ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 19


__ADS_3

Makan malam di tempat kediaman Braspati di awali do'a yang di pimpin oleh Braspati sendiri. Sebelum kemudian mereka mulai menyantap makanan yang sudah terhidang di atas meja makan besar panjang.


"Aku ambilin ya, mas," tawar Kina dan mendapat anggukan dari Agam.


Sementara Braspati dan bu Hana mengambil makanan sendiri.


Suasana makan malam tidak hening. Justru di hiasi oleh obrolan ringan agar lebih mendekatkan melalui komunikasi.


"Toko sekarang gimana, Gam? Rame?" tanya Braspati mengawali pembicaraan.


"Rame, pa. Gak pernah sepi," jawab Agam sebelum memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Pasti. Toko furniture itu memang selalu ramai. Asal kamu pandai-pandai mengatur strategi dan menarik minat customer saja. Pasti akan lebih banyak pelanggan lagi nantinya."


"Iya, pa. Sekarang juga aku sedang mengatur strategi baru agar lebih banyak coustamer."


"Bagus. Papa gak salah percayakan toko itu sama kamu, Gam."


"Terima kasih, pa," ucap Agam.


Kina senang melihat keakraban antara papa dan suaminya. Mudah-mudahan seterusnya begitu.


"Walaupun kamu sibuk di toko, jangan lupa jagain Kina juga. Apalagi sekarang Kina lagi hamil. Gak boleh di tinggal lama-lama sendiri di rumah. Kalau perlu, sekali-kali kamu bisa ajak ke toko," timpal bu Hana.


Agam mengangguk. "Iya, ma."

__ADS_1


"Jangan pernah sakiti Kina, juga. Mama sama papa titipkan Kina sama kamu buat kamu bahagian dia."


Ucapan bu Hana membuat Agam perlahan mendongakan wajah dan menatap Kina yang duduk di depan sebrang meja. Agam jadi berpikir apa jangan-jangan Kina pernah cerita tentang sikap buruknya.


Mendapat tatapan demikian, Kina segera angkat bicara.


"Mama sama papa gak usah khawatir. Mas Agam ini suami yang baik. Mas Agam gak mungkin sakitin aku. Iya kan, mas?"


Semua pasang mata kini tertuju pada pria itu. Agam pun menganggukan kepalanya.


"Baguslah kalau begitu," sahut bu Hana.


Mereka kembali melanjutkan makan tanpa ada lagi yang bersuara. Agam sedikit lega lantaran Kina membelanya di hadapan orang tuanya. Ia berharap Kina juga bisa meyakinkan mereka tentang hak waris.


Setelah acara makan malam selesai, mereka berempat berpindah ke ruang keluarga. Sementara Agam pamit untuk ke toilet sebentar, meninggalkan kode agar Kina mulai membahas permintaannya tadi sebelum berangkat ke rumah tersebut.


"Sayang .. Kamu kenapa, nak?" tanya bu Hana melihat kegelisahan di wajah putrinya.


Kina menggeleng. "Enggak apa-apa, ma."


"Yakin gak apa-apa?"


"Enggak apa-apa, ma," jawab Kina meyakinkan.


"Kalau ada apa-apa, bilang aja sama mama sama papa. Gak usah sungkan-sungkan, sayang," bujuk mamanya.

__ADS_1


"Iya, Kina. Ada apa? Cerita sama kami," sahut Braspati.


Kina meremas jemarinya yang sudah mengeluarkan keringat dingin. Sebelum suaminya kembali, ia harus membicarakan soal tersebut.


"Ma, pa. Sebenarnya ada ingin aku bicarakan sama mama sama papa." Kina mulai memberanikan diri untuk membuka suara.


"Soal apa?" tanya bu Hana.


"Soal aku satu-satunya pewaris di keluarga Braspati, ma, pa."


Bu Hana dan suaminya saling memandang satu sama lain.


"Aku selalu berharap mama sama papa selalu dalam lindungan Tuhan dan di beri kesehatan selalu. Tapi usia tidak ada yang tahu, ma, pa. Bukan maksud aku bicara yang buruk dan maaf jika menyinggung perasaan mama sama papa. Tapi mungkin ini sudah waktunya papa memberikan hak waris untuk aku, putri semata wayang papa dan mama," ungkap Kina.


Mendengar putrinya bicara demikian, bu Hana merasa ada yang aneh dengan putrinya. Sebelumnya Kina tidak pernah perduli soal harta. Tapi kenapa tiba-tiba dia membahas soal hak waris?


Bu Hana mengusap bahu putrinya. "Kina .. Kenapa kamu tiba-tiba bicara soal hak waris? Apa ada yang mempengaruhi kamu?"


Dengan cepat Kina menggeleng. "Enggak, ma. Enggak ada. Aku cuma gak mau aja kalau terjadi sesuatu buruk sama mama dan papa, semua yang kita miliki ini jatuh pada tangan yang salah. Dan kalau papa sama mama setuju, lalu mama sama papa sudah sepakat menjadikan aku ahli waris, ada baiknya jika semua ini di atas namakan mas Agam saja," usul Kina.


Bu Hana tentunya tidak setuju dengan hal tersebut. "Enggak, sayang. Ahli waris tidak boleh jatuh ke tangan orang lain meski Agam ini suami kamu, menantu kami. Tetap kamu yang akan menjadi satu-satunya pewaris di keluarga ini," tolak bu Hana.


"Iya, nak. Tidak boleh atas nama orang lain. Lagipula kamu ini ada-ada aja. Tiba-tiba membahas perihal hak waris. Nanti akan ada saatnya papa membahas hal ini di waktu yang tepat," jawab Braspati.


Kina diam, ia tidak bisa membantah. Dan jika ia terus membahas soal itu, maka kedua orang tuanya akan curiga.

__ADS_1


Di balik dinding dari kejauhan, Agam mengepalkan kedua tangannya. Lantaran Kina tidak berhasil meyakinkan mereka untuk segera mewariskan seluruh harta kekayaan keluarga itu.


_Bersambung_


__ADS_2