
Kelopak mata Kina mulai bergerak-gerak. Cahaya mentari pagi yang menyelinap masuk ke celah jendela membuatnya bangun dari tidur panjangnya semalam. Tangan nya meraba bagian sisi tempat tidur di sebelahnya. Namun ia tidak mendapati apapun. Sisi tempat tidur di sebelahnya kosong.
Kina membuka matanya spontan. Dan begitu kedua matanya terbuka sempurna, ia langsung duduk dan mengedarkan pandangan ke setiap sudut mencari sosok tersebut.
"Mas .. Mas Agam .." panggil Kina.
"Mas ..."
Kina menyibakan selimut lalu turun dari ranjang tempat tidur.
"Mas .." panggil Kina lagi.
Ia memutuskan untuk mencari sosok tersebut ke kamar mandi. Namun ia tidak juga mendapati suaminya di sana.
"Mas Agam kok gak ada? Sepagi ini dia kemana ya?" pikir Kina.
Ia tertegun sejenak. Perasaannya sudah mulai tidak tenang. Apakah pria itu kembali mengkhianatinya? Jika benar, maka tidak ada lagi maaf baginya.
"Aku coba cek ke luar, deh. Siapa tahu mas Agam masih di rumah," ujar nya lalu beranjak dari tempat berdirinya.
"Mas .. Mas Agam .." Kina meniti anak tangga dan berjalan menuju ruang tamu.
"Mas .."
Kemudian Kina mengecek mobil di bagasi, ternyata masih ada. Lalu dimana pria itu sekarang?
"Mas Agam .."
Kina berjalan menuju dapur, siapa tahu suaminya sedang sarapan. Sebab semalam ia mendengar perut suaminya keroncongan saat tidur.
__ADS_1
Begitu sampai di ruang makan, ia menemukan sosok yang ia cari tengah berdiri di sana. Pria itu tampak sedang sibuk dengan aktivitasnya.
"Mas .."
Panggilan Kina membuat pria itu sedikit terkejut. Seketika dia menghentikan aktivitasnya dan berjalan menghampiri Kina.
"Sayang, kamu udah bangun?" tanya pria itu dengan lembut.
"Kamu ngapain di sini, mas?" Kina balik bertanya.
"Mm ... Itu aku lagi buatin sarapan buat kamu, sayang. Aku juga buatkan susu untuk kamu."
Kina melirik ke arah meja makan. Terdapat beberapa potong roti dan segelas susu putih di sana. Meja makan nya sedikit berantakan.
Kina mengulas senyum kagum. "Kamu yang siapin semuanya, mas?"
Agam mengangguk. "Iya, sayang. Ayo kita sarapan."
Agam menarik salah satu kursi makan, lalu Kina duduk di kursi tersebut.
"Aku oles pakai selain coklat kacang kesukaan kamu, sayang. Jangan lupa di habiskan, ya." Agam meletakan piring berisi roti coklat tersebut ke hadapan istrinya.
"Makasih ya, mas."
"Sama-sama, sayang. Di makan, ya."
"Iya."
Kina mengambil sepotong roti tersebut dan mulai menyantapnya. Ia masih tidak menyangka jika suaminya bisa semanis ini. Ia berharap ini bukan kemanisan palsu. Semoga ini adalah awal perubahan sikap suaminya.
__ADS_1
"Gimana, sayang? Enak?" tanya Agam memastikan.
Kina mengangguk. "Enak."
"Susu nya juga jangan lupa di minum, ya. Ini susu khusus untuk ibu hamil. Tadi aku lihat stok susu kamu sudah habis. Makanya aku tadi beli."
"Sepagi ini toko susu memangnya sudah buka, mas?"
"Belum."
"Terus?"
"Aku gedor."
Kina tersenyum mendengar jawaban suaminya. Ia masih tidak menyangka dengan sikap manis ini.
Dua potong roti Kina makan dengan lahap, susu juga sudah ia habiskan.
"Mudah-mudahan bayi kita sehat selalu di dalam sana," ucap Agam penuh harap.
"Iya, mas. Sekali lagi, makasih ya. Kamu udah repot-repot buatin aku sarapan."
"Gak apa-apa, sayang. Kamu sendiri kan yang bilang butuh pembuktian? Makanya aku coba untuk buktikan sama kamu. Supaya kamu percaya sama aku, kalau apa yang aku bicarain itu bukan sekedar janji."
Kina menatap suaminya penuh rasa syukur.
"Iya, mas. Makasih, ya. Aku sayang sama kamu."
"Iya," balas Agam kemudian memeluk tubuh mungil istrinya.
__ADS_1
_Bersambung_