
Kini sampailah mobil Bastian di sebuah Mall yang mereka tuju. Mereka berdua lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung Mall melalui pintu Basement Mall tersebut. Sekitar hampir setengah jam lamanya mereka berdua kini telah menemukan barang yang mereka inginkan.
Karena sudah setengah jam mereka telah mengitari lantai empat, Bastian pun kemudian mengajak Kevin untuk pergi mencari makan siang.
“Vin, perutku udah keroncongan nih. Kita cari makan yuk.” Ajak Bastian.
Kevin pun mengiyakan ajakan Bastian.
Berhubung mereka berdua tadi masuk ke dalam gedung mall melalui basement lalu naik lift menuju ke lantai empat, mereka berdua pun kemudian turun ke lobby untuk mencari makan di lantai bawah. Akan tetapi mereka mendadak terkejut saat melihat sebuah pandangan yang berada di depan pintu masuk Mall. Sementara saat itu di Lobby sedang di adakan acara pameran lukisan. Banyak sekali lukisan yang terpasang, namun hanya ada satu buah lukisan sketsa wajah yang terbentang begitu besar. Bastian yang melihatnya pun nampak terkejut bahkan dirinya begitu antusias menatap lukisan itu, sebab dia sangat kenal sekali dengan sketsa wajah di lukisan tersebut.
“Vin, Vin, bukannya itu wajah kamu ya?” Tanya Bastian sambil menepuk pundak Kevin dengan pandangan yang terus menatap ke arah lukisan.
Kevin hanya terdiam dan bahkan dia pun juga ikut terkesima pada lukisan itu.
“Siapa orang yang mau melukis wajahku dengan begitu sempurna seperti ini?” Ucap Kevin lirih yang kemudian berjalan mendekati lukisan tersebut.
Sementara tepat di bawah lukisan tersebut terdapat sebuah Note yang bertuliskan:
“Terima Kasih, senang bertemu dengan pria baik sepertimu.”
-Aluna Ls-
Entah mengapa Kevin tak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari lukisan itu. Selepas membaca Note yang di cantumkan di lukisan itu seketika Kevin berlari mencari wanita yang meninggalkan nama di lukisan tersebut.
“Aluna Ls, apa orang yang melukis ini bernama Aluna? Dimana dia, dimana dia sekarang, aku ingin bertemu dengannya.” Ucap Kevin sendiri sambil menoleh ke semua arah untuk mencari pelukis yang sudah melukis wajahnya itu. Hal itu membuat Bastian bingung.
__ADS_1
Namun tanpa berpikir panjang Kevin segera mencari salah seorang panitia yang mengadakan pameran lukisan tersebut. Dia lalu bertanya mengenai lukisan sketsa wajah dirinya yang terpampang sempurna di atas kanvas yang menjulang tinggi.
“Permisi kak,” ucap Kevin memberikan salam saat dirinya menemui salah satu panitia yang sedang berjaga.
“Iya, ada yang bisa kami bantu kak?” Balas panitia tersebut.
“Kak, dimana pelukis yang memasang lukisan sketsa wajah itu?” Tanya Kevin dengan nafas terenggah-enggah.
“Maksud kakak lukisan yang besar itu?” Tanya panita tersebut sembari menuding ke arah lukisan yang di maksud.
Kevin mengangguk-anggukkan kepalanya dengan harapan orang tersebut akan memberitahukan kepada dirinya mengenai pelukis itu.
Akan tetapi ternyata kenyataannya tak sesuai dengan harapan, seorang panitia itu justru enggan memberikan identitas dari si pelukis kepada siapa pun. Dia juga menjelaskan apa adanya kepada Kevin hingga membuat Kevin sedikit kecewa.
“Jadi begitu kak, kami mohon maaf sekali karena dari pihak si pelukis memberikan pesan untuk tidak memberikan identitas dirinya kepada siapa pun dan kami harus benar-benar menjaganya. Kami harap kakak bisa paham dan mengerti maksud kami.” Jawab seorang panitia penyelenggara pameran tersebut.
Seusai mendengarkan penjelasan tersebut Kevin kemudian berjalan menghampiri Bastian hingga membuat Bastian semakin bingung.
“Vin kamu kenapa sih?! Apa kamu kenal sama orang yang ngelukis wajahmu itu?” Tanya Bastian.
