
Pagi ini Alby bersama Bree berjalan kaki santai ke warteg yang berada dekat gang rumah. Mereka ingin sarapan. Bree melihat ke jejeran 'belanjan' di seberang perempatan.
Alby mengerti. Bree menengok arah kerumunan yang berada sedikit jauh.
"Bri mau belanja?"
Alby melihat pasar kecil di pinggir sana. Alby tahu jika Bree ingin masak sudah pasti sejak pertama berada di rumah, tidak peduli dia dari perjalanan jauh dan lelah. Tapi gadis itu sedang malas mengotak-atik dapur karena kondisi rumah sangat kacau.
Alby berpikir Bree ingin membeli sesuatu. Terbaca keraguan dari gelengan kepala Bree yang pelan ke satu sisi. Alby penasaran.
"Kita ke sana." Alby mengajak Bree.
Mereka melewati warteg yang menjadi tujuan awal, menuju ke perempatan, lalu menyabrang. Mereka mendekat di kerumunan penjual ikan dan sayuran.
Hati Bree sedikit menghangat. Alby selalu mengerti keinginannya. Tadi Alby menyuruhnya menyimpan uang. Alby selalu membayar pengeluaran Bree.
Alby menatap Bree yang baru saja tersenyum lebar kepadanya. Kemudian mendekati seorang ibu yang duduk di depan keranjang gendong. Seperti penjual jamu. Tapi dalam keranjangnya hanya terdapat satu kendi tanah liat. Sekelilingnya ada dua toples kecil, tumpukan mangkuk kecil dan sendok bebek.
Bree berjongkok di sana, mendongak ke arah Alby berdiri, sebentar menatap dengan senyuman manisnya, lalu beralih lagi.
Ada apa?
Alby merasa ingin tertawa melihat reaksi gadis itu. Seharusnya sedang diam dan cuek. Saat mengobrol pun dengan kesan jengkel. Sebelumnya ulat tidak mengenakkan jelas terbaca. Tiba-tiba sumringah setiap dituruti sesuatu.
Gadis ini, karena demi makanan menjadi manis terhadapnya.
Alby melihat wedang berwarna coklat diciduk dari jun, kendi tanah liat. Dengan gayung bertangkai panjang dan kepalanya seukuran sloki, memudahkan masuk ke mulut jun. Itu dituang ke plastik bening per empat, melalui corong.
Alby juga ingin mencobanya, Bree memesan dua. Saat dituang ke mangkuk bisa dilihat wedangnya sedikit kental. Sajiannya polosan dan ditabur sejenis bubuk sesendok peres sendok ukuran 1 mili. Bree minta pedas, dan si ibu menambahi. Alby langsung paham itu bubuk lada. Alby hanya bisa diam.
Wedang dari tepung beras dengan aroma rempah yang khas. Jahe dan cengkehnya mendominan. Serutupan panas menghangatkan tubuh. Alby langsung suka.
"Rekomendasi wedangan kafe, Bri."
Bree tersenyum samar.
Bree akan resign, untuk apa berpusing. Rencana owner menambahi menu kafe sudah bukan menjadi urusannya.
Namun ada ragu dalam benak Bree. Dia mendadak berat meninggalkan kafe. Segala hal menyenangkan terlintas. Rindu membahas kafe bersama seperti inilah yang disukai.
Bahkan dadanya bergemuruh ingin menangis. Sakit hati sikap Alby, cara Sari, perubahan Ilham yang juga seperti menghindarinya, berputar di antara saat-saat bersama.
"Nambah, ya?"
Keterdiaman Bree diusik Alby yang menginginkan tambah. Bree mengangguk sumringah. Dirinya pun merindukan jamu khas yang dulu selalu rajin dibeli mamanya itu. Bree tidak menyukai ramuan jamu, kecuali beras kencur dan jamu jun.
Bree mengobrol dengan beberapa orang yang datang berbelanja. Bahkan hanya lewat, lalu mampir sebentar sekedar mengobrol dengan Bree. Alby melihat orang-orang yang akrab itu berbeda lagi. Setelah jamu habis dan sejenak duduk menyelesaikan obrolan, keduanya kembali.
