ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 29


__ADS_3

Selama tiga hari setelah meninggalnya Hana dan Braspati, Kina masih ingin tinggal di rumah tersebut. Karin dan Axel juga masih menemani Kina di sana. Sesekali, Axel mengajak Kina untuk bicara. Berusaha menyemati agar sepupunya tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


"Setelah mas Agam hilang tanpa kabar, apalagi mama sama papa udah gak ada, rasanya aku ingin tinggal di sini aja, kak," ungkap Kina. Mereka kini sedang duduk di taman belakang rumah.


Axel menghembuskan napas terdengar sedikit kasar. Sebenarnya ia sudah mendapat kabar jika suami sepupunya ini ternyata seorang pria yang kerap mabuk-mabukan juga main wanita di luaran sana. Pria itu juga sering bermalam di hotel bersama wanita teman tidurnya. Tapi ia tidak tega untuk mengatakan hal ini pada Kina. Biar Kina menganggap jika suaminya menghilang, itu terdengar jauh lebih baik.


"Tante Karin mungkin bisa menemani kamu di sini, Ki. Aku minta maaf sama kamu, ya. Kalau aku gak bisa jika harus ada di sini. Tapi aku janji, aku gak bakalan tinggalin kamu apalagi balik ke London sebelum pelaku sabotase mobil papa kamu di temukan. Aku akan pastikan jika orang itu di hukum seberat-beratnya."


"Gak apa-apa, kak. Dengan niat baik kakak demikian pun aku sudah sangat berterima kasih sekali. Makasih ya, kak Axel. Kakak ada di saat aku seperti ini," ucap Kina.


"Iya, Ki. Jangan sedih lagi, ya. Kamu harus fokus pada buah hati kamu juga."


Kina mengangguk. "Iya, kak."


"Sekarang kamu makan, ya. Tadi pagi kamu melewatkan sarapan. Kasihan bayi kamu, pasti dia sudah sangat lapar," bujuk Axel.


"Iya, kak. Kakak juga melewatkan sarapan kan tadi pagi gara-gara sibuk bujuk aku?"


Axel mengulas senyum kemudian menganggukan kepalanya.


"Kalau begitu kita makan bareng, yuk!" Kina bangun dari tempat duduknya, menarik pergelangan tangan pria itu.

__ADS_1


"Ayo." Axel bangkit berdiri, keduanya melipir pergi untuk makan.


Di tempat lain, beberapa orang tengah berkumpul di sebuah kafe. Tawa yang bersumber dari mereka terdengar menggelegar. Entah apa yang saat ini mereka bahas, yang pasti tampak mengasikan.


"Eh, Gam. Lo udah tahu belum kalau mertua lo metong?" tanya salah satu dari mereka.


"Emang apa urusannya sama gue?" sahut pria yang tengah menghisap sebatang rokkok.


"Lah, lo kan menantunya anjjir!"


"Bodo amat, lah. Cuma menantu, bukan anaknya."


"Gue gak perduli."


"Gila, lo. Sadis bener jadi suami!"


"Hahaha .." Teman-teman nya mentertawakan.


"Eh, Gam. Gue ada kenalan cewek, nih. Kalo lo mau, gue nanti kirim foto sekalian sama kontak nya."


"Cantik, gak?"

__ADS_1


"Gak usah di ragukan lagi. Dia bukan cuma cantik, tapi lincah. Dan yang pasti, ukuran XXL."


"Udah pernah lo coba?"


"Dia pilih-pilih, njir. Lo kan good looking, udah pasti dia mau sama lo."


"Ya udah, lo kirim foto sama kontaknya sekarang, ya."


"Siap."


Teman yang menawarkan wanita tersebut pada Agam segera mengirimkan foto dan kontak nya. Begitu sudah terkirim, Agam langsung cek ponselnya. Dan ternyata benar, sesuai dengan ekspektasi.


"Mantap, nih. Jatah buat nanti malam," ujarnya.


"Menang banyak lo."


"Iya, lah," jawab Agam dengan sombongnya.


Dia coba chat wanita tersebut dan mendapat respon cepat. Begitu ia ajak, wanita ia langsung mau. Agam menggigit bibir bawahnya, sudah tidak sabar menunggu malam hari tiba.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2