
Bree terbiasa membeli sayuran ukuran kecil yang satu kali masak tanpa menyimpan irisannya, walau sekarang sudah ada kulkas. Bree menghela napas melirik Levi yang tertawa kecil. Alby menimbang seikat kacang panjang.
"Kalian sekalian belanja buat rumah?"
Alby hanya sekilas menoleh, menimbang wortel ukuran besar dan panjang sambil asik perhitungan dengan penjual. Bree merasa cerewet tidak ditanggapi memilih ke meja lain yang berjejer tahu dan tempe.
"Sebentar ya, Mbak," pamitnya kepada penjual. Bree pergi ke bagian telur puyuh. "Yang 50 butir ya, Bu. Uangnya sebentar."
Bree tidak memegang uang karena memang tidak memilikinya. Dia serahkan tiga papan tempe dan sebungkus telur kepada Alby untuk dibayar.
Albi nggak protes?
Apa yang ingin dibelanjakan sudah terwakilkan, sayurannya juga dipilih segar tanpa cacat, lagipula kedua pria lebih mahir menawar, akhirnya Bree menyimak saja. Levi dan Alby menyinggung isi kulkas, memperhitungkan kapasitasnya. Bree langsung faham belanjaan akan disimpan di lantai dua.
Alby menimbang potongan paha bawah ayam. Apa lagi? Siapa makan? Ayam yang dibutuhkan cafe hanya dada. Stok cafe juga masih penuh. Bree merasa mereka akan membludakkan kulkas.
Ya Allah!
Memang bisa disimpan tapi mereka jarang makan di cafe, kecuali Alby yang lebih sering datang makan masakannya. Ada sayuran yang tidak disukai Bree. Bahan seabrek akan lama habis, tentu tidak segar menumpuk di kulkas.
[ham, tolong!]
Bree mengirim serta foto kedua kawan itu pada Ilham.
[bentar lagi aku fotoin kantong belanja yang nggak akan muat!]
Ilham menyimak pesan Bree, berpikir dua netbag cafe ukuran 40x40 cukup menampung sayuran buah untuk stok seminggu. Tapi stok cafe baru dibelanjakan dan belum ada laporan kosong. Apa yang mereka beli? Ilham terkekeh sambil beranjak menyusul mereka tanpa menunggu foto susulan dari Bree.
Dari halaman parkir Ilham mudah menemukan keberadaan kawan-kawannya. Baru saja memasuki pasar perhatiannya ditarik ubi jalar merah yang gemuk. Jenis berdaging kuning. Penampakan luarnya mulus tanpa lubang, sudah tentu rasanya tidak pahit.
"Weh, gan!"
Ilham menoleh mendapati Alby menyapa. Levi dan Bree menoleh menemukan Ilham menunjuk ubi di hadapannya. Nyatanya Ilham sama bungahnya seperti Levi dan Alby.
"Ubi, gan. Ada pisang juga."
Bree mual berkeringat dingin, keriwehan dalam pasar membuatnya pusing. Dirinya memutuskan keluar duduk di parkiran menunggu ke tiga ownernya. Sampailah para pria yang tadi menikmati belanja itu keluar menenteng dua netbag, dua sisir pisang kepok, dan sekantung kresek ukuran besar. Bree bergegas membantu, meraih pisang yang disodorkan Ilham.
"Faforit kamu. Kolak sama goreng sepuasmu."
Bree menggendong pisang layaknya bayi. Menyusul Levi yang membuka pintu bagasi.
"Kamu belum makan, Del?"
"Belum."
"Sekalian keluar?" Ilham menoleh kepada Levi dan Alby yang memasukkan belanjaan ke bagasi.
"Ayok."
"Oke."
"Aku pulang." Bree meminta kunci motor Levi yang membawa matic. Bree hanya bisa mengendarai motor matic.
"Gimana lo, Del?"
"Kevin lanjut shift, aku jaga-jaga dia perlu bantuan."
"Hiling sejenak, Mom. Anaknya udah tidur." Kedua tangan Levi menadah ambil alih pisang dari tangan Bree, seolah beralih menggendong bayi.
Alby meraih belanjaan yang dari tangan Ilham. Setelah meletakkan pisang dalam bagasi, Levi mendorong bahu Bree seakan menuntunnya masuk mobil. Pintu bagasi sudah tertutup.
"Tapi, Kevin ...."
