
Ada lagi cerita ketika Johan menangis di hadapan Mama Bree sewaktu Ibunya sakit sampai meninggal. Bree merindukan mereka yang kini sudah di kesibukan masing-masing. Angga dan Wahyu juga merantau. Terakhir kebersamaan mereka adalah jaman sebelum ada ponsel diciptakan. Sampai sekarang untuk bertemu tidak mudah meskipun masing-masing sudah memiliki alat komunikasi.
"Bri beruntung punya mereka."
"Banget. Kami seperti kembar empat yang nggak bisa lepas waktu itu. Nanti pas nongkrong pasti ada bolang-baling, coro bikang, terus es pong pong karena uang mereka sekedar bayaran kecil hasil membantu warga. Pernah aku dibelikan silverqueen satu papan dari uang patungan mereka. Kalau aku bagi-bagi pada nolak karna itu buat aku seorang."
"Tentu kalian nggak akan saling lupa."
"Semoga."
Sesekali kabar hanya lewat cerita. Bertemu tidak bisa berkumpul barang sebentar. Saling berkomentar entah di postingan milik siapa itu juga tidak egois dengan membahas berempat saja, meski setelahnya mengobrol di panggilan video, tapi itu tidak lama. Angga dan Mas Are sudah berkeluarga.
Dengan Bang Pram yang sampai kini masih rajin komunikasi sehingga menjadi perantara salam dan kabar. Bang Pram termasuk dalam sekawanan tapi tidak setolol keakrabannya seperti keempatnya. Bang Pram mantan seorang bandar yang sekarang memiliki kios jamu, kios sembako, sampai minuman beralkohol dengan ijin.
"Yang suka ngobrol di messenger?"
Alby sering menemukan obrolan mereka di layar monitor di warnet. Akrab sekali ketahuan layaknya abang dan adik.
"Bi, baca-baca obrolan kami?"
"Ya Bri tinggalin layar nyala, pas aku masuk ya kebaca."
Alby memandang Bree tersenyum lebar menatap dirinya. Bree kelihatan sudah lega setelah tadi murung berdiam sendiri.
"Pulang yok, Bi."
"Ayok."
Alby tidak memutar balik motor. Dia memilih melanjutkan jalan ke utara, nantinya memutar lewat wilayah barat. Awalnya Bree menikmati perjalanan, tapi lama-lama Alby merasakan sepi, membuatnya ekstra menengok spion dan mengulur tangan menjaga belakang Bree yang terkantuk-kantuk supaya tidak terjatuh. Alby memelankan lajunya.
"Bri? Ngopi?"
"Boleh."
Minum kopi tidak hilangkan kantuk tapi setidaknya bisa duduk tenang. Di atas motor tersapu angin membuat gelisah. Bree memiliki kebiasaan itu seperti anak kecil. Beberapa kali terkena teguran orang akibat Bree sempat oleng di boncengan.
Alby berhenti di sebuah kedai kecil. Bree berceloteh riang lincah berekspresi. Kadang mendadak berulah usil. Alby betah menyimak padahal Bree cenderung murung ketika nongkrong lebih banyak anteng diantara keramaian.
Mereka melanjutkan perjalanan karena hari menjelang sore. Hawa perbukitan sudah terasa dingin. Bree menengadah mengamati matahari masih bersinar terang. Cuaca tidak seterang sang surya di atas sana, seolah sengatan yang biasanya sangat panas seperti dibatasi kabut transparan.
"Daerah bukit adem banget, padahal matahari dekat."
"Hei!" Alby menyentlik telinga Bree.
Bree menoleh memelototi si pelaku sambil mengelus telinga. Kesal sekali, jari Alby keras menyentilnya.
"Semakin tinggi dataran dari permukaan laut, tekanan udara semakin rendah, molekul udara bergerak lebih lambat." Alby pasangkan helm ke kepala Bree. "Rapikan helm dan jaketmu."
"Aku tau. Jangan sakiti kupingku."
Alby ada janji membantu Bundanya mengerjakan tugas. Tadi sang Bunda mengirimkan pesan. Alby mengecek spion, punggungnya tidak berat tapi Bree anteng di belakang. Masih aman karena Bree menikmati perjalanan tanpa mengantuk.
Bree heran ketika Alby membawa motornya berbelok arah. Akan semakin jauh menuju jalan ke cafe. Sampai Bree menyimpulkan ternyata lewat arah rumah tempat Alby tinggal bersama orang tuanya.
"Temani aku kerjakan tugas ya, Bri."
"Aku pulang, Bi?"
"Nggak pede?"
"Aku ngantuk."
"Bri sungkan?"
