
Keberanian apa yang didapat Bree karena biasanya diam. Si vokalis menerima tiga kuntum bunga tapak dara pemberiannya.
"Wow!" Salah satu personilnya berseru mendekat stand mic.
Bahkan alunan musik serempak sedikit dipelankan.
"Terima kasih, Deli liana dan temannya."
Eh?
Kaget namanya disebut menggema melalui mic, Bree menatap lebih fokus ke si vokalis. Alisnya bertaut dan menatap lekat wajah pria di hadapan yang tersenyum lebar menyapanya dengan kode mata dan kepala.
"Mas Pik?" Bree masih sadar musik tengah mengalun dan vokalis mengangguk tersenyum sambil menyanyi.
"Aku turun! Makasih, makasih." Bree mengatupkan telapak tangan depan muka berpamitan dengan para personil, berlalu meninggalkan teras panggung.
"Kenal, Bre?"
"Temen lama."
"Wah! Nggak yes."
"Kurang greget."
Memang keberuntungan berpihak pada Bree. Malu. Sumpah malu. Tapi bisa jadi alasan namanya disebut tanpa tanda pengenal di tubuh. Pangling, ternyata itu Taufik. Duh! Kepala berdenyut seperti habis olahraga lari.
Kali ini lagu Terlalu Singkat.
Untaian rasa yang kuselipkan
Semoga mampu tuk meluluhkan
hati pemilik senyum itu
Berbagai cara akan ku coba
Agar aku takkan kehilangan
pandangan dari senyum itu
Dan bisa aku katakan jadi kekasihku
akan membuat kau jauh lebih hebat
Percaya padaku
"..., huhuuh. Percaya padaku ...."
"Percaya padaku .... Jiwaku untukmu ...."
Hidup terlalu singkat
Untuk kamu lewatkan
tanpa mencoba cintaku
Dan bisa aku katakan jadi kekasihku
akan membuat kau jauh lebih hebat
Percaya padaku
Percaya padaku
Jiwaku untukmu
Hidup terlalu singkat
Untuk kamu lewatkan
tanpa mencoba cintaku
Terlalu singkat mengisi malam ini. Baru saja band di atas panggung memainkan musik lain dan dari band lain yang juga tidak lekang oleh masa, suara Taufik menjeda lirik memanggil Bree.
Dengan kembali menyanyi, memberi kode, tangan kanannya seperti menulis ke tangan kiri yang berdiri memegang mic, kemudian jari kanan itu mengkode telepon dekat telinga.
Bree mana paham isyarat.
"Masih kontak lama!" Masa bodoh rasa malu.
Masih dengan gerakan bibir jelas dalam penekanan perlahan, tapi kali ini suara lantang hampir teriak. Dia mengerti Taufik ingin minta nomor telepon, komunikasi mereka lama hilang, Bree tidak pernah mengganti nomornya. Apakah ada masalah dengan ponsel Taufik? Jangan-jangan kontaknya hilang. Ah, mereka masih berteman di IG.
Taufik mengangguk mengacungkan jempol kemudian melambai. Bree melangkah diantara kawanannya yang menyudahi kebersamaan di malam ramai. Malam panjang tidak mungkin dihabiskan karena tubuh perlu istirahat untuk menyambut semangat pergerakan esok.
"Kok bisa kenal, Bre?" tanya Levi.
"Cah gali," timpal Surya.
"Mas Taufik dulunya bareng temenku, di desa. Kami kenal karna temenku itu."
Jaman sekolah di desa, Bree ikut Bude dan jarang keluar main. Teman-teman lebih sering berkunjung ke rumah. Taufik pun ikut. Aslinya memang tinggal di provinsi ini. Bree merantau di sini pun mereka beberapa kali bertemu.
"Cerita lama, ya, ceritanya," timpal Sari.
Kesibukan masing-masing membuat lama tidak bertemu dan perlahan hilang komunikasi. Taufik membuka cafe di provinsi tetangga, di kabupaten sebelah.
"Makasih, eh, Mas Surya."
__ADS_1
"Haa, ngapa malah makasih ke aku."
"Kalau bukan kamu kompor, mana mungkin aku meledak maju."
"Padakken!"
"Perumpamaanmu lo, Del," celetuk Ilham.
"Bahasamu, Nduk," celetuk Alby.
