ISTRI TAWANAN SANG MAFIA

ISTRI TAWANAN SANG MAFIA
Harapan Yang Besar


__ADS_3

Aluna kemudian menarik tangan Olivia yang hendak mau bangkit berdiri ia lalu menceritakan kejadian saat dia bertemu dengan Kevin di bus tadi dan bahkan dia juga terus tersenyum-senyum sendiri membayangkan wajah tampan yang terus menetap di ingatannya.


“Setampan apa sih pria itu? Mana sini aku lihat skema wajahnya!” Olivia lalu merampas buku itu dari tangan Aluna, dia perhatikan setiap detail skema wajah tersebut sambil membayangkan wajah asli yang ada di buku itu.


“Ini? Emm, nggak ganteng-ganteng banget sih kalau menurut aku. Kayaknya tetep gantengan Jack deh Lun.” Ucap Olivia.


Seketika Aluna kesal, sebab Olivia tidak sependapat dengannya. Dia justru mengatakan sesuatu yang dia benci.


“Jack! Mata lu rabun apa Liv. Jelas-jelas ganteng cowok ini dari pada Jack!” Tangkas Aluna yang kemudian merampas kasar bukunya lagi dari genggaman tangan Olivia.


“Ya itu kan menurut aku Lun. Harusnya kamu tuh bersyukur, banyak banget cowok tajir, cakep yang deketin kamu. Sekarang kurangnya Jack apa coba, dia udah mapan, kaya, cakep, apalagi dia juga cowok berkelas. Tentang harta? Ya sepadan lah sama kamu Lun. Dia kan tajir melintir. Ha… Ha… Ha…” Tutur Olivia.


“Basi lu, Liv. Udah ah, aku pergi dulu! Males dengerin kamu yang seneng banget mengagung-agungkan Jack!” Balas Aluna yang seketika langsung bangkit berdiri hendak meninggalkan Olivia di kursi taman itu sendiri.


Namun Olivia juga ikut bangkit berdiri dan berjalan membuntuti sahabatnya dari belakang. Ia juga meminta maaf karena telah membuat Aluna kesal.


Sore pun tiba, Aluna kini telah sampai di rumah. Ia lalu berjalan masuk rumah sambil menyapa Keithen yang sedang sibuk membaca majalahnya.


“Siang ma.” Sapa Aluna yang terus berjalan menuju ke anak tangga.


“Siang sayang, kamu sudah pulang?” Tanya Keithen dengan pandangan yang terus memperhatikan majalah yang sedang dipegangnya.


“Iya ma, aku udah pulang.” Jawab Alun yang kemudian berjalan menaiki anak tangga.


Lima menit kemudian sampailah Aluna di kamarnya, dia kemudian segera mengambil buku yang terdapat lukisan skema wajah pria tadi. Entah mengapa tiba-tiba dia ingin melukis wajah pria itu di atas kanvas dengan ukuran yang cukup besar dan bahkan dia juga ingin menempelkan lukisan tersebut di dinding kamarnya.


Akan tetapi ditengah dia sedang serius melukis mendadak terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.


Tok, tok, tok…


Aluna pun mempersilahkan masuk orang yang mengetuk pintu kamarnya tersebut.


“Masuk!” Seru Aluna dari dalam kamar dengan tangan yang terus sibuk menggoreskan tinta di atas kanvas.

__ADS_1


Cklek!


Pintu kini telah dibuka oleh salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya.


“Non,” sapa pelayan tersebut sambil menutup pelan pintu kamar Aluna.


“Ada apa bi?” Tanya Aluna tanpa melihat ke arah pelayan tersebut.


Seperti biasa, berhubung Aluna adalah anak dari orang konglomerat, setiap kali dia pulang dari kampus atau dari mana pun Keithen selalu memberikan tugas kepada salah seorang pelayan untuk memberes barang-barang Aluna yang berserakan seusai Aluna pulang dari manapun, barang-barang itu seperti sepatu, tas dan barang simple lainnya.


“Saya mau membereskan barang-barang Nona Aluna.” Jawab pelayan tersebut sambil berjalan menuju ke arah tas yang Aluna geletakan begitu saja di atas kasur. Pelayan itu sekilas melirik ke arah Aluna dia memperhatikan lukisan yang aluna lukis saat itu. Sebut saja Bu Laksmi ia adalah seorang pelayan yang sudah lama menjadi pekerja di rumah kediaman Andreson Luis. Bahkan dia juga begitu sangat dekat dengan keluarga majikannya. Andreson dan juga Keithen menganggap bu Laksmi sudah seperti saudaranya sendiri namun bu Laksmi tetap menjaga sikap dan membatasi dirinya walau hubungan dia sangat dekat dengan semua majikannya.


