Jangan Katakan MAAF

Jangan Katakan MAAF
05


__ADS_3

Alby duduk memperhatikan Bree di hadapannya. Bree menyulut rokoknya. Kedai ramai, sempat menerka akan menunggu lama, ternyata salah, dua cangkir kopi datang sesuai pesanan tadi.


"Bri, lain kali jangan terlalu sering di kost kawan. Kawananmu cowok, nah, sekalipun itu kawan cewek, kurangi menginap di sana."


"Kenapa?"


"Lebih nyaman tidur di tempat sendiri, kan."


"Ya." Bree juga pikir begitu.


"Apa Irzi minum?"


"Enggak." Bree mengerti maksud Alby. "Aku dan Irzi bersih."


"Oke."


"Kapan kamu berhenti curigai teman-temanku?"


Alby meletakkan rokoknya di asbak, mengubah posisi duduk condong ke arah Bree.


"Ada hal yang nggak bisa diungkap dengan kalimat. Di sini," Alby menunjuk dadanya, "nggak memerlukan alasan. Ada yang tumbuh tanpa kita ketahui. Bri," Alby mendekatkan muka di hadapan Bree, "jangan pernah tanyakan lagi, aku sendiri nggak ngerti, seperti keharusan untuk menjaga Bri."


Mereka berpandangan. Diam adalah cara yang keduanya ambil. Bree terperangah mendapat senyuman Alby di tengah keseriusannya memahami pria itu. Bree membalas senyum Alby.


"Habiskan kopi, terus jalan lagi."


Ponsel Bree berdering dan diangkatnya menerima telepon. Alby menyimak Bree tampak mendengarkan lawan mengobrolnya.


"Boleh. Sampe nanti." Bree menyudahi, memasukkan ponsel ke tasnya.


"Lanjut jalan?"


"Ayok." Bree meneguk habis sisa kopinya, lalu beranjak. "Makasih A', mari!"


"Nuhun, Neng."


"Yo, bro."


"Nuhun, bro."


Alby mengikuti langkah Bree keluar kedai. Mencuri-curi pandang menemukan Bree tampak semangat hingga di parkiran.


"Janjian sama kawan lagi?"


"Belum tau. Lihat nanti."


Jawaban yang membuat Alby gemas. Gadis yang nekat.


Perjalanan terasa lama, Alby membawa motornya santai saja, tetapi Bree menikmati. Mereka candakan apapun sepanjang tertangkap mata. Alby menikmati celotehan riang dari gadis di boncengannya. Dia mengajak Bree ke bukit di utara, berhenti di sebuah taman kecil yang ramai berjejer gerobak makanan dan minuman.


Alby memesan siomay dan kelapa muda. Mengamati Bree berdiri dekat lesehan di pinggir taman, fokus seperti mengetik sesuatu. Bree sedang bertukar pesan dan hanya menoleh sebentar ketika akan duduk.


Alby mendekat memperhatikan Bree minum. Bekalnya sudah dikeluarkan dari dalam tas. Alby menerima botol minum yang diulurkan dan bergantian meminum jus setelah duduk.


"Susumu pelit sekali, Bri."


Bree tersenyum kepada Alby. Tidak menyukai susu, tapi dicampuran kopi atau jus masih menerima dengan perbandingan sedikit. Kebetulan susu yang dipakai cafe itu murni.


Dua lepek penuh isian siomay datang diterima Alby. Rebus bakso pati, tahu putih, telur, kentang dan pangsit goreng diberikan Bree. Alby memilih lengkap dengan kobis dan pare rebus yang tentunya tidak disukai Bree. Bumbu kacangnya legit gurih. Sedikit manis dari kecap. Tekstur sausnya terlalu halus. Baksonya kenyal dan gurih tenggiri. Begitu diaduk, aroma tenggiri dan daun jeruk menguar.


Dua mangkuk kelapa muda menyusul datang. Kerukan daging kelapa melimpah ditambah biji selasih dan karamel. Sayang tanpa es batu. Alby membatasi untuk tidak konsumsi es di pagi dan siang hari. Kuahnya murni air kelapa yang kental asam dan manis elektrolit berpadu manis aren yang ringan. Daging kelapanya dikeruk tebal-tebal, renyah dan gurih.


"Makasih, Bi."


"Sama-sama."


Alby terkekeh memperhatikan sisi belakang Bree dengan spontan Bree menoleh, "Astaghfirullah!"


