Jangan Katakan MAAF

Jangan Katakan MAAF
01


__ADS_3

Sedikit pijatan merelaksasi mata setelah sejak pagi menghadapi laporan. Sejenak menerawang ruangan, mendapati gadis berkuncir ekor kuda jongkok diantara pot tanaman hias, jari rampingnya lembut mengelapi daun. Sebelum beranjak dari meja kasir Alby meregangkan otot karena terlalu lama duduk.


Tanaman indoor tampak segar, tanahnya telah basah, daun-daunnya mengkilap. Alby juga merasakan segar setelah mencuci tangan dan muka. Dia tersenyum melihat gadis yang selo mengotak-atik tanaman sebagai rutinitas, daun ketapang biola diseka dengan hati-hati dan telaten.


"Ada aja yang dikerjakan. Kurang kerjaan?"


Bree menoleh sebentar pada pria berperawakan atletis yang berjalan ke bar.


"Perlukah menggarisbawahi kata merawat di daftar SOP?"


"Silakan."


"Makasih."


Bulir air berkilau diterpa cahaya matahari yang menerobos kaca. Aroma tanah basah dan parfum kopi membaur. Irama swing jazz menggelitik kaki, kalau tidak sadar malu, kaki-kaki mengetuk lantai hanyut dalam laid back mood.


Penyelamatan tangkai sirih gading yang terjebak elongata bulu merah. Beberapa jenis kaktus mini mengintip sampai ada yang protes. Pertumbuhan devil's ivy menghalang sinar matahari yang menyelinap ke sisi bawah rak. Prahara rak susun. Bree berdiri memindahkan sirih gading ke rak robo tinggi, menukarnya dengan anthurium andraeanum.


Anthurium flamingo dibuat pusing potnya diputar sana-sini menyesuaikan cahaya. Bunga-bunga cantiknya pasrah bergoyang. Spadix kekuningan berselubung spatha merah pekat yang hanya tiga tangkai itu disesuaikan posisinya tampak estetik diantara lebatnya dedaunan hijau pekat yang kekar.


"Kopi."


Uluran cangkir menghentikan Bree. Pria tinggi ini sudah berdiri di dekatnya. Bree tersenyum menerima secangkir kopi, lap diraih dimasukkan saku apron yang bertengger sprayer, meninggalkan tempatnya diikuti mata pria yang masih berdiri menyesap kopi di sana.


Dentingan cangkir di meja bar mengundang Alby mendekat, menengok dua minuman pekat siap getirkan lidah peminumnya. Alby terkekeh tadi tidak memperhatikan cangkir itu, ternyata Bree sudah membuat kopi dan belum habis.


"Siap-siap nikmati hari grasak grusuk."


"Makasih, Bi."


Bree singgahkan lap dan sprayer di bawah meja kasir, menyapa seorang user yang mendatangi bar.


"Kak, aku mau yang banana. Triple shot."


"Waw!"


Alby belum pernah menemukan permintaan tiga shot espresso dari pengunjung. Kecuali Bree yang selalu menghabiskan 90 mili sekali porsi untuk diri sendiri.


Bree repeat pesanan memastikan pada pemesan sebelum menginputnya ke register. "Ada tambahan lain?"


"Itu dulu boleh?"


"Boleh banget, syaratnya berlama-lama buka billing."


"Selama kelarin tugas ya, Kak."


Kevin tempelkan memo di meja kasir sekalian sampaikan pesan pada Alby sebelum berlalu ke dapur.


"Andre tidak kerja sore ini. Nanti siang dia kirim pesan ke Abang."


"Thanks infonya, Vin."


"Ditunggu pesanannya. Terima kasih." Setelah menyelesaikan transaksi, Bree menginput pesanan dari Kevin untuk dibuatkan resi.


"Bilik enam belas, Kak. Terima kasih."


Bree segera melepas dan mengelap portafilter, membilas grouphead membersihkan sisa residu, mengesatkan lap pada grouphead beserta drip tray supaya kering dari air.


Setelah customer yang merupakan gadis berseragam putih abu-abu tersebut tidak tampak di pandangan, Alby menoleh kepada Bree yang menuang bubuk kopi dari grinder.


"Maniak ketemu maniak."


Bree mentamping bubuk kopi dalam portafilter dengan metal tamper, sebentar melirik Alby, jarinya mengusap tepian portafilter bersih dari remahan bubuk.


