
Bree bungah menunggu kue Gandos yang dipesan Alby. Jelas menanti untuk segera sampai rumah dan menikmati jajanan gurih kelapa dengan taburan gula halus. Begitu juga sang penjaja, alias si bapak yang masih berjualan Gandos tengah malam itu, bungah menuang adonan ke loyang panggangan hingga habis dari baskomnya.
Ada lega terpancar di wajah lelah si bapak, dan beliau berucap syukur karena dagangan terakhir dilarisi Alby. Awalnya Alby bermaksud sekalian membeli sisa dari adonan dalam baskom. Ternyata itu memang adonan terakhir. Si bapak berceloteh kepada dua muda dan mudi yang sedang menunggunya, sekaligus teman mengobrolnya sebelum pulang rumah.
Bree tahu beliau adalah penjaja lama sekitar wilayah sini. Mama Bree pernah menanyakan keberadaan beliau yang pagi-pagi sekali sudah terlihat mangkal, lalu malamnya masih kelihatan berkeliling. Beliau dua kali keliling dari pagi sampai siang, dan beristirahat di rumah, kemudian di sorenya kembali keliling sampai malam. Namun sekarang, si bapak berkeliling dimulai sore hari sampai sesukanya.
Anak-anaknya yang sudah dewasa dan mapan cukup membuat si bapak dengan istrinya yang sama-sama sepuh melakukan kegiatan semampunya. Sekedar menyambung hidup dengan kebiasaan yang digeluti sejak dahulu.
Namun kue Gandosnya kini tidak selaris dahulu. Dari kaca gerobak tidak terlihat kue yang didisplay. Dan si bapak tidak menarget kuenya harus terjual habis. Padahal tidak ada yang berbeda sejak dulu sampai sekarang. Si bapak konsisten mempertahankan bahan dan perhitungan serta prosesnya selama berpuluh tahun.
Bree mengingat dengan pasti bahwa rasanya tidak berubah. Alby tertawa kecil melihat Bree kepanasan melahap satu kue yang baru disajikan ke bungkusan.
Kantong plastik diterima Bree dari si bapak yang kemudian menggenggam tangannya.
"Sehat yo, Nduk, Nang ...."
"Aamiin." Bree dan Alby serempak mengamini.
"Alhamdulillah, Pak," sambung Bree.
"Almarhumah wis entuk panggon apik. Sing rajin doa. Sing semangat nglanjutke harapane Mamamu. Wis, ndak usah gembeng," kata si bapak melihat mata Bree berkaca.
("Almarhumah sudah mendapat tempat terbaik. Yang rajin doa. Yang semangat melanjutkan harapannya Mamamu. Sudah, tidak usah cengeng,")
Alby yang dari tadi menyimak interaksi keduanya, kini mendekat dan menyentuh lembut pucuk kepala Bree yang berlutut sejajarkan diri di hadapan si bapak yang duduk. Sebelah tangan Bree digenggam dua tangan keriput si bapak.
"Mamamu pingin anake seneng wae. Sing sabar ning dalanmu. Kabeh wis ditentuke ambek Gusti."
("Mamamu ingin anaknya senang saja. Yang sabar di jalanmu. Semua sudah ditentukan oleh Gusti.")
Si bapak terus berujar dan diamini Bree. Ternyata mama Bree terlalu sering membeli kepada beliau hingga mereka sedikit mengenal. Bree ingat banyak kenangan masa kecil kala mamanya masih bekerja dan sering pulang membawa kue Gandos.
"Matur suwun. Bapak sehat, nggih."
("Terima kasih. Bapak sehat, ya.")
"Aamiin. Alhamdulillah, sehat ben semangat le ider," kata si bapak terkekeh sambil melepas genggaman dan mulai beberes gerobak.
(Ben semangat le ider \= Supaya semangat kalau keliling)
Dua orang yang tadi berinteraksi di antara gerobak gendong kini berdiri. Si bapak sedikit membungkuk membereskan dingklik tempatnya duduk. Alby lalu meraih tangan Bree.
"Balek, ayo balek. Wis meh esuk. Sing ngati-ati, Nang, montorane. Dijagani yo, anak wedok."
("Pulang, ayo pulang. Sudah akan pagi. Yang hati-hati, Nang, mengendaranya. Dijagain ya, anak perempuan.")
