Jangan Katakan MAAF

Jangan Katakan MAAF
07


__ADS_3

Bree mengaduh kepalanya dijitak Surya. Kini Bree bersandar pada pilar antara dapur dan bar.


"Kencan?"


"Hm." Bree mengangguk. Sebentar menoleh ke halaman, yang ditunggu belum terlihat, kemudian perhatikan adukan kopi Surya.


"Sama temanmu?"


"Siapa lagi?"


"Ngojek?"


"Sayang duit." Bree melihat seseorang memasuki halaman parkir. "Dadah, Mas Surya!" Bree berlalu.


Surya memperhatikan seseorang memutar balik motornya di halaman, Bree mendekat ke sana. Dirinya pernah bertemu pria cina itu ketika Bree mengantar stok kopi ke cofigaming.


"Kamu dari kantor, Wen?"


"Ya. Mampir warung, Del?"


"Mampir. Aku mau beli rokok."


"Hei, kenapa sih kalau nggak merokok? Nggak pernah mikirin kesehatan sendiri."


"Ini udah berkurang lo."


"Oke. Kita ke kedai sekalian."


"Ketengan?"


Yuwen tertawa. "Katamu tadi ngurangin."


"Nggak ketengan juga. Kan buat nanti buat besok buat..."


"Hust! Oke oke. Susah nyetop orang yang kecanduan. Kalau aku stok beer buat kamu, bisakah kamu stop rokok?"


"Bisa." Bree sumringah.


"Ah, nggak mungkin banget."


"Sialan Yuwen, narik ke harapan habis gitu jorokin."


"Ha ha ha..."


Kali ini tanpa berputar-putar mencari tempat ngopi. Yuwen menemukan teras sisi kiri sebuah kedai masih kosong, langsung memarkirkan motornya. Sudah lama tidak mampir, hanya melewati saja karena posisi ternyamannya disinggahi, padahal meja lain tampak kosong.


Bree langsung menuju bangku yang sudah menjadi tempat khusus seorang Yuwen, sementara pria bermata sipit berbadan tinggi berisi itu masuk kedai untuk memesan. Ya, ini taktik supaya tempat yang dicup tidak disinggahi lainnya.


Bree melepas selempang tas dari pundak dan menyampirkannya ke punggung kursi. Mendahului duduk di tempat faforit Yuwen mumpung tidak ditempati orang lain. Bree geleng-geleng kepala akan kebiasaan Yuwen yang selalu ingin privasi tetapi tidak pernah mengajaknya ke retaurant yang bisa memesan privat room. Pria rewel tapi perhitungan.


Teras kedai langsung menghadap jalan, dipagari pohon dan tanaman pot. Di sebelah kiri terdapat pohon kamboja pendek dan rimbun, cukup menutup pandangan dari jalan. Berbeda di sebelah kanan, pohon palem putri berdahan tunggal menjulang tinggi, terlihat jelas dari jalan. Bersebelahan warung makan dan pas dekat tempat membakarnya.


Yuwen datang membawa selepek kue cubit dan lumpia panggang, juga stik keju dalam kemasan. Inilah yang jadi faforitnya di sini, tidak semua sajian adalah gorengan. Kemudian datang seorang mengantarkan wedang jeruk, kopi susu, dan kopi tubruk dengan seikat daun pandan.


"Kopi pandan bikin sendiri nggak senikmat di sini."


"Bukan. Itu karna kamu rindu ngopi bareng aku."


"Tinggi sekali percaya dirimu, kawan."


Ponsel Bree berdering, panggilan video tertera nama Alby di layar. Alby kerap video call menemani malam Bree sampai ketiduran, sengaja tidak dimatikan hingga pagi, kecuali ponsel panas atau batrainya habis. Tapi ini baru sore hari.


"Ya, Bi?"


Alby sedang berada di teras balkon rumahnya.


"Hai, Bri. Aku ada tugas, Bri di mana?"


Alby memperhatikan pemandangan belakang Bree. Terlihat asing. Menerka Bree sedang di luar.


"Nanti aku garap. Aku lagi di kedai, dekat ringroad."


"Sama siapa?"


"Yuwen."


"Kirim lokasimu, aku jemput kalau nggak enak sama kawanmu."


"Habis ini aku pulang." Bree menoleh arah kedai, menghentakkan kaki bergerak-gerak. "Duh ...," Kembali menoleh ke layar ponsel, Alby masih memperhatikan.


"aku kebelet." Bree berbisik pada Yuwen, seolah mencari-cari toilet. "Bi, aku tutup ya, mau pipis."


