
Pemakaman kedua orang tua Kina tengah berlangsung. Kina sendiri terus saja pingsan tak kuasa menahan tangis nya. Ia tidak menyangka jika kedua orang tuanya akan meninggalkannya secepat ini.
Kina di dampingi oleh sepupunya yang bernama Axel. Sementara Agam menghilang entah kemana. Berulang kali ia hubungi namun pria itu tidak bisa di hubungi juga.
"Kamu kemana, mas? Aku sedang butuh kamu sekarang. Kamu kemana?" batin Kina.
Ia terus terisak, kedua matanya sembab sebab air matanya tak kunjung mau berhenti.
"Kamu yang sabar, ya. Kamu enggak sendiri," ucap Axel berusaha menenangkan.
Hingga pemakaman selesai, Kina tidak juga berhenti menangis. Ia kehilangan dia sosok orang yang paling berharga di dalam di hidupnya dia sekaligus.
"Mama ... Papa .. Kenapa mama sama papa tinggalin aku? Kenapa harus secepat ini, ma, pa .. Kenapa?"
Kina memeluk batu nisan papa dan mama nya secara bergantian. Beberapa orang yang menyaksikan nya turut prihatin dan empati.
__ADS_1
Dua orang polisi menghampiri Kina dan Axel.
"Selamat sore. Kami ingin memberitahukan jika kecelakaan yang terjadi pada korban itu disebabkan karena adanya dugaan sabotase mobil," jelas salah satu polisi tersebut.
"Sabotase?" Kina bangun dan berdiri di hadapan kedua polisi tersebut.
"Siapa yang melakukannya, pak?" tanya Kina.
"Untuk itu kami masih menyelidiknya."
"Tolong usut kasus ini sampai tuntas. Dan temukan pelakunya," pinta Axel.
Kedua polisi itu juga mengucapkan turut berduka cita sebelum akhirnya pergi dari hadapan Kina dan Axel.
"Semoga pelakunya cepat di tangkap. Dia harus di hukum dengan seberat-beratnya. Dia manusia tidak berperasaan. Manusia biad dab, keji," maki Kina habis-habisan.
__ADS_1
"Shhttt ... Kamu yang sabar ya, Ki. Kamu harus ikhlas. Kamu harus kuat. Ingat, ada calon bayi kamu yang harus kamu jaga."
Kina menatap sepupunya cukup lekat, ia bersyukur sekali masih memiliki keluarga seperti Axel. Kebetulan pria itu pulang dari London sampai tadi pagi. Dan dia adalah satu-satunya orang yang bisa Kina hubungi.
"Makasih ya, kak Axel. Makasih kakak ada di saat aku seperti ini. Makasih sudah jadi penguat aku. Makasih, kak," ucap Kina dengan bibir yang gemetar.
"Iya, Ki. Sama-sama." Axel membawa Kina ke dalam pelukannya, ia mengusap punggung wanita itu dengan lembut.
Hari sudah semakin gelap, Axel mengajak Kina untuk segera pulang. Awalnya Kina menolak dan ingin tetap di sana, namun setelah berulang kali Axel bujuk, wanita itupun menurut.
Jalanan sangat padat dan membuat kemacetan panjang. Sepanjang perjalanan Kina tak berhenti mengeluarkan air mata. Axel melirik Kina dengan tatapan iba. Ia pernah berada di posisi Kina, dimana orang tuanya meninggal bersamaan akibat kecelakaan. Bedanya, orang tua Kina mengalami kecelakaan mobil, sementara orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat. Tapi jika masih di katakan beruntung, Kina masih beruntung lantaran di beri kesempatan untuk melihat jasad orang tuanya untuk terakhir kali. Sementara orang tuanya tidak bisa di temukan.
Kina menyandar pada jendela mobil samping, ia membiarkan air matanya mengalir tanpa harus ia seka.
"Kamu dimana, mas? Aku sedang butuh kamu, mas. Aku butuh kamu, mas. Aku butuh kamu."
__ADS_1
Tangis Kina semakin pecah. Seharusnya Agam yang saat ini ada di sampingnya. Menjadi penyemangat nya, penguat nya. Tapi justru dia sekarang menghilang entah kemana.
_Bersambung_