
Bree terbiasa dengan sikap Alby yang memfokuskan dan mengutamakannya. Alby seperti saudara yang perhatian dan tidak segan berdekatan. Bree sudah percaya diri menghadapi Alby sehingga lupa posisi sebagai karyawan dan rekan.
Alby menyatakan perasaan tanpa mengharap balasan dari Bree. Kepedulian Alby yang berlanjut membuat yakin bahwa janji ingin menjaga dan melindungi Bree itu tulus. Menganggap Alby hanya seorang pria yang sehari-harinya adalah owner dan rekan.
Ketika Alby tiba-tiba menghilang membuat Bree sadar ternyata malamnya ingin ditemani melalui panggilan video. Menunggu pesan yang menanyakan kabar hari-harinya. Juga terbayang kedatangan Alby mengantar kudapan kesukaan, entah masakan sang bunda atau dari membeli. Bree mengharapkan seorang Alby.
Bree tidak boleh mencari Alby. Bree jangan egois. Terserah Alby sok baik kepadanya. Bree harus tahu diri bahwa Alby merasa kasihan. Kehidupan Bree memang menyedihkan di mata teman-teman. Alby hanya iba.
Alby sedikit kecewa genggaman di dua sisi jaketnya melonggar. Bree melepas pegangan. Alby tahu Bree spontan berlindung saat motor sempat menyendat direm mendadak, karena tadi ada marka kejut di jalan.
Perjalanan mereka dirasakan menghangat selalu dalam sekejap saja. Kemudian keduanya mendingin kembali. Tanpa ada celotehan dan tawa. Ini terjadi sejak hubungan meregang.
Sampai di rumah.
Setelah Alby parkir motor dalam rumah, lalu menutup pintu, semakin tersadar Bree selalu cepat lenyap. Alby melihat belanjaan di meja, lalu menoleh ke arah ruang tengah yang dibatasi tembok tidak berpintu. Tadi Bree langsung ngeloyor masuk setelah turun motor.
Alby bergantian membasuh kaki dan tangan. Bree berlalu meninggalkannya di dapur. Alby hanya bisa menghela napas panjang dan mengendus pasrah.
Alby mendekat ke kursi ruang tamu, memperhatikan jemari Bree tampak mengetik sesuatu di ponsel.
"Dimakan dulu buahnya, Bri."
"Ya."
Bree menjawab singkat tanpa menoleh. Pandangan Bree sedang tertuju pada layar ponsel. Alby duduk menjejeri Bree yang terus fokus pada ponsel.
"Hei?"
"Ya?" Bree menoleh. Sedikit tercengang karena jarak mukanya dekat sekali dengan muka Alby.
Alby merasa sikap Bree tidak menyenangkan. Muka Bree sangat datar. Alby seperti tidak berarti sekarang.
"Hm?" Bree bertanya karena Alby hanya menatapnya setelah menyapa.
"Sambil dimakan buahnya. Mau yang mana? Aku cuciin." Dan Alby kalah saat akan meraih kantong buah.
Bree sudah lebih dulu mengambil pisang. Ponsel diletakkan sebentar di atas kakinya yang bersila, tangannya mengupas kulit pisang. Bree makan buah sambil berkirim pesan dengan seseorang.
Padahal Bree bukan maniak hape. Terutama waktu duduk bersama seperti sekarang. Tapi akhir-akhir ini, Alby berpikir, betapa hape sangat penting bagi Bree. Masalahnya Bree lebih banyak diam. Alby jelas menindik perubahan itu.
Alby membuka kotak martabak. Nah, termasuk ini. Biasanya Bree akan menawarinya, terus meladeninya. Alby memandangi Bree yang ternyata sedang dalam dunia sendiri.
"Martabak manis."
Alby penasaran dengan martabak yang tebal dan menggiurkan. Kotaknya dibolak-balik dan tutupnya diperhatikan. Entah berapa harganya per porsi dilihat taburan coklat dan kacang tidak pelit. Aromanya sangat lezat, bukan menyengat layaknya diberi bahan penguat. Itu murni, namun awet karena hangat.
Alby mengarahkan bungkus martabak ke hadapan Bree yang anteng. Bree tidak menggubris.
"Ini," Alby memastikan keterangan yang dicentang di tutup kotak martabak satunya. Dari aromanya jelas martabak telur.