"Ya, sana, jangan nahan kelamaan."


Yuwen mengernyit memperhatikan Bree tidak lagi menggerakkan kaki, masih duduk meletakkan ponsel setelah telepon diputus.


"Nggak jadi ke toilet?"


Bree memang kebiasaan gerak-gerak kaki menahan panggilan alam karena rasa yang sudah diujung. Kalau sudah begitu hanya menunggu mengontrol berkemih untuk beranjak ke toilet. Demi tidak mengompol, seperti kondisi inkontinensia urine.


"Enggak." Bree nyengir.


"Kata kamu, hari ini off?"


"Off." Bree mengangguk.


Kalau Bree sedang tidak ada jadwal, owner tidak menubrukinya kerjaan. Mungkin Alby kewalahan masih membantu tugas Bundanya. Bree dilema kepikiran Alby dan bersalah dengan Yuwen kalau pulang sekarang.

__ADS_1


Yuwen mengerti yang dipikirkan Bree. Dia tersenyum simpul, menggelengkan kepala, semakin membuat Bree tidak enak hati. Bree merasa Yuwen orangnya tidak santai, apa yang dimau seperti harus dia dapat, ada lagi sebutan seorang yang tidak mau diusik. Bree siap mendengar pidato si cina di hadapannya.


"Jarang bisa bertemu sore. Susah ajak kamu jalan, meski ya, aku tau karena itu larut malam. Ketika tiba-tiba kamu ajak jalan malam, aku sering pikir akan bersama kamu, atau enggak. Kamu terlalu sering mangkir."


Ketika tidak tepat waktu, sama sekali tidak memaklumi apa yang dikerjakan Bree di tempat mengabdi mencari nafkah, Yuwen membatalkan tanpa memberitahu. Ketika bersama tapi Bree mengalihkan waktu santai dengan melamun, tentu obrolan dikuasai Yuwen dengan selingan petuah. Janjian jalan tetapi Bree membatalkan, sudah tentu kemudian pasrah menerima cerewetannya Yuwen.


"Hei? Aku nggak mau merusak mood kamu hari ini." Yuwen menuwil pucuk hidung mungil Bree yang terdiam.


"Aku yang ngerusak mood kamu?"


"Enggak. Habiskan itu kopi."


Bree berat untuk meneguk habis secangkir kopi pandan di hadapan. Terasa sekali tidak menikmati. Baru saja menghabiskan sebatang rokok dan kopinya masih panas.


Yuwen merapikan vapor ke dalam tas kecil kemudian menyeruput kopi susu. Dilihatnya Bree sekedar menyeruput kopinya.


"Kalau malas balik, harusnya tegas. Kapan ada waktu untuk dirimu sendiri? Apa upah yang kamu dapatkan sepadan dengan waktu kamu di sana? meski kamu mendapatkan tempat tinggal."


Bree tidak setuju dengan tanggapan Yuwen. Sedangkan Yuwen menyadari dirinya keterlaluan membuat Bree masam.


"Maaf, Del."


"Aku yang maaf, Wen."


Yuwen tersenyum, kali ini manis sekali di mata Bree.


"Oke, mau balik, atau masih mau lanjut?"


"Balik. Habiskan kopi." Bree mengangkat cangkir kopinya, disusul Yuwen.


Di perjalanan tidak ada obrolan. Keduanya diam dengan perkiraan masing-masing. Bree turun dari motor, sekali lagi mengucap maaf kepada Yuwen, dan hanya mendapat sahutan singkat.


"Bye, Del."


"Dah."


Alby sudah berdiri berkacak sebelah pinggang di dekat motornya terparkir, menatap kedatangannya dengan alis tertaut. Kenapa bosnya yang satu ini terlihat kejam bagi Bree.


"Sore, Bi."


Bree tampak biasa saja, tersenyum tanpa sungkan. Padahal sejak tadi Alby menantinya.


"Nggak ngerti capek ya kalau diajak Yuwen?"


Bukannya membalas sapa, malah briefing. Bree berjalan saja melewati Alby. Di dalam cafe ada Surya yang sedang sibuk dengan smartphonenya.


"Tanam saham, Mas."


Surya menoleh, "Yoi." memperhatikan Bree yang masuk kamar loker. "Short time, Bri?"


"Panggilan dadakan tugas negara!"


"Wah, off mangkal!"


"Belum laku," Bree melihat Surya berfokus pada ponselnya, tidak kelihatan sosok Alby. "la disrobot komandan. Aku ke atas, Mas."


