
Kina tersenyum lebar pada saat suaminya pulang lebih awal. Biasanya pria itu akan pulang sekitar pukul lima sore. Akan tetapi baru jam tiga dia sudah pulang.
"Tumben udah pulang, mas?" tanya Kina sambil menggandeng tangan Agam masuk ke dalam rumah.
"Gak apa-apa. Mau aja. Emangnya gak boleh ya kalau aku pulang lebih awal?"
Kina menggeleng. "Bukan gitu, mas. Aku justru senang banget."
Mereka duduk di sofa ruang televisi.
"Sayang .." panggil Agam lirih.
"Iya, mas," jawab Kina dengan menatap wajah suaminya.
"Mmm ..." Agam menggantung kalimatnya.
"Kenapa, mas?"
"Aku mau bicara sama kamu, tapi kamu jangan tersinggung, ya."
Kina mengerutkan keningnya. "Bicara apa emangnya? Kenapa aku harus tersinggung?"
"Tapi janji ya jangan tersinggung!?" Agam memberi jari kelingkingnya pada Kina.
Kina pun menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking suaminya. "Iya, mas. Janji."
Agam pun menghela napas panjang. Sebelum akhirnya ia mengatakan apa yang ingin ia bicarakan.
"Sayang .. Kamu ini kan anak tunggal. Papa sama mama kamu emangnya belum ada niat untuk mewariskan harta nya sama kamu? Maksud aku gini, sayang. Kamu kan sekarang udah menikah. Seharusnya gak waris itu udah ada."
__ADS_1
Kina diam guna mencerna ucapan Agam baik-baik. Ia masih kurang paham akan maksud suaminya.
"Tapi papa sama mama kan masih hidup, mas. Aku gak berhak atas harta mereka. Walaupun aku ini putrinya dan satu-satunya pewaris di keluarga Braspati," jawab Kina kemudian.
Agam menghela napas panjang. "Kamu berhak, sayang. Harusnya ya, seluruh harta keluarga Braspati itu udah jatuh ke tangan kamu, Kina. Atau kalau kamu gak mau, bisa atas nama aku karena aku ini suami kamu. Ginana?"
"Setahu aku, kalau gak waris gak bisa atas nama menantu, mas. Maaf, bukannya gimana-gimana. Tapi emang gitu kan?"
"Iya, sih. Tapi setidaknya nama kamu, sayang."
Kina bergeming. Ia menatap suaminya dengan tatapan heran.
"Kamu kenapa tiba-tiba bicara soal hak waris, mas?" tanya Kina sedikit curiga.
Agam sedikit gelagapan. Namun ia berusaha untuk tetap tenang.
"Tapi papa aku gak punya riwayat penyakit apa-apa, mas. Apalagi jantung. Kita berdo'a yang baik-baik aja. Mudah-mudahan papa sama mama sehat terus."
Agam pun mengangguk. "Iya, sayang."
"Ya udah kalau begitu aku buatin kamu minuman hangat, ya."
"Iya."
Kina pun beranjak pergi menuju dapur. Sementara Agam menghembuskan napas seraya mengusap wajahnya kasar.
"Sial ... Gue gagal!" umpat pria itu.
Tidak berapa lama, Kina kembali dengan membawa secangkir kopi, lalu meletakannya di atas meja di hadapan suaminya.
__ADS_1
"Kopi nya, mas."
"Makasih, sayang ..."
"Sama-sama."
Kina pun kembali duduk di samping suaminya.
"Oh ya, mas. Kamu jadi cari asisten rumah tangga buat kita?" tanya Kina kemudian.
Agam menaruh kembali cangkir kopi yang baru saja ia seruput.
"Maaf, sayang. Aku lupa. Besok aku cari, ya."
"Kalau kamu gak bisa, mama sama papa mau bantu carikan asisten rumah tangga buat kita, mas."
Agam yang hendak menyeruput kembali kopinya mengurungkan niat.
"Enggak, enggak usah."
"Loh, kenapa, mas?" tanya Kina heran.
"Enggak usah. Biar aku aja. Jangan merepotkan mereka. Gak enak. Aku aja yang cari, ya. Tapi kamu harus sabar. Ok!?"
Kina pun mengangguk. "Iya, mas."
Agam kembali menyeruput kopi tersebut beberapa kali. Sementara Kina memandang wajah Agam dengan sedikit terheran.
_Bersambung_
__ADS_1