
Tak lama kemudian, sampailah David di rumah sakit. David langsung turun dari mobil dan segera berjalan masuk ke dalam rumah sakit untuk menemui Aluna di sana.
Dari kejauhan tampak terlihat Aluna yang duduk seorang diri di kursi tunggu depan ruang UGD. David pun mempercepat langkah kakinya dengan dikawal dua antek-anteknya di belakang.
“Aluna!” Teriak David.
Mendengar namanya dipanggil, Aluna segera bangkit, dan berlari menghampiri David.
“Kakak…” Pekik Aluna yang langsung memeluk tubuh kakaknya begitu saja.
“Gimana kondisi temanmu itu?” Tanya David.
Aluna usap air matanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Dokter sampai sekarang belum juga keluar dari ruang UGD kak.” Terang Aluna dengan suaranya yang serak.
“Tenang Aluna, semua pasti akan baik-baik aja. Kakak akan temani kamu di sini.” Ujar David dan mereka berdua pun kemudian duduk bersama di tempat duduk tunggu pasien.
Aluna yang duduk di temani oleh David saat itu pun menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Dia juga mengatakan kalau dirinya cinta dengan pria yang saat ini sedang berada di dalam ruang UGD. Akan tetapi David tak mengindahkan ucapan adiknya tersebut, sebab sebelumnya perjodohan antara Jack dan Aluna sudah lama di bicarakan dan hanya tinggal menunggu waktu. Tapi David akan berusaha menggagalkan perjodohan itu walau tak ada satupun orang yang berani menentang keputusan Tuan Andreson. Dia tak ingin Aluna mendapatkan suami yang bersikap kasar seperti Jack.
Selang beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruang UGD, Aluna segera berlari menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi Kevin saat itu. Begitu pula dengan David yang juga berjalan membuntuti Aluna di belakangnya.
“Dokter, bagaimana keadaan teman saya dok?” Tanya Aluna dengan mata sembab akibat menangis terlalu lama.
Dokter yang tengah berdiri di hadapannya pun segera menjelaskan kondisi Kevin, “Jadi begini, kondisi pasien saat ini tidak parah dan peluru yang menancap di tubuh pasien sudah berhasil kami ambil. Kita hanya tinggal menunggu pasien siuman.”
Aluna dan David pun merasa lega saat mendengar kabar tersebut. Wajah yang tadinya nampak tegang kini berubah tenang, mimik wajah Aluna pun ikut senang waktu itu.
“Syukurlah. Aku takut jika terjadi sesuatu dengannya.” Umpatnya dari dalam hati.
Selepas memberikan penjelasan mengenai kondisi Kevin, dokter itu pun pergi untuk mengurus pasien yang lain.
***
__ADS_1
Seminggu kemudian selepas kejadian itu kini kondisi Kevin terlihat sudah membaik dan bahkan hubungan mereka berdua pun semakin lama semakin erat. Aluna memberanikan diri untuk membawa Kevin ke rumahnya dan berniat mau mengenalkan Kevin pada kedua orang tuanya.
Betapa senangnya Kevin saat itu, akan tetapi nyalinya mendadak ciut saat dia sudah berada di depan gerbang pintu rumah Aluna. Dia tak menduga wanita yang dia cintai ternyata adalah anak dari seorang konglomerat, sementara dia sadar kalau drajat yang dia miliki sangat berbeda jauh dengan Aluna.
“Nona,” ucap Kevin sambil tertegun melihat rumah megah bak istana itu.
“Iya, ada apa, Vin?” Tanya Aluna sedikit cemas.
“Rumah siapa ini?” Tanya Kevin.
Aluna hanya diam sambil tersenyum menyeringai, dia lalu menarik tangan Kevin untuk mengajak masuk kedalam rumahnya tersebut. Kevin terus melongo saat melihat isi di dalam rumah itu. Bagaimana tidak, sebab hampir semua Furniture yang ada di dalamnya terlihat mewah dan mahal.
“Vin, silahkan duduk dulu. Aku akan panggilkan papa sama mama aku dulu ya.” Kata Aluna yang kemudian pergi menemui Andreson dan Keithen di halaman belakang.