"Ya."


Bree membuka kulkas mengambil air minum. Terburu menikmati kopi pandan tadi kerongkongannya pekat.


"Sekarang lupa bersih-bersih setelah dari luar?"


Bree tersentak menoleh ke sumber suara. Alby melangkah masuk dari balkon samping. Sejak tadi seperti anak ingusan yang ketahuan ngeluyur, Bree meletakkan botol dan gelas kemudian masuk kamar mandi tanpa bersuara.


Setelah duduk dan minum, Bree ingin menanyakan apa tugas yang tadi Alby katakan, tapi urung melihat tatapan tajam seperti masih ingin melanjutkan briefing. Kali ini di meja bundar duduk berhadapan.


Sidang sidang sidang sidang.


"Tumben jalan sama Yuwen jam sore?"


"Yuwen nggak ada kerjaan lagi."


"Terus sampai dini hari?"


"Yuwen kan nggak pernah lama-lama, cuma ngopi sepulang dia kerja."


"Kenapa nggak ngopi di sini? kalau tujuannya ajak kamu sekedar nemenin ngopi."


Iya, ya. Kenapa Yuwen malah selalu mengajaknya berpusing-pusing mencari kedai yang tidak terlalu ramai.


"Mau sini tutup, tetep masih bisa ngapel di sini," lanjut Alby.


Eh, tapi Alby dan yang lainnya juga suka ngopi di luar. Mereka kan punya cafe. Kenapa? Kalau alasannya mereka keluar untuk mengalihkan penat sekalian mencari inspirasi. Boleh. Tapi jangan mengintimidasi Yuwen, tentu juga punya alasan sama.


"Besok deh aku ajak apel di rooftop."


Alby mengernyit, tatapannya semakin tajam. Bree lekas menetralkan suasana sebelum Alby mulai bicara lagi, Bree mengalihkannya.


"Aku garap apa, Bi? Laporan net?"


Alby menghela nafas panjang dan menghembuskan cepat.


"Istirahat."


Lah?


"Katamu pagi tadi, siang tadi, ngantuk? Ajakan Yuwen buyarkan kantuk?"

__ADS_1


"Iya. Jarang, keluar sama Yuwen." Bree tidak memperhatikan ekspresi Alby yang menatapnya dengan kesal. "Albi di sini? Nggak jadi nugas?"


"Sebagian. Sisanya aku lanjut nanti."


"Lanjutin di sini to?"


"Di rumah. Laporan itu untuk besok siang."


"Terus nanti jadi kepikiran, mungkin ada ajakan teman, pengen lakukan kegiatan lain, eh masih ada kerjaan yang belum selesai. Mending kebut sekarang, toh ini nggak ngapa-ngapain."


Ada benarnya penjelasan Bree. Tapi melanjutkannya di sini terlanjur tidak membawa flashdisk. Mengetik tidak buruk baginya, selalu dikebut satu waktu, tapi Alby memang berniat melanjutkan nanti dan ingin datang ke sini.


Alby membuka-buka film di laptopnya. Ternyata ada beberapa film baru yang sudah dicopy Bree, karena laptopnya ada pada Bree beberapa hari ini.


"Apa ini, Bri?"


Bree menengok yang dimaksud Alby.


"Dokumenter, ada kaitannya sama film mitologi. Aku pengen nonton itu."


Bree sumringah ketika diajak Alby duduk untuk menonton bersama. Sayangnya tanpa popcorn satu untuk berdua. Tanpa es atau kopi panas. Malam ini Alby menyetop kopi dan merebuskan wedang jahe untuk mereka minum. Jadi ngide jualan wedang di bioskop.


Keduanya duduk manis siap menyimak film yang dibuat Jon Gress yang terkenal mengerjakan special effect. Jon Gress terinspirasi dari buku karangan seorang peneliti, Zecharia Sitchin. Dalam hal pengetahuan tentang bahasa kuno, hanya sedikit yang bisa menandingi Sitchin.


Kembali ke laptop ..., eh, kembali ke tayangan ....


Mengungkap sejarah peradapan tertua yang memiliki referensi ilmiah dan astronomi sangat maju jika dibandingkan di zaman itu. Menceritakan sosok mitologi dengan pengetahuan tinggi dan melahirkan umat yang membangun peradapan dunia. Mitologi ini pernah tertulis asli dalam prasasti kuno dari peradaban sebelum Mesir muncul di dunia. Anunnaki.


