ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 28


__ADS_3

Tepat pukul tujuh malam, mobil Axel tiba di pelataran rumah almarhum papa dan mamanya Kina. Wanita itu meminta untuk pulang ke rumah tersebut. Dan terdapat beberapa orang di sana.


Begitu mereka turun, tak jarang dari orang-orang itu mengucapkan bela sungkawa. Termasuk pelayan yang ada di sana. Kini sedikit heran, mengapa orang-orang itu ada di sana dan tahu tentang kejadian yang di alami mama dan papanya. Namun bahasa tubuh Axel memberi tahu jika dia yang melakukannya.


"Aku tadi minta teman aku yang kebetulan tinggal dekat sini untuk menghubungi RT di sini, Ki. Aku juga minta tante Karin buat adain pengajian untuk papa sama mama kamu di sini," jelas Axel.


"Makasih, kak," ucap Kina di angguki oleh pria tersebut.


"Ayo, masuk! Tante Karin pasti masih ada di dalam," ajak Axel.


"Iya, kak."


Axel membantu Kina berjalan, sebab tubuh wanita itu tampak lemas. Di tambah Kina sedang hamil besar. Ia semakin tidak tega melihatnya. Terlebih suami Kina yang tidak di ketahui keberadaannya sekarang.


"Kinaaa ..." panggil seorang wanita begitu Kina masuk ke dalam rumah.


Wanita itu langsung menghambur memeluk tubuh Kina dan mereka saling menangis. Ya, wanita itu adalah Karin, tante Kina dan Axel.


"Tante, mama sama papa, tante .."


"Iya, Ki. Yang sabar ya, sayang. Tante akan ada buat kamu. Kamu harus ikhlas, ya," ucap wanita tersebut.


Kina mengangguk. "Iya, tante. Makasih."

__ADS_1


Karin melepaskan pelukannya, dia mengusap air mata Kina menggunakan kedua ibu jari tangannya.


"Kamu anak kuat, Kina. Tante yakin, kamu pasti mampu melewati semua ini."


"Iya, tante. Makasih, ya," ucap Kina.


"Iya, sayang. Sekarang kamu istirahat di kamar, ya. Tante tahu kamu pasti lelah. Tante buatkan minuman hangat, ya?"


Kina mengangguk.


Karin menoleh ke arah Axel, wanita itu meminta agar dia mengantar Kina ke kamar. Axel mengangguk paham.


"Kina, sayang. Tante buatkan minum dulu, ya," pamit Karin kemudian.


"Iya, tante."


Axel menemani Kina sebentar sebelum Karin datang membawakan minuman hangat.


"Suami kamu gimana, Ki? Belum ada kabar juga?" tanya Axel membuyarkan lamunan Kina.


Wanita itu menoleh lalu menggeleng.


"Sebelumnya dia pergi kemana?" tanya Axel lagi.

__ADS_1


"Tadi pagi mas Agam pamit buat ke toko, kak. Terus mama sama papa telepon bilang mau ke rumah. Begitu ada orang yang telepon aku pakai nomer mama buat kasih tahu insiden itu, aku langsung hubungi mas Agam. Tapi nomer nya gak aktif. Makanya aku hubungi kakak. Maaf ya kalau aku ngerepotin kakak," ucap Kina merasa segan.


"Kamu menghubungi orang yang tepat, Ki. Bagaimana pun aku ini sepupu kamu. Kita ini keluarga, Ki. Kamu gak perlu sungkan sama aku. Apapun itu, jika aku mampu aku pasti bantu. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang."


"Sekali lagi, makasih ya kak Axel. Aku gak tahu kalau tadi kak Axel gak datang buat aku."


"Iya, sama-sama," balas pria itu. "Oh ya, aku boleh minta nomer suami kamu? Aku mau coba hubungi dia."


Kina diam sejenak, sebelum akhirnya dia mengangguk.


Usai menyalin nomer Agam dari HP Kina, Axel pamit untuk keluar lantaran Karin sudah datang membawakan teh hangat untuk Kina. Axel coba untuk hubungi nomer tersebut dan ternyata aktif. Ia menunggu beberapa saat sebelum kemudian panggilannya di jawab.


"Siapa?" tanya seseorang di sebrang telepon, terdengar suara dugem yang mendominasi.


"Benar saya bicara dengan Agam Ligerald?" tanya Axel kemudian.


"Iya, kenapa emangnya?"


"Hati-hati, hidup anda sedang terancam!"


Usai memberi peringatan, Axel mematikan sambungan teleponnya. Ia menggenggam ponselnya dengan sangat erat. Kedua matanya tampak merah menahan amarah.


"Kenapa Kina gak bilang kalau suaminya ternyata laki-laki bejjad? Istrinya sedang berduka, dia di sana asik-asik party."

__ADS_1


Axel memukul tembok guna meluapkan amarah. Bagaimana pun Kina ini sepupunya. Ia tahu apa yang saat ini wanita itu rasakan.


_Bersambung_


__ADS_2