ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 32


__ADS_3

Hari demi hari telah Kina lewati. Tidak mudah baginya melalui semua ini. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menyembuhkan luka yang Agam torehkan begitu besar padanya.


Beruntungnya ia masih memiliki Axel yang setiap hari menyemangati lewat panggilan video call, juga lewat chat singkat. Memiliki tante Karin yang menemaninya di rumah. Dan juga Nayla yang sesekali datang untuk menghibur.


Temannya itu ikut berduka saat mendengar apa yang terjadi pada keluarganya. Apalagi mendengar apa yang terjadi dalam masalah rumah tangganya. Dia turut simpatik.


Tepat di usia kehamilannya yang menginjak ke delapan bulan, Kina mendapat kabar jika Agam akan di beri hukuman seumur hidup. Selain kasus sabotase mobil papanya, terjadi Agam juga memiliki kasus lain.


Kina lega mendengarnya. Meski masih ada perasaan sedih. Bagaimana pun, ia manusia yang memiliki hati nurani dan berperasaan. Rasa tidak tegaan itu yang terkadang membuatnya menjadi wanita bodoh.


Dan hari ini, usia kehamilan Kina menginjak ke sembilan bulan. Itu artinya, sebentar lagi dia akan melahirkan.


Pagi ini, ia tidak keluar kamar. Ia duduk di tepi ranjang sambil menahan perutnya sedikit mulas. Ketukan pintu dari luar kamar mengalihkan perhatian Kina.


"Ki .. Ini tante. Tante boleh masuk?" panggil tante Karin dari luar kamar.


"Iya, tante," jawab Kina setengah berteriak.


Pintu pun terbuka, muncul tante Karin dari balik pintu. Wanita itu membungkam mulutnya yang menganga, begitu pandangannya tertuju pada lantai yang terdapat bercak darah.


"Ya ampun, Ki. Kamu kenapa?" tanya tante Karin panik, dia langsung menghampiri Kina.


Kina belum sadar jika ada darah yang mengalir di kakinya. Darah tersebut mengalir bersamaan dengan cairan bening.


"Kita ke rumah sakit sekarang, ya!" ajak tante Karin saking paniknya.


Kina mengangguk setuju.


Tante Karin kemudian meminta pelayan di sana untuk membantu memapah Kina sampai mobil. Sopir pribadi Kina yang mengemudikan mobil tersebut.


Sampai di rumah sakit, Kina segera di bawa ke ruang persalinan. Sementara tante Karin segera menghubungi Axel, memberi pria itu jika Kina akan segera melahirkan.


Setelah satu jam lamanya menunggu, seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut. Tante Karin yang semula duduk di deretan bangku besi kini bangkit berdiri.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana persalinannya? Lancar kan Dok? Kina dan bayi nya selamat kan, Dok?" cecar tante Karin seakan tidak sabar menunggu jawaban Dokter.


"Ibu nya selamat, bu. Tapi maaf, bayi nya tidak dapat kami selamatkan," kata Dokter sontak membuat sekujur tubuh tante Karin melemas dan nyaris jatuh.


"Innalilahi wa inna ilaihi rajiun .." ucap tante Karin dengan bibir gemetar.


Begitu banyak cobaan yang datang menghampiri Kina dan bertubi-tubi. Ia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Kina.


Begitu mendengar suara jerit tangis berasal dari ruangan tersebut, membuat tante Karin ikut menumpahkan tangisnya.


"Tidaaakkk .. Anak saya tidak mungkin meninggal, Sus. Aaaaaa ..."


Tante Karin segera masuk ke dalam ruangan tersebut dan merangkul tubuh Kina. Mencoba menenangkan wanita itu.


"Anak aku lahir dengan selamat kan, tante? Katakan, tante! Anak aku selamat, kan?"


Tante Karin mengeratkan pelukannya, berusaha menyalurkan kekuatan untuk Kina.


"Yang sabar ya, Ki. Yang sabar ya, sayang .." ucap tante Karin.