Seekor anak monyet tersentak karena kekagetan Bree, tepatnya sama-sama kaget. Anak monyet celingukkan ke sekeliling orang yang tertawa. Kemudian menatap pemilik tas yang masih dipeganginya. Bree baru sadar tasnya masih nyelempang di pundak. Tidak ada yang berharga di sana.


"Aku nggak bawa apa-apa buat kamu makan, nyet." Bree menoleh pada Alby. "Apa dia dibolehkan makan roti?" Bree kembali menatap monyet kecil yang lucu.


Tangan mungil menawil-nawil tas, menatap pemiliknya sesekali mencuri pandang tas. Alby melihat gerobak rebusan, biasanya ada kacang, jagung, ubi, hendak membelikan makan untuk monyet kecil yang sedang berharap-harap pada Bree.

__ADS_1


"Mbak! Mas! Ada jagung nih!"


Alby berdiri untuk menemui seorang Ibu muda yang mendahuluinya mendekat, takut-takut menyerahkan sebonggol jagung kalau spontan direbut monyet.


"Terima kasih, Mbak."


Alby mengupas kelobot, membiarkan Bree yang melayani si monyet. Benar saja, monyet kecil tidak sabaran merebut jagung.


"Lepas dulu tasku."


Bree membersihkan rambut jagung, jauh-jauh dari raihan monyet kecil yang mulai melepaskan tasnya. Monyet kecil selangkah maju, lalu duduk di dekat mangkuk menunggu jagung.


"Pinter." Alby mengelus kepala Bree.


"Kok aku!"


"Oh, salah! Pinter." Alby mengelus kepala anak monyet.


Andai Bree telaten, ingin sekali mengadopsi. Monyet ini celingak celinguk dengan sabarnya menunggui. Bree memindai sekitar. Mendongak pada pohon-pohon.


"Apa dia sendirian?"


Alby mendongak dan celingukkan. "Sama induknya." Mengetahui Bree mencari arah pandangannya. "Di ayunan sebelah pojok."


Bree menemukan seekor monyet besar sedang memeta bulu anaknya. Sibuk mencari kutu di atas ayunan di sudut taman paling jauh.


"Yakin dia seekor induk? Kapan kenalan, Bi?"


"Insting seorang pria pada janda beranak."


Keduanya terkekeh. Terdengar konyol. Bree membelah jagung menjadi dua bagian. Memberikan sepotong pada anak monyet yang sebentar saja berdiri tidak sabar meraih jagung, lalu kembali duduk mulai memakannya.


"Kamu main sendiri? Dicariin Mbokmu loh, anak nakal."


Alby tertawa melihat Bree memakan potongan lain. Si monyet juga memandangi jagung di tangan Bree sambil asik memakan jagung di tangan sendiri.


"Nakal! Kenapa dimakan juga."


"Mbak, mau? Ini masih ada jagung!" seru si pemberi yang ternyata memperhatikan.


Bree merasa malu, memicingkan mata kepada Alby. Suara Alby barusan tentu sayup-sayup terdengar sampai sana. Jagung yang manis dan hangat. Bree mengunyahnya sambil terus menatap Alby yang kelihatan gemas.


"Mau?"


"Buat Bri aja."


Alby mengelus kepala si monyet mengajaknya ngobrol, mengarahkan cara makan, menutuli biji jagung yang jatuh untuk dibuang ke sisi taman bertanah. Alby telaten dan lembut menasihati sedangkan si monyet menyimak sambil asik makan. Mungkin orang lain yang melihat, sudah seperti ibu ayah dan anak, Bree geli membayangkannya.


Melihat si monyet lahap jagungnya hampir habis, Bree pun ngebut. Seperti perlombaan. Si monyet melihat bonggol jagungnya, lalu menoleh ke tangan Bree yang genggamannya memperlihatkan bonggol jagung bersih dari biji-biji manisnya. Si monyet menatap Alby yang senang hati menerima bonggol.


"Terima kasih."


Bonggol dari tangan Bree diambil dan diletakkan juga di tangan Alby.


"Oke, aku buang."


Anak monyet berlalu masuk taman, tanpa pamit, tanpa sejenak duduk setelah makan. Oalah, kenakalan SMP, sehabis makan pergi. Bayar Mak kantin dulu, naaakk ....


Bree melepaskan tasnya dan mengeluarkan rokok beserta korek. Menunggu Alby menyendok sambal untuk siomay.


