
"Lo jadi nikahin Kina, Gam?" tanya seorang pria, salah satu orang di circle pertemanan Agam, mereka tengah ngumpul di sebuah kafe.
"Jadi, lah. Makanya sekarang gue traktir lo lo pada," jawab Agam dengan begitu sombongnya.
"Widiiihhh ... Berarti sekarang lo udah kecipratan kaya, dong. Keluarga Braspati kan tajir melintir tuh."
"Iya, dong. Tapi belum seberapa, sih."
"Hebat juga, lo."
"Iya, dong."
Agam terlihat begitu sombong.
Di tengah obrolan, dering panggilan masuk berasal dari ponsel Agam menghentikan obrolan. Pria itu segera mengangkat telepon tersebut begitu melihat nama yang tertera di layar.
Agam memberi kode pada temannya dengan menempelkan jari telunjuk di bibir, agar mereka semua diam.
"Halo, pa. Ada apa?"
"Gam, kamu lagi sibuk di toko?" tanya Braspati dari sebrang sana.
"Enggak kok, pa. Kenapa?"
__ADS_1
"Ini mama tadi semalam kepikiran terus sama Kina. Kina baik-baik aja kan? Kina sehat?"
"Kina baik-baik aja, pa. Papa sama mama gak perlu khawatir. Kina aman sama aku," jawab pria itu membuat Braspati menghela napas lega.
"Syukurlah kalau begitu. Tadinya kami mau ke rumah kalian nanti sore untuk memastikan jika Kina baik-baik saja. Tapi kalau Kina memang baik-baik saja, papa senang dengarnya."
"Oh iya, pa. Kina baik-baik aja, kok. Rencananya nanti sore aku sama Gina juga gak ada di rumah. Kami ada rencana untuk pergi jalan-jalan. Jadi percuma juga kalau mama sama papa datang ke rumah. Lain kali aja gimana, pa? Gak apa-apa kan?"
"Iya, iya. Gak apa-apa. Papa senang dengarnya jika hubungan kalian akur."
"Iya, pa. Kalau begitu aku tutup teleponnya, ya. Soalnya ada beberapa coustamer yang datang."
"Oh iya, iya."
Sambungan telepon pun di matikan. Agam menghembuskan napas sedikit kasar. Kemudian teman-temannya tertawa seraya mengacungkan dua jempol padanya.
"Ternyata gitu ya kalau lagi ngobrol sama mertua, lembut banget kayak sutera."
"Pantesan lo di angkat jadi menantu, akting lo emang gak ada duanya. Sekalian aja casting sinetron, pasti lo di jadiin pemeran utama."
"Hahaha ..."
Sementara di tempat kediaman Braspati.
__ADS_1
"Gimana, pa? Kina baik-baik aja kan?" tanya bu Hana dengan tidak sabar.
"Baik-baik aja, ma. Mama gak usah khawatir. Papa yakin jika Agam ini orang baik. Buktinya putri kita bisa se cinta itu padanya."
"Tapi tetap aja, pa. Perasaan seorang ibu tidak bisa di bohongi. Mama merasa gak tenang aja."
"Itu cuma perasaan mama aja."
"Pokoknya nanti sore kita ke rumahnya aja ya? Mama belum bisa tenang kalau belum lihat secara langsung," ajak wanita itu lagi.
"Enggak bisa, ma. Agam bilang kalau mereka nanti mau jalan-jalan keluar. Percuma kalau kita datang ke rumah."
"Oh kalau begitu kita minta mereka buat mampir aja ke rumah. Sekalian makan malam bersama di sini. Gimana?"
Braspati diam untuk beberapa saat. Kemudian ia menyetujui ide istrinya.
"Iya, ma. Nanti papa telepon Agam lagi buat minta dia mampir ke sini."
"Iya, pa."
Bu Hana berharap jika putri dan menantunya mau mampir ke rumahnya. Ia tidak akan bisa tenang jika belum mendengar maupun melihat putrinya secara langsung.
"Kalau begitu mama ke dapur dulu, ya. Mau nanya bahan masakan masih ada atau sudah menipis buat masak makan malam nanti," pamit bu Hana.
__ADS_1
"Iya, ma."
_Bersambung_