
Alby rebah menyangga tangan di kening, menerawang langit-langit kamar yang hanya ditutup lapisan tipis triplek dan sudah lapuk. Dirinya tengah berpikir apa yang kini sedang terjadi. Semuanya bermula darinya. Bree terluka akibat perbuatannya.
Alby beranjak mendatangi kamar sebelah. Permukaan rumah basah dan licin, pintu pendek mengharuskan menunduk. Dia membangunkan Bree.
"Bri?"
Sedikit membuka mata. Bree mengernyit menatap Alby. Kepalanya pusing.
"Pindah kasur depan? Kasur ini kotor nanti gatal."
Bree perlahan bangkit, dibantu oleh Alby dengan lembut. Ada apa dengan pria ini? Dia masih sok berlagak peduli padahal banyak menyakiti dengan sengaja.
Bree rindu tidur di kamar ini. Terakhir di sini kala mamanya tergeletak dekat pintu. Bree merasakan kembali sesak. Menahan tangisnya demi ingin menenangkan diri untuk bisa tidur. Obat yang masih dia minum memberikan efek mengantuk yang sangat.
Alby masih terus memegangi lengan dan leher belakang antara pundak. Lembut dan hangat. Suhu tubuh Alby selalu hangat.
"Tidur dulu. Bri perlu banyak istirahat." Alby menyerahkan tumbler saat Bree sudah duduk di tepi kasur.
Setelah beberapa minggu menghilang tidak muncul di kafe juga rumah, tanpa video call, tanpa mencari di WA kecuali saat Bree sedang berada di luar. Waktu datang juga keduanya diam, canggung, tanpa ada drama baper dibuatkan kopi atau diambilkan minum. Hanya ketika Bree sedang di posisi lemah kebiasaan-kebiasaan Alby kembali dilakukan. Sok perhatian lagi.
Bree akui Alby memang pria lembut dan tulus meski terbaca wagu baginya. Tidak komitmen.
"Pantes Rima kukuh pertahankan kamu yang katanya udah males urusan sama kamu."
Alby bilang Rima kesakitan kalau masih bertemu. Lalu Alby bilang lagi Rima masih WA dan datang untuk kembali mempertahankan hubungan. Alby akan bilang apa lagi setelah ini. Bree muak. Selama masih di lingkungan kafe, dia yakin akan terusan sakit hati. Antara dia mulai berharap Alby, juga kesal ingin pergi karena sikap Alby.
Alby mengerutkan alis memperhatikan Bree minum.
"Makasih, Alby. Maaf aku merepotkan Alby dan nyusahin."
Alby meraih tumbler sebelum Bree meletakkannya ke meja. Bree rebah di kasur menghadap jendela, miring membelakanginya duduk di tepi kasur. Bree masih saja membahas Rima. Alby meraup muka.
.
.
Bree menemukan Alby merangkul pinggangnya. Dipalingkan kepala dan melirik Alby tidur di belakangnya. Bree mendapati tangan Alby sedikit tergerak.
"Bi?"
"Hm?"
Alby bangkit sedikit tanggannya menyangga kepala dengan siku bertampu bantal. Dia mengernyit saat Bree menyingkirkan rangkulan di pinggang dengan dua jari. Seperti jijik. Dirinya menahan tawa akan tingkah Bree.
Alby terbangun sejak tadi dan dia tahu Bree lapar. Tadi tiga kali perut Bree bunyi dan tangan Alby bisa merasakan saluran cerna dalam perut itu bereaksi. Sengaja masih ingin menikmati memeluk gadis yang sudah malas kepadanya. Lagi pula Bree pulas tidur.
Malas lepas. Alby kembali merangkulkan tangan ke pinggang Bree.
"Aku laper," ungkap Bree.
"Cari makan."
"Ya."
Keduanya duduk dan bergiliran minum. Masih saja Alby mengutamakan Bree.
"Kamu nggak mandi?" tanya Bree.
Tubuh Alby lembab. Panas daerah sini membuatnya mengeluarkan banyak keringat. Heran saja Bree masih tetap berselimut.
"Kayaknya seger mandi malem. Bri mau mandi?"
"Nanti."
"Yaudah," Alby meletakkan tumbler ke meja. "ayok basuh muka. Kita keluar."
