ISTRI YANG MALANG

ISTRI YANG MALANG
Bab 18


__ADS_3

Setiap hari Agam membujuk Kina agar wanita itu mau mempertanyakan soal hak waris. Kina selalu menolak, tapi hari ini Agam berhasil membujuk istrinya. Kebetulan mama dan papa Kina mengundang mereka untuk makan malam di rumahnya. Bertepatan dengan usia kandungan Kina yang kini menginjak ke tiga bulan.


Agam menunggu Kina di sofa ruang tamu selama Kina masih bersiap-siap. Sepuluh menit kemudian wanita itu muncul.


"Udah?" tanya Agam memastikan.


"Udah, mas. Ayo."


"Gak ada yang ketinggalan kan?"


Kina menggeleng. "Gak ada."


"Ya udah, ayo," ajak pria itu.


Kina berjalan di belakang suaminya menuju mobil. Pria itu membukakan pintu untuknya.


"Makasih, mas," ucap Kina kemudian masuk ke dalam mobil.


Usai menutup pintu mobil tersebut, Agam berjalan mengitari mobil guna masuk ke jok bagian kemudi. Sebelum mesin mobil di hidupkan, pria itu sempat mengingatkan Kina terlebih dahulu.


"Jangan lupa bahas soal hak waris sama papa. Bukan apa-apa, umur itu gak ada yang tahu. Aku khawatir aja kalau nantinya harta papa kamu di kuasai oleh orang yang bukan haknya. Kamu putri semata wayangnya yang berhak atas itu."


Kina mengangguk. "Iya, mas. Nanti aku coba, ya."


"Harus berhasil!"


Kina mengangguk. "Aku akan berusaha, tapi tergantung papa nanti. Aku gak bisa jamin."

__ADS_1


Agam menghela napas, rupanya tidak semudah yang ia pikirkan.


Tanpa menunggu waktu lama lagi, Agam menghidupkan mesin mobil dan mobil melaju dari sana, meninggalkan pelataran rumah.


Sementara di tempat kediaman Braspati.


Bu Hana dan Braspati sendiri sudah tidak sabar menunggu kedatangan putri, menantu, juga cucu mereka yang masih dalam kandungan. Terlebih sebelumnya Kina bilang kalau ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Mereka semakin tidak sabar saja menunggunya.


"Kina sama Agam sudah jalan ke sini kan, pa?" tanya bu Hana ikut duduk di sofa ruang tamu.


"Sudah, ma. Ini Kina baru kirim pesan kalau dia baru aja jalan," jawab Braspati seraya memperlihatkan layar ponsel room chat dengan putrinya.


"Bilangin hati-hati sama Agam, pa. Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut. Pelan-pelan aja."


"Iya, ma."


Lalu Braspati mengirimkan pesan lagi pada putrinya. Tidak berapa lama Kina membalas pesan tersebut.


"Iya, katanya. Udah di bilangin sama Agam."


Bu Hana menghela napas lega. Semoga saja mereka sampai dengan selamat tanpa mengalami kendala.


Tiga puluh menit kemudian, orang yang mereka tunggu-tunggu pun akhirnya datang.


"Ma .. Pa .." Kina mencium punggung tangan mama dan papanya secara bergantian, di susul oleh Agam.


"Mama kangen sekali sama kamu, sayang .." ungkap bu Hana seraya memeluk tubuh mungil putrinya.

__ADS_1


"Aku juga, ma," balas Kina.


Setelah puas berpelukan guna melepas rindu, barulah mereka melepaskannya.


"Kamu apa kabar, nak?" tanya bu Hana pada menantunya.


"Baik, bu," jawab Agam.


"Syukurlah kalau begitu."


Seorang pelayan rumah tersebut datang menghampiri mereka.


"Permisi tuan, nyonya. Makan malam sudah siap," ujarnya memberi tahu sang majikan.


"Iya, terima kasih," jawab bu Hana.


"Kalau begitu saya kembali ke belakang tuan, nyonya," pamitnya.


"Iya, silahkan."


Setelah pelayan rumahnya pergi, bu Hana mengajak putri dan menantunya untuk segera memulai makan malam.


"Udah jam tujuh lebih, ayo kita mulai aja makan malamnya."


"Iya. Papa juga sudah lapar," sahut Braspati.


"Iya, ma, pa. Ayo, mas."

__ADS_1


Agam mengangguk. Kemudian mereka berempat melipir pergi menuju ruang makan yang besar nan mewah di rumah tersebut.


_Bersambung_


__ADS_2