ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 20


__ADS_3

Usai makan makan dan mengobrol tentang hak waris tersebut, Kina memutuskan untuk pulang. Sebenarnya ia masih ingin di sana, tapi Agam memibisiki nya untuk segera pulang saja.


Sampai di rumah, sikap pria itu kembali dingin. Kina berpikir mungkin itu karena ia tidak berhasil membujuk papa nya. Tapi kenapa Agam harus marah? Apa ada tujuan lain di balik semua ini?


"Mas ... Kamu marah sama aku karena aku gak berhasil bujuk papa?" tanya Kina, namun Agam tidak merespon.


"Mas .." Kina menghampiri suaminya yang kini duduk di sofa kamar.


"Mas, kamu marah sama aku?" ulang Kina.


Agam melirik nya sekilas, setelah itu beralih pada ponsel yang ia rogoh di saku celananya.


"Aku tahu mungkin niat kamu baik, mas. Tapi semua kembali lagi sama keputusan papa. Dan seharusnya kamu gak usah marah sama aku."


Agam masih diam, pria itu masih terpaku pada layar ponselnya.


"Mas ..." panggil Kina lagi.


Melihat suaminya acuh begitu, Kina menghembuskan napas lelah. Mungkin ada baiknya ia tidak dulu mengganggu. Akhirnya ia putuskan untuk mengganti pakaian, lalu memilih tidur lebih dulu.


Kina berusaha untuk tidur, namun sekuat apapun ia memejamkan mata, ia tetap sulit untuk tidur. Sesekali Kina melirik ke arah suaminya yang masih asik dengan ponselnya. Dan sekarang, pria itu tampak senyum-senyum.


Mas, sebenarnya kamu anggap aku ini apa, mas? Aku pikir sejauh ini kamu udah berubah dan tulus sama aku. Apa perubahan kamu ini ada maksud dan tujuan di dalamnya? Apa selama ini aku yang terlalu bodoh? Aku tidak tahu, mas. Apakah yang aku lakukan sekarang ini mempertahankan hubungan atau menunda perpisahan. Aku mulai lelah.

__ADS_1


Mata Kina menitikan air mata, rasanya sudah tidak sanggup lagi jika harus menghadapi sikap suaminya yang arogan. Terlebih keadaannya kini ia sedang hamil.


Kina kembali melirik ke arah suaminya, pria itu tampak bahagia dengan lawan chating nya. Entah siapa? Apakah teman nya yang sering dia jadikan alasan, atau memang seperti dugaannya, yaitu wanita lain?


Kina sibuk perang dengan seisi kepalanya, sampai wanita itu pun terlelap dengan sendirinya. Menembus alam mimpi.


***


Paginya, Kina tidak menemukan suaminya. Agam sudah tidak ada di rumah. Sebenarnya ia panik, tapi ia berusaha untuk tenang. Ia berusaha menahan diri agar tidak menghubungi suaminya.


Dering ponsel panggilan masuk terdengar nyaring berasal dari kamarnya. Kina yang sedang berdiri di bibir pintu kamarnya bergegas masuk dan meraih benda pipih yang tergeletak di atas nakas.


"Halo, ma. Tumben mama telepon aku sepagi ini?" tanya Kina begitu menjawab telepon yang ternyata dari mamanya.


Kina terdiam, kenapa mamanya bisa menanyakan hal itu. Apa mungkin ikatan batin mereka cukup kuat. Sehingga mama nya bisa merasakan jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Ak-aku sama mas Agam baik-baik aja kok, ma. Kok mama nanya nya kayak gitu?" Kina balik bertanya.


"Perasaan mama tidak enak, sayang. Mama merasa kalau terjadi sesuatu sama kalian usai pembahasan tadi malam. Mama melihat raut wajah Agam berubah setelah dia kembali dari kamar mandi. Terus pelayan di sini juga bilang kalau Agam semalam sempat menguping pembicaraan kita. Mama jadi curiga, kalau Agam lah yang meminta kamu untuk membahas soal warisan. Betul begitu, nak?"


Deg!


Seketika tubuh Kina menegang. Kenapa mama nya bisa memiliki pikiran yang tepat sasaran? Apa ini yang di namakan feeling orang tua tidak pernah salah.

__ADS_1


Flashback On


"Kamu yakin mau menerima lamaran Agam, nak? Maaf, Mama punya feeling tidak baik sama anak itu," ungkap bu Hana.


"Aku yakin mas Agam itu orang baik, ma. Dia ketua OSIS di sekolah aku dulu. Dan jujur, mas Agam ini cinta pertama aku. Aku bahagia jika akhirnya kita berjodoh."


Bu Hana diam, menatap wajah putrinya yang tidak pernah sebahagia ini. Meski feeling nya tidak baik terhadap calon menantunya, tapi ia tidak tega jika harus menghancurkan kebahagiaan putrinya.


"Ya sudah, kalau begitu mama setuju. Yang penting kamu bahagia."


Flashback Off


"Nak, kenapa diam? Benar kan Agam yang minta kamu buat bicara hal itu sama mama sama papa?"


Pertanyaan mama nya membuyarkan lamunan Kina.


"Ma, udah dulu, ya. Aku lupa belum bikin sarapan buat mas Agam. Nanti kita sambung lagi telepon nya, ya. Bye .."


Kina mematikan sambungan telepon nya. Air mata nya kembali jatuh. Ternyata feeling mama nya benar. Kalau Agam tidak sebaik yang ia pikir.


"Maafin aku, ma. Aku terpaksa bohong sama mama. Aku tidak ingin membuat mama dan papa cemas. Maafin aku, ma .."


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2