ISTRI TAWANAN SANG MAFIA

ISTRI TAWANAN SANG MAFIA
Bertemu Jack


__ADS_3

Dia pun menepis pertanyaan dari sang ayah, dan bahkan dia juga menyalahkan Aluna. Dia kembali memberikan alasan yang sekiranya aman untuk dirinya sendiri.


“Iya benar, Pa. Akhir-akhir ini aku memang sering pulang tengah malam.” Jawab David.


“Kenapa? Pekerjaan apa yang kamu kerjakan sampai pulang larut malam seperti itu? Bukankah semua pekerjaan sudah papa handle dan asistenmu juga sudah banyak membantumu.” Tanya Andreson.


“Iya pa, tapi ini bukan mengenai pekerjaan, setiap pulang dari kantor aku sering nongkrong dulu sama teman-temanku.” Terang David.


Akan tetapi Aluna menyahut pembicaraan tersebut.


“Tapi kak, bukannya tadi malam kakak bilang sama aku kalau…” sahut Aluna yang tiba-tiba menggantungkan ucapannya.


David sengaja memotong pembicaraan itu agar ayahnya tidak menaruh curiga kepada dirinya.


“Kalau apa Lun? Aku kan sudah bilang kalau aku pulang dari nongkrong sama temen-temen aku tadi malam. Ah, kamu ini suka mengada-ada. Sepertinya tadi malam kamu udah ngantuk, jadi kamu salah dengar. Makanya lain kali nggak usah tidur larut malam lagi Lun. Besok lagi papa nggak usah dengerin omongan Aluna, Pa. Dia suka ngacok!” kata David yang dengan entengnya menyalahkan Aluna untuk mencari aman di depan kedua orang tuanya sendiri.


Sementara Aluna mendengus kesal terhadap kakaknya, dia merasa curiga dengan sikap David yang tiba-tiba membolak balikkan kenyataan. Dia juga merasa ada yang David sembunyikan dari keluarganya.


“Kenapa sikap kakak aneh banget sih?! Jelas-jelas tadi malam dia bilang sendiri kalau dia baru pulang dari kantor karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan mala itu juga. Eh, tapi kenapa sekarang di depan papa dia menyangkal ucapannya sendiri dan sepertinya ada yang kakak tutup-tutupi.” Batin Aluna sambil melirik tajam ke arah David.


Andreson percaya begitu saja akan ucapan anak sulungnya hingga membuat David bisa bernafas lega. Dia tak lagi membahas soal pekerjaannya di rumah, dan mereka semua pun kembali menyantap sarapan pagi bersama-sama.


Namun tiba-tiba ponsel Aluna berdering, terlihat ada sebuah panggilan masuk dari Kevin dan sepertinya Kevin sudah berada di pinggir jalan tempat biasa Aluna di jemput. Aluna segera berpamitan kepada anggota keluarganya di ruang makan tersebut.


“Ma, pa, Aluna berangkat dulu ya.” Pamit Aluna yang kemudian meraih tas selempangnya yang tergeletak di atas meja makan.


“Hati-hati ya nak.” Ucap Keithen dan juga Andreson.


Aluna lantas pergi meninggalkan rumahnya dan berjalan menemui Kevin di pinggir jalan raya. Terlihat dari kejauhan Kevin bersama motor bututnya tengah menunggu Aluna.


“Itu dia,” batin Aluna mempercepat langkah kakinya.

__ADS_1


Setelah kedua kakinya telah berhasil menghampiri Kevin, dia pun segera memakai helm yang dibawakan oleh Kevin lalu memboncengnya. Akan tetapi belum juga mereka berdua pergi dari tempat itu, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan yang menutupi jalannya. Mobil itu berhenti tepat di depan motor Kevin dan membuat mereka berdua terus mengamati sang pemilik mobil yang mencoba menghalangi jalannya. Sementara di sisi lain, Aluna merasa tak asing saat melihat mobil tersebut.


“Sepertinya aku kenal sama pemilik mobil ini. Deg! Jangan-jangan itu Jack.” Batin Aluna yang wajahnya berubah tegang.


Nampak terlihat seorang pria setengah bule turun dari mobil tersebut dengan menggunakan jas berwarna hitam dan kaca mata hitam. Pria itu segera berjalan mendekati mereka berdua.


“Jack!” Ucap Aluna lirih.