Kevin yang masih terkagum-kagum dengan istana tempat tinggal Aluna itu pun kemudian duduk di sofa ruang tamu, dan tak lama salah satu asisten rumah tangga Aluna datang menghampiri Kevin sambil menawarkan minuman untuknya.
“Selamat siang, Tuan. Maaf, Tuan mau minum apa?” Tanya asisten rumah tangga itu.
“A—air putih saja.” Jawab Kevin sambil.
Dalam hati Kevin bergumam, “Ini aku lagi mimpi atau enggak sih? Gila, rumahnya gede amat mirip istana, belum juga furniturenya semua mahal-mahal, di tambah pembantunya juga pake seragam kayak di film-film.”
Mungkin sikap Kevin terkesan sedikit norak, sebab memang baru pertama kali ini dia menginjakan kaki di rumah yang benar-benar besar dan megah seperti itu. Bahkan hampir semua para pekerja di rumah tersebut menggunakan seragam pelayan khusus berbeda dengan pelayan pada umumnya yang hanya menggunakan t-shirt dan sampiran serbet di pundaknya.
Kevin duduk sambil mengamati setiap sela-sela dinding ruang rumah itu, dan tak lama Aluna beserta kedua orang tuanya datang menemui Kevin. Seketika Kevin langsung beranjak berdiri, dia kemudian memberi salam pada Keithen dan Andreson.
“Selamat siang Om dan Tante.” Ucap Kevin yang suaranya terdengar sangat sopan.
Andreson membalas salam tersebut dan kemudian memintanya untuk duduk kembali.
“Iya, iya. Silahkan duduk.” Ucap Andreson.
Setelah semua sudah duduk, Aluna kemudian memperkenalkan Kevin ke mereka berdua.
__ADS_1
“Ma, Pa, kenalin ini temen aku, namanya Kevin.” Kata Aluna.
Kevin lalu menyodorkan tangannya bermaksud ingin mengajak jabat tangan dengan mereka berdua.
“Saya Kevin Om, Tante.” Ucap Kevin dengan sangat sopan.
Sementara itu Andreson melontarkan beberapa pertanyaan kepada Kevin mengenai pekerjaan, rumah dan jabatan kedua orang tuanya saat itu. Kevin pun menjawab apa adanya mengenai kondisi keluarganya yang hanya dari kalangan orang biasa.
“Saya hanya dari kalangan orang biasa saja Om. Orang tua saya pun hanya bekerja sebagai tukang cukur di kampung. Sementara ibu saya belum lama meninggal dunia.” Terang Kevin.
“Lalu statusmu?” Tanya Andreson dengan nada angkuh.
“Status saya sekarang masih seorang mahasiswa semester terakhir, dan bulan depan saya akan diwisuda.” Jawab Kevin.
Wajah Keithen seketika berubah sinis terhadap Kevin, dia tak mau Aluna dekat dengan pria miskin itu lagi. Tatkala dia pun tau tujuan Aluna memperkenalkan Kevin pada kedua orang tuanya tersebut.
“Aluna pasti suka sama pria ini?! Aku nggak akan mengizinkan Kevin deket-dekat lagi sama anakku!” Gumam Keithen sambil melirik tajam ke arah Kevin.
Melihat sikap kedua orang tua Aluna yang sudah tidak ramah lagi, Kevin pun tak mau berlama-lama di sana, dia segera berpamitan. Akan tetapi ketika Kevin menyodorkan tangannya hendak mau mengajak jabat tangan dengan Andreson dan Keithen, mereka berdua malah bersikap acuh dan terlihat dingin pada Kevin.
Namun Kevin mencoba untuk bersikap biasa saja, sebab dia sadar bahwa dirinya hanyalah orang biasa. Kevin segera bangkit berdiri lalu menundukkan setengah tubuhnya dan mengucapkan salam sebelum dia pergi meninggalkan rumah tersebut.
“Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Om, Tante.” Ucap Kevin.
Aluna kemudian mengantarkan Kevin sampai kedepan pintu rumahnya.
“Bye Vin, ati-ati di jalan ya.” Ujar Aluna.
Kevin lalu pergi meninggalkan rumah tersebut menggunakan motor bututnya.
Bersambung…
__ADS_1