(Nang \= Panggilan anak lelaki)
"Nggih, Pak," sahut Alby yang mendapat amanah untuk menjaga Bree dari si bapak Gandos. "Bapak ati-ati."
"Yo. Uwes! Podo-podo, ngati-ati ning ndalan, karang dewe ki isih ning njobo."
("Ya. Sudah! Sama-sama, hati-hati di jalan, berhubung kita ini masih di luar.")
Angin berhembus mengiringi ketiganya berlalu dari tempat. Bree tersadar melihat tangannya digandeng, lalu menatap Alby seraya melepaskan tangan. Alby menoleh saat gandengan dilepaskan. Dia melihat Bree mengernyit menyingkirkan pandangan.
Alby merasakan berat hati untuk menyudahi jalan-jalan mengingat rumah Bree semakin dekat. Belum puas menikmati malam berdua yang baginya adalah momentum Bree berada sangat dekat. Berbeda di rumah yang menurut Alby selalu sendiri-sendiri. Alby melirik spion melihat Bree diam saja di boncengan.
__ADS_1
"Bri mau nyekar Mama?"
Bree sudah lama memang ingin berkunjung, tapi waktu dan keuangan masih terbatas. Bree diam tampak tidak akan menanggapi Alby, namun Alby tidak berhenti bicara.
"Dari sini, nyekar dulu."
"Langsung balik aja, Bi. Aku kudu selesaiin jadwal."
Bree ingat tentang rencana resign yang sebetulnya nanti akan dihambat Alby. Bukan saja Alby. Levi yang membaca niat Bree juga sudah mengantisipasi untuk menahan pengunduran diri itu nanti. Alby tidak ingin melanjutkan percakapan.
Alby memutar balik motornya saat melewati tenda soto. Dirinya sedang ingin makan soto khas yang belum sama sekali ditemui semenjak keluar dari rumah. Baru ada di pikiran sehingga lidah sangat tidak terkontrol.
"Pengen soto bangkong," celetuk Alby yang disimak Bree.
"Nggak bilang tadi. Padahal kita lewati kedainya."
Motor Alby terparkir dekat tenda soto, lalu keduanya turun dan bersiap.
"Gini hari udah tutup ya."
Bree tidak menyahut. Hanya menatap Alby sebentar kemudian melangkah masuk, mendahului Alby yang mengekor.
Bree berpikir pantas Alby nyoto lagi. Malam ini sudah dua kali mereka makan soto dan di warung berbeda. Tapi Alby dan Bree tidak merasa buruk makan dengan jeda hitungan menit karena perut masih mendukung.
Bree tampak belum ingin berceloteh. Alby pun diam meski sangat ingin mengobrol. Sesungguhnya Bree hendak mengatakan sesuatu, namun melihat Alby diam membuatnya urung. Dua manusia berhadapan tetapi seperti asing bahkan mata mereka tidak berinteraksi.
Sepanjang perjalanan pulang Alby masih memilih diam. Membiarkan Bree nyenyak dalam keterdiaman. Saat di lampu merah Bree bersuara dengan ceria dan Alby antusias merespon. Bree izin ingin memberikan sebagian kue gurihnya kepada dua orang pengamen. Alby sumringah mengiyakan. Tapi selanjutnya Alby masam karena Bree kembali bermuka datar.
Sesampai di rumah keinginan lekas beristirahat membuat keduanya juga belum saling berucap. Mereka bergantian membersihkan diri. Kemudian bersantai. Bree sudah duluan duduk dan menikmati kue gandos. Alby mendekat tanpa sepatah kata. Keduanya lebih asik dengan ponsel masing-masing ketimbang menikmati kebersamaan.
Bree merasakan sedikit kejenuhan akibat sepi. Kemudian berucap, "Makasih hari ini, Bi." Tanpa memperhatikan yang disuarai.
Bree masih kesal kedekatannya dengan Alby malah membuatnya malu dan terasing. Candaan comblang nyatanya petaka. Tapi salah Bree juga pada akhirnya kepincut. Namun Alby masih sudi melakukan banyak hal untuknya sesuai ungkapan perasaan peduli. Jadi, Bree tidak boleh bersikap tidak menghargai.
