
"Gak usah bawel deh jadi cewek! Intinya kamu harus nurut sama aku!"
Agam beranjak dari sana meninggalkan Kina sendiri.
"Mas .. Tunggu, mas. Kamu mau kemana?" panggil Kina seraya menyusul langkah suaminya keluar kamar.
"Mas, kamu mau kemana?" Kina menghadang langkah suaminya. Ia merentangkan kedua tangannya agar Agam tidak pergi.
"Terserah aku, lah!" jawab pria itu.
"Mas, kamu ini suami aku. Aku istri kamu. Bukan cuma istri yang harus izin sama suami saat mau bepergian ke luar rumah. Suami juga. Harus ngasih tahu kemana akan pergi."
Agam menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. "Yakin kamu mau tahu?"
Kina mengangguk.
"Aku mau kencan," jawab Agam tanpa beban.
Seketika wajah Kina menegang. "Kencan? Enggak, kamu gak boleh pergi, mas. Apalagi kamu sampai pergi sama wanita lain."
__ADS_1
"Suka-suka aku, dong. Mau pergi kemana sama siapa. Emangnya kamu siapa berani ngatur-ngatur?"
"Mas, sadar, mas. Kamu ini sudah udah jadi suami aku. Status kamu bukan lagi lajang yang memiliki kebebasan untuk melakukan apapun. Pokoknya kamu gak boleh pergi!"
Agam paling tidak suka jika di atur-atur, apalagi di kekang. Baginya, hidupnya sepenuhnya ia yang memegang kendali. Ia tidak mau tunduk maupun patuh pada siapapun. Apalagi Kina.
"Minggir! Gak usah halangin aku!" Agam mendorong tubuh Kina yang terus menghalangi jalannya.
"Mas .. Mas Agam ... Maasss ...!!!" teriak Kina namun Agam tidak memperdulikan panggilan istrinya.
Kina hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apapun.
Kina terisak, ia jatuh merosot ke lantai. Meski Agam demikian, tapi ia tetap tidak bisa membenci suaminya. Ia harus bisa mempertahankan pernikahannya yang baru seumur jagung.
***
Malam ini Agam pergi ke sebuah club. Tempat yang biasa ia kunjungi untuk sekedar mencari hiburan. Baru saja ia duduk, seorang wanita dengan penampilan sekksi datang menghampirinya.
"Hai ... Mau aku temani?" sapa wanita itu kemudian memberikan minuman.
__ADS_1
Agam mengangguk lalu menerima minuman tersebut dari tangan si wanita. "Makasih ..."
Agam meneguk minuman tersebut sampai habis setengahnya. Tidak berapa lama, Agam merasa sedikit pusing. Wanita itu tersenyum simpul dan mulai mengajak Agam untuk party dugem. Dan Agam mau.
Tapi sebelum itu, Agam menghabiskan minumannya yang masih tersisa setengah. Supaya lebih nge-fly.
"Mau tambah lagi?" tawar wanita itu seraya menyodorkan gelas miliknya.
Agam menerima dan meneguk nya lagi sampai habis. Setelah itu barulah mereka party dugem mengikuti alunan musik dengan lampu disko yang berkelip.
Si wanita menuntun Agam untuk mulai party dugem tersebut. Ia senang sekali lantaran pria yang saat ini ia layani memiliki tampang yang ganteng. Sebab biasanya ia akan melayani om-om dengan perut yang buncit.
Dug. Jedag jedug. Jedag jedug.
Agam begitu happy dengan dunia malamnya. Ia berjoged dengan memeluk wanita itu dengan sesekali meremass bagian dada serta saling berciuman. Ia melakukannya tanpa sadar. Hampir semua pengunjung yang ada di sana melakukan yang sama. Mengambil kesempatan dengan mengambil keuntungan di balik ruangan yang gelap.
Agam terus hanyut dalam alunan musik tersebut hingga larut malam bahkan sampai pagi. Ia terus di temani oleh wanita itu sampai ia lupa terhadap semuanya, terutama Kina.
_Bersambung_
__ADS_1