ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 15


__ADS_3

Keesokan harinya.


Agam pamit untuk pergi ke toko dan izin untuk makan siang nanti bersama teman-temannya.


"Hati-hati ya, mas," pesan Kina usai mencium punggung tangan suaminya.


"Iya, sayang. Aku pergi dulu, ya. Kamu jaga diri baik-baik di rumah."


"Iya, mas. Oh ya, aku ada rencana buat cari asisten rumah tangga, mas. Kira-kira kamu setuju gak? Soalnya sekarang kan aku lagi hamil, udah gak bisa terlalu kecapean."


Agam diam sejenak. "Ya udah tapi nanti aku aja yang cari, ya."


"Iya, mas."


"Aku pergi."


"Iya. Hati-hati, ya."


Agam melipir menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Kina melambaikan tangan seiring mobil itu melaju meninggalkan pelataran.


Suara sering panggilan masuk mengalihkan perhatiannya. Begitu di lihat layar HP nya memunculkan nama sang ibunda. Kina segera menjawab telepon tersebut.


"Halo, ma. Mama apa kabar?" tanya Kina begitu telepon sudah terhubung.


"Halo, sayang. Mama baik. Kamu apa kabar? Sudah periksa kandungan ke Dokter lagi?" tanya wanita paruh baya di sebrang telepon dengan begitu semangat.


Sebelumnya orang tua Kina sudah di beri tahu soal kehamilannya saat masih berusia dua minggu.


"Syukur deh kalau mama baik. Aku juga baik, ma. Rencana periksa lagi kayaknya minggu depan," jawab Kina.


"Nanti mama sama papa yang temani, ya? Sama Agam juga. Gimana?" tawar bu Hana.

__ADS_1


"Boleh, ma. Tapi itupun kalau mama sama papa gak sibuk. Kalau sibuk gak apa-apa, aku biar sama mas Agam aja."


"Sayaaang ... Mama sama papa sibuk apa? Kami tidak memiliki kesibukan selain menunggu kehadiran cucu kita. Kamu makan yang banyak, istirahat yang cukup, dan jangan sampai kecapean ya, sayang. Kamu harus jaga baik-baik kandungan kamu. Karena hamil muda itu sangat rentan sekali," pesan bu Hana.


"Iya, ma. Aku sama mas Agam juga rencananya mau nyari asisten rumah tangga. Karena aku sekarang sedikit-sedikit udah mulai cape, lelah. Rasanya mau tiduran aja."


"Iya, harus pakai asisten rumah tangga mulai sekarang. Dari awal kalian pindah pun harusnya pakai asisten rumah tangga biar kamu gak cape, sayang."


"Waktu itu kan aku masih sanggup buat urus rumah sendiri, ma. Dan aku juga udah janji kalau aku udah hamil baru pakai asisten rumah tangga."


"Secepatnya pakai asisten rumah tangga, ya. Mama gak mau kamu sampai kecapean, sayang. Mama khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan."


"Iya, ma. Mama gak usah khawatir, ya. Mama do'akan saja semoga aku sama calon cucu mama sehat selalu."


"Aamiin ... Pasti, sayang. Mama akan selalu do'ain anak dan cucu mama."


"Iya, ma. Makasih, ya."


"Udah, ma. Barusan mas Agam berangkat."


"Terus sekarang kamu sendiri di rumah?"


"Iya, ma."


"Kalau begitu mama sama papa ke sana aja, ya. Mama temani kamu."


"Enggak usah, ma. Makasih. Aku udah biasa kok di rumah sendiri. Mama gak usah khawatir, ya. Aku aman, kok."


"Tapi sekarang kan kamu sedang hamil, sayang. Mama ke sana aja, ya?"


"Enggak usah ya, ma. Enggak apa-apa."

__ADS_1


"Yakin enggak apa-apa."


"Iya, ma."


"Tapi kamu harus jaga diri baik-baik, ya. Kamu kunci rumah selama suami kamu gak ada di rumah. Ok!?"


"Iya, ma. Mama tenang aja."


"Kalau ada apa-apa atau kamu butuh bantuan mama, langsung kabari mama ya sayang, ya."


"Iya, ma. Pasti, ma. Pasti."


"Ya udah kalau begitu mama tutup dulu teleponnya, ya. Nanti kita sambung lagi."


"Iya, mama."


"Ingat, hubungi mama kalau ada apa-apa!"


"Iyaaa ... Salam buat papa ya, ma."


"Iya, sayang. Ingat pesan mama, ya."


"Iya .."


"Bye .."


"Bye, ma."


Sambungan telepon pun berakhir. Kina geleng-geleng kepala mendapat perhatian dari mamanya yang begitu mengkhawatirkannya. Tapi ia sangat beruntung memiliki keluarga yang begitu sayang padanya. Perhatian padanya.


Kina menarik napas panjang, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamar.

__ADS_1


_Berasambung_


__ADS_2