Alby ditunjukkan jalan lain saat mengeluarkan motor dari halaman rumah. Arah berlawanan dari gang masuk yang sejak awal dilewati. Lebih banyak deret rumah tetangga yang ditemui dibanding tadi. Rumah Bree berada di nomor dua dari mulut gang tadi. Dari mulut gang ini rumah Bree di deretan 15.
Alby diam-diam menghitung jumlah rumah ada 32 petak berhadapan. Ada per kepala yang dua rumah, terlihat dari pagar yang jadi satu dan catnya sama, kata Bree itu memang satu rumah. Baru satu gang sudah terhitung banyak rumah, apalagi dalam tiap gang. Bahkan gang juga banyak ditemui. Seramai ini kepala desa mengatasi kepala-kepala warganya.
Lingkungan menyenangkan bagi Alby yang masih asing. Meski tampak panas karena banyak bangunan berantakan dan sepi pepohonan teduh akibat rob. Ya, hanya beberapa pohon kecil meski tanaman pot juga banyak. Dasarnya kota ini memang panas.
"Dulu rumah banyak pohon buah, Bi. Di tumpukan bata tadi, itu pohon jambu air ijo. Terus di luar pager ada jambu air merah, markisa, terus sebelah setapak ada delima, belimbing, halaman dalem ada pepaya, srikaya."
Alby mendengarkan celotehan Bree.
"Dulu pagernya tinggi, lo, Bi. Aku duduk pager pas Papah bersihin got, nanti kotorannya ditarok deket jambu merah. Sebelah lain ditarok deket belimbing."
"Papah nggak marah Bri naik pager?"
"Pager tembok, Bi. Papah yang gendong aku. Marah lah dia kalau aku naik-naik, wong aku pengen metik jambu manjat pager apa pohon aja dimarah."
"Dulu pernah pojok halaman ditimbun batu-batu gede. Nggak ngerti buat apa. Lama-lama ditimbun tanah. Eh, kayak bukit di pojokan. Malah ditanemi pohong. Nah, aku diajar lagi soalnya seneng main di urugan tanah itu di bawah pohon pohong."
"Naik-naik puncak gunung."
__ADS_1
"Iyo." Bree tertawa kecil.
"Di sini depan rumah malah banyak mangrove."
"Lama-lama mangrove ditanem dalem rumah, Bi."
"Bisa jadi, Bri. La keseringan pasang masuk rumah."
"Rumah Mamah ditanemi mangrove dalem rumah malah bisa jadi aquascape."
Alby mengingat rumah Bree bagian kamar itu sudah sama saja berdinding kaca. Jendelanya tertanam tanah. Dari luar serupa aquarium.
"Aku es de kudu naik kursi kalau nengok jendela, Bi."
"Berarti rumah dulunya tinggi, Bri?"
"Tinggi. Papah buka ternit berdiri lurus di atas lemari. Lemarinya lebih tinggi dari Papah."
Alby belum bertemu dengan papa Bree.
"Tapi lebih tinggian kamu dari Papah."
Bree membandingkan sosok kesayangan dengan dirinya. Ada rasa bangga pada Alby. Lebai ah.
"Banjir, Bri."
"Jam rob."
Bree melihat Alby tidak membelok saat sampai perempatan. Alby juga tidak bertanya. Di jalan lain belum tentu banjir. Jalanan seisi perumahan tidak sama, akibat terlalu sering rob peninggian jalannya tidak merata.
"Nggak sayang sama motormu?"
"Kesempatan rajin nyuci motor. Lagian itu nggak tinggi. Ini sih pergelangan kaki."
Sepanjang melalui banjir, Bree bermain. Kaki-kaki Bree turun dan masuk air sembari motor dilajukan.
"Nanti kapalmu malah pengen jalan sendiri sampe pelabuhan, Bri."
Bree memakai sandal cropnya. Anak-anak sering meledeknya itu sandal kapal kebanggaan Bree.
"Nggak papa kalau ngangkut penumpang. Menghasilkan."
"Nah, investasi."
Kaki Alby juga sesekali tenggelam dalam banjir.
"Eh, kotor ini, Bi."
"Dikumpulin segini bisa penuh itu bak di rumah."