Masih pagi, di warteg masih lengkap nasi kuning, nasi uduk, dan bubur nasi, juga ada ketan.
Alby dan Bree memilih makan bubur saja. Alby memesan dua bubur nasi dengan terik telur dan sambal tumpang.
"Sambel?" Si ibu warteg hendak mengambilkan sambal goreng untuk Bree.
Bree baru ingin mengangguk tapi disela Alby.
"Ampun, Bu. Tanpa sambal." Alby menyahut.
Bree terdiam. Selama keduanya makan, sampai selesai makan, Bree masih diam.
"Bungkus ketan, Bri?"
"Mau." Sekali lagi Bree sumringah.
Alby pesan ketan saus kinca, dan ....
"Bubuk?" tanya ibu warteg kepada Bree saat Alby akan menanyai mau apa.
"Bubuk, Bude." Bree mengangguk.
.
.
Duduk santai di rumah sembari berbasa-basi. Lewat jam 8 mereka memutuskan keluar lagi untuk mengisi ulang air galon ke depot yang diperkirakan baru buka.
Setelah mandi mereka kembali berkutat dengan malas memanfaatkan hari libur.
__ADS_1
Bree ingin makan ketan, dan Alby ikut serta. Aroma gurih langsung menguar dan sedap saat bungkus daun pisang dibuka. Tercium manis gula aren dalam kinca, dan aroma khas bubuk kedelai manis yang menjadi andalan Bree.
"Hm?" Alby menyodorkan suapan ketan kinca kepada Bree.
"Nggak mau."
"Nggak doyan?"
"Doyan, cuma udah ada ini."
Alby menyuapkan ketan ke mulut sendiri. Oh, paham, Bree menolak karena ketan kinca lekas meninggalkan enek.
Ada kala Bree spontan ingin berbicara, memamerkan konten seru yang ditonton, urung setelah melihat pria di dekatnya itu diam mengotak-atik ponselnya. Bree malas mengoceh riang kepada Alby.
Alby sesekali memandang Bree yang dalam dunia sendiri bersama ponselnya. Canggung mengajak gadis itu mengobrol. Bree mengabaikannya. Muka Bree tampak jutek saat diam.
Ada rindu saat-saat leluasa bercerita dan tertawa berdua. Namun yang terjadi kini keduanya justru asik bersama ponsel masing-masing. Mereka telah salah paham karena pemikiran sendiri.
Sampai siang tiba. Mereka akan keluar membeli makan.
"Bri? Ini sekalian dibuang?" Alby menunjuk tumpukan di kursi.
"Aku udah nggak lihat TPS, Bi."
Lahan pembuangan sampah seharusnya berada di dekat tambak. Tapi kemarin tidak ada.
"Biar diurus pria yang di rumah."
"Aku?"
Alby kemudian mengernyit saat Bree meliriknya sebentar. Bree tidak pedulikan kebaikannya.
Alby hanya pria luar, tidak ada sangkut paut urusan rumah ini, tidak perlu repot. Jika dulu Bree merasa tidak enak hati dan sungkan, kini Bree merasa sengit kepada Alby yang sok-sokan menjadi pria bersikap.
Bree melangkah keluar. Alby masam. Menyusul keluar, menutup pintu rumah.
Rencana makan kini akan berpindah warung lain. Warung di sini banyak, menurut Alby sambilan menikmati suasana lain di dalam perumahan ini.
"Cari jajan, yok, Bri?"
"Ya Allah, Bi. Udah beli macem-macem. Simpan uang."
Alby tidak ingin pusing, membawa Bree ke area SD yang biasanya akan terdapat banyak 'bakulan' jajan jadul. Bree menurut saja akan dibawa ke mana oleh Alby. Bree mengikuti Alby menjelajahi gerobak-gerobak jajan yang mangkal di sepinggir jalan.
Selembar terang bulan jadul, bermacam toping oles dan taburan. Alby minta diguntingkan lebih kecil. Ada banyak lekker dengan isian gurih juga manis.
"Banyak banget, jajanmu, Nduk?"
"Yang pengen si Bayi tua, Lek." Bree melirik sekilas ke Alby.