Ilham menelepon, sepertinya Kevin yang dia ajak bicara. Levi menitipkan kedua motor mempercayakan dua kunci pada bapak parkir, berjaga kalau nanti pulang larut. Alby memastikan Bree di dalam sebelum menutup pintu.
Semua sudah duduk di dalam mobil dengan celotehan tujuan kuliner kali ini. Mobil meninggalkan pasar melaju ke arah ringroad.
Kuliner tersebar di berbagai wilayah di provinsi ini. Bahkan di area dekat cafe ramai warung, kedai, maupun resto. Owner doyan dolan, nongkrong dan kulineran sekalian survei inspirasi.
Mereka sampai di halaman parkir yang lapang. Musik terdengar di halaman samping, di balik tembok adalah kedai prasmanan konsep angkringan dengan tempat luas. Waktu 33 menit ditempuh dengan menahan lapar kini terbayar aneka masakan rumahan.
Ilham dan Alby mengantri makanan, Levi mengantri memesan minum. Bree berdiri di meja camilan yang rata-rata adalah jajan pasar. Membuat dirinya tergiur karena semua yang tergelar kesukaannya. Tidak peduli tanpa uang, aman ada ketiga owner yang akan membereskan keruyukkan cacing-cacing berdemo.
"Jajan? Jangan lupa makan." Alby serahkan sepiring nasi pada Bree.
Cumi saus hitam juga bayam dan tauge rebus serta sambal terasi menggoda di pinggiran piring. Tidak susah bagi Alby mengambilkan Bree makan, sudah faham apa-apa yang disuka dan tidak disukai.
Piring camilan yang dibawa Bree sudah terisi tapai goreng, kue lapis, klepon. Levi sodorkan secapit karamel pisang. Ilham menambahkan tapai dan sukun goreng. Kue putu pun hadir dari Levi dan Alby. Bree bersungut piringnya berat, jarinya akan kram seperti biasa.
"Dah, habiskan." Levi terkikik.
"Alhamdulillah," ucap Bree.
Gazebo berjejer diterangi cahaya putih dari lampu gantung. Filamen dengan cahaya kuning menghiasi halaman. Sepanjang halaman berdiri tiang-tiang lampu. Tetap memberikan kesan remang. Hamparan sawah yang masih hijau bisa dinikmati sambil bersantai di gazebo. Suara serangga malam berlomba dengan band. Angin terasa sejuk menerpa mereka.
Pengantar minum datang meletakkan empat botol mineral serta empat cangkir wedang. Kopi tubruk, kopi jahe, kopi susu, jahe susu. Mereka berdoa sebelum menyantap makan.
Ilham memperhatikan cumi tinta hitam dengan hijauan cabai di piring Bree. Terlintas ide menu tambahan untuk cafe, Levi dan Alby bersahutan. Bree tidak menyetujuinya karena menu lama udang dikalahkan telur dan ayam.
Mengingat sebagian besar pelanggan adalah perantauan manusia laut, lagipula cafe belum menerima take away sehingga jangkauannya tidak luas, ketiga owner mengangguk, mengerti alasan Bree.
Selesai makan, ide yang sedari tadi terlintas kembali diobrolkan.
"Tambah menu gurih dulu untuk roti-rotian," usul Alby.
__ADS_1
"Sandwich," sahut Levi.
"Croque Madame, ah, sama pasangannya, Croque Men...siyu..."
"Krok Mesiyeu." Alby mengejakan croque monsieur.
"Susah lidahku," gumam Bree, mengunyah tapai gorengnya. Lezat sekali lidahnya menemukan coklat dalam tapai meskipun sudah tidak panas dan sedikit pahit.
"Madame sama Monsieur kapan nikah?"
Pertanyaan random Ilham diketawakan Levi dan Alby.
"Sebelum mereka seusia madam monsiyu."
"Udah tua, Bre, alot."
"Gelar kehormatannya renyah."
"Sandwich apa bangsawan?" tanya Alby.
"Sandwichnya bangsawan."
"John Montagu," tambah Levi, "Roti John. Rotinya pakai roti tawar."
"Del, produksi roti."
"His!"
Ownernya sungguh semena-mena. Bree bukanlah robot yang mampu membereskan banyak hal dengan cepat.
"Monte Cristo," lanjut Levi.
"Sosis bun," tambah Alby.
"Hot Dog. Bayi anjing kang gigit."
"Frankfurter."
"Wiener."
Levi dan alby malah sahut menyahut sosis.