Alby melihat bak di kamar mandi rumah Bree seperti kolam minimalis.
"Kita kuras aja, Bi, buat kamu renang. RT sini nanti kasih kamu penghargaan karna gangnya bersih air."
"Penghargaannya ikan bandeng?"
"Ikan cetol, Bi."
Obrolan sepele yang menciptakan tawa. Alby senang. Dia menikmatinya. Bree kembali menjadi gadisnya yang cerewet. Karena cerewetnya Bree hanya kepada orang terpercaya. Alby rindu Bree.
Mereka berada di kedai lesehan. Makan dan duduk mengobrol dengan kopi. Belum menyudahi singgah sudah diburu hujan, lumayan lama, alhasil terjebak di kedai.
"Rencana habis makan pengen motoran, malah hujan."
"Artinya disuruh istirahat, Bi." Bree tertawa kecil melihat Alby mirip anak kecil yang sok dewasa.
Ekspresinya tampak biasa tapi dari sikap kelihatan menyesali yang terjadi. Keinginan bermain akan penasaran menjelajahi perumahan ini sedang diuji sabar oleh kedatangan hujan. Alby sejak tadi duduk seperti gelisah dengan helaan napas dan berkali-kali menatap luar. Sesekali menampu siku di lutut dan jemarinya bermain-main bibir, atau menampu dagu di tepi meja sampai bibirnya manyun menatap hujan.
Alby merasa lega melihat wajah sumringah Bree kembali.
"Alby bosen di sini?"
Tempatnya sih biasa saja tidak ada bedanya dengan tempat-tempat yang kerap mereka kunjungi kala kulineran sekalian survei.
Meja ini tinggi tapi Alby sangat membungkuk saat dagunya diletakkan atas meja.
Alby menggelengkan kepala, matanya bergerak ke Bree lalu ke hujan. Ya, Bree tidak membaca jika Alby telah jenuh. Alby masih menikmati seperti biasanya. Tetap mengobrol dan bercanda tanpa ada rasa bosan. Hanya polahnya meresahkan emak-emak yang memikirkan anaknya sedang menghadapi pelajaran sabar. Alby sangking inginnya keliling perumahan.
Alby menghela napas lagi. "Eh, Alhamdulillah hujan. Kan habis terang masih bisa lanjut jalan."
"Kalau hujannya awet?"
"Masih ada besok." Alby tersenyum lepas dan sangat manis.
Kelihatan sekali ngarep keliling.
__ADS_1
"Apa besok nggak pengen pulang?"
"Aku masih pengen ikut Bri pulang."
"La iya, kita pulang ke luar provinsi."
"Bri mau lekas balik sana?"
"Kita punya tanggung jawab di sana, Bi. Kecuali memang hari libur."
"Anggap kita lagi hari libur. Mudik."
"Mudik identik hari besar pas perantauan ada libur panjang. Kita ijin, oi!"
"Dulu Bri sering mudik tiap bulan."
Bree selalu merapel jadwal off selama 4 hari atau satu minggu setelah tanggal gajian. Selanjutnya dia akan bekerja penuh dalam penghabisan bulan. Sering kali mengambil tambahan waktu juga double shift. Itu dulu kala mamanya masih di rumah.
"Udah nggak ada yang dikunjungi di rumah, Bi."
Alby mencari raut Bree yang menunduk. Alis Bree berkerut dan menggigit bibir. Dadanya naik-turun.
"Bri?"
"Hm?" Bree tahu muka Alby dekat melongok arahnya.
Alby tersenyum begitu Bree mendongak. Mata Bree berair. Mengetahui seberapa sering cengengnya Bree muncul setelah mulai bermanja pada dirinya. Bukan saat kesakitan, bahkan mengingat atau melihat hal apa, perasaan Bree yang sensitif mudah menangis. Alby lega karena Bree tidak sok kuat bersamanya.
Teringat saat Levi heran melihat Bree menangis. Yang lain belum tahu sebenarnya Bree sangat cengeng. Ya mata Bree sering berair saat mual mendera atau saat mengantuk, tetapi hanya Alby yang melihat sisi lain Bree yang sering mumpet. Bahkan Bree mengamuk sampai barang-barang tidak bersalah menjadi korban, tetap Alby yang tahu.