Mereka berdua pun menunda niatnya untuk mencari makan, karena kala itu mood Kevin sedang tidak baik dan setelah itu mereka memutuskan untuk keluar dari gedung.
Setelah sampai halaman depan Mall tersebut Kevin lalu mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakan rokok itu untuk meluapkan kekecewaannya. Dia bahkan juga menceritakan semuanya kepada Kevin tentang bagaimana dia ingin sekali bertemu dengan wanita yang dia jumpai di bus tersebut beberapa waktu yang lalu.
“Owh, jadi itu yang membuatmu terlihat aneh belakangan ini. Tapi apa kamu yakin kalau yang melukis wajahmu itu dia?” Tanya Bastian.
“Aku yakin itu dia, sebab ketika aku sedang berada di dalam bus aku tak sengaja melihat beberapa lukisan di buku yang dia bawa waktu itu.” Jawab Kevin yang penuh dengan keyakinan.
“Tapi kenapa dia menyembunyikan identitasnya? Sementara dia juga memasang namanya di bawah lukisanmu.” Tutur Bastian yang juga ikut berpikir keras.
__ADS_1
“Entahlah. Aku sangat berharap bisa bertemu dengan dia lagi.” Jawab Kevin sembari sesekali menghisap sebatang rokok yang di gengamnya.
***
Satu minggu kemudian Kevin di minta oleh pamannya yang bernama paman Bernard untuk mempersiapkan beberapa speedboat-nya yang hendak akan di pakai oleh pengunjung. Paman Bernard adalah salah satu orang yang memiliki villa yang berada ditelaga, telaga tersebut terletak di lereng gunung dengan jarak kurang lebih 20 kilometer dari pusat kota. Villa tersebut saat itu hendak akan di pakai untuk acara pesta ulang tahun.
Dan butuh waktu kurang lebih tiga setengah jam untuk Kevin bisa sampai di telaga. Sesampainya di sana dia kemudian beristirahat sejenak di sebuah kamar khusus untuk para pekerja yang bekerja di villa tersebut. Kevin merebahkan tubuhnya di atas sebuah kasur empuk namun karena perjalanan yang lumayan jauh membuat dia lelah hingga tak terasa dia terlelap tidur. Satu jam kemudian Kevin bangun, ia langsung bergegas pergi ke telaga tempat speedboat itu berada.
“Astaga, kenapa aku pakai ketiduran segala sih tadi!” Gumam Kevin yang terus melangkahkan kakinya menuju ke tempat parkir speedboat.
Sesampainya disana dia segera melakukan pekerjaannya untuk mengecek semua mesin speedboat dengan maksud agar speedboat aman jika para pengunjung hendak akan menggunakannya. Bahkan dia juga harus cepat-cepat membersihkan kursi-kursi penumpang.
Selesailah sudah urusan Speedboat kini waktunya Kevin harus membersihan diri melakukan ritual mandi, karena nanti dia harus menjadi nahkoda untuk para penumpangnya.
Waktu menunjukan pukul 16.00 yang dimana panitia dan juga para penyelangga acara ulang tahun tersebut telah hadir ditelaga, tak lama setelah itu di susul dengan kedatangan para tamu undangan lainnya.
Tapi ada salah satu mobil mewah dengan merk Marcedez Benz Vision Maybach berwarna hitam mengkilau berhenti tepat di sisi samping Kevin. Nampak ada seorang penumpang cantik yang keluar dari dalam mobil dengan mengenakan gaun mini berwarna putih. Wanita itu terlihat begitu cantik bak bidadari yang baru saja turun dari khayangan.
Namun sayangnya di saat wanita itu keluar dari dalam mobil, Kevin sama sekali tidak melihat wajah wanita tersebut dan bahkan dia pun tak memperdulikannya.
Kevin kembali berjalan menuju ke telaga, akan tetapi tiba-tiba ponselnya berdiri. Ada sebuah panggilan masuk dari paman Bernard dan dia pun segera menerima panggilan tersebut.
“Paman Bernard.” Batin Kevin dengan pandangan yang hanya fokus melihat ke arah layar ponsel.
“Hallo paman.” Sapa Kevin dan mereka pun saling berbicang-binggang lewat panggilan masuk saat itu.
Akan tetapi entah kenapa indra pendengaran Kevin bercabang, dia tiba-tiba mendengar suara seorang wanita dari arah belakang, dia merasa tak asing dengan suara wanita tersebut.
Bersambung...
__ADS_1