Bree berbicara tapi mata tetap pada ponsel dan mulut mengunyah jajan. Tidak mengenakkan hati Alby. Tapi itu sedikit lebih baik bagi Alby.
"Sama-sama, Bri," jawab Alby tersenyum menatap sosok yang memunggunginya.
Mendengar suara tanggapan yang lembut membuat Bree reflek menoleh. Menyaksikan senyuman Alby seperti perasaan bungah. Ah, entahlah, Alby pun memiliki topeng terbaik. Palingan itu sementara dan setelah ini menghindari Bree lagi.
"Habis ini nggak perlu ngapa-ngapain buatku lagi. Cukup ini yang terakhir."
Bree mengalihkan mata ke layar ponselnya. Terserah mau dianggap tidak bersyukur atau menolak rezeki, mungkin juga dituduh melukai perasaan orang lain. Justru dengan dekat begini membuat Bree menjadi orang jahat. Bree hanya tidak ingin melanjutkan luka pun melukai. Bree harus tegas.
Alby masam karena Bree berbicara ketus.
"Biarin aku jadi Bree Deli Liana yang nggak ngarepin siapa pun. Kayak dulu. Aku mending nggak punya perasaan, terus nggak nyakitin orang ..., oh, jangan bilang aku justru nyakitin hatimu," jelas Bree.
"Aku bilang nggak enak ngrepotin, terus ungkapanmu, aku lukai perasaanmu. Akhirnya aku yang malu. Nah, kamunya diem, malah mau pergi. Aku juga yang sakit. Bahkan aku nyakitin Rimamu," sambung Bree.
Bree mengingatkan yang sudah terjadi kepada Alby. Seolah menyalahkan Alby lebih dulu membawa Bree masuk dalam kisah mereka. Lebih tepatnya Bree menyadarkan Alby yang kukuh mendekatinya.
"Karna aku, hidup Bri banyak nyesel?"
Bree tidak menyesal. Justru berharap Alby tetap ada. Tepatnya terlanjur mengharapkan segala kebiasaan yang Alby lakukan untuk Bree. Tapi Bree bingung ingin bagaimana karena perasaannya sendiri sudah terjalin.
"Aku kacaukan hidup Bri?"
__ADS_1
Alby tidak konsisten tentang melindungi. Menghilang beberapa hari tanpa omong. Bree merasa Alby telah menyembunyikan banyak fakta. Katanya, biarkan perasaan itu miliknya saja tanpa Bree membalas. Tapi nyatanya Bree seperti peralihan. Katanya, sejauh ini perasaan ke Rima belum ada. Tapi sangat terlihat ketakutannya kehilangan Rima.
Alby seperti menginginkan dua hubungan. Namun tidak bisa bersikap layak. Giliran terjadi kekacauan pada pemahaman justru menghindari. Bree hanya tidak suka cara Alby yang mengombang-ambing. Bree tidak tahu harus berkata apa lagi. Alby masih juga tidak mengerti.
Alby diam karena tidak tahu akan bicara apa lagi. Tatapannya masih tertuju pada Bree. Diam-diam memperhatikan Bree yang menggerakkan kepala. Mata Bree melirik ke jajanan, lalu melirik ke dirinya.
Bree menemukan kue Gandos yang tersisa satu dan mengambilnya. "Tak habisin." Alby terlihat tidak akan memakannya. "Makasih. Aku makan."
Alby mengerutkan alis menyaksikan Bree katakan 'makan' seolah izin tetapi sudah menggigitnya. Lagi pula sedari tadi Bree yang lebih lahap memakannya. Alby ingin tertawa tapi hanya ditahan.
"Hm. Pinter telap-telep. Habis itu jangan lupa minum."
(Telap-telep \= Lahap)
Bree hampir tersedak kunyahan kue terakhir di mulut. Tubuh yang tadi akan direbahkan kini kembali duduk dan meletakkan ponsel. Bree meraih botol minum.
"Belum habis ngunyah kok udah mau tiduran."
Bree tidak merespon ocehan Alby. Dirinya menunggu kunyahan selesai, lalu meneguk minum. Setelahnya botol minum diletakkan, sambil sekilas mengintip Alby yang duduk bersandar dan tampak fokus dengan ponsel. Bree meraih bungkus kue yang tadi sudah dia lipat rapi.