"Daripada cookie guy sok ngebitter." Bree santai mengekstraksi espresso.


"Weeh ...." Alby menaikkan sebelah alis menatap Bree yang menampakkan senyum sebelah sudut bibir.


Dirinya pernah membuat segelas lungo tapi mencicip di beberapa seruputan menyerah dan memberi gula. Pahitnya setajam ingatan Bree yang sudah empat tahun berlalu. Alby mengedikkan bahu kembali menyesap kopi, memperhatikan Bree masuk dapur. Cangkir kopi diletakkan dekat laptop di meja kasir bersiap membantu ke dapur juga.


Kevin mengalihkan waffle dari panggangan ke piring, menabur potongan buah di atasnya, membubukkan tepung gula. Setelah mencuci tangan, Alby masukkan udang ke air mendidih yang sudah Kevin siapkan.


"Andre tukar shiftnya sama siapa?" tanya Alby.


"Saya," jawab Kevin.


"Yakin lanjut shift sore?" tanya Bree.


"Yakin, Kak."


"Nanti aku aja yang lanjut." Bree menawarkan diri akan menggantikan shift Andre setelah menutup cafe.


"Aman."


Selesai mengejus buah pisang, Bree keluar dari dapur kembali ke bar. ALIF CofiNet tidak pernah kosong pengunjung. Sebentar bar ramai sebentar bar sepi. Di bangku cafe sudah disinggahi customer, beberapa diantaranya adalah user antrian warnet.

__ADS_1


Alby menyiapkan potongan ayam marinasi beserta bahan lumuran. Kevin mematikan kompor meniris udang sebelum disusun ke lembaran rice paper di atas talenan, lebih dulu menyusun potongan sayuran. Selesai gulungan rice paper isian udang sayur tertata di atas piring dia lanjutkan meracik saus.


Operator membuatkan menu praktis saja. Menu masak bisa ditinggal pada memo yang akan dibuatkan oleh cafe. Kevin selesai memplating, spring roll dan waffle disajikan di nampan, siap diantar ke pemesannya.


Antara bar dan dapur disekat dinding minimalis setengah ruang. Seperti jendela yang lebar seolah membingkai dapur. Bree melihat Kevin keluar dapur.


"Vin, sekalian titip untuk bilik enam belas, ya."


"Oke."


Bree meletakkan pesanan user beserta struk pada nampan yang disodorkan Kevin. Sekalian bill spring roll dan waffle yang belum dibayar.


"Makasih, Vin."


Mahasiswa berambut kribo yang dikuncir rapi itu bekerja sambil kuliah. Sama dengan kebanyakan operator yang mengambil kesibukan di warnet di samping kuliahnya.


Ruang barat terdapat 22 bilik menyuguhkan fasilitas internet dan penikmat film. Warnet Multimedia 24 jam. Siang ini Kevin operator shift 2. Ruang utama adalah cafetaria yang buka di jam coffee break tepatnya menjelang siang hingga petang.


Awalnya cafe dipegang owner. Alby sempat fakum untuk fokus skripsi, Bree yang dulunya operator warnet diminta mengurus cafe. Sempat kewalahan karena Ilham dan Levi disibukkan kegiatan sosial, beruntung lepas yudisium Alby kembali aktif kelola usaha tiga sekawan ini. Dengan kembalinya Alby, Bree terbantu.


"Atas nama Sonya? Satu cappucino, satu black coffee." Bree meletakkan dua hot cup di meja sambil merepeat pesanan lainnya. "Makanannya ditunggu nanti diantarkan. Selamat menikmati."


"Terima kasih, Mbak."


"Kembali," balas Bree ramah.


Bree meletakkan nampan, sebentar duduk menyesap kopinya, beranjak melanjutkan pekerjaan ke dapur.


"Ada yang bisa kubantu, Bi?"


Dua rice bowl diletakkan ke nampan, Bree mengecek papan request dan memastikan bahan yang sempat Alby sambi untuk dilanjutkan.


"Aman."


Alby membubukkan cinnamon ke roti panggang, meletakkan daun mint sebagai garnish. Daun mint ditambahkan sebagai pemanis semenjak Bree menanamnya di rooftop.


Alby meninggalkan Bree mengambil alih gorengan pisangnya sambil membersihkan dapur.


"Selamat datang di cofinet. Silakan tunggu."