Sekali lagi Alby tersinggung. Bukan karena julukan yang dilontarkan Bree atau tawa renyah bakul lekker, tapi dia sakit oleh lirikan tanpa ekspresi itu. Padahal sedari tadi Bree nampak senang mengobrol dengan bakul lekker, tapi kepadanya seketika kembali malas.
Ada lagi telur puyuh dadar, yang dikocok bersama rajangan daun bawang. Bree minta menambah saus. Alby juga membeli tiga potong es gabus. Alby masih melirik kue cubit.
"Bi? Jajanmu banyak banget lo." Bree sayang uang.
"Ah, yaudah coba itu aja." Alby melihat ibu jamu jun yang tadi pagi duduk dengan keranjang berbeda.
Bree terdiam memperhatikan Alby menunjuk penjual lain. Bree mengingatkan Alby yang mengarahkan diri ke kue cubit, itu ingin memastikan kesungguhannya. Alby tidak jadi membelinya, tapi bukannya menyudahi malah tetap inginkan menambah jajan berbeda lagi.
Eh, lah, sebetulnya Alby niat mau membeli kue cubit atau tidak?
"Ibu jamu jun?" Alby memastikan keranjang gendong si ibu memang berbeda dengan yang pagi.
"Serabi kuah." Bree menanggapi.
Serabi mini dengan kuah santan dan kinca. Alby pesan empat bungkus. Santan dan kincanya dipisah.
Hari ini jiwa kanak-kanak Alby sedang keluar.
"Bri, bakso?"
"Ya."
Keduanya singgah di warung Mie Ayam dan Bakso. Cukup lama 'ngiras' sampai selesai makan, masih menambah camilan kerupuk sambil menunggu es jeruk dan wedang jeruk panas habis. Kemudian mereka beranjak dari warung.
Bree kembali heran, Alby berhenti di halaman market. Bree menggelengkan kepala saat ditanya inginkan membeli apa, merasa sudah kelebihan dengan kopi botol dan camilan yang diambil Alby. Sekali lagi Bree menggelengkan kepala, menolak ditawari es krim oleh Alby. Perut Bree telah penuh. Belum lagi jajanan gerobakan yang seharusnya nanti lekas dimakan.
__ADS_1
Alby sedikit masam. Respon Bree hanya gelengan kepala tanpa mata menatap. Alby malah ingin mie instan yang tertata rapi di gondola, terlebih karena mie instan itu terlihat penuh macamnya. Tapi Alby tidak membelinya. Dia hanya menambah rokok di kasir.
Keluar dari market dengan tas belanja yang sengaja diambil besar. Akhirnya krentilan kantong kresek transparan dari banyaknya jajanan sekolah dasar bisa dibawa serta dalam tas market. Ada rasa malu pada tetangga kalau terlihat jajan banyak sekali.
Bree pasrah ketika Alby membeli banyak makanan. Alby merasa mumpung di wilayah orang, meski yang dibeli tidak semua makanan khas. Bree juga doyan jajan. Bree melupakan prinsip sedang ingin menjauhi Alby.
Alby tersenyum menyimak keluhan Bree yang menggerutu sambil makan.
"Gini terus, bikin aku tuman pengen dibelikan jajan sama kamu."
"Aku bakal stres pas kamu lupain kebiasaan bawain carang gesing sama puding, trus beliin jajan buat aku."
"Eh, siapa aku ...."
Alby geli saat suapan darinya tidak ditolak oleh Bree. Bree lahap makan. Tampak sekali puas menikmati jajanannya, meski sepanjang makan tidak berhenti ngedrumel.
"Aku nggak berhak ngarepin manusia lain yang udah saling punya."
Alby berubah raut mukanya. Bree terus menyingung tentang hubungan yang membuatnya bimbang.
"Kapan kita balek?"
"Apa Bri nggak pengen lama di rumah?"
Keadaan rumah sudah sedikit rapi dan bersih. Lagi pula tidak ada lagi yang ingin ditengok. Bree sudah tidak sabar melanjutkan pekerjaan dan mengakhirinya bulan ini. Bree menggelengkan kepala, mulutnya asik mengunyah.
"Yaudah, besok kita berangkat."
"Nanti isi ulang air lagi. Daripada besok perjalanan siang, nunggu jam buka depot. Berangkatnya habis mandi, kan?"
