
Jarum jam sudah hampir menunjukan waktunya makan siang. Entah kenapa Kina masih saja merasa jika suaminya tidaklah jujur padanya. Meski pria itu berusaha menjelaskan jika hari ini dia akan makan siang bersama circle pertemanan yang berjumlah belasan, tapi hati Kina tetap merasa jika suaminya menutupi sesuatu darinya.
Kina jadi teringat percakapan nya semalam dengan Agam. Pria itu mengatakan jika ia tidak percaya maka ia boleh ikut bergabung.
"Tapi mas Agam makan siang di restoran mana, ya?" gumamnya.
Kina tampak berpikir sejenak. "Apa mas Agam makan siang di restoran dekat toko?"
"Kalau aku tanyain langsung sama mas Agam, nanti mas Agam marah dan bilang kalau aku istri yang gak percaya suami."
"Tapi kalau aku biarin gitu aja, hati aku tetap aja gak tenang. Aku takut kalau mas Agam ternyata makan siang dengan seseorang yang aku takutkan, yaitu wanita lain. Bukan makan siang dengan dalih mentraktir suaminya atas kehamilan dirinya. Sebab jika ini sebuah perayaan pesta kecil-kecilan, dengan senang hati mas Agam ajak aku. Bukannya beralasan nanti bakal ada yang naksir sama aku," ujar Kina.
Kina mematung sejenak guna mengambil sebuah keputusan tepat. Tetap berdiam diri di rumah atau pergi mencari tahu dengan siapa suaminya sekarang makan siang?
"Daripada aku menebak-nebak yang gak pasti kayak gini, lebih baik aku coba cari tahu aja," ujarnya kemudian.
Kina menyambar tas slempang nya yang ia taruh di tempat biasa, lalu keluar dari kamar.
Begitu sampai di ruang tamu dan membuka pintu depan, muncul seseorang yang hendak mengetuk pintu rumahnya tersebut.
"Nayla?"
"Kina. Kamu mau kemana?" tanya wanita itu yang tak lain adalah teman Kina sendiri.
"Aku .."
"Oh ya, kamu beneran lagi hamil ya sekarang?" pertanyaan Nayla memotong ucapan Kina.
Kina pun mengangguk membenarkan. Nayla langsung memeluk temannya itu.
"Oh ya ampun ... Selamat, ya," ucap Nayla ikut bahagia.
__ADS_1
"Iya, Nay. Makasih, ya," balas Kina.
Nayla pun melepaskan pelukannya.
"Aku ikut senang dengarnya, Ki. Sekali lagi selamat, ya. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu."
"Iya, Nayla. Makasih banyak, ya."
"Iya, sama-sama," balas Kina.
Nayla melihat tas slempang yang di bawa oleh Kina, sepertinya temannya itu ada niat untuk pergi.
"Ki, kamu mau kemana?" tanya wanita itu kemudian.
"Ak-aku .." Kina menggantung kalimatnya sejenak sembari memikirkan alasan apa yang harus ia beri untuk Nayla. Sebab ia tidak mungkin mengatakan maksud yang sebenarnya.
"Mau kemana?" ulang Nayla.
"Oh ... Yaudah kalau begitu aku antar kamu aja. Gimana?" tawar Nayla.
"Enggak, Nay. Enggak usah. Nanti aja."
"Serius?"
"Iya. Oh ya, ayo masuk, Nay. Kita ngobrol di dalam aja." Kina mempersilahkan temannya untuk masuk.
"Iya, Ki. Makasih."
Nayla pun masuk ke dalam rumah, Kina juga. Mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Mau aku buatin minum apa, Nay? Dingin atau panas?" tawar Kina.
__ADS_1
"Enggak usah, Ki. Ngerepotin," tolak Nayla.
"Enggak apa-apa, Nay. Aku sama sekali gak repot, kok."
"Udah, Ki. Enggak usah. Kita ngobrol aja, ya."
Kina mengangguk. "Ya udah, deh. Nanti kalau kamu haus, bilang aja ya. Atau kamu bisa langsung ambil sendiri aja ke dapur."
"Iya, siap. Nanti aku ambil sendiri aja."
"Iya, Nay."
Mereka pun akhirnya mengobrol ringan. Dari Nayla yang masih tidak menyangka kalau temannya sekarang sudah hamil dan sebentar lagi akan jadi seorang ibu.
Meski obrolan mereka mengadakan, tapi tetap saja Kina tidak bisa larut dalam obrolan tersebut. Pikirannya tetap tertuju pada suaminya. Kedatangan Nayla membuatnya mengurungkan niat untuk mencari tahu Agam yang sedang makan siang dengan siapa saat ini. Ia berharap jika suaminya memang benar-benar makan siang bersama circle pertemanan nya. Bukan seperti yang saat ini ia khawatirkan.
"Ki, kamu kenapa?" Nayla melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Kina saat wanita itu melamun.
"Ki ..."
"Hm? Iya, Nay. Kenapa?" Kina sadar dan sedikit terlonjak.
"Kamu kenapa, Ki? Kok melamun? Ada masalah ya sama suami kamu?" tanya Nayla.
Kina menggeleng. "Enggak, kok. Enggak ada apa-apa. Emangnya aku melamun, ya?"
"Iya, kamu melamun. Coba cerita, deh. Kamu ada masalah apa?"
"Enggak, kok, Nay. Enggak ada masalah apapun. Kita lanjut lagi aja ya ngobrolnya. Tadi udah sampai mana?"
Nayla menatap Kina dengan tatapan penuh selidik. Sepertinya memang benar jika temannya itu tengah menyimpan sebuah masalah. Tapi apa?
__ADS_1
_Bersambung_