Masuk jalan lingkar Utara obrolan bola mengasyik. Masuk wilayah dekat ALIF rencana nobar di-cup! Batal istirahat!
Surya berpamitan pulang. Levi dan Alby ikut turun sekedar ambil motor. Bree dibiarkan tetap dalam mobil terbawa Ilham dan Sari ke rumah. Bree menolak namun ajakan Sari, Ilham, dan Alby membulatkan dirinya ...,
"Yawes."
Dulu rumah Ilham ramai dihuni anak-anak buta arah. Maksudnya tempat persinggahan karyawan yang malas perjalanan pulang jauh. Atau karyawan yang sehabis briefing bulanan malas menyendiri, memilih menghabiskan waktu bersama perawani amplop gaji untuk minum jahat atau makan. Padahal briefing pasti ada makanan tergelar lebih dari jumlah kepala. Kalau habis, syukur. Nggak habis, keliling sharing is caring.
Sesekali briefing juga diadakan keluar. Rumah juga diisi pengajian rutin per bulan. Waktu salat jemaah yang non muslim setia menyisih di sudut lain, anteng, ya makan ya otak atik ponsel ya merem nyender tembok. Tidak tertinggal kegiatan tetap sharing is caring serta hiling jemaah. Dapur dipastikan ramai oleh keriwehan bersama. Ya, rumah kantor yang penuh kenangan menyatukan bermacam karakter. Tumpah ruah saling melengkapi.
Kini keramaian itu rapi dalam album, terbingkai macam warna tiap slidenya, tersimpan abadi dalam jiwa. Rumah ini sekarang hunian nyaman sepasang kekasih halal atas nama Ilham dan Sari.
"Kalau laper lagi, masak mi, Mbak. Aku nggak masak. He he."
"Iyo, Ri."
"Ada selada, Del."
"Iya deng, dalem kulkas. Kalau mau tidur, duluan aja."
Bergantian kamar mandi membersihkan diri. Alby dan Levi datang, tahu dari suara motor mereka masuk halaman rumah.
"Paling mereka sampe subuh," sambung Sari.
"Bola. Aku yakin paling Ilham bablas mimpi kok." Bree mencibir.
"Kamu to, Del," sahut Ilham.
"Kuwi kan kamu," sahut Levi.
"Aku bawa mi, Bri. Perutmu tadi keroncong lagi?" kata Alby, letakkan kantong kresek hitam di kursi panjang dekat kepala kasur leseh.
"Di sini ada kok." Ilham menoleh ke Alby yang masuk kamar mandi.
"Terlanjur."
Bree membuka kantong ternyata isinya rokok dan coklat saset selain mie instan. Coklat saset dan mie rebus ayam spesial kebanggaan Bree.
"Aku rebus air ya," ijin Bree. "Mau dibikinkan kopi, kalian? Ri, mau teh?"
"Aku habis ini tidur aja, Mbak. Nunggu pijet."
Andai Bree doyan, pasti ikutan.
"Mbok sekalian?" Ilham menawarkan.
"Malah sakit badanku. Nggak biasa, kecuali Mbah Ijah langganan di desa."
"Aku kopi ya, Bre!"
"Aku, Del?"
Bree menoleh ke Alby yang mengangguk. Di dapur ada dua macam kopi saset, Bree hapal apa untuk siapa.
"Kopi itemnya masih di lemari, Mbak."
"Udah kok, ini, ada."
Bree ingin minum coklat yang dibelikan Alby. Sambil menunggu waktu tayang piala dunia, keempatnya duduk santai dekat pintu, menyambung kepulan asap rokok. Bree menyambi ke dapur. Kebetulan Mbak pijat datang, sekalian buatkan teh panas untuk beliau.
Bersama empat gelas di meja, dua gelas minum disertakan, teh panas dan air putih untuk si Mbak. Bree tidak enak mengetuk pintu kamar.
"Nggak masak mi, Bre?"
"Makan, Lev?"
"Enggak. Kamu laper?"
"Iyo tadi laper lagi. Ini reda, nanti lah."
"Tadi nggak bungkus sana aja, Del?"
"Kalau nggak kegoda gado-gado, aku nggak pesen. Kasihan lo, sopku nganggur."