Alby masih memperhatikan polah Bree. Jemari Bree memungut bungkus dari kantong plastik, membuka lipatannya untuk dilipat lagi. Entah apa yang sedang dipikirkan Bree karena anteng seolah serius.
"Nah, selo. Sampah ya diotak-atik."
Bree lekas membuangnya kembali masuk dalam plastik. Alby terkekeh melihat Bree tampak salah tingkah.
Bree bersungut. Memilih meraih ponsel dan membuka pesan yang sejak tadi dibiarkan. Sebenarnya sudah ingin rebahan karena di punggung terasa sekali lelah. Tapi Bree hanya duduk, mengingat Alby cerewet perihal aturan.
Alby sungguh geli. Dibiarkannya saja seorang Bree asik dengan dunia sendiri. Keduanya sama sekali tidak ada yang memulai obrolan. Alby melirik Bree sedang senyum-senyum saat membaca sesuatu.
"Sampe lupa ada orang di dekat. Saking asik nanggepin yang jauh."
Ada saja yang terlontar dari mulut Alby. Mirip emak-emak. Diam-diam Bree merutuki. Bree menghentikan ketikan dan meletakkan ponselnya. Kini merebahkan tubuhnya menghadap miring membelakangi Alby yang sepertinya menyusul bergerak.
Alby memutuskan berpindah posisi sekalian meraih guling bekas sandaran punggungnya untuk diletakkan ke pojok kasur. Dan meminta Bree pindah dari pinggir kasur.
Bree merasakan tepukan di kasur sisi belakangnya. Lalu menggeser tubuh mundur, kemudian membalik arah, dan lekas meraih guling di hadapannya untuk masuk pelukan.
Pergerakan kecil dari tempat Alby membuat Bree penasaran dan menoleh. Ternyata Alby sedang duduk memandangi dirinya. Bree memalingkan muka. Berpikir Alby masih di posisi karena memiliki ruang tidur yang sempit sehingga Bree merangsep lebih mojok.
Alby merasa Bree menghindari arah, kini semakin berpikir Bree memang menjauhinya. Jika kasur di kamar sebelah pantas untuk ditiduri, mungkin Bree menyingkir dan memilih tidur di sana. Alby menghela napas lalu ikut rebah tanpa mengatakan apa pun, karena Bree sendiri memilih diam.
Alby tengah menatap langit-langit kamar. Mendengar dengkuran halus dari sampingnya, kemudian menoleh ke Bree yang memunggungi dirinya. Bree cepat sekali terlelap. Alby memiringkan badan dan merangkul pinggang ramping itu.
Bree terusik ditarik kasar oleh tangan kekar yang melingkari pinggangnya. Kepala Bree hendak menoleh sebelum ditahan dagu seorang di belakang yang sedang mendekapnya.
"Shuutt..shuutt.."
Bree mengernyit ingin memaki pria seenaknya yang membuat dirinya terbangun kaget, lalu tanpa berdosa membujuk diam layaknya menenangkan bocil rewel.
"Tidur."
Bree memang mengantuk. Sangat. Membuatnya diam tidak menanggapi Alby. Tangan Alby mengelus kening Bree sambil merapikan uraian rambut yang memang mengusik muka. Lalu berpindah menepuk pantat Bree dengan lembut. Bree kembali tidur.
Segera napas teratur Bree kembali mengirama. Alby menghentikan tepukan hipnotisnya, kemudian ikut tidur dan kembali merangkul pinggang Bree.
Terkadang, hubungan keduanya seperti gadis ingusan dengan sang ayah. Kadang mereka bisa seperti iblis dua kubu yang berperang. Kadang Alby seperti seekor kucing jantan ingin menyerang si betina. Kadang juga berharap dirinya adalah seekor kingkong jantan yang bisa merayu sang betina untuk kawin.
__ADS_1
Alby tersentak oleh benaknya sendiri. Tersadar betapa dirinya sangat brengsek. Matanya bergerak menyapu jendela nako yang sedikit memperlihatkan halaman rumah. Tirai sengaja dibuka sedikit untuk persilakan cahaya dan udara masuk ke kamar. Alby menghela napas berat dan mulai menyusul tidur.
***