Jangan Katakan MAAF

Jangan Katakan MAAF
23


__ADS_3

Alby tidak menyangka Bree tiba-tiba berteriak. Dirinya hanya ingin membantu Bree yang berkutat di cucian. Bagaimana pun Bree sudah banyak kecewa. Alby menahan rasa marahnya.


Alby menuang sedikit air galon ke ember, tangannya menggosok dinding ember yang licin itu dengan air bersih. Ember dicuci dengan sabun mandi cair. Lalu diganti air bersih lagi dengan menggoyangkan ember. Membilasnya sekali.


Kemudian hendak melakukan hal yang sama kepada ember berikutnya yang sudah dikosongkan Bree.


Empat kantong plastik penuh dan hampir membludak saking ditekan untuk diikat rapat. Itu rendaman kain yang mungkin saja terdapat set. Bree siap membuang dalam sekali bawa dengan dua tangannya. Jemarinya dikuatkan mengangkat ujung ikatan kantong.


Langkah Bree terhenti, merasakan tangannya diraih sebuah genggaman yang besar.


"Aku aja yang buang." Alby mengambil alih dua kantong plastik dari tangan Bree yang dia genggam.


Alby meletakkan kantong ke tanah. Genggamannya terasa bergerak. Bree ingin melepaskannya.


"Nanti tetangga lihat kalau Bri habis nangis." Alby mengusap wajah Bree yang basah air mata dan keringat.


"Kita selesaiin bareng."


Alby tersenyum menenangkan Bree yang terdiam menatapnya. Dua kantong plastik dari tangan Bree yang sebelah diambil. Alby melihat jari-jari Bree merah dan membekas pinggatan plastik. Diusapnya perlahan karena itu pasti sakit.


Bree menikmati usapan lembut tangan besar Alby di wajah dan telapaknya. Senyuman Alby yang lembut tidak luput oleh matanya. Napasnya tersengal. Bree terisak berusaha menahan dadanya yang sesak. Bree rindu Alby.


"Kita buang sampahnya."


Wajah Bree yang tadi terasa berat ditempeli gerah, sudah sedikit ringan. Sekarang tidak sepaneng lagi. Dia bersama Alby beranjak untuk membuang kantong plastik ke bak sampah depan rumah.


Alby menyelesaikan mencuci ember. Sekarang empat ember bersih semua. Air satu galon penuh dituang dalam ember besar. Bahkan mereka mengirit siraman air saat mandi. Mereka membutuhkan air bersih untuk minum juga mandi sore nanti dengan besok pagi.


Dua galon sudah kosong kembali, mereka pergi jalan kaki ke depot. Nanti air diantarkan.


Alby menoleh ke Bree yang berjalan menunduk.


"Bri, bisa kita di sini dulu beberapa hari ke depan?"


Mata Bree melirik ke langkah kaki Alby.


"Aku masih mau di sini. Tapi aku bosen, nggak ada Mamah. Bingung ngapain, di rumah nggak leluasa."


Ingin masak untuk kebutuhan makan saja beban. Peralatan dapur tidak ada yang beres. Lemari perabot tertindih badan kulkas yang ambruk. Beruntung dapur bertanah, sehingga masih bisa dipakai mandi.


"Tanggung jawab masih ada di sana. Tapi aku belum semangat balik ke sana." Bree menatap depan.


Semuanya sudah berbeda dengan drastis. Bukan perkara lingkungan di rumah, namun soal suasana di kafe. Bree malu menampakkan muka.


"Aku nggak mau bebani kamu lagi, Bi. Aku nggak enak sama kalian. Aku kudu kerja."


Gadis itu plin plan sekali. Gadis unik.


"Aku juga owner."


"Memangnya kamu jujur sama Ilham dan Levi, Bi?" Bree menatap Alby. "Kalau kamu di sini bareng aku. Apa mungkin kamu bilang ke mereka lagi di tempat saudara?"


Alby mengkerutkan alisnya mendapat tebakan Bree yang selalu asal mengira. Alby menghiraukannya. Sudah malas memandangi Bree.


Bree tidak menuntut jawaban Alby. Dia kembali menatap ke depan setelah Alby mengalihkan pandangannya. Baru sadar kalau Alby sejak tadi memandangi dirinya berjalan di sebelah.


Sampai di rumah keduanya beristirahat.