Akhirnya memang nganggur. Masak pagi, cuma sarapan. Kegiatan di luar sampai sore. Roki ajak mampir makan, Bree tawarin makan di CofiNet ditolak. Manasin sop, ingin makan tersumbat tausiah Alby, terus ditarik nongkrong. Alby tunjuk beberapa makanan dari list menu, eh, pengen gado-gado. Memang perut lekas lapar, niatnya sepulang nongkrong langsung makan. Ini nangkring di luar lagi.
Berempat duduk depan televisi. Mulai aksi diam menyimak. Bree yang dasarnya pendiam hanya mendengarkan siaran menyandarkan punggung dan kepala di kursi belakangnya, menatap langit-langit. Sesekali bisik-bisik ketiga pria sudah menyertai acara.
Pintu kamar dibuka dan Sari muncul disusul Mbak pijat.
"Mbak, diminum tehnya. Ada air putih juga." Bree menunjuk meja dengan ibu jari. Gelas lainnya sudah bersih dari meja jadi tidak sulit mengarahkan.
"Makasih, Mbak."
Sari menuntun ke bangku tamu, sejenak duduk menemani. Setelah minum Mbak pijat berpamitan pulang, Sari masuk kamar mandi.
"Mbak, belum makan lagi?" Sari bertanya pada Bree.
__ADS_1
"Masih nanti masak mi. Kamu pengen apa?"
"Aku pengen tidur. Itu, Mas paling nanti ketiduran." Sari tertawa kecil memperhatikan Ilham.
"Biasanya." Levi terkekeh menimpali.
"Kalau ngantuk, tidur kamar, Mbak. Aku mau masuk dulu."
Ada 3 kamar di rumah ini, salah satunya kamar utama yang digunakan Sari dan Ilham.
"Makasih, Ri."
Celotehan para pria mulai bersahutan lirih dalam suasana sepi. Volume televisi sejak tadi juga lirih. Bree tampak ikut fokus melihat dan mendengarkan meski tidak pernah paham tentang permainan. Namun otaknya mudah menangkap sedikit dan asik mengikuti jalannya pertandingan.
Secangkir kopi dibuat sekedar mengalihkan jenuh. Sebelumnya tadi membersihkan meja tamu dan membersihkan wastafel yang menumpuk cucian. Kini dua lampu ruang dimatikan menyisakan sorot dari lampu dapur dan sorot layar televisi. Bree kembali duduk.
"Makan, Bri?" Alby menoleh ke samping kiri pada Bree yang duduk menghadap dirinya.
"Males masak." Bree setengah merengek dengan raut mirip bocil merengek minta sesuatu.
"Terus maksudnya pengen dimasakin?" Ilham yang rebahan menatap ke samping kanan, menemukan Bree nyengir mengangguk.
"Manja." Ilham kembali menatap depan ke televisi tanpa mempedulikan Bree manyun.
Levi tertawa lirih melihat Bree, Alby hanya geleng-geleng. Keduanya kembali menoleh samping kanan. Televisi membuatnya diabaikan. Kalau Alby tidak sedang bersama kawan-kawannya sudah pasti pergi memasak meski untuk Bree seorang.
Tidak lama pintu kamar terdengar ceklek handle, Sari keluar dan masuk kamar mandi. Kaget pintu kamar mandi ditutup kencang, Levi menoleh ke kiri serentak bersama Alby saling melempar pandang. Bree hanya mengamati mereka. Levi sempat melihat arah kamar mandi kemudian kembali pada layar tivi ke kanan.
Lagi, pintu kamar mandi yang terbuka seperti cepat ditutup dan pintu kamar ditutup kencang. Kini Alby dan Levi menoleh arah pintu yang dikunci dari dalam kamar. Sebentar menatap Bree seperti mematung saja tanpa menggerakkan kepala yang malas bersandar, kemudian menatap Ilham yang ternyata tidur lelap hanya sedikit bergerak karena bantingan pintu.
Levi mengkode kepala kepada Alby, dibalas kode kepala yang sama. Mereka sama-sama tidak mengerti yang terjadi. Bree juga berpikir apakah suara lirih masih mengganggu, dia tahu kamar itu tidak akan menangkap suara lirih dari ruang depan.
"Pulang, Bi?" Bree merasa tidak enak hati.
"Habis ini?"
Entahlah, Bree tidak enak hati juga mengganggu nobar mereka. Ilham tampak terbuka matanya.
"Ngantuk, Bri?" tanya Ilham.
"Belum."
"Laper, pasti. Sana masak."
Apa Ilham tidak sadar?