"Setelah take away nanti baru tambah menu Rice Bowl Black Squid," usul Levi.
"Arroz negre," celetuk Bree.
"Kok nakal, Bri."
Loh loh ...,
"Bre ingin yang dewoso."
Bree bersalah pernah mengunggah video, "Golek bojo seng dewoso anune ...."
("Cari suami yang dewasa anunya ....")
"Arroz negre, gan, nasi sotong. Bisa meremen dewoso?"
Gede ngilmu, dowo sabar, roso ngibadah, yang berarti besar ilmu, panjang sabar, kuat beribadah. Semenjak Bree mengunggahnya di video story, menyinggung kata de-wo-so menjadikan ambigu pemikiran dewasa mereka. Ya, Negroid terkenal besar, panjang, dan kuat. Hi hi hi.
"Nah, otak kalian yang ngeres, isinya gerindilan. Saking encer nih, melumer kasar-kasar. Kayak sambel kacang."
"Bahasanya Deli yang aneh."
"Tambah salad Nusantara." Alby usulkan menu bersaus sambal kacang.
"Gado-gado."
"Pecel."
"Rujak."
Bree diam idenya sudah keduluan.
"Urapan."
"Karedok."
"Terancam."
"Lotek."
"Aku risen."
Mendapat tatapan ketiga ownernya, Bree membela diri. "Kalian ribet. Racik kopi, racik bumbu kacang, racik bumbu kelapa, dipikirnya enteng."
Seenaknya mengusulkan banyak menu olah sendiri. Apa saja diidekan dengan akhir Bree yang ditunjuk memproduksi. Bree sabet putu di piring, melahapnya utuh-utuh menahan kesal.
Levi menjawil pundak Bree yang memakan kue putu dengan sekejap. "Itu putu kurang dewoso."
Kue putunya ukuran kecil. Putu artinya cucu. "Masih esde." Bree tidak habis akal.
Ketiga pria terbahak, sampai Ilham terpingkal karena celotehan Bree. Kue putu bertekstur memprul dan empuk terasa kenyal-kenyal di mulut Bree. Oh, otaknya liar. Bree seret mengunyah sampai terbatuk. Diterimanya air mineral pemberian Alby. Celotehan macam apa yang dilontarkan sejak tadi. Tidak ada yang benar isi otak sekawanan ini.
Angkringan semakin ramai pengunjung. Karena tempat dan menu menjadi andalan untuk dikunjungi keluarga. Ada juga wahana seperti di taman kanak-kanak untuk anak bermain.
__ADS_1
"Sekalian dimakan."
Alby menggeser piring camilan ke dekat Bree. Bree bungah. Ada karamel dan kue lapis dipasrahkan untuk dirinya habiskan.
"Makasih."
Riuh muda mudi serentak menyanyi ikuti vocal. Koplo asik didendangkan band melalaikan waktu. Kepulan asap rokok menambah nyenyak sejenak melupakan hiruk pikuk aktifitas dan peliknya persoalan lain.
Hingga malam larut mendekatkan gelisah. Lelah menjejak di tubuh telah mendatangkan kantuk. Bree menguap, disusul Ilham menguap. Mereka putuskan untuk pulang. Levi meraih kunci mobil Ilham akan mengambil alih menyetir.
Motor yang dititipkan di pasar sudah berada di halaman cafe. Kunci ada pada operator. Belanjaan dibawa ke lantai dua oleh owner. Bree melangkah malas tidak mendapat jatah untuk membawa, dia memutuskan ke warnet. Ilham kemudian pulang duluan karena adiknya pasti rewel ditinggal sendiri di rumah sampai tengah malam.
Jam 23:27 mendekati pergantian shift operator. Ahmad, operator shift 1 sedang mengecek stok. Kevin melakukan pembersihan akhir shift. Bree menghitung pendapatan shift 1 dan shift 2. Menjumlahkan sementara dengan report billing shift 3 yang belum diakhiri oleh Kevin.
Tinggal beberapa ribu saja untuk capai target. Ada empat user paket berdurasi sama yang tidak memerlukan 20 menit selesai, akan terhenti otomatis sebelum billing diganti shift sebelum jam 24:00. Sempat-sempatnya Bree mengecek nama user.
"Bocil malam. Pelanggan kopi hitam."
Bree menatap pada Ahmad, lalu menoleh kepada Kevin yang keluar dari lorong bilik.
"Bilik lima belas sudah request tambah paket," kata Kevin.