"martabak telurnya juga tebel banget."
Bree masih cuek.
"Kulitnya kering," celoteh Alby menggigit martabak telur yang renyah dan gurih. "Daging cincangnya berasa. Wangi daun bawang."
Bree tidak merespon.
....
Bree mengambil martabak manis yang sudah dibukakan dan disajikan oleh Alby di meja depan posisinya duduk.
"Makasih, Bi," ucap Bree.
Alby baru ingin menanggapi, tetapi saat menoleh lekas mengatupkan bibir. Ternyata Bree masih giat ponsel. Alby masam memandangi Bree menggigit daging martabak.
"Sama-sama." Alby mengucap pasrah.
Bree meletakkan ponsel hendak mengambil minum. Sekilas menemukan tatapan seorang yang berada di sisinya melalui ekor mata.
"Apa?" Bree menanyakan tatapan Alby kepadanya.
__ADS_1
"Enggak papa." Alby tersenyum.
Bree tidak ramah terhadapnya. Alby mengalihkan mata ke luar jendela. Ada kecewa dan ingin marah. Tetapi Bree juga tentu lebih kecewa.
Separuh porsi martabak manis dan beberapa potong martabak telur termakan. Keduanya asik bersama ponsel masing-masing.
Prinsip Alby mengenai 'Hape mendekatkan yang jauh' ternyata menjadi 'Hape menjauhkan yang dekat'. Itu yang terjadi di antara dirinya dengan Bree. Keramaian lingkungan rumah telah menjadi fokus, mengalihkan sunyi di dalam rumah.
"Istirahat, Bri?"
"Sana."
Bree sedang berbalas pesan dengan Irzi dan Yuwen. Terlalu tanggung untuk meninggalkan obrolan.
Alby bangkit seraya berkata, "Maaf!" Ponsel diambil dari tangan Bree.
"Bi!"
Alby berlalu masuk kamar tidak mempedulikan seruan Bree.
Alby semakin seenaknya!
Bree menyusul ke kamar. Melihat Alby merebahkan tubuh di kasur tanpa menggubris kehadirannya. Tapi mata Bree tidak menemukan ponselnya. Alby tiduran santai menerawang langit-langit kamar. Menyangga kepala dengan dua tangan bertumpu bantal. Kelopak mata Alby melirik tangan Bree yang mengadah.
"Hape?" minta Bree. Masih berharap.
Kemudian Bree terpaku tanpa menarik tangan dari hadapan Alby. Sesaat napas Bree sengal sedikit takut dengan respon Alby. Sangat lama Alby meliriknya.
"Tidur."
"Aku baru mau bales WA temenku."
Mata Alby kembali ke langit-langit mendiamkan Bree yang belum ingin menarik tangannya. Mata Bree pun menjelajah mencari ponselnya.
"Mana hapeku?"
Alby melirik lagi. Kemudian memiringkan badan membelakangi Bree yang ingin menangis diabaikan oleh Alby. Namun Bree kukuh. Ragu-ragu mendekat, meraih kaos bagian pinggang Alby.
Bree ingin menarik posisi Alby menghadap dirinya. Tapi Bree sedikit takut reaksi nanti, akhirnya hanya meremat kaos Alby. Dan ternyata mata Alby terpejam. Membuat Bree keki tanpa berani bertindak meski diri sudah ingin menyentak.
"Bi," panggil Bree lirih.
"Tidur!" sentak Alby dengan suara ditahan penuh penekanan saat menoleh.
Bree menarik perlahan tangannya dari kaos Alby. Bersamaan Alby kembali ke posisinya semula.
"Masih bisa nanti," kata Alby lagi dengan lebih santai.
Bree masih diam di tempat sambil matanya mencari-cari letak ponsel. Bahkan ponsel Alby tidak terlihat. Hanya dompet yang ada di meja dekat kasur. Bree duduk di kasur ... ish! Mlorot. Badan Alby menguasai pinggir kasur. Bree menggeser pantat tanpa mau tahu badan Alby. Cukup berat.
Alby mengernyit dan membuka mata saat badannya dihentak dengan gesit. Alby menoleh melihat Bree duduk bersila memunggungi punggungnya. Bree sedang menunduk dan memainkan jemari. Alby ingin tertawa mengamati Bree.
