
diperjalanan menuju kampus ABC, Dimas dan Riza hanya diam. Dimas berfikir tentang tanggapan Riza dengan perkataan Rahmat,
sebelum mereka berangkat tadi. Rahmat bilang jangan sampai ada orang tau kalau mereka udah nikah. tapi tanggapan Riza hanya setuju tak sanggahan dari Riza.
"udah.. jangan dipikirkan,,, kalo kak Rahmat gak suka sama aku, itu hak dia. aku gak mau maksa dia. jadi santai aja" kata Riza memecah keheningan.
Dimas heran kenapa Riza tau apa yang difikirkan nya
"Lo bisa baca pikiran gue? "tanya Dimas sambil menyetir.
Riza tersenyum.
"Gak kok. tapi aku cuma bisa melihat mimik wajah seseorang."
"oo gitu. emang keliatan banget ya?"
Riza cuma mengangguk.
_gue cuma bingung Lo kok bisa santai ya, padahal Lo tahu kalau suami Lo itu mencintai orang lain." tanya Dimas heran.
"jadi aku harus gimana? aku harus marah? atau harus nangis?" tanya Riza "gak!! aku bukan orang yang seperti itu. aku gak berharap lebih. kamu kan tahu kalau aku dan kak Rahmat itu dijodoh kan. kalo dia cinta sama aku ya syukur. klo gak juga gak papa..." jelas Riza.
"tapi Lo punya perasaan gak sama bg Rahmat? dan berharap gak kalo bg Rahmat sayang sama Lo?"
Riza terdiam
__ADS_1
"kalo bicara tentang perasaan ku pada kak Rahmat. dia suami ku. seorang istri harus mencintai suami nya. aku berharap kalo dia juga cinta pada mu dan aku punya cara ku sendiri . tapi kalau akhirnya dia tidak juga mencintai ku dan memilih orang lain ya aku bisa apa.."
Dimas terdiam mendengar perkataan Riza. benar juga apa yang Riza.
akhirnya mereka sampai ke parkiran kampus ABC. saat mereka keluar dari mobil banyak orang memperhatikan mereka.. terutama cowok cowok melihat Riza. Riza memang cantik dan terlihat anggun memakai pakaian muslimah modern.
"Subhanallah siapa tu cewek?" ucap salah satu mahasiswa.
"cantik banget tu cewek" kata yang lain lagi
dan banyak lainnya lagi
sedangkan mahasiswi ada yang memuji dan yang mencela nya. dan ada yang iri dia bisa berdampingan sama Dimas salah satu cowok populer di kampus ABC.
"gak gue antar aja". tawar Dimas.
"gak kok.. ntar bisa aku tanya ke mahasiswa lain.. kamu ke kelas aja terus katanya ada kelas.." Jawab Riza mengingat kan Dimas.
"oh iya gue lupa. gue ke kelas dulu ya.. ntar kalo butuh sesuatu hubungi gue aja. oh iya mana hp Lo? biar gue tulis nomor gue.
gak usah kamu sebutin aja nomor kamu"
setelah menyebutkan nomor ponsel nya pada Riza, Dimas pergi ke kelas nya karena memang Dimas ada kelas.
setelah masuk kelas Dimas menuju teman-teman nya yang sudah berkumpul menunggu dirinya..
__ADS_1
"eeh dim,, siapa yang bersama Lo tadi? "tanya seorang teman Dimas bernama Tomi.
"iya dim, cantik banget, Sholeha lagi. pacar Lo? "timpal seorang teman nya lagi bernama Pram.
Dimas tersenyum melihat kedua temannya itu yang sangat kepo.
"satu satu donk tanyanya! Lo pikir gue Mbah google yang jawab sekaligus." kata Dimas.
"dia Riza anak sahabat nyokap gue." melanjutkan ucapannya.
" dia kuliah disini?"
belum Dimas sempat menjawab ternyata sudah ada pak Imran dosen mereka di dampingi seorang gadis cantik berjilbab yang mereka bicarakan yaitu Riza.
mereka mengira Riza adalah seorang mahasiswi pindahan.
"perhatian semua nya.. perkenalkan yang samping saya adalah Fariza oktana SA, yang akan menggantikan saya menjadi dosen di sini." jelas pak Imran. membuat semua terkejut.. kecuali Dimas. mereka tak menyangka kalau Riza adalah seorang dosen.
padahal rasanya mereka dan Riza satu angkatan.
*
*
*
__ADS_1