
Selepas Jack menyuruh kedua anak buah pergi, Aluna segera memohon diri untuk pulang.
“Em, Vin makasih ya atas semuanya. Sekali lagi maaf karena aku terlalu banyak merepotkan mu.” Kata Aluna dengan wajah tersipu malu.
Sedangkan Kevin hanya terdiam sambil mengembangkan senyuman manisnya saja.
“Kalau gitu saya pergi dulu. Bye Kevin…” pamit Aluna yang hendak mau pergi dari ambang pintu tersebut sambil melambaikan tangannya.
“Tunggu Nona.” Pekik Kevin menghentikan langkah kaki Aluna.
Aluna menoleh sembari mengernyitkan dahinya .
“Tunggu sebentar.” Kevin segera berlari ke dalam messnya entah apa yang hendak akan dia ambil.
Aluna menunggu sembari merasa kedinginan di luar sana. Namun tak lama Kevin keluar sambil menyangking sebuah jaket tebal miliknya.
“Pakailah, kau pasti butuh ini untuk menghangatkan tubuhmu di dalam perjalanan pulang nanti.” Kevin menyodorkan jaket miliknya itu kepada Aluna.
Awalnya Aluna menolak dia merasa tidak enak hati karena sudah terlalu banyak merepotkan Kevin. Tapi Kevin terus memaksa dengan caranya yang tenang dan santai hingga membuat Aluna mau menerima tawarannya tersebut.
“Baiklah akan aku pakai. Sekali lagi terima kasih ya Vin.” Ucap Aluna sambil menerima jaket tersebut.
Kevin pun segera membantu Aluna membalutkan jaketnya ke tubuh gadis itu hingga membuatnya jadi salah tingkah dan kembali dia berpamit lagi dari tempat tersebut.
“Sungguh, dia pria yang hangat.” Batin Aluna tersipu malu mengingat sikap Kevin yang sangat sopan dan baik.
“Kalu begitu aku permisi dulu ya, Vin.” Pamit Aluna lagi.
“Silahkan Nona.” Balas Kevin.
“Pak, tolong antarkan Nona ini pulang dengan selamat ya.” Imbuh Kevin meminta dengan nada hormat kepada pak supir.
“Baik tuan.” Jawab sang supir setengah menundukkan tubuhnya.
“Mari Non, kita pulang.” Sambung sang supir sambil mempersilahkan Aluna untuk berjalan terlebih dulu di depannya.
__ADS_1
Aluna lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mess milik Kevin sembari sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihat Kevin.
Dalam perjalanan pulang, Aluna terus menggenggam jaket yang kini terbalut di tubuhnya dan bahkan dia juga tak berhenti mencium aroma wangi yang khas dari jaket tersebut. Dia sandarkan kepalanya di jendela mobil sambil tersenyum sendiri mengingat sikap Kevin yang hangat kepadanya.
“Sungguh dia pria yang sangat baik. Aku bersyukur bisa bertemu dengannya.” Ucap Aluna dari dalam hati dan pikirannya terus terbayang-bayang akan ketampanan wajah Kevin.
***
Sesampainya di rumah, Aluna di bangunkan oleh sang supir karena dia terlelap tidur saat dalam perjalanan pulang. Sang supir keluar dari mobil dan sengaja mengetuk kaca jendela pintu di sisi samping sandaran kepala majikannya tersebut.
Tok, tok, tok.
“Nona kita sudah sampai.” Sang supir pun mencoba membangunkan Aluna dengan pelan dan sopan, sebab dia tak mau mengagetkan Aluna.
Aluna mengerjapkan kedua matanya ia menguap dan terbangun saat setelah mendengar suara sang supir dari balik pintu mobilnya.
“Iya pak.” Jawab Aluna yang kemudian turun dari mobil.
Kedua kaki Aluna berjalan masuk ke dalam. Rumah mewah itu terlihat sepi, dan sepertinya semua penghuni rumah sudah tertidur lelap. Waktu menunjukan pukul tiga pagi Aluna pun baru saja sampai di rumah.
“Sungguh, malam ini sangat dingin sekali tidak seperti biasanya.” Batin Aluna yang mempercepat langkah kakinya menaiki anak tangga hendak berjalan ke kamarnya.
Namun di saat dirinya sudah berdiri di kamarnya dan akan membuka pintu , tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang mendekati dirinya dari arah samping kamar. Bahkan dia juga mendengar suara deheman seorang laki-laki.
“Ehem…”
Seketika Aluna menoleh ke samping tepat di pusat suara tersebut.