"Komplain user soal speed belum diatasi."


"Teknisimu masih garap kerjaannya di tempat lain."


"Otomatis naik billing itu, Bi?"


"Nggak banyak-banyak sambalnya, Bri." Alby menyingkirkan wadahnya melihat Bree hampir menyendokkan sambal yang ke empat kali.


"Pastinya tarif billing naik."


Bree menghabiskan siomaynya. Alby menyuapkan kentang rebus ke mulut Bree yang bungah menerima suapan. Setelah Alby menyuap untuk dirinya sendiri, kembali menyuapi Bree yang menolak. Alby masukkan suapan itu ke mulut sendiri.


Bree makan kelapa muda sambil menyomot roti selai dari tepak. Alby heran, jajannya lahap tapi makan nasi tiba-tiba seperti ingin muntah. Sebetulnya Alby sudah kenyang, sekali lagi menyuapkan siomay, Bree tetap menolak.

__ADS_1


Siang semakin terik di kejauhan jalan beraspal terlihat panas. Angin bukit menerpa dengan cukup segar. Pohon angsana dan pohon trembesi meneduhi taman sampai sekelilingnya. Kumpulan keluarga asik bersama anak-anak.


Alby menikmati hisapan rokok mengamati sekitar. Pandangannya jatuh pada Bree yang mendongak. Dirinya ikut mendongak. Bunga kuning bergerumbul cantik di setiap dahan. Alby mengikuti arah mata Bree menoleh ke gerobak ronde, wedang yang tidak disukai.


"Mau?"


Bree seperti berada dalam pikiran sendiri menikmati keterdiaman. Suara Alby membuat dia menoleh, kemudian lekas menunduk. Alby sempat melihat mata Bree berkaca-kaca sebelum dialihkan. Tidak akan ada ungkapan.


Kelopak bunga angsana berguguran diantara naungan mahkota daun. Gerobak ronde menjadi pusat sorot mata teduh yang sedang menyerap rasa. Yang Alby tahu wedang ronde bukan faforit Bree.


"Jajan lagi, Bri?"


Suara di hadapan membuyarkan gemuruh di dada. Bree menoleh kepada Alby seraya mengganti posisi duduk menghadap jalan. Selonjorkan kedua kaki dengan helaan napas panjang.


"Enggak. Aku kekenyangan."


Angin mengusili pertahanan api dari korek ke ujung batang rokok yang disulut Bree. Alby mencabut rokok dan korek dari Bree untuk membantu menyulutnya.


"Lupa bilang, Bi, tolong. Begitukah?"


"Makasih, Bi."


Wedang ronde mengingatkannya pada rumah dan sosok yang seharusnya melindungi. Bree mengontrol emosi. Alby tersenyum ketika Bree sudah kembali tersenyum menatap dirinya. Alby menyukai wajah Bree yang sedang senang.


Gadis berparas indo dengan hidung yang orang jawa sebut dhempok telah menarik perhatian. Rambut sebahunya lemas teracak angin. Mungkin menggelitik muka, berkali-kali pemiliknya menyibak ke belakang dan menggaruk pipi.


Alby mengambil ikat rambut dari tasnya. Dulu rambutnya pernah panjang. Dia berjongkok di belakang Bree menguncirkan rambut yang tidak bervolume dan lemas disisiran tangan. Membuatnya tidak sabar karena helai-helai rambut selalu lolos dari tangan, sedikit menjambak membuat pemiliknya tersentak.


"Rambutmu persis belut susah dipegang. Mirip yang punya."


Alby ingat pertama kali Bree Deli Liana memasuki cofinet dengan penampilan formal namun sederhana. Kemeja chambray polos dimasukkan dalam jeans dengan ikat pinggang buckle box polos bersepatu sneaker boots. Tanpa polesan muka. Rambutnya cepak.


Alby dan Johan yang saat itu duduk untuk mewawancarai sama-sama memastikan foto di KTP, di CV dan di Ijasah. Mata, hidung, bibir memang sama, hanya foto ijasah berkerudung, pipinya tembam dan matanya sipit. Sorot mata masih polos. Bree lucu di gambar itu.


"Liana. Namanya cantik. Tapi penampakan lelaki sekali."


Manusia timur memang jujur. Johan terkekeh membuat Bree munculkan senyumnya. Bree seorang yang spontan dan tidak ragu menghadapi orang baru.


