Jangan Katakan MAAF

Jangan Katakan MAAF
15


__ADS_3

Alby masih di rumah ini dan sekarang berada depan kamar setelah Bree mengirim pesan ke WA Grup. Bree berdiri dekat pintu menanggapi panggilan Alby.


"Bri nggak ingin bicara sama aku?"


"Pulang aja, Bi. Aku ngantuk."


"Kamu menghindar tanpa ada obrolan?"


"Bukannya kamu yang hindari aku tanpa obrolan?"


Bree membalikkan pertanyaan Alby.


"Kamu ownerku, Bi. Di luar jam kerja kita cukup ngobrol di WA grup," tambah Bree.


"Mumpung aku lagi nggak sibuk, kita bicara di sini. Sekarang."


"Soal jadwal udah jelas di grup."


"Soal kamu sama aku."


"Makasih selama ini kamu selalu bantu aku. Makasih nemenin aku tanpa biarin aku keluyuran ...."


"Haruskah kita bicara begini? Paling nggak keluar dulu, Bri?"


Bree membuka pintu menghadapi Alby yang berdiri depan kamar.


"Duduk dulu?" Alby menatap mata Bree yang berkaca. Diraihnya tangan Bree menuntun ke sofa.


"Aku minta maaf kalau aku sibuk."


"Untuk apa maaf? Alby nggak salah. Aku yang harusnya bilang, maaf kalau keterlaluan butuhkan Alby datang."


"Apa Bri nggak bisa WA? Bilang aja kalau butuh apa-apa."


Haduh!


"Aku biasanya juga apa-apa sendiri, Bi. Semenjak kamu sering ada, baru aku kebangetan ngarep. Itu aku yang salah. Aku udah egois pengen kamu ada padahal bukan siapa-siapaku."


"Selama ini Bri nggak anggep aku?"


"Alby ownerku. Udah banyak bantuin aku. Alby atasan yang paling banyak waktu untuk aku yang cuma karyawan."


Alis Alby berkerut.


"Malah aku tuman butuh lebih."


"Lebih bagaimana?"


Pertanyaan Alby malah membuat Bree bingung berkata apa. Dia bungkam.


"Bri?"


Bree masih bungkam.


"Bri?!"


Kali ini Bree memalingkan pandangan pada Alby. Hanya alis terangkat ekspresinya.


"Apa mau Bri?"


"Alby bersikap layaknya atasan aja. Tanpa perlu sok-sokan bantuin aku di luar pekerjaan." Bree menahan mewek.


"Bri tanggung jawab kami karna tinggal di sini."


"Ilham sama Levi bertanggung jawab. Tanpa perlu sering dateng sok-sokan ada buat aku."


"Mereka nggak cuma urus kafe sama warnet."


Ya Allah, Alby masih belum sadar sudah membuat Bree terbawa perasaan. Ke mana kata-katanya ingin menjaga dan melindungi. Sudah tidak berlaku karena mulai ikut sibuk.


"Makasih banyak ya Bi. Aku mau tidur."


"Nggak ada yang ingin dibicarakan lagi?"


"Enggak." Bree berlalu meninggalkan Alby yang duduk memandangi.


Alby diam menatap kepergian Bree ke kamar. Dirinya ingin merengkuh gadis itu. Hanya bisa menerima sikap Bree, mungkin memang lelah karena sedang tidak sehat. Alby berlalu.


.


.


Bree memperhatikan gelas masih tergeletak di meja. Sofa bekas Alby duduk semalam tidak lepas dari pandangannya. Biasanya Alby akan menutup gelas itu. Biasanya Alby akan menyinggahkan apa saja yang tergeletak. Biasanya Alby mengisikan tumbler untuk Bree. Biasanya Alby mengisi notif di ponsel Bree.


Biasanya biasanya hanya bisa merindukan kebiasaan Alby. Sekarang kebiasaan itu sudah tidak berlaku. Bree telah egois, padahal kemarin malam Alby masih sudi mengambilkannya minum.


"Dasar caper yang aneh." Bergumam sendiri. Ya, dirinya memang menginginkan perhatian Alby seperti biasanya.


Bree membenahi tempat dan membersihkan rumah. Ingin masak sayur karena beberapa hari makannya tidak betul saking malas bergerak. Sebetulnya rasa malas mulai menguasai diri dan ingin tidur saja sepanjang kehidupannya di bumi.


