ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 11


__ADS_3

Semakin hari, Agam kian berubah. Pria itu terus menerus menyakiti hati Kina. Akan tetapi Kina tetap sabar dalam mengadapi sikap suaminya. Meski rasa sakit terus menghujam hati, mencabik, merobek, Kina tetap mencintai suaminya.


Sebagian orang ia persilahkan untuk menganggapnya bodoh. Tapi ini tentang bagaimana cara mempertahankan rumah tangga. Agam adalah cinta pertama Kina, dan Agam harus menjadi cinta terakhirnya pula.


Pernah Kina mencoba untuk pergi ke toko, untuk memastikan jika suaminya benar-benar pergi untuk bekerja. Tapi nyatanya ia melihat suaminya tengah bermesraan dengan seorang wanita di depan kafe yang baru saja turun dari mobil.


Setiap malam Agam pulang dengan keadaan mabuk, bahkan pria itu tak jarang pulang pagi. Tubuh pria dengan wangi yang khas itu kini berubah bau asap rokok dan minuman.


Dan yang membuat Kina tidak mengubur harapannya pada Agam, pria itu masih mau menyentuhnya. Walaupun ia tahu jika suaminya melakukan atas dasar naffsu, bukan cinta. Tapi tak apa, toh ia memiliki kewajiban untuk melayani.


Dan hari ini, pria itu jatuh sakit. Suhu badannya tinggi.


"Mas, kita ke rumah sakit aja, ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kita ke rumah sakit, ya .." bujuk Kina cemas.


Agam tidak merespon ajakan Kina. Pria itu mengabaikan kekhawatiran istrinya.


"Kita ke rumah sakit, ya, mas .." bujuk Kina lagi.


"Bisa diem gak, sih? Bawel banget sih jadi orang. Aku itu lagi sakit, butuh ketenangan," seru Agam.

__ADS_1


"Iya, mas. Tapi-"


"DIAAMMM ...!!!" Agam membuat tubuh Kina tersentak kaget.


Kina menunduk, pelupuk matanya sudah mulai memupuk cairan putih bening yang siap turun kapan saja.


"Ya udah kalau kamu gak mau ke rumah sakit, aku kompres aja, ya?"


Agam melayangkan tatapan tajam pada Kina. Tapi Kina membalasnya dengan ulasan senyum.


"Aku kompres ya, mas. Kamu gak boleh nolak!" Lalu Kina beranjak keluar kamar.


Agam menghembuskan napas seraya mengusap wajahnya kasar. Padahal selama ini ia berusaha untuk menyakiti Kina agar wanita itu yang menyerah, tapi kenapa Kina justru tetap bertahan.


"Kamu jangan marah-marah melulu ya, mas. Kamu sekarang kan lagi sakit. Harus banyak istirahat. Kalaupun mau marah-marah nanti aja kalau udah sembuh," kata Kina sambil memijat pelan kaki Agam.


Agam bergeming, pria itu memilih untuk diam saja sambil memejamkan mata.


"Besok-besok kamu jangan mabuk-mabukan lagi ya, mas. Minuman itu tidaklah baik untuk kesehatan. Apalagi kamu sampai main wanita lagi. Aku gak suka, mas," tutur Kina.

__ADS_1


"Kalau kamu gak suka kenapa kamu masih bertahan? Kenapa kamu gak nyerah aja sih?" ujar Agam membuka suara.


"Karena aku yakin mas, kalau kamu bisa berubah. Aku cinta sama kamu karena aku tahu kamu itu baik."


"Tapi buktinya aku gak baik. Aku suka minum, main perempuan, terus kenapa masih cinta sama aku?"


"Karena kamu cinta pertama yang ingin aku jadikan cinta terakhir."


Jawaban Kina membuat Agam diam seketika. Pria itu membuka matanya dan menatap wajah Kina yang tengah memeras handuk kecil untuk kembali di tempelkan pada keningnya.


"Jangan terlalu cinta, nanti kamu bisa benci."


Ucapan Agam membuat Kina yang tengah menempelkan handuk kecil tersebut kini beralih menatap wajah suaminya. Tatapan mereka saling temu.


"Sebaliknya, kamu jangan terlalu benci. Nanti kamu bisa aja menyesal ketika rasa benci kamu sudah berubah cinta, namun aku sudah pergi."


"Emangnya kamu bakalan pergi?"


Kina mengangkat bahunya. "Aku akan bertahan. Tapi manusia memiliki titik dimana ia lelah."

__ADS_1


Agam diam. Ia sama sekali tidak memalingkan pandangannya dari wajah Kina. Tapi seketika ia teringat sesuatu yang membuatnya harus menepis kasar ucapan Kina barusan. Ia tidak boleh terpengaruh oleh ucapan wanita itu.


_Bersambung_


__ADS_2