.


.


Setelah hari petang dan mereka selesai mandi, Alby mengajak Bree keluar perumahan.


Letak perumahan berada di gapuro perbatasan antara dua kabupaten. Namun Bree hampir tidak mengenal tempat di kabupaten sendiri. Hanya untuk urusan kependudukan saja ke kabupaten kecil. Bree bercerita lebih sering ke kabupaten besar. Semua kegiatan dan karena bepergian memang mengarah ke sana.


Alby menuju ke kota di kabupaten kecil. Mengambil perjalanan santai. Lebih dari setengah jam melintasi jalan pantura yang cukup lancar, mereka langsung mendapati Masjid Agung dan memutuskan singgah. Setelah salat, keduanya ke alun-alun yang ramai. Duduk di tangga di bawah beringin tua menikmati segarnya angin berhembus.


Bree terlihat tidak kedinginan meski di perjalanan. Alby tersenyum memperhatikan Bree yang lebih banyak diam. Menurutnya ini bukanlah kebiasaan Bree saat bersama dirinya.


Alby tidak tinggal diam. Membeli es pong-pong dan batagor. Juga bapao yang lewat dihentikan untuk dibeli. Setelah puas di alun-alun Alby menuju ke pasar, membeli belimbing, duku, pisang. Bree menolak saat ditawari pernak pernik.


Alby seperti belum puas membeli sedikit belimbing yang besar-besar dan segar. Bahkan ada yang sangat manis. Ingin sekalian dibawa pulang untuk oleh-oleh. Bree mencegahnya karena tidak ada lemari pendingin untuk menyimpan, kecuali mereka akan pulang esok.


Mereka singgah di kedai kopi.


Keinginan untuk berlama-lama di sini sangat kuat. Alby masih ingin bersama Bree.


"Bisa kita tetap begini?"


Bree menatap Alby.


"Aku nggak pengen hubungan kita rusak."


Bree mengalihkan pandangan. Kemudian setelah lama diam, kembali menatap Alby.

__ADS_1


"Menurutmu hubungan kita rusak?"


Bree sendiri merasa takut akan perubahan sikap Alby. Dirinya terlanjur membutuhkan Alby. Tapi tidak ingin kelamaan bersama-sama.


"Bri pengennya kita gimana?"


Pria satu itu sungguh sialan!


"Nggak usah bahas." Bree malas memandangi Alby.


"Aku nggak bisa kalau Bri diam."


"Menurutmu aku bisa pas kamu diam-diam ngilang?"


"Apa Bri bisa suka sama aku?"


"Apa kamu bisa pilih aku?"


Bree selalu membalikkan pertanyaan.


"Bi, aku bingung, mauku apa sama kamu. Nggak pantes aku ngarepin kamu, wong kamunya lebih lama sama Rima."


"Aku udah ngerasa hubungan sama Rima nggak bisa sejalan."


"Itu perasaanmu sejak lama? Dulu kamu bilang, sama Rima biasa aja. Tapi kamu nyesel kan pas Rima kesakitan ulahmu? Kamu tu cinta Rima, Bi."


"Rima selalu ada timbal baliknya. Dia nyeimbangin aku yang jarang memulai komunikasi."


"Dulu kamu yang mulai sering WA aku, Bi? Itu kamu nggak masalahin apa pun. Aku nggak minta. Kamu yang kukuh ngeyakinin aku."


Alby diam.


"Mungkin kamu juga lakukan itu ke Rima. Mungkin juga ke mantan kamu lainnya. Aku rasa kamu yang mudah jenuh, eh, mungkin akunya yang ge er. Padahal aku cuma peralihanmu."


Alby akhirnya tidak melanjutkan pembahasan.


"Liana!"


Bree menoleh ke asal suara. Melihat si pemanggil yang tidak asing, mengarahkan pandangan dan lambaian tangan kepadanya.


"Mas Asif?" Bree bangkit setelah pria itu mendekat. "Hai!" Membalas salam tangannya.


Seorang pria berbadan tinggi dan tegap menjadi pusat perhatian Alby.


"Mas."


"Tumben lo kelihatan di sini?" tanya Asif kepada Bree.


"Sekali kali sampe kota, Mas."


"Kotamu mana?"


"Ya Allah, kotaku sini juga."


"Biasa," Asif sedikit mendekat.


