
Tapi mendadak Aluna memanggil nama Bu Laksmi hingga membuat Bu Laksmi menghentikan langkahnya sejenak.
“Bi,” seru Aluna yang kemudian berjalan mendekati asisten rumah tangga tersebut.
Bu Laksmi menoleh ke arah Aluna, “Iya Non, ada apa?” Tanya Bu Laksmi.
“Bi, tolong jangan ceritakan ini semua pada mama dan papa ya. Rahasiakan ini dari mereka. Biar mereka tau sendiri gimana sikap Jack yang sebenarnya.” Pita Aluna dengan nada serak.
Sementara wajah Bu Laksmi menunjukan kalau dirinya merasa prihatin dengan nasib yang dialami Aluna.
“Baik Non. Bibi akan diam. Kalau begitu, bibi permisi mau keluar dulu ya, Non.” Pamit bu Laksmi yang sengaja tak ingin berlama-lama di sana.
Bu Laksmi kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar Aluna. Setelah pintu ditutup nampak terlihat jelas kedua mata bu Laksmi berkaca-kaca. Ia merasa kasihan melihat nasib Aluna yang sering diusik dan diganggu oleh Jack.
“Astaghfirullah, kasihan sekali Nona Aluna, dia pasti merasa tertekan dengan sikap Tuan Jack. Semoga Nona Aluna bisa kuat.” Batin Bu Laksmi yang masih berdiri di luar kamar Aluna sambil menghela nafas panjangnya.
***
Beberapa hari kemudian, selesai kuliah Aluna bersama Olivia pergi mencari makan siang di resto. Mereka berdua memilih kursi di area outdoor resto tersebut setelah mereka selesai memesan beberapa menu makanan yang hendak akan mereka santap.
Dari kejauhan kedua mata Aluna terfokus pada salah seorang pria yang bertubuh atletis. Aluna terus menatap nanar wajah pria itu untuk memastikan bahwa dia benar-benar mengenalnya.
Dan benar saja, setelah langkah kaki pria itu semakin dekat Aluna pun langsung menyapanya.
“Kevin!” Teriak Aluna sambil melambai-lambaikan tangannya mengarah ke arah Kevin.
Kevin menoleh ke pusat suara yang memanggil namanya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Aluna lagi.
“Hay…” Kevin membalas sapa Aluna dan dia pun langsung berjalan menghampiri Aluna.
“Nona Aluna, senang bisa bertemu denganmu lagi.” Kata Kevin dengan wajah yang nampak sumringah.
Sambil tersenyum manis dengan kedua pipi memerah jambu Aluna membalas ucapan Kevin, “Sama Kevin, aku juga senang bisa bertemu kamu lagi. Kamu mau ke mana? Atau dari mana?” Tanya Aluna.
“Aku habis dari kampus terus mau balik.” Jawab Kevin.
“Nggak keburu-buru mau pulang kan?” Tanya Aluna lagi.
__ADS_1
“Enggak sih.” Balas Kevin.
“Kalau gitu gabung aja sama kita.” Aluna mengajak Kevin untuk makan bersama-sama.
“Ta—tapi Nona,” suara Kevin terdengar ragu.
“Kenapa? Ayolah. Aku yang bayar sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah banyak membantuku, Vin.” Aluna memaksa Kevin lalu menarik tangannya dengan manja hingga membuat Kevin mau menerima tawarannya.
Mereka akhirnya duduk bertiga di meja resto. Wajah Aluna nampak terlihat ceria hal itu pun juga dirasakan oleh sahabatnya yang bernama Olivia sebab sejak dari awal bertemu dengan Olivia hingga sekarang, baru kali ini Olivia melihat wajah Aluna yang benar-benar ceria. Bahkan sikapnya juga nampak terlihat jelas kalau Aluna tertarik dengan pria yang bernama Kevin itu.
“Udah lama aku nggak pernah lihat dia seceria ini. Apa lagi jarang banget Aluna bisa welcome sama cowok, sepertinya dia benar-benar menyukai pria ini.” Batin Olivia yang terus memperhatikan sahabatnya.
Waktu menunjukan pukul 15.20 tak terasa sudah hampir satu setengah jam mereka bertiga ngobrol di resto tersebut.
“Waduh Lun,” pekik Olivia yang membuat Kevin atau Aluna menoleh ke arahnya.
“Kenapa Liv?” Tanya Aluna.
“Nggak kerasa kita udah satu jam setengah loh di sini. Kamu mau pulang nggak Lun?” Tanya Olivia sambil merapikan barang bawaannya.
“Tapi nanti jam empat aku sudah ada janji, Lun.” Terang Olivia.
