Jangan Katakan MAAF

Jangan Katakan MAAF
18


__ADS_3

Bree memutuskan untuk berhenti bekerja dari kafe. Alby termenung sejenak, tangannya terhenti mengambil lauk. Kemudian mulai berbicara kembali. Bree sedang membasuh mukanya di wastafel.


"Bisa, Bri nggak keluar dulu?"


"Udah aku pikirkan, tetap keluar, karna udah nemu kerjaan lain."


"Nggak bisa ditunda dulu?" Masih pertanyaan yang sama.


"Udah itu, jawabanku, Bi." Bree keluar dapur.


"Besok Bri masih diistirahatkan. Kita keluar kota, ke rumahmu. Butuh beberapa waktu perjalanan karna kondisimu belum fit."


Bree berdiri bersandar tembok dekat pintu kamar. Alby meletakkan piring berisi makanan dan air putih penuh dalam tumbler di meja.


"Soal resign bisa dibicarakan lagi waktu briefing."


"Sampe peluangku masuk di kerjaan baru itu habis? Aku nggak bisa membuang waktu nungguin."


"Makan lah."


"Hidupku bukan kamu yang mengatur, Bi."


Alby geram menggebrak meja, seketika Bree tersentak.


"Aku tau salahku ke kamu apa, Bri. Kamu kesal? Aku tau. Kamu lebih baik maki aku ketimbang nyindir."


"Yang pasti nggak rasan-rasan."


Diam. Alby tahu Bree hanya akan selalu membantah.


Gila! Kelamaan bersama Alby, Bree bisa gila!


"Sini." Alby meraih tangan Bree.


Telapak tangan Alby menggenggam telapak tangan Bree. Hangat suhu tubuh Alby menjalar ke sana dan tubuh Bree merasakan kehangatan .... Hati Bree seketika menghangat.


"Makan, Bri." Alby menuntun Bree ke sofa, lalu ikut duduk.


Bree melihat nasi bertekstur lembut beserta telur ceplok setengah matang, dengan sedikit kecap yang dituang melingkar di atas nasi telur. Menggiurkan. Ini Bree sukai. Kalau dia asal tumplek, mamanya selalu menyajikan yang seperti itu, dan Alby memplatingnya sama seperti yang mamanya lakukan.


"Kapan kamu masak?" Bree tidak akan gengsi menggeser piring mendekat. Berhubung memang ingin makan.


Tidak berprinsip! Harusnya saat ini dirinya tidak perlu menerima apapun perhatian Alby. Tapi itu salah! Tentu dia harus menghargai yang dilakukan Alby. Bersyukur. Hal-hal sekecil ini sudah melimpahkan kebaikan besar.


"Bangun tidur tadi."


"Kamu makan?"


Sudah lama Alby tidak makan bersama Bree. Alby beranjak. Tadi dirinya masak saat melihat Bree sedang lelap. Alby mengambil makan untuk dirinya, tanpa kecap, hanya nasi dengan telur matang sempurna.


Bree merasakan lidahnya menyentuh gurih nasi. Sangat lembut dan beraroma. Alby menambahkan daun salam di liwetan. Dan asin telurnya pas. Bree rindu dimasakkan Alby. Teringat di awal Alby datang menemaninya, Bree menggoreng pisang tapi Alby mengambil alih menggorengkannya. Bree hanya duduk menyesap kopi. Mereka mengobrol banyak hal.


Setelah itu keponakannya datang bersama sang istri. Mas Deva, cucu dari kakak mamanya Bree. Keluarga besar dan mama Bree merupakan anak bungsu dari 11 bersaudara. Usia Mas Deva dekat di bawah usia mama Bree. Alby sangat sopan kepada Mas Deva. Bree kagum dengan unggah-ungguh Alby hingga kagum akan sikap Alby yang mengayomi dirinya. Dulu. Sekarang semuanya meninggalkan mimpi. Kenyataannya Alby hanya seorang pria bayi!


"Minum obatmu." Alby menyiapkan beberapa obat Bree yang diminum setelah makan. "Sayang banget obat-obat ini diabaikan. Kesehatan mahal."


"Untuk apa sehat."


"Bentuk ikhtiar. Sebagai umat yang dihidupkan di dunia memiliki tanggung jawab."


"Untuk apa hidup? Nyatanya banyak umat nggak bertanggung jawab."


"Itu kenapa ada belajar, Bri."


