ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 14


__ADS_3

Hari ini merupakan hari pernikahan Kina dan Agam yang ke tiga bulan. Sejak hari itu, Agam bersikap lembut dan manis pada Kina. Sampai akhirnya mereka di beri sebuah kebahagiaan berupa kehamilan Kina. Dan sekarang, usia kehamilan wanita itu menginjak ke lima minggu.


"Sebentar lagi aku akan jadi ibu, dan kamu akan jadi ayah, mas," ucap Kina dalam dekapan sangat suami.


"Iya, sayang ..." balas Agam seraya mengusap perut Kina yang masih datar.


"Mas .."


"Hm?"


"Aku senang deh, mas. Kamu sekarang jadi baik, lembut, manis, bahkan kamu manjain aku. Aku gak pernah bayangin hal ini sebelumnya. Aku benar-benar gak nyangka kita bisa sebahagia ini. Makasih ya, mas."


"Sama-sama, sayang .." balas Agam di akhiri dengan kecupan hangat di bibir Kina.


Tiba-tiba saja ponsel Agam mengeluarkan notifikasi pesan masuk. Membelah keheningan yang terjadi di antara mereka.


Agam segera menjangkau ponsel tersebut menggunakan lengan nya yang panjang. Pria itu mengulas senyum begitu membaca pesan yang di kirim oleh seseorang.


"Siapa, mas?" tanya Kina penasaran.


"Hm?"


"Siapa yang chat kamu, kok kamu senyum-senyum kayak gitu, sih?"


Agam menaruh kembali ponselnya, lalu ia peluk lagi tubuh Kina.


"Bukan siapa-siapa kok, sayang."


"Kalau bukan siapa-siapa, terus kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Kina curiga.


Agam menghembuskan napas pelan. "Teman aku. Tadi aku sempat bikin story kalau sebentar lagi aku akan jadi sosok ayah untuk anak kita nanti. Terus teman aku balas story nya dan bilang kalau aku sudah tua. Gak salah kan kalau aku senyum-senyum?"


Kina mengangguk. "Iya, mas."


"Kamu pasti mikirnya aku dapet chat dari wanita lain, ya?"


Kina menggeleng. "Enggak, kok."

__ADS_1


"Bagus deh kalau gitu. Pokoknya sekarang kamu percaya aja sama aku. Gak usah mikir yang macam-macam, apalagi sampai curiga yang enggak-enggak. Ok!?"


Kina mengangguk lagi. "Iya, mas."


Agam semakin mempererat pelukannya. Dan keheningan kembali menyelinap di antara keduanya.


Ting ...


Suara notifikasi pesan masuk kembali terdengar berasal dari ponsel Agam.


"Mas, HP kamu bunyi lagi." Kina memberi tahu.


"Udah, biarin aja."


Agam menghiraukan notifikasi tersebut. Kina senang lantaran suaminya tidak begitu perduli dengan ponselnya. Namun perlahan tangan Agam menjangkau ponsel tersebut lalu membaca pesan yang baru saja di kirimkan oleh orang yang sama. Ia mengetikan balasan kemudian mengubah nya menjadi mode hening.


***


Kina mengerjapkan matanya beberapa kali. Pelukan suaminya yang menghangatkan membuatnya sampai tertidur. Namun begitu ia bangun, ia tidak mendapati suaminya.


"Mas ..." panggil Kina.


Namun ia tidak mendapat sahutan.


Kini melirik jam dinding yang kini sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


"Mas Agam kemana, ya?" gumamnya.


Kina turun dari tempat tidur, ia hendak mencari suaminya. Ponselnya juga tidak ada di sana.


"Mas .." panggil Kina lagi seraya menuruni anak tangga.


"Mas Agam ..."


Senyum Kina mengembang saat mendapati suaminya tengah duduk di sofa ruang televisi.


"Mas Agam lagi nonton televisi ternyata," ujarnya.

__ADS_1


Kina melanjutkan langkah guna menghampiri pria itu. Baru beberapa langkah berjalan, seketika langkahnya terhenti kembali.


"Iya, besok kita makan siang bareng, ya," ujar Agam menciptakan kerutan dalam di kening Kina.


"Makan siang sama siapa, mas?"


Pertanyaan Kina menghentikan obrolan Agam dengan seseorang di telepon. Pria itu sedikit gugup dan segera mematikan sambungan teleponnya.


"Sayang ... Kamu kok bangun?" Agam bangun dari duduknya dan menghampiri Kina.


"Kamu mau makan siang sama siapa, mas?" ulang Kina belum mendapat jawaban.


"Temen aku, sayang. Jadi rencananya aku mau ngerayain pesta kecil-kecilan dengan mentraktir circle pertemanan aku besok siang. Jadi pembahasan di story tadi masih berlanjut, sayang," jawab Agam.


Kina menatap Agam dengan tatapan menyelidik. "Serius kamu teleponan sama temen kamu?"


"Kamu enggak percaya sama aku?"


"Aku cuma nanya, mas."


"Aku telponan sama Arga, sayang. Kalau kamu enggak percaya, kamu besok boleh ikut. Itupun kalau kamu mau. Tapi yang datang bukan satu atau dua orang. Banyak. Ada belasan orang dan semua laki-laki. Mau ikut?"


Kina diam. Sebenarnya ia ingin ikut untuk memastikan apakah suaminya benar-benar akan makan bersama teman-temannya atau hanya alasan semata. Tapi jika ia ikut, ia takut Agam menyangka dirinya istri yang tidak percaya pada suami. Lagipula, teman-temannya juga berjumlah cukup banyak. Lebih baik ia diam saja.


"Enggak, mas," jawab Kina setelah lama diam.


Agam mengulas senyum. "Nah, gitu dong, sayang. Kamu harus percaya sama aku. Kalau nanti kamu ikut terus salah satu teman aku ada yang naksir kamu gimana?"


"Ya enggak mungkin lah, mas. Aku ini kan istri kamu."


"Justru karena status kamu istri aku. Sekarang kan lagi jamannya cowok suka sama istri orang. Rasanya lebih menantang."


"Termasuk kamu atau teman kamu?"


"Ya enggak lah. Kalau teman aku, bisa aja," jawab Agam. "Kalau gitu kita balik ke kamar, yuk. Udah malam juga. Kita tidur."


"Iya, mas."

__ADS_1


Agam mematikan televisinya, setelah itu baru mereka melipir pergi ke kamar bersama.


_Bersambung_


__ADS_2