Bree merasakan tangan kekar melingkari pinggulnya, seiring pandangannya berputar, lalu badannya cukup keras rebah di kasur. Sebentar memandang Alby yang terpejam meski sudah menarik tubuhnya. Bree diam dalam pelukan hangat Alby untuk mengatur napas.
"Sekarang tidur. Nanti masih banyak waktu balas WA besprenmu."
Bree tidak merespon. Memilih memejamkan mata.
Alby merasakan jantung Bree berdetak kencang. Bree memang ingin dikasar. Alby menyimpulkan senyum mendapati Bree anteng dalam dekapan tubuhnya.
***
Bree tidak berucap saat Alby mengajaknya bersiap. Bree tidak bertanya saat Alby mengambilkan jaket. Mengira Alby masih ingin berkeliling. Tapi kemudian Bree mengerti sudah salah sangka ketika mereka tiba di sebuah rumah sakit. Hari ini memang seharusnya jadwal kontrol.
Alby melihat Bree malah berdiri diam memperhatikan dirinya. Bukannya ikut melepas helm.
"Kartuku?" tanya Bree menatap Alby yang membantu melepas gesper helm. Bree ingat identitas penduduk miliknya tidak ada di dompet setelah pulang dari inap dan mengetahui kartu itu masih ada pada owner saat kontrol pertama.
Kartu identitas kependudukan Bree dibawa Levi. Dan sudah dipegang Alby saat ijin libur. Hanya belum sempat diberikan kepada Bree.
"Ada." Alby meraih tangan Bree. "Ayo." Menggandeng Bree yang menuruti langkahnya.
__ADS_1
Alby menyesuaikan langkah kaki Bree yang baginya pendek. Bahkan mengawasinya melangkah aman di antara lalu-lalang orang selama perjalanan singkat, terutama nyaman dengan elevator. Tidak beda naik kendaraan tertutup, Bree juga mabuk menggunakan elevator dan Alby sangat mengerti hal itu.
"Mau pipis dulu?" tanya Alby memastikan. Mengingat Bree beseran kemungkinan tidak nyaman sepanjang pemeriksaan.
"Enggak," jawab Bree spontan, lalu mengernyit tersadar sudah dibuat bodoh oleh sikap Alby.
Alby berlebihan bagi Bree yang tentu lebih mengerti kondisi tubuh sendiri. Bree bagai bocah ingusan yang mengikuti ke mana pun dan terus berada di sisi Alby. Padahal ini rumah sakit wilayah sendiri dan beberapa kali masuk sini. Bukankah Bree lebih paham dari pada Alby.
"Apa Kakaknya ikut?" tanya seorang perawat pada Alby yang mengiring di belakang Bree.
"Saya mendampingi dari pasien opname, Mbak."
"Baik. Silakan, Kak. Langsung menghadap dokter." Perawat mengarahkan tangan ke meja dokter yang sudah menunggu. "Adiknya rebahan saja." Kemudian mengarahkan tangan ke ranjang.
Sekilas Bree melirik Alby yang menatapnya. Mereka saling senyum yang sebetulnya menahan tawa. Bree merasa mukanya setara Alby walau beda beberapa bulan Bree baru lahir setelah Alby mungkin berguling atau sudah merangkak.
"Selamat pagi. Pasien ..., Bree Deli Liana." sapa dokter setelah melihat pasien dan pendampingnya masuk.
Alby dan Bree membalas salam sang dokter, lalu melakukan arahan perawat yang kini menutup pintu. Alby duduk di kursi yang tersedia di hadapan dokter dan mulai menjelaskan kondisi Bree. Sedangkan Bree mulai dicek perawat yang memintanya rileks karena sedikit kaku. Bree mencoba tetap tenang mengikuti prosedur pemeriksaan meski berdebar.
Bree mengabaikan jadwal kontrol dan tidak berpikir akan kembali mendatangi dokternya. Ternyata Alby tidak lupa hari kunjungan itu. Alby mengurus semua melalui telepon. Sampai mendapat rujukan ke rumah sakit terdekat. Menjelaskan sedang berada di mana, kemudian pihak rumah sakit tempat Bree dirawat memberinya rekomendasi. Alby yang tidak mengenal lokasi cukup browsing dan melihat maps.
Bree merasa berdosa selalu memfitnah Alby adalah pria tidak bersikap. Padahal Alby memperlakukan Bree dengan sangat baik.