"Bocil emezing," timpal Ahmad.
"Bilik 21 ini, temannya?"
"User lain, Kak."
Bree membuka Message Client 15/17/18 mengetikkan pesan. User-namenya tidak pernah ganti jadi Bree hafal. Mereka selalu datang beramai-ramai, yang lainnya selalu mengganti-ganti user-name sehingga Bree tidak mengetahui sebagian lainnya ada di bilik berapa memakai username siapa.
[Belajar rajin yaa Adek-Adek salih. Jangan lupa selesai nanti mampir dulu di meja server.]
Ahmad sudah hafal kebiasaan seniornya. Dia ke etalase makanan ringan siap mengambilkan apa yang akan dipesan Bree.
"Beng-beng. Sepuluh."
Terima kasih kepada anak-anak manis. Menemukan apa yang mereka search malam hari, tidak jarang hingga hampir subuh, selalu tentang pelajaran, film, game, facebook. Ketika dicek tidak menemukan ulah negatif. Mereka anak-anak pesantren yang tidak jauh dari sini dan selalu berdatangan ke warnet saben malam hingga menjelang subuh.
Ada balasan dari bilik 17.
[Siap Mas]
Dikira yang mengirim pesan adalah Kevin, operator yang melayani mereka di awal tadi.
Meski warnet ini Internet Positif, operator tetap tegaskan keamanan dengan mengecek dan memonitor user per jamnya. Walau melangkahi privasi. Demi kesehatan bersama. Warnet memantau dan membatasi aktifitas 'nyeleneh'.
Pihak teknisi memiliki caranya sendiri jika sewaktu-waktu ada hacker. Pihak Multimedia juga menyaring suguhan sebelum memasukkannya dalam folder. Urusan hukum tentu jelas ini Internet Positif. Cukup fokus supaya tidak terlibat hawa' horor'.
"Tolong tinggalin bon di notped." Bree nyengir.
Biar operator yang memasukkan catatan bonnya. Barusan menghadapi monitor, Bree tidak lancang menambahkan sendiri catatannya.
"Istirahat, Mbak."
"Hm. Semangat shift satu, Mad." Bree menepuk pundak Ahmad. Dibalas acungan jempol.
"Hati-hati nanti pulangnya, Vin." pesan Bree. Dirinya dan Kevin lakukan salam jotos. "Jangan ngebut."
"Siap, Kak."
Bree kembali ke lantai atas. Dirinya memang sudah mengantuk. Di tangga berpapasan dengan Alby.
"Tidur, Bri."
"Siap, gan."
Smartphone Levi ramai. Dari suara di balik sana, Bree tahu lawannya Surya. Surya adalah operator CofiGaming, cabang usaha tiga sekawan. Levi menoleh sebentar ketika Bree lewat di hadapannya.
"Tidur, Bre."
"Ya, gan."
"Bri bayi. Tidur dikeloni."
"Halo, Mbah Surya." Bree duduk di sofa lain. "Apa anda nggak sadar diri tidurnya juga puk-puk?"
"Dipuk-puk istri. Beda cerita."
"Bree dipuk-puk kurcaci," kata Levi.
"Snow white terlalu sempurna untuk rupaku."
"Bru-dull." sambung Surya.
"Heh! kita sama, cinderman."
"Kayu bakar." Levi terkekeh. "Berarti Surya abu."
"Hum!" Bree tersenyum mengangguk cepat. "Maari kita tekdoorr!" Bree menabuh meja bagai drum di pertandingan. "Ho ho ...!!!" Bree sontak menyingkir ketika lemparan sandal mengarah kepadanya.
Alby berkacak pinggang berdiri di teras dengan sebelah kaki nyeker. Cepat sekali dia menampakkan diri dari bawah. Hanya mengambil air hangat dari dispenser cafe yang ON sepanjang hari.
"Berisik!"
Bree nyengir. Sebelum masuk dapur, kakinya menendang sandal yang mendarat dekat sofa yang didudukinya tadi. Alby menggelengkan kepala, sedangkan Levi terkekeh bersama Surya yang diceritakan tentang ulah keduanya.
__ADS_1
Selesai membersihkan diri, Bree membuka kulkas ingin mengambil air minum. Isi kulkas penuh bahan yang tadi dibelanjakan. Ownernya melakukan dengan baik terlihat sayur dan buah dikepak dalam kondisi bersih dan ditata rapi pada tempatnya.