"Belajar tapi masih disepelekan. Ck ck ck. Bahkan mengulangi nilai jeblok dengan bolos belajar."


Alby tidak habis pikir, Bree kukuh membantah dan ini ... menyindirnya.


Alby akui menyadari kesalahan namun masih saja berulah. Sebetulnya mudah kalau Alby menghindari Bree karena gadis itu sendiri inginkan jarak. Atau Alby bisa melepas Rima, ternyata adanya hubungan bersama Rima membuatnya terisi. Rima terus berusaha memulai komunikasi dalam jarak jauh. Bree menghargai komunikasi ketika bersama. Mereka berarti untuk Alby.


"Menyudahi kehidupan itu yang tepat, sekalipun melangkahi ketetapan Allah." Bree masih melanjutkan pemikirannya.


"Makasih, Bri."


Bree tertegun melihat senyum Alby.


"Aku belum berhasil menghindari kamu. Jangan terima kasih."


Alby menghela napas. Apapun yang dikatakannya mudah diserang Bree. Kala Alby menangkis dan membalas serangan, Bree tetap mudah melawannya.


"Makasih karna Bri makan nasi dan minum obat dengan benar."


"Oh. Makasih, kamu udah siapin semuanya. Cuma bentuk menghargai kebaikan sesama manusia. Kalau pun aku hewan, hewan aja bisa berterima kasih." Santai. Bree tersenyum.

__ADS_1


Senyuman paksa. Alby pasrah saja. Kali ini dia putuskan diam.


"Taruh aja. Cuci tangan di kamar mandi."


Alby berdiri dekat Bree mencuci piringnya. Sengaja masih memegangi piring akan Alby cuci sendiri. Biasanya dia mengambil alih apa Bree lakukan, kali ini hanya bisa diam supaya tidak terkena ocehan lagi.


"Silakan?" Bree memberi ruang untuk Alby meletakkan peralatan bekas makan.


"Makasih." Sebetulnya Alby ingin mendekatkan diri dengan Bree. Apapun lah dilakukan kalau ada kesempatan. Ternyata mustahil.


"Cuma balasan, kamu udah masakin sama nyiapin. Rima beruntung kalau kamu begini terus karna ini tanggung jawabmu sebagai suaminya kelak. Pertahankan, jangan cuma sementara." Kata sementara ditekankan.


Alby diam memandangi Bree yang mengoceh. Di kamar mandi pun dia mencuri pandang demi untuk melegakan diri. Entahlah, belum melihat Bree ada gelisah dalam dirinya.


"Ikut aku?"


"Aku capek. Waktuku istirahat bisa sia-sia. Harusnya aku kerja. Ternyata aku nggak berguna."


"Bri berguna banget buat kami. Buat kafe. Buat anak-anak lain. Semua inginkan Bri. Tanaman juga kangen dirawat sama Bri. Beberapa pelanggan juga nyariin, mereka terus nanyain waktu Bri nggak kelihatan. Semuanya kangen pelayanan Bri."


"Nah, mungkin cewek panggilan bisa jadi rekomendasi kerja setelah ini. Delapan ratus ribu plus sematan perusak nggak sia-sia buatku. Sisan dene (Sekalian)."


Alby mengerutkan kening.


"Eh tapi aku cewek buluk, jelek, nggak mungkin sih jadi pilihan. Baru ngelirik aja udah males. Soal pelayanan kan nomor dua setelah penampilan." Bree tetap berceloteh.


"Wong di kerjaan halal aja pelayanan jadi terbengkalai kalau nggak pede soal penampilan. Ha, palingan aku laku dua ratus ribu." Bree nyengir. Sebetulnya sakit membahas ini. Tapi belum lega rasanya selagi ada Alby inginkan keluar semua uneg-uneg.


Alby memilih jalan tidak merespon Bree. Semakin menjalar liar kalau ditanggapi, seperti monstera atau devil's ivy.


Alby tidak berhenti. Diambilnya jaket Bree dan dipakaikan ke dua pundak.


"Pakai."


"Aku nggak mau!"


"Seenggaknya ini perintah ownermu."


Teringat ownernya selalu seenaknya sendiri. Bukan hanya Ilham. Ternyata Alby lebih parah!


Selagi Bree memakai jaketnya, Alby mengambilkan tas dan memasukkan charger ke dalamnya. Ponsel Bree yang mati ternyata belum diisi daya, Alby memasukkan sekalian dalam tas.


