ISTRI TAWANAN SANG MAFIA

ISTRI TAWANAN SANG MAFIA
Pertama Bertemu


__ADS_3

Dia lalu keluar dari rumahnya dan berjalan cepat menuju ke jalan raya yang ada di ujung kompleks perumahannya tersebut. Mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit supaya Aluna bisa sampai dijalan raya tersebut.


Sesekali dia melihat jam tangan yang melilit di pergelangan tangannya, dia takut jika dia akan ketinggalan bus yang akan dia naiki untuk berangkat ke kampus saat itu.


“Semoga aja aku belum ketinggalan bus seperti kemarin.” Batin Aluna gelisah sambil mempercepat langkah kakinya.


Tak beberapa lama kemudian sebuah bus melintas di depannya namun bus tersebut tak berhenti saat dia terus melambai-lambaikan tangannya ke arah bus tadi, mungkin saja di dalam bus tersebut sudah dipenuhi oleh banyaknya penumpang. Sehingga bus tersebut tidak mau berhenti.


“Astaga! Kenapa bus itu tidak berhenti sih? Mana udah jam segini lagi.” Umpat  Aluna dari dalam hati dengan pandangan yang terus menatap ke arah jarum  jam yang terus berputar ditangannya.


Tapi beberapa saat kemudian, nampak dari kejauhan ada sebuah bus yang hendak akan melintas di rute yang dia sama seperti sebelumnya, Aluna segera melambaikan tangannya kembali agar bus tersebut bisa berhenti untuk memberikan tumpang kepada dirinya.


“Ayolah, berhenti, Kasih aku tumpangan.” Gumam Aluna dari dalam hati dengan harapan yang sangat besar karena semakin lama jam terus berputar.


Dan benar saja, bus itu seketika berhenti namun bus tersebut tidak berhenti tepat di depan Aluna berdiri. Bus itu berhenti sedikit lebih maju dari tempat Aluna berdiri. Tak ingin membuang-buang waktu lagi Aluna pun segera berlari menghampiri bus yang saat itu sedang berhenti. Tapi sayangnya disaat dirinya hendak akan mencapai gawang pintu bus tersebut tiba-tiba dia tersandung batu hingga membuatnya harus tersungkur ke tanah.


“Awh! ****!!” Gerutu Aluna yang terlihat begitu kesal akan hari itu.


Aluna pun segera bangkit berdiri, tapi ketika dirinya mencoba untuk bangkit tiba-tiba bus yang akan dia naiki pun sudah menancapkan gasnya dan hendak mau pergi dari tempat tersebut. Aluna segera berlari mengejar bus tersebut, untungnya saja saat itu sang supir melirik ke arah spion samping bus dan melihat dari spionnya tersebut kalau ternyata masih ada seorang gadis yang sedang berlari sambil melambai-lambaikan tangannya mengarah ke arah bus tersebut. Sang supir yang sudah paham pun seketika langsung menghentikan laju kendaraannya begitu saja untuk memberikan tumpangan kepada gadis yang sedang berlari mengejar bus yang sedang dia kendarai.

__ADS_1


Dengan nafas terengah-engah, Aluna masuk ke dalam bus setelah pintu bus tersebut tertutup.


“Terima kasih pak sudah mau berhenti dan memberikan aku tumpangan.” Ujar Aluna dengan nafas tersengal-sengal.


“Ya, ya! Cepat cari tempat duduk jika masih ada yang kosong.” Pinta sang Supir kepada Aluna dan kemudian kembali melajukan kendaraannya.


Aluna kemudian berjalan melewati lorong-lorong  kursi yang ada di dalam bus tersebut, namun ternyata kursi-kursi itu tidak ada yang kosong dan dia pun terpaksa harus berdiri bergelantungan seperti penumpang yang lainnya.


Sssshhhhhttt!