Setelah semua selesai Bree bersiap kerja. Harus semangat sampai berakhirnya bulan ini.


Berdiri di tangga pandangan menjelajahi setiap sudut di rooftop. Apa Bree siap pergi dari sini? Pindah juga repot membawa mereka. Bree mendekati rumpun mawar yang setia tumbuh cantik di pot. Menerawang sekitarnya satu-satu tanaman tidak terlewatkan mata.


Di pikiran Bree terlintas mobil pickup membantunya mengangkut banyaknya tanaman. Tanaman di sini semua milik Bree.


Bree memetik buah-buah tomat ceri yang memerah. Seperlunya tangan menggenggam. Ingin dicamili di kafe. Bree turun dan siap prepare.


"Pagi, Ndre!" Bree melihat Andre berjalan dari warnet.


"Halo, Bri!" Andre mendekati Bree dan saling mengadu jotos bentuk salam. "Tolonglah, kamu pucet."


Bree tersenyum menatap temannya. Dia dan Andre melangkah beriringan ke bar.


"Aku juga pengennya tidur aja, Ndre."


"Yaudah sana."


"Nggak gajian dong aku, Bro!" Bree pukul lengan pria di dekatnya yang terkekeh.


Keduanya saling canda bermain sembari persiapan membuka kafe.


"Aku mau si black?" Manja, Bree juga inginkan kopi melihat Andre membuat americano.


"Belum makan?"


"Bikin sandwich?"

__ADS_1


"Ayok."


"Aku ada selai stroberi."


"Mau."


Bree membuat roti lapis sementara Andre membuatkannya kopi.


"Kak, satu flat white dan macchiato!" pesan customer.


"Ada tambahan lain?"


"Belum. Nggak ada affogato ya, Kak?"


"Belum ada. Ini jadi saran, akan dipertimbangkan," sahut Andre tersenyum ramah.


Tidak ada es krim untuk menu kopi. Dan beberapa permintaan itu sudah tertulis dalam perencanaan pengembangan ALIF.


"Terima kasih, Kak."


"Terima kasih sarannya."


Setelah bertransaksi customer pergi ke kursi yang berada seorang teman di sana. Andre menyiapkan kedua menu pesanan. Bree meletakkan lepek dengan 2 roti lapis selai stroberi di meja bar.


"Thanks, Bri," ucap Andre ditanggapi senyum Bree.


Bree menambahkan garis request di papan saran. Si manis es krim yang dilumuri si pekat espresso telah menjadi primadona incaran siang hari.


"Banyak juga yang pengen dessert ini," celetuk Bree.


"Pencuci mulut penyemangat ocehan," timpal Andre.


"Selamat pagi, Kak!"


"Selamat pagi! Selamat datang di alif!" Bree membalas sapa serentak Andre menyambut kedatangan seorang pelanggan.


"Satu tostum caramel sama jus."


"Pisang?" Bree memastikan menu faforit pelanggannya. "Sama tostum toping!"


Untuk menu seporsi tostum terdiri dua lembar roti panggang bisa dilapis atau ditoping sesuai selera pemesan. Hanya keju penambahnya sebagai isian atau taburan.


"Yap!" Pelanggan tersenyum lebar. "Tanpa es batu, Kak."


"Siap." Bree menerima uang dari pelanggan kemudian memberikan resi. "Ditunggu pesanannya, makasih."


"Makasih, Kak. Aku mau buka billing."


"Silakan." Bree menyiapkan cup dan paper kraft sebelum beranjak ke dapur. "Kenapa aku jadi pengen roti panggang," gumam Bree lirih.


Tawa kecil Andre menanggapinya. "Tapi sayang kalau manggang yang udah tersaji."


"Senikmat!" sahut Bree kala masuk dapur. "Bikin lagi, huumm."


"Nggak serakah, Bri! Satu satu!"


Bree mencuci tangannya lalu mengeluarkan buah pisang dan dirajang di atas wadah blender. Sementara Andre masih berkutat di bar.


"Ada yang bisa kubantu, Bri?" Andre sudah di dapur setelah mengantarkan pesanan kopi ke meja customer. mengecek memo lalu meletakkan cup jus dan paper kraft ke nampan.


Bree melelehkan mentega dan gula di teflon untuk memanggang roti tawar berkarak karamel. Sudah ada selembar roti panggang dalam paper kraft. Ternyata hampir selesai.