Bree melihat Alby keluar kamar dan ponsel milik Alby di atas meja dimasukkan dalam tas miliknya.


"Sek, sen ...." Bree urung berbalik masuk melihat sandalnya berada di teras depan. Alby memasukkan sepatunya dan sepatu milik Bree tidak jauh dari pintu.


Sejak sandalnya dicuci belum sama sekali diambil dari balkon. Bahkan Alby menyiapkan sepatunya. Ah, ya, soal pergi luar kota apa Alby rencanakan hari ini, sehingga pagi-pagi datang ke sini. Kapan Alby menyiapkan semuanya?


Alby kembali menggandeng tangan Bree yang memakai sandal sembari menatap selidik kepadanya.


"Aku memang rencana ajak Bri keluar. Harusnya pagi tadi. Tapi Bri belum tenang, yaudah sore aja kita jalan-jalan."


"Aku udah bilang balek setelah berhenti kerja."


"Aku udah bilang mau anter. Bisa atur waktu sekarang, ya secepatnya mumpung udah ada sela."


"Kamu seenaknya."


"Semoga sama-sama enak."


Alby mengajak Bree ke swalayan. Meminta Bree membeli keperluan.


"Aku nggak butuh bawa apapun."


"Kebutuhan bulanan Bri banyak yang mau habis."


Sial! Alby sok-sokan mengecek.


Alby mengambil pantyliner dari gondola display. Juga pembalut. Merk dan ukuran yang dipakai Bree dan kemasan sekalian besar ditaruh dalam keranjang. Ada rasa malu situasinya ramai dan ada cewek yang melirik. Sebetulnya tidak perlu, berhubung Bree sudah tidak ingin urusan dengan Alby. Tapi, Alhamdulillah. Itu biasanya Alby yang bayar.


Alby mengetahui seluk beluknya, apa yang menjadi stok di rumah dan ke mana biasanya berbelanja, tidak susah dia menuntun Bree ke tempatnya.


"Bri?" Alby memperhatikan Bree diam saja. "Sekalian, aku juga butuh beberapa barang."


Tanpa sungkan Bree mengambil keperluannya. Pasta giginya masih penuh juga ingin membeli lagi. Alby tersenyum melihat Bree kali ini asal mengambil tanpa katakan, Cukup itu dulu, Bi, seperti biasanya. Bentuk balasan kekesalan. Alby tidak masalah.


"Ada lagi?"


Bree mengamati keranjang, satu-satu barang, semua keperluannya lengkap. Bree mengambil lagi pembalut kemasan besar dari keranjang, hendak berjalan ke arah displaynya.


"Nggak usah dituker, biar sekalian." Alby mencegah dengan meraih tangan Bree.


"Ini kebanyakan, Bi."

__ADS_1


Bagaimana pun Alby tahu yang begini sifat Bree.


"Masukkan. Pengen beli apa lagi?"


Bree menggeleng samar.


"Mau jalan-jalan ke atas?" Alby khawatir Bree tidak nyaman karena mual. Swalayan ramai sekali.


Lantai atas ke tempat perabotan rumah tangga. Bree lebih menyukai di sana mencuci mata. Banyak tangkapan menggiurkan bermacam piring, gelas, peralatan masak. Tapi dia masih awang-awangan karena lepas dari opname dan harusnya masih cek medis.


"Pulang, Bi."


"Oke."


Alby mengambil minuman coklat saset dalam kemasan besar. Coklat batang. Juga dua jenis jajan lain, wafer dan ciki. Oh, Allah. Berhutang berapa Bree setelah ini. Pede sekali, bisa jadi itu untuk Rima. Ha ha ha. Periiihh!


"Minuman besok mampir aja."


Apa Bree lagi-lagi suuzan memikirkan Rima?


"Kamu beli perlengkapanmu buat ke luar kota?" Bree curiga karena tadi waktu Alby ke sikat gigi mencari-cari ukuran pendek atau lipat, dan sabun mencuci muka juga ukuran kecil. Biasanya Alby belanja sekalian besar.


"Iya." Alby memang membelinya untuk dibawa dalam tas toilet milik Bree seukuran dompet.


"Nggak usah nganter aku pulang, Bi."


Alby tidak memperduli. Tidak ingin menyahuti. Alby meminta kartu member milik Bree.


"Bri duduk aja, gih," suruh Alby. Antrian kasir mengular.


"Nggak mau."