Belum juga lama sang supir mengendarai laju busnya tiba-tiba Aluna dan penumpang yang lainnya di buat terkejut karena sang supir tiba-tiba mengerem mendadak hingga Aluna pun terjatuh di atas dada bidang datar seorang pria tampan dengan tubuh kekar sehingga keduanya pun sama-sama saling menatap satu sama lain dengan lekat saat insiden itu terjadi.


“Ma—maaf.” Ucap Aluna menundukkan pandangannya dari hadapan pria itu sambil merapikan pakaiannya.


Pria itu hanya tersenyum ramah kepada Aluna hingga membuat Aluna menjadi salah tingkah.


“It’s okey. Tapi apa kau baik-baik aja?” Tanya pria tampan tersebut yang terus memberikan senyuman ramahnya kepada Aluna.


Aluna mengangguk-angguk pelan kepalanya sembari menyibakkan rambutnya yang tergerai indah di belakang telinga. Sementara pria tampan ini tak berhenti memandangi iras cantik yang dimiliki oleh Aluna sehingga membuat Aluna terus menundukkan pandangannya.

__ADS_1


“Pak, hati-hati dong! Jangan ngerem mendadak seperti ini!” Seru salah seorang penumpang lain yang merasa kesal dengan pak supir.


“Iya, maaf. Saya minta maaf. Saya berusaha menghindari dua orang lansia yang tiba-tiba mau menyebrang jalan begitu saja!” Balas sang supir yang mencoba memberikan penjelasan kepada semua penumpangnya.


Sedetik kemudian sang supir pun kembali menjalankan busnya lagi. Sementara dalam perjalanan Aluna atau pun pria itu sama-sama saling mencuri-curi pandangan. Pria itu sesekali memperhatikan Aluna dari tempat dia berdiri, begitu pula juga dengan Aluna sendiri.


Selang beberapa menit, bus menghentikan laju kendaraannya karena ada beberapa penumpang yang harus turun saat itu juga. Nampak ada salah satu kursi kosong yang tak jauh dari pria itu berdiri. Si pria tampan ini kemudian mempersilahkan Aluna untuk duduk di kursi kosong tersebut.


“Nona, ada kursi kosong, silahkan duduk di sini.” Ucap Pria tersebut dengan ramahnya.


Aluna melebarkan senyumannya sembari mengangguk-angguk pelan dan kemudian dia pun duduk di kursi kosong tersebut. Sementara pria tampan yang Aluna temui itu berdiri di samping dan menghadap ke arah kursi Aluna sembari terus memandang wajah Aluna dari tempat dia berdiri.


Sebut saja namanya Kevin Rahendra yang sering akrab dipanggilnya, dia anak bungsu dari pasangan Friska Tonika dan juga Banu Rahendra dan dia juga  memiliki seorang adik perempuan bernama Kirana Hendratonika yang kini sedang duduk di bangku kelas 3 SMP.


Namun sayangnya Kevin hanya berasal dari keluarga yang notabennya hanyalah sebagai rakyat kecil yang biasa. Tapi Banu, sang ayah memang terkenal sebagai seorang tukang cukur rambut yang cukup di kenal oleh masyarakat setempat. Maka dari itu barbershop tempat Banu bekerja pun sangat ramai di datangi oleh pelanggan setia yang ingin merapikan rambut mereka masing-masing.


Sementara ketika pandangan Kevin terus memperhatikan Aluna, bus yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti untuk mengangkut beberapa penumpang yang sudah berdiri dipinggir jalan. Semua penumpang itu lalu naik lewat pintu belakang bus hingga membuat Kevin harus bergeser lebih maju dan sedikit menjauh dari kursi Aluna sehingga kini Kevin berdiri tepat di depan pintu bus tersebut. Aluna kemudian mengeluarkan sebuah buku tulis dan sebatang pensil karena dia hendak akan melukis sesuatu yang membuat dia terkesan kala itu.


Sesekali dia memperhatikan wajah Kevin dan selanjutnya dia lukis wajah Kevin di atas kertas putih yang baru saja dia keluarkan dari dalam tasnya tersebut.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2