
Sudah hampir satu jam lebih Kina menunggu mama dan papa nya, namun mereka belum kunjung datang juga.
Seketika ia teringat pesan yang di kirimkan oleh mamanya tadi, menanyakan dirinya mau di bawakan apa.
"Apa mama sama papa mampir dulu di jalan kali ya?" pikir wanita itu.
"Aku coba telepon aja deh, mama sama papa sudah sampai mana."
Kina beranjak dari tempat duduknya guna mengambil ponsel yang di charger di kamar. Baterai ponsel nya belum terisi penuh sempurna, namun ia harus mencabut nya guna menelepon sang mama.
Kina mendial nomer mamanya di sana, mendekatkan benda pipih tersebut pada daun telinganya.
Panggilan pertama tidak ada jawaban, panggilan kedua sama, di panggilan ketiga tiba-tiba nomer nya berubah tidak aktif.
"Loh, kok jadi gak aktif sih?"
Kina mencoba melakukan panggilan lagi, tapi hasilnya sama tidak aktif. Perasaan Kina berubah khawatir dan gelisah. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar. Tiba-tiba ia terkejut saat gucci kecil yang berada di atas nakas samping pintu kamar tidak sengaja tersenggol tangannya.
Prakk ..
Kina langsung membungkam mulutnya yang menganga.
__ADS_1
"Ya ampun .." ujarnya kaget.
Tiba-tiba perasaannya berubah tidak enak, ia terus kepikiran dengan orang-orang yang ia sayangi.
Kina sedikit jongkok untuk memunguti kepingan gucci tersebut.
"Ya ampun, kenapa perasaan aku gak gini, ya? Ada apa ini?" Kina mengusap perutnya yang menonjol.
"Semoga tidak terjadi apapun sama ayah, opa dan oma ya, sayang .." ucap seraya mengelus-elus perutnya.
Suara dering panggilan masuk yang berasal dari ponselnya mengalihkan perhatian. Ia bangun berdiri dan berjalan masuk ke kamar guna mengambil ponselnya yang ia taruh di atas tempat tidur tadi. Mengesampingkan gucci yang baru saja tidak sengaja di pecahkan.
Di layar ponselnya tertera nama 'mama'. Kina menghela napas lega dan buru-buru menjawab telepon tersebut.
Di sebrang sana, terdengar kegaduhan dan riuh banyak orang.
"Halo, selamat pagi. Apa benar ini dengan keluarga pemilik ponsel ini?" tanya seorang pria dari sebrang sana.
Kina mengernyit, ia mengecek layar ponsel untuk memastikan jika panggilan masuk berasal dari mamanya.
"Ini nomer mama saya. Maaf, anda siapa, ya? Mama saya mana?" tanya Kina dengan perasaan yang kian cemas.
__ADS_1
"Pemilik ponsel ini baru saja mengalami kecelakaan. Di mohon untuk segera datang ke tkp, korban meninggal dunia."
Kedua mata Kina membulat sempurna, tubuhnya seketika lemas, lututnya seakan tidak kuat lagi menopang beban tubuhnya. Ia jatuh terperosot ke lantai. Air matanya seketika mengalir. Ponselnya sudah jatuh duluan.
"Enggak, ini enggak mungkin. Ini pasti salah kan? Mama sama papa enggak mungkin .."
Kina seakan tidak sanggup untuk mengatakan apa yang terjadi pada mereka. Ia ambil ponselnya untuk memastikan lagi kebenarannya. Tapi panggilannya sudah berakhir.
"Aku harus telepon mas Agam sekarang. Aku harus telepon mas Agam."
Dengan tangan gemetar Kina mendial nomer suaminya. Akan tetapi nomer tersebut tidak aktif. Kina melakukannya sekali lagi, hasilnya tetap sama.
"Mas, kamu kemana, mas? Aku butuh kamu sekarang, mas."
Kina mencoba untuk menghubungi suaminya berulang kali. Akan tetapi tidak membuahkan hasil.
Kina terisak dan tangisnya pecah, air matanya bertumpah ruah. Ia masih tidak percaya dengan apa yang tadi si penelepon itu sampaikan padanya.
"Tidak, ini tidak mungkin. Ini pasti ada kesalahan, ini pasti tidak benar. Tidak, tidak mungkin. Tidak. Tidak. TIDAAAAKKKK ...!!!"
Kina berteriak sekencang-kencangnya hingga teriakannya itu menembus langit sang cakrawala.
__ADS_1
_Bersambung_