Bukan saja dari pernyataan perawat, pada akhirnya juga dari prasangka dokter, membuat Alby dan Bree penasaran dikira kakak adik. Keduanya berhenti di depan sebuah dinding kaca yang memantul. Dengan kompak berkaca. Lalu mata mereka saling bertemu di kaca. Bertanya-tanya. Apakah hidung yang mirip?
Alby memencet hidung Bree yang bentuknya lebih mirip perosotan. Sekali lagi keduanya memastikan muka yang tidak ada kemiripan. Bree mendongak, pun Alby sedikit menunduk, saling bertatap dengan perasaan aneh. Mereka tidak memiliki alasan untuk menjadi saudara. Dokter dan perawat mengada-ada!
Mereka menyudahi interaksi di hadapan kaca. Terlalu konyol saling memperhatikan mencari-cari kesamaan muka.
Alby terkekeh menangkup kepala Bree yang memang terlihat mungil. Bree menjotos pelan pinggang Alby. Bree tidak terima tubuh kurusnya penyebab dianggap kecil dari Alby yang kekar dan tinggi. Bukankah wajar perempuan terlihat lebih kecil dari pria. Bree merasa badannya juga tinggi sampai lengan Alby. Ah, bukan. Tapi hampir sampai bahu Alby.
Alby menatap Bree setelah meraih telapak tangan Bree yang terasa dingin digenggamannya. Bree menoleh. Alby pun tersenyum setelah memperhatikan Bree masih baik-baik saja.
Kontrol kedua ini juga memakan waktu seperti kontrol pertama. Bree merasa lega setelah melepas gugup yang bertandang sejak awal pemeriksaan. Bree menengok Alby. Kemudian Bree merasa nyaman oleh senyuman Alby dan tangannya mulai terasa hangat dalam gandengan tangan kekar Alby.
Alby menilik jam di tangan. Hari sudah lewat jam makan siang. Mereka singgah di kantin rumah sakit.
"Bri udah capek?"
"Cuma pegel."
"Kita rebahan dulu."
Di lantai satu ada ruang tunggu yang modelnya seperti kamar sekat kamar. Alby bisa ijin ke sana. Atau inginkan rebahan di Masjid dekat halaman.
"Nggak usah."
"Sebentar. Habis ini aku pengen ajak Bri montoran."
Bree menatap Alby. Sebentar kemudian mengalihkan muka. Ada perasaan senang. Namun malu mengakui.
"Yo ayok montoran."
"Nanti capek banget. Seenggaknya punggung Bri dinyenyakin dulu?"
"Nanti istirahat sekalian pulang."
Alby tersenyum. "Oke."
Alby tidak bicara lagi karena reaksi Bree menjawab dari tadi tampak cuek. Alby selalu memulai bicara meski itu singkat karena tidak tahu harus berkata apa. Terasa sepi tidak ada obrolan berdua. Alby sudah rindu ocehan Bree tapi Bree tidak mengajak bicara sama sekali. Bree mau menatapnya hanya gara-gara diajak jalan-jalan.
Alby mengajak Bree ke kota besar. Bree menolak singgah di alun-alun yang sangat ramai. Akhirnya persinggahan mereka di bundaran taman kota. Padahal sama saja ramai. Bree tidak menanggapi kebingungan Alby.
Bree menikmati keceriaan anak-anak bermain air yang menari-nari mengelilingi tugu. Air mancur dan tugu akan terang serta berwarna saat petang. Alby mengamati relief perjuangan masyarakat di jaman penjajahan hingga kemerdekaan pada monumen yang dibangun untuk mengenang Pertempuran Lima Hari itu.
Alby mengajak Bree makan batagor dan minum jeruk hangat dekat area parkir. Mereka cukup lama berada di taman kota, kemudian melanjutkan perjalanan. Dan menikmati malam dengan keterdiaman.
Alby memilih singgah lagi di kota lama. Alby dan Bree makan soto. Kali ini keduanya ditemani kopi. Sampai lewat tengah malam hanya dihabiskan dengan saling diam memandangi sekitar.
Di perjalanan pulang Alby sempat berhenti dan ikut mengantri di antara tiga orang. Seorang bapak tua mengerjakan pesanan di balik gerobak gendong bertuliskan 'Gandos' yang masih sajian lama dengan taburan gula pasir atau gula bubuk.
__ADS_1