Langkah Jack kini telah sampai tepat di hadapan Kevin dengan didampingi dua anak buahnya yang berdiri di belakangnya.


“Aluna, mau kemana kau?” Tanya Jack sambil melirik sinis ke arah Kevin.


Aluna perlahan berjalan mendekati Jack, “Aku mau pergi ke kampus.” Jawab Aluna dengan wajah cemas, sebab dia takut jika Jack akan menghajar Kevin seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya terhadap beberapa teman prianya.


“Dengan dia?!” Tanya Jack sambil menuding wajah Kevin.


Aluna terdiam dia menundukkan pandangannya, sementara Kevin dengan beraninya menurunkan jari telunjuk Jack, karena Kevin merasa Jack bertingkah tidak sopan.


Jeck tersenyum tipis, sambil menyunggingkan ujung bibirnya dan tatapannya terlihat dingin.


“Kalau aku tak suka, apa yang akan kau lakukan?!” Suara Jack terdengar menantang dan sepertinya dia sengaja ingin membuat keributan.


“Maaf Bung jika kau tidak suka! Tapi setidaknya belajarlah untuk bersikap sopan terhadap orang lain, Bung!” Jawab Kevin santai. Tapi ternyata jawaban itu membuat Jack naik pitam.


“Banyak bac*t kau!” Pekik Jack yang tangannya tiba-tiba mencengkram kasar kerah baju Kevin dan mengepal lalu melayangkannya begitu saja. Akan tetapi Kevin berhasil menahan tangan Jack dari hadapannya. 


Melihat situasi yang sudah memanas, Aluna segera menarik tangan Jack dan berusaha mengajak Jack pergi dari tempat itu. Sebab dia tak mau Jack melukai Kevin seperti Jack melukai teman-teman Aluna.


“Jack, ayo kita pergi dari sini!” Pinta Aluna yang dengan kuat menarik lengan tangan Jack.


Awalnya Jack tak mengindahkan ucapan Aluna karena keinginannya untuk menghajar Kevin belum terpenuhi. Akan tetapi Aluna terus memohon kepada Jack supaya tidak membuat keributan di jalan, hingga akhirnya Jack pun mau mendengarkan permintaan itu. Seketika dia hentikan aksinya, dia lalu melepaskan secara kasar cengkraman tangannya dari kerah baju Kevin dan mendorong kasar tubuh Kevin.

__ADS_1


Aluna lalu mengajak Jack untuk pergi saat itu juga.


“Jack, ayo kita pergi! Tolong jangan buat keributan disini!” Pinta Aluna sambil menekukkan irasnya.


Aluna lalu melepaskan helm yang sudah dipakai dan kemudian menyerahkan helm tersebut kepada Kevin.


“Vin, aku akan pergi dengan dia. Sebaiknya kau segera tinggalkan tempat ini.” Ucap Aluna lirih dan wajah terlihat muram.


“Tapi Non,” kata Kevin, dia seperti tidak rela jika Aluna memilih pergi bersama pria angkuh itu.


Sementara Jack langsung menarik tangan Aluna dan segera mengajak gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Dengan sangat terpaksa Aluna mengikuti kemauan Jack. Semua yang Aluna lakukan semata-mata hanya ingin menyelamatkan Kevin dari buasnya sikap Jack, dan jika dipaksa sekalipun dia tidak akan pernah mau duduk berdampingan dengan pria tempramen itu di satu mobil yang sama.


Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Jack menemui Kevin dia memberikan peringatan kepada Kevin.


“Kali ini kau bisa selamat, tapi ingat urusan kita belum selesai! Jangan pernah kau berani mendekati Aluna jika kau masih mau bernafas lagi! Apa kau mengerti?!” Seru Jack yang kemudian mendepak kasar di bagian ban motor tua itu.


Kevin hanya bisa diam sambil melihat mobil sedan mewah berwarna hitam itu melaju pergi.


Semetara saat dalam perjalanan Aluna terus memasang muka masam. Pandangannya terus mengarah ke arah jalanan.


“Ehem!” Jack berusaha membuka percakapan karena dia tau kalau wanita yang sedang duduk di sebelahnya tengah marah.


“Sepertinya kau peduli sekali dengan pria itu?” Tanya Jack.


Namun bibir Aluna hanya diam tak bergeming.


 


Bersambung…


 

__ADS_1


__ADS_2