
Selama tiga hari Agam sakit, Kina mengurusnya dengan begitu sabar. Dan hari ini, pria itu sudah kembali sehat.
"Kamu baru sembuh, mas. Kamu jangan ke mana-mana dulu, ya," pinta Kina saat ia menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Terserah aku, lah. Suka-suka aku. Jangan pernah atur-atur hidup aku," seru pria itu.
Kina menghela napas, padahal tiga hari kebelakang sikap suaminya sudah lebih lembut. Tapi sekarang sudah kasar lagi. Mungkin karena dia kemarin sakit, jadi tidak ada tenaga untuk berbuat kasar.
"Tapi kamu pergi buat ke toko kan, mas?" tanya Kina memastikan.
"Kemana aja, yang penting aku happy. Tiga hari di rumah rasanya sumpek, aku butuh udara segar. Memanjakan mata, mendinginkan telinga dari kamu yang bawel nya minta di sumpel."
"Mas-"
"Sekali lagi kamu buka suara, aku bakal pergi tanpa menyentuh masakan kamu. Suara kamu itu bikin selera makan aku hilang tau gak?"
__ADS_1
Setiap ucapan yang keluar dari mulut Agam terasa begitu menyakitkan. Tapi tidak sepantasnya seorang suami berkata demikian terhadap sangat istri. Namun Kina tidak dapat berbuat apapun selain memilih untuk diam, mengalah dan pasrah. Di bandingkan terjadi perdebatan yang berujung keributan.
Mereka pun sarapan. Seperti biasa, Agam pasti selalu lahap. Sebab Agam sendiri tidak bisa membohongi diri sendiri jika masakan Kina sangatlah lezat. Maka dari itu, ia selalu memutuskan untuk sarapan dan makan malam di rumah. Untuk makan siang baru ia ke restoran sebab ia tidak di rumah.
Kina tersenyum melihat makanan di piring suaminya sudah habis.
"Mau tambah lagi, mas?" tawar Kina bersiap mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Agam.
Pria itu menggeleng. "Udah, cukup."
"Beneran gak mau nambah?"
Setelah itu, ia bangun dari duduknya dan beranjak dari sana.
"Mas .." panggil Kina seraya menyusul langkah pria itu.
__ADS_1
"Apalagi, sih?" seru Agam begitu Kina menghadang langkahnya.
Kina mengulurkan tangannya. "Apa? Butuh uang?" tanya pria itu.
Kina menggeleng. Wanita itu meraih buah tangan suaminya lalu ia cium punggung tangan tersebut. Agam sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Kina.
"Hati-hati, mas. Pergi ke toko, ya. Jangan pergi ke tempat lain apalagi bersama wanita lain," pesan Kina.
Agam segera melepaskan tangannya yang masih pegang erat oleh Kina. Setelah itu ia beranjak pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Kina menghela napas, ia harus bisa meluluhkan hati suaminya. Kalau pun ia tidak mampu meluluhkan hati suaminya, yang terpenting ia sudah berusaha. Meskipun pada akhirnya ia harus menyerah karena terlalu lelah.
"Aku akan berjuang sekuat yang aku mampu, mas. Aku akan terus mencintai kamu, meski setiap hari kamu coba untuk mengikis perasaanku. Aku akan tetap memperjuangkan rumah tangga kita dengan perasaan aku yang masih tersisa. Aku mencintai kamu, mas Agam Ligerald."
Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Kina. Sejauh ini ia rela menahan sakit guna menyelamatkan keutuhan rumah tangganya. Sebab istri mana yang tidak sakit saat secara terang-terangan suaminya mabuk-mabukan dan senang bermain dengan wanita lain.
__ADS_1
Seketika dadanya merasa sesak. Tapi sebisa mungkin harus ia tahan. Tidak perduli dengan ucapan orang lain yang mengatakan dirinya bodoh juga istri yang malang.
_Bersambung_