di sini!” Seru sang Kernet dengan tegas.
Keributan itu membuat semua penumpang memperhatikan Aluna begitu pula juga dengan Kevin, dia pun segera bergegas jalan menghampiri Aluna melewati tubuh penumpang yang lain.
"Permisi, maaf. Permisi sebentar ya." Ucap Kevin yang tengah berusaha melewati para penumpang lainnya.
Seusai langkah kakinya sudah dekat dengan kursi Aluna, dia segera memberikan bantuan kepada Aluna.
“Maaf bang, bukannya saya mau ikut campur. Tapi biar saya aja yang akan bayar ongkos nona ini.” Ucap Kevin sambil merogoh kantong celana yang kala itu sedang dia kenakan untuk mengambil sebuah dompet.
__ADS_1
“Kira-kira habis berapa ongkos untuk kita berdua?” Tanya Kevin sambil membuka isi dompet karena hendak akan mengeluarkan selembar uang kertas.
“Ongkos nona ini sepuluh ribu, kalau kamu delapan ribu rupiah.” Jawab tukang kernet bus tersebut.
“Baik bang. Ini uangnya, kembaliannya ambil aja bang.” Ucap Kevin sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribu kepada sang kernet dan sang kernet itu pun lanjut menagih ke penumpang yang lainnya setelah urusannya selesai.
Sungguh hari itu sepertinya dewi keberuntungan sedang tidak berpihak kepada Aluna dan bahkan mungkin peribahasa untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak inilah yang cocok untuk Aluna.
Tak lupa Aluna segera mengucapkan terima kasih kepada Kevin karena sudah mau menolong dirinya.
“Terima kasih ya. Maaf sudah merepotkanmu. Emm, tapi aku janji akan mengembalikan uangmu jika kita bertemu lagi.” Kata Aluna sembari memasang wajah tidak enak terhadap Kevin.
“Tenang nona, tidak usah kau pikirkan.” Jawab Kevin dengan santainya.
Selepas itu Aluna kembali menundukkan pandangannya sambil merasa malu terhadap pria tersebut. Beberapa saat kemudian sampailah bus itu ke tempat tujuan Kevin, Kevin kemudian segera turun dari dalam bus tersebut dengan pandangan yang terus memperhatikan Aluna. Bahkan pandangan Kevin tak tergoyahkan untuk terus memperhatikan wajah cantik milik Aluna dari luar bus walau Kevin telah berhasil berjalan keluar sampai di pinggir jalan. Ia tersenyum senyum sendiri karena dia merasa senang bisa bertemu dengan wanita cantik tersebut.
Kevin mencoba berlari mengejar bus tersebut namun apalah daya tenaganya kalah cepat dengan bus kota itu.
“Agh! Kenapa aku tol*l banget sih! Harusnya tadi aku tuh tanya nama dia dan juga minta nomer hp-nya! Beg*k! Beg*k!” Gerutu Kevin yang sambil menghantam keras udara di sekitarnya.
Sementara setelah bus itu jalan, Aluna kembali membuka buku dan lanjut melukis wajah pria yang tak lain ialah Kevin pria gagah yang dia temui di dalam bus tadi. Dia terus tersenyum mengingat kejadian yang terjadi pagi itu apalagi saat tanpa sengaja dirinya jatuh di pelukan Kevin.
Bahkan dia merasa ada rasa yang berbeda saat bertemu dengan pria itu.
“Tampan sekali pria tadi… Seharusnya aku tadi berkenalan dengannya karena dia sudah mau menolongku.” Gumam Aluna yang terus memperhatikan skema lukisan wajah kevin yang dia lukis sendiri saat dalam perjalanan.
***
__ADS_1
Siang hari saat Aluna telah selesai mengikuti ujian mata kuliah, kini waktunya dia harus pulang. Namun sebelum dia pulang ke rumah dia sengaja ingin duduk di kursi yang ada di taman kampus. Ketika ia sedang asyik melukis tiba-tiba dia dikagetkan oleh kedatangan Olivia, sahabat dekat Aluna selama ini.
“Ddoorrr!” Teriak Olivia mengagetkan sahabatnya yang sedang duduk sendiri.
“Olivia!” Seru Aluna yang kaget bukan main.
“Sialan lu ya!” Imbuh Aluna sambil memukul pelan tubuh Olivia karena kesal.
Olivia justru tertawa terbahak-bahak ketika melihat Aluna kesal terhadapnya.
“Maaf, maaf, maaf.” Kata Olivia yang kemudian duduk di samping sahabatnya tersebut.
“Untung jantung gue nggak copot!” tutur Aluna yang kembali menggoreskan tintanya di lembaran buku tulis yang sedang dia bawa.
Olivia yang masih tertawa pun melirik ke arah buku Aluna. Sebab dia penasaran dengan apa yang Aluna lukis.
“Lagi ngelukis siapa sih Lun?” Tanya Olivia penasaran.
“Kepo!” Jawab Aluna singkat tanpa menoleh ke arah wajah Olivia sedikit pun.
“Ye ileh gitu amat sih.” Balas Olivia.
“Ada deh. Ha… Ha… Ha…” Jawab Aluna yang kemudian tertawa tipis.
“Sekarang rahasia-rahasiaan nih ceritanya. Okey, gue pulang!” Ucap Olivia yang berpura-pura merajuk.
Bersambung...
__ADS_1