"Duduk, Bri."


Bree melirik sekilas arah kursi kayu dekat ATM, dekat penitipan barang. Sebentar menatap Alby yang masih menatapnya. Bree melangkah ke sana. Menunggu Alby mengantri.


Pusing. Bree merasakan kepalanya tidak nyaman. Betisnya sudah senut-senut.


Menunggu lumayan lama akhirnya Alby datang dengan tas jinjing besar dan penuh.


"Aturan tadi bawa ranselnya." Bree terbiasa menggendong ransel untuk tempat barang belanjaan.


Sepertinya kebesaran kalau ditaruh ke cantolan motor. Alby menolak Bree ingin membawanya. Alby mengikat tas jinjing itu di cantolan dan dirapikan selagi nyaman.


"Mau nongkrong?"


"Kalau aku pulang. Silakan kamu ajak Rima yang pantes diajak."


Rima gadis manis. Badannya berisi segar dan dia tampak ceria. Rima orang yang percaya diri. Apalah nilai Bree.


Lagi dan lagi. Alby jenuh nama Rima disebut-sebut Bree.


Seperti yang dilakukan Sari, itu bisa dianggap sebagai menyadarkan laku masing-masing. Alby nekat dekati Bree sedang Bree nekat senang-senang saja bersama Alby. Sama halnya saat ini. Bree terusan menyebut nama Rima, bisa jadi sebagai mengingatkan Alby dan posisi Bree sendiri. Kalau manusia itu sadar. Bukan malah menyalahkan.


Alby beberapa kali menengok spion mengawasi Bree masih dalam kondisi baik-baik. Dia mengajak singgah di angkringan dekat kafe, tempat biasa dirinya berdua dengan Bree.


Selain mendoan dan pisang goreng ada kudapan manis spring roll dan kue kukus yang diambil Alby. Karamel pisang dan lapis beras. Biasanya kedua kudapan ini tidak ditemukan di sini.


"Tumben nemu ini di sini," ungkap Alby. Sepemikiran Bree.


"Jangan kopi ya, Bri? Aku pesen jahe."


"Iya."


"Jangan merokok ya, Bri?"


Bree melirik Alby yang memasang senyuman. Tukang goda. Tapi Bree tidak boleh berharap itu lagi. Sabar. Meski rasa senang menggebu.


Bree baru saja bisa menyukai Alby setelah sekian lama mereka terusan berdua, setelah Alby nyatakan perasaan, dan setelah Alby beberapa kali mencoba meyakinkannya. Bree baru ingin mencoba menjalani seperti candaan Sari, Ilham dan Surya. Baru hitungan hari, sebelum akhirnya Bree menemukan kenyataan bahwa hubungan Alby dengan Rima lebih baik dari pada lima tahun lebih yang mereka lewati.


***


"Nggak dikunci?" Alby bingung waktu Bree langsung mendorong membuka pintu rumah.


"Nggak bisa dikunci, Bi."


Alby memperhatikan kondisi rumah Bree yang telah kacau. Memasuki rumah membungkuk karena seperti rumah liliput. Permukaannya tanah, banyak gundukan dan licin. Atapnya tanpa plafon dan langsung genting yang tingginya bisa dijangkau tangan saat berdiri. Tampak tembok bernoda kuning dan melembab. Penuh goresan lukis asal anak-anak.


Alby tersenyum memperhatikan coretan tembok itu. Apa salah satunya gambar milik Bree masa kecil? Membayangkan bagaimana ramainya masa kecil Bree dibanding dirinya hanya dua bersaudara. Pantas Bree selalu tampak sendu, pasti masa kanak-kanak sangat berarti dan dia rindu.


Alby menjelajahi ruangan rumah. Sofa kursi kempes dan kulitnya ada beberapa sobekan kecil, tapi masih tampak rapi. Lemari ada kerangka kaki yang ditanam, mungkin itu dulunya juga ruang yang dijebol. Terlihat lemari model lawas. Padahal kayu jati asli. Ternyata air banjir bisa ganas meranggas segalanya. Sangat mudah dikenali ini daerah rawan banjir.


"Air bak kotor." Bree muncul dari bagian belakang rumah.

__ADS_1


Alby mengikutinya keluar. Melihat Bree menelusup ke celah sempit, antara tumpukan batu bata di halaman rumah ini dan dinding penghubung rumah sebelah. Alby mengkhawatirkan Bree.


__ADS_2