
Irzi menyimak keluhan Bree yang memojokkan diri sendiri. Merasa bodoh diperdaya seorang pria atau memperdaya diri. Mungkinkah jatuh cinta atau hanya mumpung ada tempat berlindung.
"Halah! Lupain. Males dengerin ocehanmu, pasti nanti ke mana-mana deh isi otakmu."
Bibir Bree mengerucut. Sekilas melihat notifikasi WA dengan nama Alby di ponselnya. Sudah lama notif itu sepi.
Bree masih mager dengan yang ada saat ini. Tanpa memperdulikan lainnya selain angkringan, Irzi, dan hidangan di hadapan. Tidak memungkiri pikirannya selalu keluar, hanya berusaha mengalihkannya dulu. Bree dan Irzi pulang saat waktu telah larut.
Bree hanya menatap kafe dari jalan saat bersama Irzi melewatinya saja. Bree tidak menyetop membuat Irzi membawanya ke kost.
"Kenapa aku di sini?" Bree tolah toleh sekitar begitu memasuki parkiran kost Irzi. Melompat turun kala Irzi belum mematikan motornya.
"Balek sana!" Irzi geli dengan tingkah Bree.
"Kadung lah. Aku pengen mi, Zi?"
"Ada."
Seperti biasa tayangan investigasi mitos mistis yang dinanti. Bree menguasai komputer Irzi. Ditemani semangkuk mi rebus dengan ceplok terus setengah matang. Irzi tidak makan karena di angkringan sudah melahap banyaknya camilan. Untuk Bree? Biasa, tukang abai rasa lapar, tapi ada kalanya bisa terusan makan meski setelah kenyang akan kembali dikeluarkan.
"Hapemu dari tadi rame lo, Bri."
Bree memang masih ingin mengabaikan ponselnya.
Ketukan pintu membangkitkan Irzi dari duduknya dan membukakan pintu.
"Hai, Mas," sambut Irzi beriringan sapaan seseorang di luar.
Deg!
Bree tahu suaranya. Dirinya mematung di tempatnya duduk kala melihat siapa yang datang. Alby masuk.
"Hai, Bri."
"Ya." Kaku. Bree merutuk diri seperti takut dengan Alby.
Sebentar Alby dan Irzi terlibat obrolan. Alby mengajak Bree pulang. Bree manut saja berpamitan dengan Irzi. Bodohnya, batin Bree.
Tidak ada obrolan dari Bree maupun Alby. Keduanya diam sepanjang perjalanan ..., melewati kafe. Ke mana Alby akan membawa Bree?
Alby memasuki halaman parkir di angkringan tidak jauh dari kafe. Searah ke rumah Alby. Tepatnya persis di pinggir jalan setapak di sekitar area persawahan. Jalan alternatif yang sepi dengan sisi lainnya kali berpagar.
Bree duduk memperhatikan sekitar. Terdengar suara piring diletakkan di meja kayu saat Alby sudah tiba setelah memesan. Alby duduk memperhatikan gadis di hadapannya menatap halaman samping. Bree diam menahan rasa gemuruh di dadanya.
Tidak menunggu lama dua cangkir kopi datang diantar, Bree menoleh, melihat pisang dan tapai goreng kesukaannya dalam piring. Ada mendoan dan sambal kecap. Ah, irisan rawit dalam kecap terlihat sedikit, Alby yang pasalnya doyan pedas ternyata masih menghawatirkan Bree.
"Makasih, Mas," ucap Bree kepada si pengantar.
"Suwun, Mas."
Alby masih menemukan senyuman Bree, sementara senyuman untuk dirinya sudah tidak ditampakkan lagi semenjak lama tidak bersama. Gadis itu masih diam, kembali memandangi halaman samping.
"Mau makan apa, Bri?"
Hanya gelengan kepala sembari menatap sekilas tanggapan Bree.
"Indomi?" tawarnya lagi.
"Enggak, makasih, Bi."
Kalau biasanya Bree sudah mengiyakan mau makan mie.
"Bi, aku mau pulang."
"Hm. Kenapa? Males keluar sama aku?" Akhirnya Alby meraih tatapan Bree.
"Mau tidur."
"Tempat Irzi?"
"Boleh." Bree tersenyum samar. "Tolong anterin aku balek tempat Irzi?" Alis Alby berkerut.