"Aku yang bawa." Andre mengambil alih akan membawa pesanan ke pemesannya. "Kamu istirahat."


"Makasih."


"Kembali kasih."


"Hih, plagiat."


Andre ke ruang Barat menghilang dari pandangan Bree yang membersihkan dapur.


"Sok tau kali main tuduhkan aku jiplak." Andre bersuara saat kembali ke depan. Bree sudah berada di bar.


"Satu contoh kutau, kamu selalu pake kata punyaku."


"Yang punya prinsip terima dan kembali cuma kamu kah."


"Ya dong."


"Sok kuasa."


"Aamiin kuasanya. Soknya jangan."


"Kuasa kerajaan Brudul."


"Sok kecakepan."


"Amin cakepnya, soknya yang jangan."


"Andre plagiat!"


"Ha ha ...."


"Selamat datang di alif!"


Andre dan Bree masih disibukkan kedatangan customer. ALIF CofiNet sudah diramaikan pengunjung dan keduanya bergerak bersamaan. Hanya Bree kesal oleh sikap Andre yang beberapa kali menyerobot apa yang akan dikerjakannya. Masih saja diperlakukan seperti orang kesakitan. Keduanya saling bercanda.


"Gimana?" Ilham duduk menjejeri Bree. "Aku dengar kamu pengen bicara ke aku."


Bree memalingkan pandang pada pria yang sudah lumayan lama berada di sebelahnya. Apakah Ilham menanyakan ini dari Rian.


"Ada uneg-uneg?" tanya Ilham lagi dan membuat Bree dibingungkan untuk memulai bicara.


Kini Bree mengerti arah mana pembicaraan Ilham. Bree berpaling menghela napas. Ternyata masih enggan untuk membahasnya dengan Ilham.


"Kamu nggak usah pusingin diri. Di sini kita udah lama saling kenal, jangan ada yang ditutupi. Kayak ikut aku baru kemaren sore?"


Sekali lagi Bree palingkan ke Ilham, keduanya mengadu pandang.


"Hem?" Ilham masih memastikan kepada Bree.


"Aku nggak enak hati sama kamu juga yang lainnya, Ham."


"Soal?"


Bree ingin ungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Sari terhadap dirinya. Namun bingung untuk memulai.

__ADS_1


"Efek mikirmu kepanjangan, Del."


"La kok?"


"Urusanmu sama aku. Yo Levi juga Alby. Lain di luar itu, kesampingkan."


"Yang jadi pikiran nggak nyamannya, Ham."


Ilham menatap Bree yang sedang menerawang pandangan ke depan.


"Makasih udah ijinkan aku di sini. Sama kepercayaan buatku," ucap Bree, tatapannya lekat kepada Ilham yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya.


"Jadwal baru aku nggak bisa gabung lagi," sambung Bree.


"Ada kerjaan di tempat lain?"


Bree berpaling. Tampak memandangi cangkir di hadapannya, sebentar kemudian memandangi sudut lain ruangan.


"Belum tau. Nanti. Aku masih pengen istirahat."


"Pakai waktu istirahatmu dan tetap di lantai dua. Sampai kamu siap lagi, kafe butuhkan kamu."


"Maaf. Nggak bisa, Ham."


Kini Ilham berpaling. Sejenak diam. Lalu kembali menatap Bree.


"Tolong pikir ulang. Aku mau ke cofigaming."


Bree terdiam menatap Ilham beranjak dan pergi setelah tampak ngobrol dengan Andre di meja pengunjung.


"Yok, Del!"


"Makasih, Ham!"


Satu hal yang Ilham akui dari diri Bree. Unik. Kata makasih atau maaf selalu terlontar sekalipun tidak diberi apa-apa dan tidak ada melakukan kesalahan.


Ilham sudah menebak yang terjadi dengan Bree dan sikap Sari yang mulai susah diajak membantu urusan kafe. Dirinya berpikir pantas sejak awal Bree seperti menolak halus dengan alasan belum selo menemani Sari kala dia tinggalkan keluar.


Bree memang susah akrab dengan orang yang dirasa kurang sreg. Bree sebetulnya gadis pendiam namun penyimak dan pengingat terbaik. Ilham paham sisi Bree yang membuatnya percaya menyerahkan urusan kafe.


Ilham menjalankan mobilnya keluar ringroad untuk urusan di cabang.


***


"Kamu serius mau resign?" tanya Irzi.