Alby menyapa customer yang baru masuk. Mengantar pesanan dulu sekalian memberi kesempatan customer melihat-lihat frame menu. Setelah itu bertransaksi di meja kasir. Alby mulai sibuk di bar mempercayakan dapur kepada Bree.


"Kiwimu kisut, Bri."


Bree menoleh, "He eh," memperhatikan Alby melihat satu-satu buah kiwi yang sudah dipisahkan.


"Tut tut tut ...."


"Siiiapa hendak turut, ke Jogja, ke Semarang ...."


Sempat-sempatnya bergurau. Keduanya menikmati lelah dengan suka ria. Kerja sama luar biasa sibuk di jam-jam yang tidak bisa dipastikan. Customer cafe dan warnet keluar-masuk sementara personil minim.


Waktu maghrib Bree memutuskan shalat mumpung bar sedang sepi. Memasang papan MOHON TUNGGU di meja bar. Alby sudah mengakhiri shiftnya sejak jam lima sore.


Sekembali dari mushola Bree mengecek papan request, tidak ada memo, melanjutkan closing. Outdoor led sign cafe dan lampu bar dimatikan. Bree berdiri di kamar loker menghadapi buku besar dan tablet, merekap pendapatan cafe.


Seharusnya jam 4 tadi pergantian shift operator. Andre ada ujian di universitas sehingga digantikan Kevin yang double shift.


"Aku nggak ke mana-mana, Vin, kalau butuh bantuan tolong serahin ke aku."


"Thanks, Kak."


ALIF diambil dari nama Alby Qiyas, Ilham Pratama, Fahlevi Kai Malik, tiga sekawan pendiri warnet cafetaria. Keakraban selayaknya saudara, bukan pekerja dan pemilik, membuat Bree nyaman menyetujui tinggal di lantai dua demi menghemat pengeluaran tanpa perlu menyewa tempat tinggal.


Tatanan di lantai bawah lebih menarik pengunjung yang memang menikmati atmosfir coffee shop sehingga lantai atas dikosongkan. Terdapat outdoor di halaman barat. Halaman selatan yang merupakan bagian depan tetap untuk parkiran. Kanopi membran membentang penuh meneduhi halaman, tetap sejuk tanpa khawatir ketika hujan.


***


Tok Toktok Tok!


Kaca depan diketuk dibarengi salam. Pria dengan tubuh landai berkulit langsat memasuki pintu slinding. Mata khas asia menyorot celah dinding partisi yang menyekat dapur. Bree yang berkutat di dapur menyahut salam.


"Masak."


"Sop."


Levi memperhatikan ***** bengek yang dikerjakan Bree dalam dapur. Setelah mencuci tangannya iseng menarik ekor kuda Bree sambil berlalu keluar. Dengusan kesal si pemilik rambut membuatnya terkikik. Levi keluarkan smartphone dari saku dan duduk di sofa depan.


"Nggak sama tempe, Bre."


"Udah, telur."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."

__ADS_1


Kedatangan Alby langsung sahut menyahut Piala Dunia menambah ramai ruang depan yang tadi hanya suara permainan ponsel Levi.


Di dapur Alby mengeluarkan mika dari kresek, "Carang gesing, Bri." Sewadah kudapan kukus yang Bree sukai ditaruh ke kulkas. Dia tersenyum menatap senyuman lebar Bree.


"Huumm, makasih, Bi."


"Naikkan celanamu!" tegur Alby lirih dengan penekanan.


Bree reflek memegang pinggang belakang, kulit pinggulnya kelihatan, ditarik ujung bawah kaos dimasukkan ke pinggang celana sambil melirik Alby keluar dapur setelah mencuci tangan. Kemungkinan ujung kaos dengan pinggang celana terpisahkan sewaktu tangan diangkat mengambil bumbu dari lemari atas.


"Bre! Jemur pakaian?" seru Levi. "Hujan."


"Ha! Ya!" Bree bergegas letakkan pisau dalam baskom tanpa perhatikan posisinya tidak seimbang.


TANG! CTAK! BRAK!


"Ya Allah!" Bree terhenti dan menoleh. Lantai berserakan potongan sayur, baskom tergeletak, telur-telur pecah, tutup panci dan pisau juga tergeletak.


Kedua pria berhambur menemukan Bree memunguti potongan sayur dimasukkan baskom. Alby meraih serok sampah diletakkan dekat ceceran lalu keluar dapur. Levi menjejeri Bree merapikan peralatan, lap sudah siap di pundak.


"Duduk gih, Bre."


