ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 6


__ADS_3

Pagi ini Kina masih menyiapkan sarapan untuk suaminya. Setelah apa yang sudah terjadi semalam, ia tetap harus melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


Agam berjalan menuju meja makan dengan rambut dan baju yang berantakan. Kina menyambut pria itu dengan seulas senyum.


"Selamat pagi, mas. Kamu udah baikan?" sapa dan tanya Kina.


Pria itu tidak menggubris, dia menarik salah satu kursi makan, mengambil gelas dan menuangkan air putih. Agam meneguk segelas air putih itu sampai habis.


Kina sedikit terkejut melihatnya. Tapi itu mungkin efek mabuk semalam.


Setelah menghbiskan segelas air putih, Agam mengambil roti yang sudah Kina olesi menggunakan selain coklat kacang. Kina tersenyum lantaran suaminya mau sarapan.


"Aku buatin susu buat kamu, mas. Di minum, ya." Kina menggeser gelas susu ke hadapan suaminya.


Biasanya, ia membuatkan kopi. Tapi semalam pria itu mabuk dan susu merupakan penawar. Mudah-mudahan susu tersebut bisa menawar alkohol di dalam tubuhnya.


Pria itu sama sekali tidak menanggapi Kina, ia tetap melanjutkan makan rotinya sampai habis. Kemudian meneguk susu tersebut setengahnya. Setelah itu dia beranjak dari sana kembali ke kamarnya.


Kina menghela napas lega. Meski suaminya belum mau bicara dengannya, tapi dia masih mau memakan sarapan buatannya.


Usai membereskan bekas sarapan suaminya, Kina pergi ke kamar untuk menghampiri suaminya. Baru sampai di bibir pintu, ia berpapasan dengan pria tersebut dengan penampilan yang sudah berbeda. Rapi dan sudah wangi.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Kina namun Agam tidak memperdulikan hal itu.

__ADS_1


"Mas!" Kina mengikuti langkah suaminya, ia takut jika suaminya akan menemui wanita tadi malam atau wanita yang lain.


"Mas Agam, tunggu, mas. Kamu mau kemana?" Kina menghadang langkah pria itu tepat di pintu depan.


"Jangan pergi, mas! Kamu di sini aja, ya," pinta Gina takut dan khawatir.


"Minggir!"


Kina menggeleng. "Enggak, kamu gak boleh pergi, mas."


"Minggir! Aku mau ke toko," Kata pria itu.


"Kamu gak kemana-mana kan? Kamu cuma ke toko kan?" cecar Kina.


Kina meringis kesakitan saat sikunya membentur pintu. Ia hendak mengejar langkah suaminya namun pria itu sudah terlanjur pergi dengan mobilnya.


"Semoga mas Agam tidak mengulangi perbuatan seperti malam," ucap wanita itu.


***


Di tempat kediaman Braspati.


Ibu Hana tampak gelisah sejak semalam. Perasaan wanita itu tidak tenang. Entah kenapa pikirannya terus tertuju pada putri semata wayangnya, yaitu Kina.

__ADS_1


"Ma, kenapa? Papa perhatikan sejak semalam mama ini gelisah sekali. Ada apa, ma?" Braspati duduk di tepi ranjang samping istrinya.


"Nama juga tidak tahu, pa. Mama terus saja kepikiran sama Kina," terangnya.


"Kina? Memangnya Kina kenapa, ma?"


"Itu dia, pa. Perasaan mama gak enak, mama takut terjadi sesuatu pada Kina."


"Mama sudah coba telepon?"


"Sudah, pa. Tapi gak aktif. Mama sudah coba telepon berkali-kali tapi hasilnya tetap sama. Gimana kalau nanti sore kita ke rumahnya aja?"


Braspati mengangguk setuju. "Iya, ma. Tapi nanti papa coba telepon dulu sama Agam untuk menanyakan kondisi Kina. Sekarang Agam pasti lagi sibuk di toko. Karena sekarang toko kan sudah papa serahkan sepenuhnya untuk dia."


Bu Hana mengerutkan keningnya dalam. "Maksud di serahkan sepenuhnya untuk dia?"


"Toko itu sudah papa berikan untuk nya, untuk Kina juga. Maaf ya papa belum cerita ini sama mama."


Bu Hana terdiam sejenak. Entah kenapa ia tidak rela jika toko furniture yang mereka rintis dari awal kini di berikan sepenuhnya pada menantunya. Meski dirinya masih memiliki penghasilan yang jauh lebih besar di banding dari toko itu.


"Sekarang mama gak usah terlalu memikirkan Kina, ya. Kina itu kan udah punya suami. Agam pasti akan jaga dia. Kina pasti aman sama dia."


"Iya, pa. Semoga Agam selalu menjaga Kina," harap wanita itu.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2