ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 31


__ADS_3

Seperti janji sebelumnya, Axel hanya akan pergi setelah kasus orang tua Kina selesai. Pelaku sudah di tangkap. Dan hari ini, pria itu pamit untuk kembali ke London.


"Kamu jaga diri baik-baik di sini, Ki. Kalau ada apa-apa dan kamu butuh bantuan, langsung kabari aku, ya. Aku janji akan langsung datang. Jangan lupa kasih kabar kalau kamu anak ini sudah lahir," pamit Axel di iringi tangis oleh Kina.


"Makasih ya, kak. Selama kakak di sini, kakak udah banyak bantu aku. Maaf kalau aku selalu ngerepotin kakak."


"Shhttt ..." Axel menempelkan telunjuknya pada bibir Kina. "Aku sama sekali gak pernah merasa di repotkan. Justru aku senang bisa bantu kamu."


Kina menangis hari sekaligus merasa sedih, setelah ini ia tidak hanya kehilangan mama dan papanya untuk selamanya. Tapi juga kehilangan sepupu paling baik, meski dalam waktu sementara.


"Kakak orang baik, pasti wanita yang akan menjadi pendamping kakak beruntung sekali."


Axel mengulas senyum. "Kamu juga orang baik, Ki. Kamu pasti akan mendapatkan laki-laki yang lebih pantas. Meski saat ini status kamu masih jadi istri orang itu."


"Aku akan tetap berpisah dengan mas Agam setelah anak ini lahir. Keputusan aku sudah bulat. Sebab yang aku jalani sekarang ini adalah menunda perpisahan."


Axel menatap perut Kina yang menonjol besar. Dia semakin tidak tega dengan wanita itu. Anak tanpa dosa itu seharusnya lahir di sambut hangat oleh kedua orang tuanya. Tapi begitu dia lahir, orang tuanya justru akan berpisah.


"Kenapa, kak?" tanya Kina saat Axel tiba-tiba melamun.


Pria itu menggelengkan kepalanya. "Enggak, enggak apa-apa," jawab pria itu.


Kedatangan Karin yang baru saja selesai mandi memutus obrolan antara Kina dan Axel. Wanita itu menatap koper yang berada di samping Axel.


"Kamu serius mau kembali ke London hari ini, Axel?" tanya wanita itu.


"Iya, tante. Tapi nanti aku pasti bakal ke sini lagi. Tolong jaga Kina baik-baik tante. Kasihan, Kina lagi hamil besar," pesan pria itu.


Karin memutuskan untuk menemani Kina selama Kina hamil. Setelah itu, dia juga akan kembali ke rumahnya yang ada di Malang. Karin sendiri sebelumnya sudah berkeluarga, tapi dia sudah cerai sejak tiga bulan lalu. Dan dia tidak memiliki anak.

__ADS_1


"Iya, pasti. Tante akan jaga Kina. Pelayan di sini juga. Terus tante juga mau kasih ide sama kamu, Ki. Bagaimana kalau menyewa tim penjaga untuk memperkuat keamanan rumah ini? Kejadian yang di alami mama sama papa kamu harus kita jadikan pelajaran. Penjahat bisa datang kapan saja."


Kina mengangguk setuju. "Iya, tante."


"Nanti aku bantu, ya. Aku bisa minta tolong sama teman aku yang tinggal di sekitar rumah ini buat carikan tim penjaga keamanan untuk rumah ini," tawar Axel.


"Aku ngerepotin kakak lagi dong."


"Gak ada yang namanya repot. Kamu satu-satunya sepupu perempuan aku, Ki. Baik aku, maupun kamu, kita sudah tidak punya orang tua. Tapi kita masih punya tante Karin. Dan sudah seharusnya kita sebagai keluarga saling bahu membahu."


"Makasih ya, kak."


"Iya."


Karin ikut senang melihat Kina dan Axel rukun seperti ini. Lantaran ia tidak memiliki anak, ia menganggap mereka sudah seperti anaknya.


"Ki, tante, aku pamit pergi dulu, ya. Aku harus segera ke Bandara," pamit Axel mengakhiri percakapan di antara mereka.


"Hati-hati, Axel."


"Iya, makasih, Ki, tante."


"Kalau sudah sampai jangan lupa hubungi aku, kak," pesan Kina di angguki oleh pria itu.


"Iya, Ki. Pasti. Aku pergi, ya. Assalamu'alaikum .." Axel mencium punggung tangan Karin, lalu Kina menciun punggung tangannya.


Axel mulai melangkah pergi dari hadapan mereka. Kina sangat sedih. Orang yang selama seminggu terakhir ini ada di sisi nya, kini harus pergi lagi.


"Kak Axel ..."

__ADS_1


Panggilan Kina menghentikan langkah pria itu, Kina berjalan menghampiri Axel lalu memeluk tubuh sepupunya tersebut. Ia menangis di sana.


"Kak Axel .. Aku pasti akan merindukan kakak," ungkap Kina sambil terisak.


Axel mengusap punggung Kina dengan lembut. "Aku juga, Ki. Kamu gak usah khawatir, kita bisa video call."


Kina melepaskan pelukannya. "Janji ya kakak datang kalau anak aku sudah lahir."


Axel mengangguk. "Janji."


Kina memeluk kembali pria itu. Pelukan yang cukup erat seakan ini adalah pelukan terakhir bagi mereka. Setelah puas berpelukan, barulah Kina merelakan sepupunya pergi.


"Pergilah, kak. Semoga sampai di tujuan dengan selamat."


"Iya, Ki. Makasih," balas Axel lalu menghapus air mata di pipi Kina. "Aku pergi, ya."


"Iya, kak."


Axel melambaikan tangan nya, Kina dan Karin membalas lambaian tangan tersebut. Pria itu masuk ke dalam mobil taksi online yang sudah menunggu beberapa menit lalu.


Kina melambaikan tangannya seiring mobil itu pergi, air matanya pun kembali turun.


"Aku pasti akan merindukanmu, kak," ucap Kina lirih saat mobil itu sudah hilang dari jangkauan matanya.


Karin berjalan menghampiri, memegang kedua pundak Kina.


"Jangan sedih, Axel pasti akan datang lagi," ucap Karin berusaha menenangkan.


Kina mengangguk. "Iya, tante."

__ADS_1


"Ayo masuk!" ajak Karin di agguki oleh Kina.


_Bersambung_


__ADS_2