Sambil melihat jam tangan yang melilit di tangannya Aluna menjawab, “Sepuluh menit lagi ya. Ayolah. Lagi pula jam empat masih lama.”
Karena sudah merasa nyaman bercakap-cakap dengan Kevin, berat bagi Aluna untuk berpisah dengannya.
“Atau kalau nggak, biar aku yang antar kamu pulang. Gimana? Apa kamu mau?” Kevin mendadak memberikan tawaran kepada Aluna, agar Olivia bisa lebih dulu pulang.
“Nah, gitu juga boleh Vin. Aku keburu-buru nih soalnya, aku titip Aluna ya Vin. Tolong antar dia pulang.” Kata Olivia yang kemudian beranjak berdiri dari tempat duduknya lalu pergi setelah meraih tas selempang milik dirinya tersebut.
Sementara itu Aluna dan Kevin kembali menyambung pembicaraan mengenai topik yang menarik. Sejak dari situlah hubungan mereka berdua semakin dekat. Hampir setiap hari Aluna selalu di jemput oleh Kevin saat hendak mau berangkat kuliah. Tapi batas penjemputan dan pengantaran pulang hanya sampai di depan jalan raya saja, Aluna sengaja tak mau di antar atau di di jemput di depan rumahnya. Dia tak mau Kevin tau kalau ternyata Aluna adalah anak dari keluarga konglomerat, walau saat di telaga kemarin Kevin tau kalau Aluna memiliki supir pribadi. Tapi setidaknya Kevin jangan sampai tau jika yang sesungguhnya tempat tinggal Aluna bak seperti istana yang megah dengan bangunan yang menjulang tinggi.
Beberapa hari kemudian Kevin mengajak Aluna ke suatu tempat di daerah perbukitan dengan keindahan panorama yang masih di bilang asri. Hamparan sawah yang menghijau di tambah rimbunnya pepohonan di kawasan tersebut membuat kesan tersendiri bagi Aluna. Sebab dia baru pertama kali bisa pergi ke tempat yang indah serta sejuk seperti ini, tempat yang jauh dari perkotaan dan kebisingan kendaraan yang lalu lalang setiap hari. Kevin menghentikan kendaraan tua roda dua itu di sebuah tempat sepi diatas bukit. Dia sengaja mengajak Aluna supaya Aluna bisa melukis di tempat yang jauh dari keramaian.
“Indah sekali pemandangannya, Vin.” Ucap Aluna yang tak henti menatap pemandangan dari atas bukit.
“Apa Nona suka?” Tanya Kevin.
__ADS_1
“Ya, aku menyukainya.” Balas Aluna yang kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel miliknya itu.
Ternyata Aluna mengeluarkan sebuah buku gambar beserta alat lukis lainnya. Sementara Kevin menemani Aluna duduk di sebelahnya. Hampir sekitar tiga puluh menit lamanya Aluna kini telah selesai melukis pemandangan tersebut. Kevin memberikan pujian atas lukisan tersebut karena memang lukisan itu sangatlah bagus.
“Bagus sekali lukisan Nona.” Ucap Kevin dengan kedua mata yang terus menatap nanar lukisan itu.
“Terima kasih Vin. Lagi pula tempat ini juga sangat indah sekali.” Balas Aluna sambil tersenyum manis dihadapan Kevin.
“Aku sering datang ke sini sendiri.” Ucap Kevin sembari duduk menekuk lutut dengan tatapan yang terus mengarah ke depan menatap pemandangan di sana.
“Kenapa sendiri? Kau bisa ajak temanmu untuk datang kemari kan?” Tanya Aluna yang tangannya masih sibuk memperbaiki lukisannya.
“Nggak ada. Nona adalah orang pertama yang aku ajak kemari.” Jawab Kevin hingga membuat Aluna menghentikan aktivitasnya sejenak.
“Aku?” Tanya Aluna sembari menuding dirinya sendiri.
Kevin pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kenapa aku, Vin. Kau ini pria baik, pasti kau juga memiliki banyak teman wanita kan?” Tanya Aluna lagi dengan wajah penasaran.
“Aku memang memiliki banyak teman wanita, tapi hanya satu wanita saja yang membuat aku jatuh cinta dari awal aku bertemu dengannya.” Ucap Kevin yang kemudian menatap ke arah Aluna.
Aluna terdiam sambil mengulum senyum dengan wajah yang nampak semakin buncah dan dia pun hanya bisa bergumam, “Ternyata Kevin sudah memiliki seorang wanita yang dia sukai. Harapanku untuk menjadi kekasihnya pun sepertinya pupus.” Batin Aluna.
“Memang siapa wanita yang kau maksud itu, Vin?” Tanya Aluna yang kembali menyibukkan dirinya mencoret-coret Kanvas.
Bersambung…
__ADS_1