Mau gimana lagi, kebetulan memang tempat yang dituju arahnya melalui kota sebelah.


"penghuni perbatasan faforitnya ke kota tetangga." Asif setengah berbisik.


"Ini bisa jadi singgungan dua kubu lo." Bree membalas dengan bisikan juga.


Sebagai warga kabupaten kecil ini, Bree jarang ke kota, kecuali urusan ke dukcapil. Sekolahnya berada di kota sebelah dan tidak searah kota ini. Pergi ke luar kota pun terminalnya di kota sebelah.


"Kamu masih di batas?"


"Rumah masih di batas, Mas. Mas Asif juga masih awet di rumah aja?"


"Konterku belum tutup."


"Alhamdulillah. Dua belas tahun, lo."


"Alhamdulillah, renovasi."


"Setia. Selagi itu terus jalan, nggak harus keburu mencabang."


"Ini ...."


Belum mulai bicara, Asif disela pria yang sejak tadi diketahui peracik minuman di kedai. Sebentar kemudian,


"Inget, Cil?" Telapak tangan Asif sedikit mengadah mengarah Bree. Itu kebiasaan menunjuk seseorang tanpa telunjuk.


Seorang peracik menatap Bree, pun Bree tidak kalah tengah mengira-ngira.


"Ucil?" Bree menebak.

__ADS_1


"Liana, bukan sih?" Ucil pangling karena rambut panjang Bree.


Bree masih mengingat-ingat muka Ucil, terperangah bahwa dirinya dihapal. Bree sendiri belum mengingat Ucil dengan pasti. Tadi sekilas dari Asif menyebut 'Cil' berarti seseorang dengan panggilan Ucil dulunya.


"Kamu ke sini ada urusan, atau main-main, Li?"


"Main, Mas. Ini kebetulan selo, ada temen yang nemenin juga." Bree menoleh pada Alby dan ibu jarinya spontan menunjuk Alby.


Mata Bree bertemu mata Alby yang ternyata sedari tadi memandangi. Bree lekas mengalihkan mata dari Alby.


Asif kemudian bergabung dan duduk di antara Bree dan Alby. Sama-sama orang basket, Alby dan Asif lekas menyambung.


Bree anggota paskibraka di SMP yang hari latihannya selalu berbarengan dengan basket di sekolah. Asif ini adalah pelatih basket. Kedua ekstra selalu istirahat bersama di kantin sekolah, membuat keduanya saling mengenal.


Pelatih paskibraka juga melatih anggota di Madrasah Tsanawiyah belakang Masjid Agung. Ada kala latihan dijadikan satu. Saat Bree latihan di MTS, saat Asif senggang, keduanya pasti bertemu karena dekat tempat tinggal Asif. Dari situ keduanya bisa akrab.


Bree akan singgah di lingkungan Asif sebelum pulang ke rumah, setelah mendapat ijin dari pelatihnya dan tentu setelah diijinkan orang rumah melalui telepon yang disambungkan oleh sang pelatih. Proses yang menjadi sejarah, betapa bertanggung jawabnya dua orang pelatih yang akan serah terima anak didik.


Bree bisa mengenal Ucil dan beberapa orang dari lingkungan Asif. Termasuk Gusta, pemilik kedai ini. Hanya Gusta sedang tidak di tempat karena bekerja sebagai karyawan di provinsi rantau juga. Asif dan Ucil pun mengetahui bahwa Bree merantau ke luar provinsi.


Seperti biasa Bree tidak sembarang memberi tahukan kontak, justru baginya lebih baik berbagi akun sosial media karena sudah akrab.


"Kamu privasi?"


"Ini, udah aku setujui, Mas."


"Oke."


Asif tidak mengungkit hal itu. Dirinya cukup mengerti yang dilakukan setiap orang tentu memiliki maksud tersendiri.


Asif kebiasaan memberikan Bree dua dus martabak.


"Sekarang aku sendirian, Mas."


Berkata itu, hati Bree sedikit haru dan rindu dengan mamanya. Dulu Asif selalu membelikan martabak sampai tiga dus untuk keluarga Bree.


"Jangan katakan itu!" Asif dengan tegas menepuk lengan Bree.


"Iisss ...." Bree mendesis. Sedikit merasakan sakit di lengannya akibat pukulan Asif.