Anunnaki digambarkan sebagai entitas kuat dan cerdas. Demi mengekalkan alam bangsanya memiliki tujuan tertentu menyambangi Bumi. Membentuk koloni dari generasinya untuk diperbudak melakukan penambangan sumber daya pada Bumi. Karena penderitaan, generasi ini memberontak dan melawan tuannya. Pertempuran membuat generasi ini dikirim ke alam lain.


Anunnaki dipercaya sebagai Dewa yang melahirkan atau lebih disebut menciptakan genetik untuk keturunan. Memanipulasi gen ras mereka dengan gen primata dan mengajarkan ilmu pengetahuan sebagai budak berikutnya. Penambangan semakin intensif berkat pengetahuan luas dan teknologi canggih merubah peradapan maju dengan pesat.


Anunnaki memberi kebijakan kebebasan kepada keturunan dengan aturan tetap mempelajari ilmu pengetahuan, mempertahankan budaya serta mempertahankan populasi. Sekali lagi, ada pelanggaran dari keturunannya ....


"Emang sejak dulu sistem peraturan dibuat untuk dilanggar," celetuk Alby.


Kala itu terjadi bencana kekeringan panjang sehingga mencairnya lapisan es, lalu banjir besar menenggelamkan kota dan memusnahkan peradapan. Yang dikatakan oleh kaum itu sebagai kemarahan Dewa ....


"Azab Tuhan."


"Nggak ada azab Tuhan, Bi."


Alby terkekeh.


Secara logika diyakini itu bencana alam meteorologi/hidrometeorologi, bisa karena pemanasan global.


"Extreme event attribution."


"Atribusi cuaca."


Alby tersenyum. Susah sekali lidah Bree diajarkan bahasa internasional.


Ini sejarah yang dikhawatirkan mempengaruhi kepercayaan mayoritas umat manusia masa sekarang, hilangnya religius dan sains modern. Cerita yang kontroversial membuat film ini dicekal sampai tidak meninggalkan sisa jejak apapun. Ada banyak rumor penayangannya di-banned karena dianggap provokatif.


Meskipun premisnya tidak asing, namun dari film ini menceritakan legenda dengan akurat dan sangat detail sehingga khawatir timbul perubahan pola pikir. Atau adanya pengetahuan rahasia yang tidak boleh diketahui dunia, sehingga terhenti dengan berbagai argumen dan kontra.


"Manusia udah cerdas bahkan sejak purba. Beneran kita bermula dari kera?"


"Bukan kera, Bri, yang betul kingdom Animalia. Class mamalia dari ordo primata."


"DNA alien ada di tubuh kita!"


"Nenek moyang kita penerbang!"


"Woah, keren!"


Alby yang sedari tadi gemas menyimak gadis di sampingnya asal terkagum-kagum, menyentlik telinga caplang Bree. Gadis itu meringis, mengelus telinganya.


"Kurangi imajinasimu!"


Bree memberengut.


"Ada film lain yang menyinggung isu eksistensi manusia, tapi tidak dilarang tayang."


"The Matrix Trilogy."


"Salah satunya."


"Indiana Jones juga, singgung alien hibernasi di Akator dan punya semua ilmu di dunia, membantu makhluk Bumi membangun peradaban."


"Hm."


"Prometheus. Pencarian sosok insinyur, makhluk cerdas yang mungkin menciptakan ras kita. DNAnya diketahui cocok DNA kita. Ceritanya juga bentrokan penganut Darwinisme. Bi, itu kayaknya satu versi sama Anunnaki."


"Aku belum nonton. Mungkin lain waktu kita nonton."


"Iya." Bree bungah. "Rahasia besar apa yang sengaja diumpetin? Mustahil nggak ada produser yang mendanai."


"Cukup, Bri."


"Tapi di sini memang homo sapiens, bermutasi sesuai teori Charles Darwin. Bisa aja yang ditemukan cuma gen primata. Itu menjelaskan leluhur kita memang mereka. Gen dari alien sengaja nggak ditonjolkan. Manusia bakal dikejutkan nanti ...."


"Dibilang kurangi mengisi otak dari hal mustahil! Bri nggak ada bedanya sama Illuminati."


Sekali lagi Bree mendapatkan sentilan di telinga.  Alby beranjak meninggalkan sungutan Bree. Mengobrol dengan Bree sama saja dirinya sipanse.


"Ini realistis, Bi, mereka ada di Sumer membantu perkembangan zaman kuno itu jadi mitologi modern. Bukankah peninggalan-peninggalannya juga diselidiki banyak ilmuwan yang berdebat?"

__ADS_1


Alby sabar sekali.


__ADS_2