“Kakak.” Sapa Aluna.
“Kau baru pulang?” Tanya David.
“Iya.” Jawab Aluna.
“Kenapa kau terlihat berantakan sekali? Mana gaunmu? Apa yang terjadi denganmu, Aluna?!” Tanya David.
__ADS_1
Beberapa pertanyaan sengaja David lontarkan kepada adiknya, agar dia bisa tau alasan apa yang membuat adiknya bisa jadi seperti ini. Namun Aluna sengaja diam dan dia lanjut membuka pintu kamarnya.
“Aluna, aku tanya sama kamu?” seru David setengah kasihan melihat adik semata wayangnya yang terlihat lusuh.
Seketika Aluna menarik tangan David dan mengajak David masuk ke dalam kamar, dia tak mau kalau ayah dan ibunya mendengar percakapan mereka berdua, sebab kedua orang tua Aluna sangat dekat dengan Jack. David bingung akan sikap adiknya, walaupun dia sudah tau cerita yang terjadi di Villa tadi dalam versi Jack.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar, seketika Aluna langsung memeluk David dan menangis terisak di pelukan kakaknya tersebut. Sebagai kakak yang baik, David mengusap lembut kepala sang adik dan berusaha menenangkannya.
“Aluna, kenapa kau justru menangis? Apa yang terjadi?” Tanya David.
Aluna kemudian mengajak David duduk, dia lalu menceritakan kejadian saat Jack tiba-tiba membuat rusuh di acara pesta ulang tahun temannya tadi. Dia juga cerita bagaimana malunya dia di depan semua teman-temannya saat Jack datang dan membuat keonaran di acara pesta tadi. Sebetulnya Aluna tak ingin menceritakan kejadian ini kepada kakaknya sebab dia tau hubungan David dengan Jack sangat dekat, bahkan Jack sudah dianggap seperti keluarga oleh kakaknya tersebut.
“Aku sangat muak dengan sikap Jack tadi kak! Dia sudah sangat keterlaluan! Hisk… Hisk… Hisk…” Terang Aluna sambil menangis.
“Emm, ya kakak tau bagaimana perasaanmu sekarang. Tapi kau juga jangan terlalu berfikir negatif kepada dia. Jack melakukan itu semata-mata hanya karena mau melindungimu.” David berusaha menenangkan Aluna walau dia tau Jack sangat tergila-gila dengan adiknya.
“Tapi kak, dia itu kasar banget. Banyak teman-teman pria yang takut berteman sama aku. Mereka takut jika mereka di pukul oleh Jack.” Rengek Aluna yang suaranya terdengar manja.
“Kak, kumohon bicaralah dengan Jack, suruh dia berhenti ikut campur urusanku.” Sambung Aluna sambil mengatupkan kedua tangannya di hadapan David.
Bukannya menjawab ucapan Aluna, David justru tertawa lepas saat mendengar sikap adiknya itu merengek manja.
“Ha… ha… ha… Aluna, Aluna… Okey, okey. Besok kakak akan bicarakan ini dengan Jack. Jadi kau tidak perlu bersedih lagi ya.” David berusaha mendinginkan suasana hati adiknya tersebut.
“Sekarang waktunya kamu istirahat. Kakak akan kembali ke kamar. Cepat ganti bajumu itu, lalu tidurlah.” Pinta David yang terdengar peduli.
Aluna mengangguk pelan sambil berkata, “Baik kak. Tapi kakak janji kan mau bilang itu sama Jack? Aku nggak suka dia terlalu banyak ikut campur mengenai hidupku.”
“Iya-iya, besok kakak akan bicara dengannya.” David kemudian bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamar Aluna.
Selama ini Jack memang tidak pernah menceritakan apapun tentang isi hatinya terhadap Aluna kepada David. Namun dari sikap dan cara Jack sudah terlihat jelas bahwa dia sangat mencintai adiknya tersebut. Sedangkan Jack tidak hanya dekat dengan David saja, dia juga sudah sangat dekat dengan seluruh anggota keluarga Andreson. Bahkan dia sudah dianggap seperti keluarga sendiri karena kedekatannya terhadap keluarga Andreson, maka mereka semua mengira Jack adalah pria yang baik. Akan tetapi sejak pertama kali Aluna mengenal Jack, ia merasa Jack bukanlah orang baik. Hanya Aluna saja yang bisa merasakan hal itu. Entah karena dia risih dengan sikap Jack yang terus menerus ikut campur dalam urusan hidup Aluna atau memang sebenarnya Jack bukan lah orang yang baik.
Bersambung…
__ADS_1