“Siapa yang nona lukis? Saya seperti belum pernah melihat pria ini?” Celetuk pelayan yang bernama bu Laksmi itu sembari berdiri di belakang punggung Aluna.


Aluna terdiam ia kemudian menatap wajah Bu Laksmi.


“Dia ini pria yang baik dan sopan.” Jawab Aluna yang kembali membalikkan pandangannya ke arah lukisannya.


“Apa ini teman nona yang ada di kampus? Tapi sepertinya bibi belum pernah melihatnya, Non.” Bu Laksmi terus memperhatikan dengan detail sambil menggenggam tas dan sepatu ket milik Aluna.


“Ya sudah Non, bibi keluar ya Non.” Bu Laksmi kemudian berjalan menuju pintu kamar Aluna dan keluar setelah selesai membereskan semua barang-barang Aluna.


Di sisi lain, hal yang sama juga terjadi terhadap Kevin. Bayangan wajah cantik nan indah terus terbayang dalam pikiran Kevin. Dia seakan tak bisa berhenti membayangkan senyuman manis yang Aluna berikan saat mereka bertemu di bus tadi.


Bahkan dia juga berharap ingin bisa bertemu dengan wanita itu lagi. Setiap hari dia bangun lebih awal, dan menaiki bus yang sama seperti kemarin berharap supaya dia bisa bertemu dengan Aluna wanita yang dia jumpai saat beberapa hari kemarin. Akan tetapi untuk dua hari ini dia tak berjumpa dengan wanita itu. Rasa kecewa pun seketika menghampiri.


“Sudah dua hari ini aku tidak bertemu dengan wanita itu. Huft! Apa dia naik di bus yang berbeda?” Gumam Kevin dari dalam hati sambil menghela nafas panjang untuk melampiaskan kekecewaannya.


Selesai mata kuliah, Bastian sahabat dekat Kevin pun berlari menghampiri Kevin berniat ingin mengajak Kevin makan di mall.


“Vin,” sapa Bastian.


“Kenapa Bas,” tanya Kevin dengan wajah yang terlihat  murung.

__ADS_1


“Aku perhatikan dua hari ini wajahmu sangat murung sekali. Ada apa? Apa kamu lagi punya masalah?” Tanya Bastian sedikit mengernyitkan dahinya.


Kevin kembali menghela nafas tanpa memberikan keterangan apapun terhadap Bastian.


“Woi! Ditanya malah diem aja!” Seru Bastian.


“Nggak ada apa-apa kok Bas.” Jawab Kevin setengah lesu.


“Temenin aku aja, yuk.” Bastian tiba-tiba mengajak Kevin pergi.


“Kemana?” Tanya Kevin penasaran.


“Cari kado buat cewekku.” Ucap Bastian.


Berhubung kala itu Kevin tak mempunyai kesibukan apapun, dengan senang hati Kevin akhirnya mau menemani sahabatnya pergi. Dalam perjalanan menuju ke mall saat mobil yang mereka kendarai berhenti di lampu merah, dan saat itu lah mobil itu berpapasan dengan sebuah bus yang sering Kevin tumpagi. Kevin pun terus memperhatikan dengan jeli setiap penumpang yang ada di dalam bus tersebut hingga membuat Bastian terheran.


“Vin, kamu nyari siapa sih?” Tanya Bastian yang begitu penasaran.


Akan tetapi Kevin tak menjawab sepatah kata pun, kedua matanya terus fokus ke arah penumpang bus yang terlihat hingga lampu berubah menjadi hijau dan bus itu pun melaju pergi.


“Vin, kamu lagi nyari siapa?” Tanya Bastian yang semakin penasaran.


“Owh, nggak apa-apa Bas.” Jawab Kevin singkat dengan wajah yang terlihat kesal.


“Apa di bus itu ada orang yang kamu kenal?” Tanya Bastian lagi.


“Sudah lupakan saja.” Balas Kevin yang kemudian meluruskan pandangannya ke arah depan.


Bastian lalu kembali melanjutkan perjalanannya lagi.


 


Besambung…

__ADS_1


 


__ADS_2