"Maaf, panggil Bri aja, Bang. Aku nyaman begini."


Saat itu Bree menjawab setiap pertanyaan tegas dan tenang. Tapi dadanya terlihat memompa nafas dengan cepat tampak gugup sekalipun mencoba kuasai diri. Pertanyaan-pertanyaan dia sabet dengan kalimat akal sederhana.


Lamunan Alby dibuyarkan glonggongan motor king yang berhenti di sabrang, dekat gerobak bakwan kawi. Dua motor king membuat berisik di beberapa titik singgah area taman. Pandangan Bree mengarah ke sana.


"Performa gahar si raja jalan, aaaarrrgg!!!"


Alby kembali menatap polah Bree. Tertawa pelan dan mulai menyulut rokok.


"Albi suka rx king?"


"Ditanya suka untuk pengen, enggak sih. Ditanya suka untuk punya, kalau aku yang ada aja. Aku malah keki denger geber-geber yang lewat," terang Alby.


"padahal itu memang salah satu settingannya. Bri suka?" sambungnya.


"Sama. Biasa aja. Tapi ada kenangan pas jaman bareng masberto. Cengpat," Bree menunjukkan empat jari, "belasak-belasak jalur aman tanpa helm."


Bree bersama tiga kawannya berboncengan rx king menjelajah beberapa lokasi di setiap kota. Tanpa kenal waktu. Bahkan salah seorang yang mau ke mana, sudah pasti mereka selalu berempat kemana-mana.


"Tempat teman, pantai, ke gereja, ke masjid, ngecengin waria mangkal. Seragam sekolah yang beda-beda, pakaian rapi mau kondangan, sampai pakaian formal ya cengpat padahal itu cuma mas Are pas mau interview kerja, ya aku sama yang lainnya cuma koloran bludus bau iler."


Masberto maksudnya masyarakat bertato. Tatonya berlawanan sifatnya, bukan garang tapi jago mewek. Bree berkawan dengan pria sejak masa kecil. Sekawanan yang tidak pernah melepas Bree dalam perlindungan.


Pernah sekawanannya kesal ketika Bree mengirim pesan minta dijemput, takut kepada seseorang sok akrab jelas merangkul dan sesekali meletakkan tangan di pahanya. Bree hanya ceritakan sedang di camp salah satu orang yang kawan-kawannya tentu kenal, bersama seorang lagi yang seperti dekat-dekati dirinya. Tapi dipemikiran kawan-kawannya, Bree akan dilecehkan.


Bree semakin risih memilih keluar, yang membuat curiga lagi pintu seperti sengaja dikinci. Tangannya ditarik alasan nanti pasti diantar pulang daripada berjalan jauh sendirian malam hari. Bree terdengar bicara ketus memaksa untuk tidak kembali ke camp. Tiba-tiba dari balik semak dan balik pohon pisang sekawanannya berhambur menemui. Persembunyian yang tidak disangka karena kondisi gelap.


"Mereka seperti simak situasinya dulu sebelum temui kalian dekat pintu."


"Ya."


Menghadapinya satu lawan satu, tapi setelah itu menimbulkan kegaduhan hingga berdatangan pasukan siap perang dari beberapa geng kubu si peleceh juga kubu saksi korban. Sampai berurusan kepolisian. Ketika menjadi cerita dipastikan sambil menangis. Bree yang tidak ada di sana selalu ditontonkan video ketika beberapa kawannya menangis.


Ada lagi cerita kehilangan Bree yang pergi dari rumah karena kecewa dengan Papanya. Ingin bekerja tapi kekurangan ekonomi tidak mudah memiliki kartu kependudukan dan berkas pendukung kerja. Sampai iri karena sang adik yang anak lelaki pertama dipenuhi keinginannya membeli sepatu. Bukan sepatu untuk kepentingan sekolah melainkan sneakers berwarna biru untuk gaya-gayaan.

__ADS_1


Juga cerita ditinggalkan Bree merantau keluar provinsi. Mamanya menceritakan seorang Johan yang tubuhnya dipenuhi tato dan seorang Angga yang badannya kekar si pekerja keras tahan banting telah menangis menyayangkan gadis satu-satunya dalam perkawanan mereka itu selalu nekat. Merasa dihormati dan dilindungi, Bree bersyukur adanya mereka, meski kerap geli sendiri mereka mewek.


__ADS_2