Apa Bree juga menampakkan sisi lainnya kepada Irzi? Seketika Alby berhenti tersenyum. Ada yang aneh di hati Alby.
Bree masih mencari jawaban Alby yang memanggil. Malah heran Alby habis senyum sok manis mendadak nglacep senyumnya ngilang.
"Sisa gerimis. Lanjut?"
"Ayok."
Alby memang konyol rela dingin dan terkena rintikan gerimis demi berkeliling.
"Di sini ramai."
"Perumahan, Bi. Orangnya kan banyak, sama banyak tempat jajan, tempat belanja, tempat nongkrong yang jejeran."
"Yang pasti guyubnya keren."
Banyak juga perumahan, perkampungan, pedesaan yang semua sepi. Tapi di sini sangat jelas keramaian dari pagi tadi datang sampai menjelang malam ini. Di sini komplek dengan kondisi sosial dan ekonomi yang seragam. Alby lihat ada yang rumahnya paling besar atau paling kecil bahkan hampir ambruk tapi mereka bisa selaras. Alby tahu karena orangnya keluar-masuk dan membaur.
"Nggak pernah sepi, Bi. Mau dini hari mau subuh mesti rame. Mau dibentuk beberapa orang ronda, ya yang ngumpul penuh orang."
Dalam benak Alby menghitung pos kamling yang sudah dia lewati.
"Ya Allah, la pos kamlingnya juga banyak, Bri."
Bree terkekeh mendengarkan Alby. Bree memang kangen suasana rumah. Tentu yang paling melekat ya masa dahulu, masa dirinya kecil, masa abrasi belum memburuk.
"Beli rumah di sini, Bri."
"Buat apa, kan ada rumah Mamah."
"Rumah Mamah diperbaiki. Aku yang beli rumah di sini."
Andai Bi, kamu komitmen. Ah, berharap sekali.
"Sayang rob. Tapi warga di sini kebanyakan nyenyak, Bri? Kayak Mama Papa sama tetanggamu, awet bertahun-tahun di sini."
"Papah bangkrut bolak-balek perbaikan rumah." Bree tertawa kecil. "Dulu sih masih sanggup, lewat masa udah berubah. Dulu rajin perbaikan rumah, seingatku pas Papah kerja di perusahaan material, Mamah juga masih kerja."
Alby banyak bertanya. Bree menjawab apa yang ada. Alby semakin senang berada di sini.
"Ayok lah cari rumah di sini."
"Banjir, Bi. Motor adek aja cepet rusak."
"Buat investasi aja dulu."
"Inget rencanamu tawaran kerja ikut saudara di luar kota. Kamu juga udah masuk kepengurusan pondok. Juga harus peduli ada cewek di luar provinsi ngarepin kehidupan masa depan sama kamu."
Duh! Bree mendadak tidak enak hati karena kalimat terakhir. Ada rasa sakit setiap menyinggung Rima.
"Hem. Selalu menjalar."
Perjalanan mereka yang lama masuk dan keluar di setiap gang, bertemu banyaknya rumah berdempetan, menjajal jalanan yang sebentar lagi pasti motor perlu dielus, tetap dirasakan enjoy diiringi ocehan. Bree bisa lepas lagi tertawa dan berceloteh dengan Alby setelah berminggu-minggu memendam kesal. Alby inginkan hari-hari ini bertahan lama.
Sering sekali bertemu orang yang saling menyapa dengan Bree. Padahal lokasinya sudah jauh rumah. Ada yang teman sekolah, ada yang dikenal karena anggota keluarganya, ada yang sekedar kenal walau tidak akrab. Karena Bree lama tidak kelihatan sejak sekolah di desa sampai merantau bekerja. Ada yang memanggil dan meminta stop dulu, tapi Bree hanya melambai atau manggut sopan bentuk masih harus melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Sampai Alby putuskan membunyikan klakson, bentuk menyapa setiap berpapasan dengan pengendara yang lalu lalang. Bree tertawa setelah mengetahui alasan Alby, kalau mungkin juga saling mengenal. Berbeda kala melewati sekumpulan warga, Alby memelankan laju motor untuk nderek langkung, permisi numpang lewat.
Selama perjalanan mendapatkan hawa sejuk.