Bree terpekik ketika tangan Levi asal merauk ceceran ke serok, makin ngawur kontaminasinya, tadi hanya berlumuran telur seharusnya masih bisa dicuci.


"Ini sayang lo, Lev!"


"Potong baru ini udah kotor. Sana!" Levi menghalau Bree yang kekeh memunguti. "Biar aku!" Gemas. Tangannya terlanjur kotor hanya bisa merentangkan lengan mencegah tubuh Bree tidak mendekat.


Alby sudah kembali di dapur geleng-geleng menyaksikan keduanya. Diambilnya air minum untuk Bree yang pasti kaget.


"Cuci tangan, Bri. Segarkan mukamu."


Kaget mendadak dengar di luar hujan, Alby menemukan selimut dan guling kebanggaan Bree tadi dijemur. Kaget suara berjatuhan menemukan kenyataan bahan masakannya berserakan. Kaget apalagi?


Setelah Bree membersihkan diri diajak Alby keluar dapur. Diserahkan segelas air untuk Bree minum.


"Duduk, Bri."


Bree duduk memperhatikan dua pria membersihkan dapur. Tangannya gemetar memegang erat gelas air hangat sambil terus mengatur napas.


"Debus," canda Alby membuang kotoran ke kantong sampah.


Levi mencuci lap untuk digunakan kembali mengepel lantai yang hampir bersih. "Kegedean," timpalnya menunjuk pisau, "apa salah naruh, apa kesenggol."


Yang dilihat baskom dan tutup panci lebih kecil dari pisau yang digunakan.


"Nah, tadi telur ditaruh sini." Levi menunjuk tutup panci.


"Salah naruh pisau, ke panci atau ke baskom."


"Mungkin, tadi pas racik-racik terus kaget hujan."


"Efek domino."


Asik sekali dua pria berperan detektif dalam penyelidikan TKP, bercandakan ulah Bree yang meringis malu.


"Makasih, Lev, Bi."


"Salah teknik ya, Bre."


Levi mengepel lantai dan dikeringkan Alby. Levi mencuci peralatan di wastafel, Alby mencuci serok sampah di kamar mandi. Setelah bersih, Alby membuka lemari bahan kering, Levi membuka kulkas ..., keduanya beradu pandang.


"Habis, Bre?" tanya Levi.


"Kosong semua?" tanya Alby.


Bree mengangguk benar bahwa tadi bahan terakhir. Levi dan Alby keluar dari dapur.


"Belanja."


"Stok makan nona muda."


Bree perhatikan Levi yang melewatinya, beralih memperhatikan Alby melewatinya. Sedikit membuat kepala pusing sedari tadi dua orang itu lincah. Levi dan Alby meraih kunci motor. Bree ingin ikut. Gelas diletakkan atas meja dan menyusul keluar.


"Oi, tuan bayi!"


Levi gemas meraup muka Bree lalu menuruni tangga. Alby menangkup pucuk kepala Bree mengajak jalan duluan di depannya.


Pasar sore tidak seluas pasar pagi yang ada di seberang jalan. Kondisinya penuh sesak di jam persiapan makan malam. Sepanjang memasuki pasar bisa langsung melihat seisi sudut, masih lengkap bertumpuk dan berjejer bahan masakan di tiap meja.


Alby mendapatkan kembang kol besar yang ayu dan memilihi kentang dimasukkan timbangan. Bree mengambil jamur segar dalam kemasan. Levi menyebutkan cabai keriting campur untuk dibungkus.


Bree menimbang tiga bonggol pakcoy, dirasa kebanyakan disingkirkannya sebonggol, tetapi dua bonggol pakcoy ditambah dalam timbangan. Bree terdiam memperhatikan Levi juga menyertakan kembali sebonggol yang tadi disingkirkan, hingga lima bonggol pakcoy besar penuh di timbangan.


"Pas lima ribu, Bu," tawar Levi.

__ADS_1


Padahal nominal di timbangan 8.000 sekian, Bree melongo ketika si Ibu sayur mengiyakan.


Bree mengambil kobis ukuran kecil, lagi, dibuat melongo terkalahkan Levi menimbang kobis sebesar kepala. Kobis di tangan Bree diambil alih Levi dikembalikan ke keranjang semula. Bree memilih sayur kecil yang sekali masak tanpa menyimpan sayur iris, kebiasaan sebelum tinggal dengan kulkas.


__ADS_2