"Yap."


"Ada rencana ke mana?"


"Belum."


Irzi menatap Bree yang mengarahkan pandangan ke meja lain.


"Apa dia nggak kebius?" bisik Bree, tangannya di atas meja dengan jempol menunjuk meja sebelah.


Irzi melihat seorang bapak menyesap sesuatu seperti bunga. "Bunga terompet?"


"Betul kan?" Bree pun yakin itu datura meski sudah berbentuk layu akibat sesapan bahkan dari rendaman air.


Sejenis bunga terompet atau bunga kecubung yang masih satu kerabat meski berbeda, adalah spesies vespertine yang beracun. Direndam dalam mug lurik besar, entah sajian apa, kenapa ada tambahan bunga yang terkenal kandungan anestasinya.


Di angkringan ini mug lurik tersebut ada kecil dan besar. Sepertinya ukuran kecil untuk sajian teh terlihat di beberapa meja didatangkan satu nampan dengan teko lurik dan gula batu dalam wadah seng juga.


"Arak instan," celetuk Irzi. Dia nyengir bersama Bree.


"Kenapa nggak bertahan dulu di sana selagi kamu cari kerja lain?"


"Alasanku balik rumah. Mungkin kepepetnya aku memang balik, Zi."


"Kamu belum ingin kerja di kota asalmu?"


"Sebenernya males balik."


Irzi menyimak gadis di hadapannya kala katakan malas yang berhubungan dengan rumah. Ada alasan kenapa kawannya itu jarang mudik.


Sejenak obrolan keduanya terjeda menikmati alunan musik dari panggung di angkringan besar yang ramai pengunjung.


"Kamu serius mau cari kost?"


"Udah cari. Udah dapet beberapa tempat."


"Terus?" tanya Irzi kala Bree diam.


"Yang penting masukkan lamaran kerja dulu di sekitar rekomendasi tempat tinggal itu."


"Udah disiapkan semua berkasmu?"


"Udah. Temenin sebar lamaran?"


"Kabari aja. Waktu aku luang, kita jalan."


Bree mengangguk pelan dan mantap. Sedikit ringan bebannya kala ada harapan bantuan dari Irzi. Tinggal buat surat pengunduran diri dan ajukan. Masalah tempat tinggal sementara belum mendapat pekerjaan ....


"Trus kalau belum dapet kerjaan tapi kamunya udah nggak di sana, mau tinggal di mana?"


Bree diam karena memang sedang memikirkannya. Bahkan dia sendiri bingung ingin bagaimana. Bree merasa sama saja seperti Alby yang tidak bisa bersikap.


"Aku ngerti kamu pemikir. Tinggal tempatku dulu."


"Belum kepikiran." Bree kembali merenung matanya tidak lepas dari cangkir kopi hitam di hadapan. Sementara pikirannya masih menginginkan Alby.


"Kamu cinta Masmu?"


"Udah terbiasa ada dia to selama ini," gumam Bree lirih. Kini menunduk menatap dua pahanya di bawah sana.


"Zi ...." Bree menatap Irzi yang masih terus saja menyimak dirinya. "Apa aku jelek banget?"


Irzi tertawa kecil mengerti maksud perkataan Bree. Bree Deli Liana gadis yang tampak tomboy padahal hatinya lekas rapuh. Si melankolis yang bisa urakan kala moodnya berubah ke sisi itu.


Bree memang anti makeup. Outfitnya apa yang ada, jika tidak sering bersamanya yang terlihat tanpa gonta-ganti, bahkan tampak buluk seperti sudah lawas. Siapa yang mengenalnya tentu tahu dia gadis malas mandi dan selalu bermuka bantal. Apa Bree minder?


"Nggak ada yang jelek." Irzi jujur. Bree sebetulnya manis di balik penampakan yang sering terlihat seperti pria. Bree gadis rapi yang menyesuaikan diri dengan kondisi berada di mana.


"Aku manusia bodoh?"


"Menurutmu?"

__ADS_1


"Bodoh. Tetep mau dibantuin Alby, harusnya aku minggir setelah dia pernah nyatain perasaannya. Diemin Alby dekati aku padahal udah jelas dia punya pacar. Aku sering mikir apa dia jujur rasa sayangnya, mungkin aku cuma pelarian karna dia jarang jalan bareng pacarnya yang jauh. Malah sekarang ngarep."


__ADS_2