Bree memperhatikan Levi yang juga terusik. Berharap mengajak pulang. Tapi tampaknya bertiga masih tetap menonton bola. Mereka kembali bersahutan, Bree mulai cemas justru menyulut rokok menunggu saja.
Belum sampai selesai, Levi bergerak mencuci gelasnya dan berpamitan pulang. Bree menatapnya malah mendapatkan lambaikan tangan. Ingin ikut pulang, tidak enak dengan Alby. Alby masih santai duduk.
Sampai bola selesai akhirnya Alby membantu Ilham membereskan tempat. Bree mencuci gelasnya serta gelas Alby dan Ilham. Parah! Alby tampak asik duduk mengobrol dengan Ilham. Apa mereka tidak lelah? Alby sendiri harusnya mikir, ini malah mengabaikan Bree yang menatap memohon. Bree diam tidak enak mengusik obrolan keduanya.
Setelah adzan subuh, Alby mengajak pulang. Bree sungguh ingin marah dengan sikap pria yang selama ini dikenalnya dewasa. Tentu Bree juga marah dengan diri yang tidak berani memulai angkat bicara.
Alby melewati kafe dan mengajak sarapan. Bubur ayam di jalan stadion menjadi tempat tujuan. Levi datang, ternyata keduanya janjian melalui ponsel. Mereka menyinggung kejadian di rumah Ilham dan sama-sama masih belum mengetahui maksud Sari.
"Apa aku terdengar banting beling pas nyuci?" Bree kok deg-degan.
"Enggak. Nggak berisik sama sekali."
"Lagi sensi aja."
Kalau dipikir memang Sari lelah dan tidak enak badan. Mungkin kehilangan Ilham di sampingnya tidur.
Mereka makan bubur ayam dengan topik pembahasan lain.
***
Satu minggu terlewati setelah kejadian Sari diketahui sedang sensitif. Bree tertegun menatap tablet kafe. WA dari grup membuatnya yakin ada masalah pada Sari.
Kemarin Bree mengirim pesan memberitahukan beberapa stok yang harus dibelanjakan tetapi tidak mendapat tanggapan kecuali tanda centang sudah dibaca saja. Bree tidak menggubris berpikir Sari pasti sibuk. Dan hari ini mendapati di grup Ilham menyebutkan nama salah satu operator mengenai stok tersebut.
Levi [Coba tanya Bre]
Rian [Sudah dicatat Bri dan kemarin belum mendapat tanggapan. Tapi ada beberapa bahan yang menyusul kosong]
Bree memang lebih rinci dalam catatan stok. Apa saja yang perlu dibeli dahulu dan apa yang bisa disusulkan sesuai budget.
Semenjak owner mengurus pesantren, Sari yang menerima laporan stok untuk dibelanjakan. Bree tidak peduli diamnya Sari, menyerahkan catatan stok ke operator yang membuat laporan, ternyata langsung ditanggapi. Tidak enak kalau langsung melalui owner dikira tidak menghargai Sari. Ternyata Sari yang tidak menghargainya.
"Bro, tolong dicatatkan ulang." Rian mendekati Bree.
Bree dan Rian mulai mencatat rinciannya. Bree membuka pesannya yang dikirim kepada Sari untuk meneliti catatan meski masih segar di pikiran apa saja yang perlu dibelanjakan kemarin. Kebiasaan meneliti karena bisa jadi dirinya lupa meninggalkan sesuatu.
"Sudah kamu buat?" Rian tersenyum sungging menyaksikan pesan untuk Sari sudah terbaca tapi itu pesan terakhir tanpa balasan. Tentu pengirimnya Bree karena tablet kafe jarang dipegang operator.
Bree melirik Rian dan membalas tersenyum sungging.
"Ada sesuatu?" Rian mendapat jawaban hanya kedikan bahu.
Karyawan lama mengenal perangai Sari. Ini ketiga kalinya Sari berulah kepada karyawan suaminya.
"Apa perlu aku ceritakan sama Ilham? Aku bingung punya salah apa didiamkan dalam urusan pekerjaan ini? Ganggu kenyamanan."
"Menurut kebaikan bersama, itu perlu."
"Aku sungkan. Nggak enak."
__ADS_1
"Lebih tidak enak mendiamkan rasa tidak nyaman."
Rian betul. Bree bicarakan nanti, dirinya melayani customer di samping Rian yang masih menyandang rincian.