Depot air baru buka jam 8 pagi. Hari pertama mengisi 2 galon. Hari kedua, pagi tadi mengisi lagi 2 galon. Air untuk minum, mandi, juga sekedar membasuh tentu lekas habis, apa lagi masih dalam keadaan bereskan rumah.
Alby menyadari Bree yang malas mandi itu menjadi rajin mandi semenjak di rumah, beralasan air di sini segar, tidak sedingin air di provinsi rantau. Di rumah ini Bree juga lebih rajin minum air putih.
"Berangkat sore aja?"
"Kegiatanmu kebengkalai demi aku. Aku nggak mau ada gosip nggak benar lagi."
Alby masam. Pernyataan Bree sedikit membuat kecewa.
"Demi aku yang masih pengen di sini sih."
"Oh. Aku ge er. Oke, berangkat sore."
Bree menutup muka dengan sebelah telapak tangan. Sikunya disangga pada sebelah pahanya yang duduk bersila kaki. Seolah menyembunyikan malu. Alby ingin tertawa dengan tingkah Bree. Tapi juga miris. Bree tidak henti menyinggung itu dan itu lagi.
Kemarin Bree asal memindahkan rendaman dari satu ember yang kini dipakai menampung air bersih. Tiga ember terdapat penuh rendaman pakaian yang ileran dan ada karat. Entah direndam sejak kapan. Hari ini Bree akan membereskannya.
Cuci di mana kalau kamar mandi dan tempat cucian tergenang air got yang keruh dan bau. Tidak ada air. Itu dipikirkan nanti. Bree memilah yang sekiranya masih bisa dicuci bersih. Sisanya akan dibuang saja.
Ternyata semuanya sudah tidak mungkin diperbaiki. Bree juga malas mengusahakannya. Meski dia sangat menyayangkan. Banyak sekali pakaian dan ada seprai juga sarung bantal dan guling. Entah apa yang adik-adiknya lakukan. Bree ingin menangis.
Bree memutuskan kembali ke provinsi rantau, dua bulan setelah kepergian mamanya. Membereskan banyak hal sebelum meninggalkan rumah. Saat itu tinggal rendaman pakaian milik adik-adiknya. Dua ember tidak penuh. Dan hari ini ingatan Bree masih segar bahwa ditumpukan dasar ember itu tidak lain rendaman yang silam.
"Aku bantu, Bri."
Tadi Alby menyadari Bree menghilang lama dari pandangannya. Suara di dapur membuatnya datang menengok. Melihat Bree memasukkan banyak kain yang sudah tidak berupa dan bau ke kantong plastik ukuran 40 cm. Dua kantong penuh, ditambah satu kantong yang masih diisi, dan masih banyak di dalam ember panjang.
Alby ingin membantu. Malah mendapati Bree menahan tangis sambil tangannya bekerja.
"Bri juga harus ingat kondisi tubuh. Biar aku yang lanjutkan."
Baru saja meraih ember kosong yang kotor, Alby tertegun menatap Bree berseru keras.
"Nggak usah sok peduli! Ini urusanku!"
Bree kesal melihat sosok Alby lagi. Hatinya sakit ulah sikap Alby yang bisa dibilang sama saja seperti adik dan papanya.
"Kamu orang luar yang kebetulan mampir!"
Alby terdiam. Tatapan mata mereka melekat. Sorot Bree sangat jelas penuh kekecewaan.
Bree malu dengan kondisi rumah. Alby sudah melihat seperti apa keadaannya sesungguhnya. Mengingat Alby seakan mengerjai perasaannya, Bree merasa takut.
"Kalau mau pergi, ya pergi aja." Suara Bree melunak. "Nggak perlu pura-pura baik, tapi akhirnya diem-diem minggir."
Alby mengernyit dengan mulut mengatup rapat. Rahangnya bisa dilihat jelas menggeram.
__ADS_1
Bree menunduk memperhatikan kain-kain bau di kantong, dan tangannya menjijikkan. Sama dengan sikapnya yang menjijikkan, telah mentang-mentang diperhatikan Alby selama ini, lalu kepedean. Bree GR. Air matanya tumpah. Dirinya sangat bersalah kepada Rima.
Alby menahan amarahnya. Bree sedang terluka.