"Apa tujuanmu?"
"Apa maumu?"
"Aku salah apa?"
"Enggak ada salah. Aku cuma lagi males."
"Males kok terusan?"
Bree palingkan mata. Ternyata nyalinya ciut kala mata Alby tajam. Alby terus menatap inti kepada Bree.
"Nggak ngerti pokoknya aku nggak mood."
"Karna jengkel sama aku? Karna aku berubah menurutmu?"
Itu tahu. Apa Alby memang sengaja menghindarinya?
"Kamu selalu senyum ke orang lain, padahal aku tau kamu jutek ke aku. Ramah sekali, Bri. Cuma aku yang kamu diemin?"
"Perasaanmu aja, Bi." Bree mengganti duduk bersila dan kedua tangannya menampu bahu di dudukan kursi.
"Nggak seharusnya kita barengan terus. Kamu punyanya Rima. Kecuali kita urusan alif atau pas nongkrong sama anak-anak, itupun aku udah nggak diajak lagi to. Wong aku biang rusuh dalam kehidupan Sari."
Terasa sekali dirinya diabaikan. Ya, Bree baper.
"Kamu tau kenapa aku suka kamu? Aku baper karna sikapmu," ungkap Alby.
"Nggak ada yang spesial. Semuanya sama."
__ADS_1
"Tapi aku tau maksudmu ke aku setelah kamu bedakan sikapmu ke aku."
Bree melirik rokok di meja. Rokok milik Alby.
"Boleh aku minta rokokmu?" Bree menatap mata Alby.
"Ambil, Bri." Alby yakin Bree berubah. Biasanya cengar-cengir meraih rokok saat ijin minta.
"Makasih," ucap Bree mengambil rokok itu.
"Habis ini aku mau pulang. Tolong anterin aku," pinta Bree setelah menghembuskan asap rokoknya.
"Makan dulu?"
"Makasih. Udah."
"Habiskan dulu yang udah dibeli."
Tidak ada tanggapan Bree.
"Obat-obatmu masih utuh?"
Lagi. Bree tetap diam.
"Setidaknya hargai Ilham dan Levi."
"Aku hargai kalian semua. Kebaikan kalian. Bantuan kalian. Perhatian kalian. Tapi kalau ada yang berubah, aku pun bisa berubah."
"Soal aku nggak pernah video call, kuotaku habis."
"Dulu kuota Alby habis masih aktif video call. Tetring Bundamu lah, wifi tempat temenmu lah. Balek kesibukanmu masih aktif nyela waktu datang, alesannya ngecek aku, terus keluar lagi."
"Udahlah, Bi. Nggak usah banyak pembicaraan. Aku nggak pengen denger apapun." Pokoknya Alby drastis berubah.
"Jaga perasaan Rima. Kamu pertahankan hubungan kalian baik-baik."
"Hubungan kami udah nggak bisa diperbaiki. Rima masih kesakit-sakit ingat kamu. Foto-fotomu di ponselku ketahuan."
"Foto?" Bree tidak pernah minta difotokan ataupun meminjam kamera ponsel Alby. Foto dirinya urusan laporan tentu memakai ponsel warnet.
"Aku foto Bri pake hapeku."
"Di kerjaan?"
"Banyak. Di kerjaan, pas Bri tidur, pas Bri otak-atik tanaman."
Oh, salahnya Alby.
"Nyesel kan pernah ungkapin perasaan ke aku? Rima nyingkir baru kamu kerasa."
"Nggak ada sesal. Aku sayang Bri dari perasaanku."
"Nggak bisa kan kamu lepasin Rima terus perjelas hubungan kita? Eh, kok kita, aku nggak pantes sebut kita. Terus kamu sekarang minggir dari aku karna kamu anggep aku penghalang hubungan kalian. Setelah kamu tarik aku ke kehidupanmu."
"Kalau menurutmu gitu, aku minta maaf."
Maaf, maaf, maaf, kata-kata apa ini!? Ucapan untuk merubah ke kebaikan malah jadi sepele diulang-ulang dengan kesalahan sengaja. Bree menganggap sengaja karena itu bukan khilaf setelah berkali-kali dirinya meyakinkan Alby.
"Tolong dimakan, Bri. Ni, kopimu dingin." Alby dekatkan cangkir kopi kepada Bree.