***


Bayi Kina di makamkan tepat di samping makan Hana dan Braspati. Lagi-lagi Kina di dampingi oleh Axel. Pria itu segera melakukan penerbangan begitu tante Karin memberi tahu jika Kina melahirkan. Tidak hanya itu, tante Karin juga memberi tahu jika bayi Kina tidak dapat di selamatkan.


Kina menangis sesenggukan di dalam pelukan Axel. Lagi-lagi Kina harus kehilangan orang-orang yang ia cintai.


Axel berusaha menguatkan Kina. Sama halnya seperti waktu itu ia lakukan. Kina sendiri merasa lebih tenang jika Axel berada di sampingnya.


Lantaran kondisi Kina pun masih mengkhawatirkan pasca melahirkan, Axel segera mengajak Kina untuk pulang usai pemakaman selesai. Sebelumnya Axel, tante Karin, juga pihak rumah sakit belum memperbolehkan Kina untuk bepergian, termasuk menghadiri prosesi pemakaman. Tapi Kina tidak mengindahkan.


Sampai di rumah, Axel membopong tubuh Kina dari mobil menuju kamar.


"Kamu masih sakit, Ki. Jangan banyak gerak dulu, ya. Kamu harus banyak istirahat," ujar Axel.

__ADS_1


"Anak aku, kak. Anak aku .."


Axel menggenggam tangan Kina. "Iya, aku tahu. Mungkin ini bagian dari takdir yang sudah di tetapkan. Kamu harus ikhlas, ya."


Kina menggeleng. "Anak aku, kak .. Anak aku ..."


Axel menghela napas. Kina tampak sangat kacau. Dia tidak hanya kehilangan orang tua, suami, dia juga kehilangan anaknya. Dan itu ujian yang sungguh luar biasa. Tapi ia yakin jika Kina mampu melewati semuanya. Biar waktu yang menyembuhkan luka nya.


***


Setelah kondisi Kina pulih, Axel menemani Kina untuk pergi ke pengadilan agama. Sebelumnya ia sudah menggugat cerai Agam, suaminya. Dan hari ini, Kina resmi bercerai. Agam sangat menyesali perbuatannya, dan sekarang ia harus mendekam di penjara seumur hidup.


Agam marah pada dirinya sendiri. Begitu Kina menggugat cerai dan memberi tahu jika anaknya meninggal. Ia tidak dapat menebua kesalahannya sendiri.


Setelah dari pengadilan agama. Sebelum pulang ke rumah, Axel mengajak Kina untuk pergi ke sebuah tempat. Axel mengajak Kina ke pantai. Mereka kini tengah berdiri memandang laut lepas.


"Mulai detik ini, kamu harus bisa membuka lembaran baru hidup kamu, Ki. Biarkan buku lama kamu kubur dalam-dalam. Kamu tidak perlu mengingat lagi hal yang membuat kamu sakit. Kamu wanita kuat, kamu wanita hebat. Tidak semua orang bisa melewati masa sesulit ini."


"Iya, kak. Terima kasih sudah mau menemani perjalanan masa terpuruk ku. Aku kuat, karena ada kakak yang senantiasa menguatkan aku. Aku gak tahu nasib aku gimana kalau gak ada kakak sama tante Karin."


Kina menoleh pada pria yang berdiri di sampingnya. Mereka saling menatap.


"Jadikan apa yang terjadi pada hidup kita ini sebagai pelajaran hidup. Aku yakin, aku, kamu, kita akan mendapat kebahagiaan yang tidak bisa kita duga. Meski harus melewati cobaan pahit. Dan cobaan tersebut menjadikan kita menjadi kuat."


"Iya, kak. Dan semoga, berikutnya aku tidak lagi jadi istri yang malang."


"Aamiin ..."


Axel membawa Kina ke dalam pelukan. Mereka menikmati pemandangan indah pantai dan senja yang sore ini. Hingga matahari itu akhirnya tenggelam. Dan akan terbit kembali esok hari.


TAMAT ..


___

__ADS_1


Terima kasih banyak buat kalian semua yang mengikuti cerita ini. Sampai jumpa di karya novel berikutnya.


Follow IG @wind.rahma


__ADS_2