Asif membelalak, antara canda dan merasa aneh dengan reaksi Bree. Apakah sakit?


"Aku udah bukan anak paskib!" Bree membalas memukul lengan Asif dengan bogemnya.


"Ndak cuma panjang rambut, kekuatanmu berubah? Kamu bereinkarnasi?"


"Nggak nyambung, kali!" Bree bercanda dengan Asif.


Hampir tengah malam, Alby dan Bree berpamitan. Alby tetap mengambil perjalanan santai.


Aroma martabak samar-samar mengusik hidung. Liur Bree reflek menebal di lidah. Seketika ulu hatinya ada yang menyundul. Bree jelas merasakan lapar.


Memasuki perumahan, Alby mengajak Bree makan. Kali ini sate kambing yang Alby beli.


Alby melihat warung burjo. Dia tahu Bree juga termasuk penyuka bubur kacang hijau.


"Bri mau burjo?"


"Kenyang."


Alby tersenyum menyaksikan tanggapan Bree yang acuh tak acuh. Jawabannya singkat tanpa menatap mata lawan bicara.


Alby tidak ambil pusing, berhenti di depan warung mengajak Bree turun. Bree diam saja menuruti.


Gadis aneh. Tinggal bilang 'mau' apa susahnya sih.


Sambil menunggu pesanan dibungkus sementara mengantri, Alby duduk menghadap jalan. Memandang patung besar yang membelakangi posisinya. Tepat di tengah jalan depan warung. Saat masuk perumahan di hari pertama datang kemarin, Alby sekilas melihat patung yang berdiri di ketinggian tembok itu.


Alby berjalan mendekat, melewati sisi tembok tinggi yang dikelilingi taman kecil, lalu berdiri menghadap depan patung. Kepala Alby mendongak. Terdapat banyak tengkorak di ujung tembok, yang diinjak kaki bersepatu boots. Sangat detail dan hebatnya dibuat seukuran lebih besar dari manusia normal.


Sebuah patung prajurit berseragam loreng dengan ikat kepala yang ujungnya melambai tertiup angin. Sebelah tangannya membawa bedil, dan tangan lain mengudara merentangkan telapak besarnya dengan lebar. Mulutnya terbuka seolah meneriakkan sesuatu dengan lantang. Badannya kekar dan tinggi.


Patung yang keren. Alby tidak berlama-lama di sana, dan kembali ke warung. Dari cerita dulunya tembok itu sangat tinggi. Terdapat keterangan bersejarah di bagian bawah tembok, yang telah tenggelam selama bertahun-tahun akibat urugan yang kerap dilakukan.


Bree mengenang setiap malam jalan-jalan bersama papa dan adiknya ke patung itu. Mengalihkan sang adik yang rewel sebelum tidur. Jaraknya cukup jauh jika berjalan kaki. Pantas Bree bisa nekat dan tidak peduli kakinya menempuh berkilo-kilo meter, sehingga membuat Alby selalu ingin ada untuk menemani Bree pergi ke manapun. Ternyata Bree memang terbiasa.


Bree ingat saat tangan besar papanya menggandeng erat tangan kecilnya, sambil menggendong sang adik. Apa Bree boleh egois inginkan masa itu kembali?


Bree memang egois sehingga ketakutan memiliki hubungan. Tidak mudah lupa dengan harapan besar yang selalu hanya menjadi kenangan. Itu termasuk bersama Alby. Bree mengakui dirinya adalah jahat.


Mendadak celotehan ceria Bree menghilang dari pendengarannya. Di boncengan belakang menjadi sunyi. Alby mengerti bagaimana sifat Bree yang melankolis.


"Bri kangen Papa lagi?"


Alby tidak menggubris diamnya Bree yang tidak menanggapi obrolan. Dia tersenyum merasakan kiri dan kanan pinggang jaket diremat erat dua pasang tangan kecil. Sudah lama Bree tidak berpegangan, hari ini Alby merasakannya lagi. Meski itu bentuk reaksi Bree karena baru saja motor Alby melewati polisi tidur. Alby kurang fokus sehingga kelewatan mengerem.

__ADS_1


Bree melepaskan tangannya yang barusan reflek mencengkram jaket Alby. Dirinya tidak boleh lagi terlalu intim dan berharap kenyamanan dari Alby.


__ADS_2