"Maaf, aku nggak minta." Bree menekan kata maaf. Alby mengendus napas besar.
"Kita pulang setelah kamu minum sama nyemil."
"Aku kenyang."
Alby tersenyum memperhatikan Bree. Dalam marah cara Bree selalu lucu bagi Alby. Mana ada kenyang kalau semua yang tersaji kesukaannya. Toh bukan makan pokok, tapi kudapan.
"Kapan Bri mau off? Nanti aku aturkan waktu juga untuk anter pulang rumah Mama."
"Kapanpun aku siap pulang. Di dunia ini aku nggak selera lagi."
Alby menahan kesal. Bree menginginkan mati?
Bree mengernyit bibirnya mengatup menahan sedih. Dalam menunduk air mata itu jatuh ke kakinya. Dia rindukan mamanya yang sudah tiada. Ingin pulang, rindu rumah, tapi akan mendapati sepi tidak ada siapapun di sana. Papanya bekerja di luar pulau. Alby yang membuat Bree pede menghubungi papanya duluan kala kangen.
Mendengar sentrupan ingus Bree, Alby sedikit maju menekan meja, meraih pipi Bree terangkat, menyeka air mata itu dengan ujung jaketnya. Sangat lembut. Bahkan Bree merindukan pelukan Alby. Alby melihat wajah Bree kacau. Jaketnya dilepas beranjak dari tempat dan memakaikan ke pundak Bree, Alby merapikannya supaya rapat menyelimuti punggung Bree.
Alby pergi membeli air putih.
"Udah enakan?" Alby meraih botol plastik mineral di tangan Bree saat ingin menutupnya.
"Makasih."
"Dihabiskan? Nanti pulang." Alby mengelap sisa air mata di pipi Bree.
Memang pingin, tadi hanya gengsi. Bree mengambil gorengan sambil tersenyum, memperlihatkan barisan gigi yang mengatup. Alby tertawa kecil.
Setidaknya Alby berjasa di kehidupannya. Mau Alby melupakan ocehan ingin menjaga atau melindungi, mau Alby menyingkir demi kebaikan jalan sendiri, harusnya Bree bersyukur sempat menjadi prioritas meski itu sejenak karena mungkin Alby penasaran, atau mungkin Alby jenuh dengan situasinya bersama Rima.
Bree memang egois inginkan lebih.
"Makan nasi?"
"Makasih, Bi. Nanti aja aku masak."
Bree mengisi kejenuhan bermain ponselnya. Kalau dulu selalu bercanda dengan cerita, sekarang rasanya malas membiasakan diri kembali leluasa dengan Alby. Alby memperhatikan gadis di hadapannya tersenyum sendiri fokus ke layar ponsel.
[ati-ati habis ini nyebur kali]
[seger dong zi mandi sekalian]
__ADS_1
[dikit-dikit mewek dikit-dikit seneng ntar nangis lagi pas dianya gak nongol]
[sesaat gak papa. bentar lagi aku udahin semuanya]
[nyariin sambil nangis]
"Seneng banget Bri balas-balasan WA." Alby tersenyum saat Bree memalingkan mata membalas tatapannya.
Alby diam menyimak raut Bree yang senang kala ponselnya renyah berdering dan jemarinya lincah mengetik sesuatu. Tapi dia tahu sorot mata itu tidak bisa bohong. Bree sedang dalam kesedihan.
"Temenku konyol," sahut Bree kembali menatap layar ponselnya.
Alby bingung dengan sikap Bree saat ini. Dirinya bersalah kepada gadis galauan itu juga kepada seorang gadis yang selama lima tahun menyandang status pacarnya.
TULUSmu yang SALAH TEMPAT
Sebuah video dengan kalimat tersebut Bree jadikan status di story aplikasinya.
[alai bener. baru dikasih makan apa bri?]
Sekali lagi Irzi menggodanya, membalas cerita yang Bree ungkapkan sebagai status kini.
[kepo sih zi cepet banget si stalker satu ini nguntit aku]
[pede akut. makan apa kenapa bisa alai gini]
[makan pisang]
[gawat. jangan kebablasan bri]
[awas pikiranmu kotor. pisangmu aku rajang!]
[sadis!]
