ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 22


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari. Namun Kina belum mendapati suaminya pulang. Kina yakin kalau suaminya pasti pergi ke klub dan mabuk-mabukan. Mencari kenikmatan sesaat. Ia sudah tidak kaget lagi.


"Kamu sudah sangat keterlaluan, mas. Aku udah gak sanggup lagi." ujar Kina seraya mengusap wajahnya pelan.


Daripada sibuk memikirkan pria yang sama sekali tidak memikirkannya. Kina memutuskan untuk tidur demi kesehatan diri dan calon bayinya. Ia tidak boleh sakit, ia harus kuat demi anak yang ada di dalam kandungannya.


"Kamu harus kuat, Kina. Kamu harus kuat," ujarnya menguatkan diri sendiri.


Kina memejamkan kedua mata, terdengar petir yang menyambar menandakan akan hujan. Dan benar saja, hujan turun dengan begitu derasnya. Menemani tidur malamnya.


***


Sudah tiga hari, Agam tidak pulang. Dan Kina sudah tidak lagi mencemaskan pria itu. Dan pagi ini, pria itu pulang dengan jalan sempoyongan, serta baju yang lusuh berantakan.


"Kenapa pulang, mas? Kenapa gak sekalian tinggal aja di klub?" tanya Kina tanpa memandang ke arah datangnya suami. Ia hanya fokus membaca majalah di sofa ruang tamu.


Agam menghentikan langkah dan menghunus kan tatapan tajam pada Kina.


"Sejak kapan kamu berani bicara seperti itu?" Agam balik bertanya dengan emosi yang tertahan.

__ADS_1


Kina menutup majalahnya, ia letakan di atas meja lalu bangkit berdiri di hadapan suaminya.


"Kenapa, mas? Kamu kaget, hm?" Kina mengulas senyum getir. "Asal kamu tahu, mas. Aku tidak selemah yang kamu pikirkan. "


"Benarkah?"


"Ya."


Agam tersenyum seraya memandang remeh istrinya. Setelah itu ia melipir pergi dari sana. Meninggalkan Kina yang berusaha menahan air matanya agar tidak turun.


"Kamu harus kuat, Kina. Jangan nangis, nanti dia anggap kamu lemah," ujar Kina menyemangati diri sendiri.


Kina menarik napas panjang, berusaha mengontrol diri agar terlihat baik-baik saja. Padahal hatinya sudah sangat hancur.


"Kinaaaa ... Kinaaaa ..." teriak Agam.


Tidak lama kemudian Kina datang. "Ada apa?" tanya wanita itu dingin.


"Kenapa kamu gak masak, hah?"

__ADS_1


"Suka-suka aku dong, mas. Aku mau masak atau enggak, terserah aku," jawab Kina.


Agam membating tudung saji tersebut ke lantai.


"Apa kamu bilang?" seru pria itu.


"Suka-suka aku," ulang Kina.


Agam memukul meja makan dengan begitu keras. Bisa-bisanya Kina seberani itu padanya.


"Kenapa harus marah, mas? Hidup aku aturan aku. Sepenuhnya kendali ada di diriku. Tidak ada yang berhak mengatur, termasuk kamu!"


Agam tersenyum menyeringai. Ia tahu jika Kina pasti sedang pura-pura kuat di depannya. Ia tahu jika Kina ini lemah.


"Seburuk-buruknya aku, aku ini tetap suami kamu. Memangnya kamu mau jadi istri durhaka?"


Usai melayangkan perkataan barusan, Agam yakin jika Kina pasti akan merasa bersalah. Sebab ia tahu jika Kina sangat mencintainya.


"Kamu menyebut-nyebut kata durhaka tapi kamu sendiri sadar diri gak? Bercermin, mas! Kamu aja jadi suami mabuk-mabukan, main wanita, tapi istri kamu tetap stay sama kamu. Pernah istri kamu gugat cerai? Pernah gak? Wajarlah seorang istri merasa lelah jika suaminya macam kamu!"

__ADS_1


Agam bergeming. Ia pikir Kina akan merasa bersalah. Meminta maaf dan memohon-mohon padanya. Tapi rupanya Kina memang sudah berubah. Jika Kina seperti ini, maka ia akan semakin sulit untuk menguasai harta keluarga Braspati.


_Bersambung_


__ADS_2