Bree lelah bermain ponsel. Pusing lebih tepatnya. Diletakkan ponselnya ke meja dan menatap Alby. Apa sejak tadi Alby tidak berpaling? Apa tidak jeleh itu mata mantengin dirinya terus.
"Ngantuk?" tanya Bree melihat mata Alby sayu.
Eh? Mata Alby merah berkaca.
"Mau pulang?"
Setelah dua pertanyaan Bree untuknya tidak dia tanggapi, Alby menghela napas dan menyalakan rokok.
"Bukannya Bri yang dari tadi rewel pulang?"
"Aku nggak rewel. Males manja atau minta-minta ke orang yang nggak satu tujuan. Aku cuma mohon tolong balikin pake cara biasa aja."
Sekali lagi cuma tawa kecil yang Alby lakukan. Tangannya yang panjang mendarat di kepala Bree dan menggosok pucuk kepalanya. Bree ingin memeluk Alby sekali lagi untuk yang terakhir kalinya. Mustahil.
"Bri nggak merokok lagi?" Alby heran tumben Bree sekali saja merokok dari pada biasanya yang gebas-gebus macam sepur bara.
"Boleh aku minta lagi?" Pertanyaan Bree yang Alby kesalkan.
Tidak perduli tatapan sinis Alby, Bree mengambil rokok. Ah, senangnya kalau masih bisa bersikap seperti biasanya. Bree seperti haus perhatian dan lapar manja. Betul kata Irzi, harus hati-hati jangan kebablasan.
***
"Lainnya pada ke mana, Mas?"
Surya datang ke kafe mengambil biji kopi untuk stok CofiGaming. Dengan terburu karena memboncengkan customer dari aplikasi ojek online.
"Nggak tau kalau Levi. Ilham di sana. Ada Alby juga kayaknya habis jalan sama Rima."
Lemas. Bree ingin menangis.
"Catat ini, Bri."
"Hm."
Bree tidak bisa bersuara lagi. Kerongkongannya ngilu.
Surya sudah meninggalkan kafe. Bree masuk kamar mandi. Kini dia menangis.
Alby pembohong besar! Alby tidak mungkin inginkan Bree. Alby pembohong bodoh! Bree bodoh! Bree perusak!
Air matanya tidak henti meluruh. Bree ingin memaki Alby dengan puasnya tetapi tidak pernah bisa. Bree menahan suaranya, tangis itu membuatnya sesak. Bree memukul-mukul bibir ember. Bree berteriak dengan suara tertahan. Tangannya meremat bibir ember.
Sakit.
[alby dan aku udah baik-baik aja bri. bahkan alby mulai merubah cara komunikasi kami. sekarang dia berusaha tunjukkin keseriusan inginkan hubungan ini]
Apa tujuan Alby katakan hubungannya dengan Rima tidak lagi dilanjutkan. Apa maunya Alby yang sudah tekat menghindari Bree malah bicara lantang tentang kepercayaan Rima kepadanya sudah rusak. Bree sakit. Sangat sakit. Ini sakit sekali.
[aku buruk udah buat kamu curiga dan alby korban kondisiku]
[jangan bri. kamu gak salah. yang kemarin itu salah paham karna ada kompor]
Ternyata Rima sama saja dengan Alby. Padahal yang dilakukan Sari bisa jadi sebagai penyadar masing-masing. Bodohnya Bree berharap Alby. Pria itu sungguh pengecut yang seenaknya.
[aku pingin ketemu kamu tapi alby bilang tunggu sela waktu dulu. kamunya kelihatan aktif di kafe dan warnet la akunya juga ngajar malam. mau ketemu sore pasti kamu capek banget]
Alby bilang Rima kejar ngajar tambahan les dan bisa pagi sampai malam. Itu kenapa Bree menahan diri tidak minta dipertemukan Rima karena sama-sama belum ada waktunya. Sedang dirinya hanya mengurus kafe dan sore hingga dini hari selalu banyak waktu. Alby pembohong.
Sebetulnya yang bumbu pedas atau kompor itu, ya Alby. Pintar berkata-kata.
[semoga kita bisa ketemu bri. aku tau kamu orang baik]
[aamiin. inshaallah ri]
"Kalau aku baik nggak mungkin ngarepin Alby!" gerutu Bree meletakkan ponselnya ke meja kasir dengan keras.
__ADS_1