"Sungkan sama Rima."
Alby berhenti, menoleh kepada Bree yang sekilas menoleh ke seberang tepat di rumah Alby. "La apa Rima tinggal di situ?" Alby tersenyum sinis. "Rima nggak pernah aku ajak ke rumah."
"Nggak enak sama Bundamu."
"Bunda camilan?"
"Tapi camilan dari Bundamu enak." Bree tersenyum lebar dan dicibir Alby.
"Kalau jajan dari Bunda, terus sumringah."
"Mau lagi carang gesing sama pudingnya."
"Besok. Pecel."
"Bukan sayur, tapi jajan."
Motor Alby kembali melaju hanya melewati rumahnya saja.
"Nggak ke rumah, yang Bunda masak nggak akan nikmati."
"Pelit, biasanya bawain ke cafe."
"Tuman."
"Minta Bundamu masak carang gesing lagi."
"Dimakan Ayah."
"Aku minta."
"Bantuin juga enggak, mau enaknya."
"Salahnya kamu lo, Bi, bawa-bawain buat aku, ya akunya tuman."
__ADS_1
"Buat semua. Kebetulan cuma Bri yang ada, aku titipin, malah dimakan sendiri."
"Halah, wong memang bawain aku."
"Pede."
Motor Ilham dan Levi masih di halaman parkir. Cafe sudah tutup. Bree menaruh helm di kamar loker tidak menemukan kedua ownernya. Pintu lantai atas tertutup rapat. Alby ada di halaman barat entah mengobrol dengan siapa. Bree mendekat menengok dari samping tembok. Dua ownernya duduk di bangku pojok.
"Bre bayi habis jalan-jalan ngantuk." Levi memperhatikan mata Bree seperti menahan kantuk.
Bree reflek mengucek mata sambil menemui bangku pojok. Ilham iseng menarik kerah sweater Bree dan hanya ditampis pemakainya.
"Buka lagi cafenya. Lumayan lo sore ini."
"Mandi, Del."
"Nanti," jawab Bree sambil jarinya seperti biasa reflek menutuli remahan di atas meja.
"Tadi nggak mandi," timpal Levi.
"Oalah tenan," tambah Alby.
Meja sedikit berantakan bercak kopi, dua gelas kopi tampak baru berkurang seteguk-dua teguk. Bungkus kosong camilan renyah ada tiga putung rokok, dan remahan abu diantara asbak yang penuh putung rokok. Tampaknya kedua pria ini sudah lama bersantai di sini.
"Kapan cafe sesuai target kalau owner yang jaga. Aku aja besok yang buka."
"Nganggurlah aku, Bre?" sahut Levi.
"Sama aja nganggur to ini?"
"Naik, Bri." Alby meraih lengan Bree untuk diajaknya ke lantai dua.
"Besok kalian refreshing, gan, kesempatan nggak ada kegiatan pondok. Jangan ambil alih cafe."
"Jangan kejam, Bre."
"Persaingan ketat, kawan, kapan cafe ini maju."
Alby berusaha mengalihkan gadis keras kepala yang kekeh menoleh, membawanya meninggalkan outdoor. Ilham terpingkal menyaksikan ketiganya.
"Cafe lagi rame-ramenya lo, sayang kalau jam kedatangan pelanggan malah ditutup." Kali ini Bree mengomel tanpa menoleh.
"Iya, Bri yang jaga kalau mereka sibuk pondok."
"Lah? Alby nggak niat gabung?" Dipandangnya Alby yang masih memegangi lengan dan bahunya.
"Ikut, Bri, aku ikut kegiatan."
"Barusan bilangnya mereka. Bukan kami."
"Iya iya, kami. Bri mau kewalahan lagi ngurus cafe?"
"Besok pas kalian udah resmi di pesantren apa aku sendirian lagi?"
Bree terlanjur menikmati kerja sama tim lengkap semenjak Alby usai pendidikan dan Ilham serta Levi mengerjakan proyek pondok yang lokasinya di gang belakang. Mereka lebih sering mengontrol usaha ini.
Bree menggigit bibir, nafasnya terlihat naik turun. Alby iba melihat netra Bree yang berkaca-kaca. Ada apa sih sama gadis ini?
"Bri kehilangan kami? Tapi kenapa mudah sekali marah sama kami?"
"Kalian kerjanya asal-asalan!"
Alby geli menemukan Bree berubah lagi. Gadis moody, sebentar murung sebentar ceria, sebentar marah, parah lagi tiba-tiba berulah, kemudian anteng. Alby melipat tangannya masih memperhatikan Bree mengalihkan pandangan, menunduk sejenak, lalu kembali keduanya beradu pandang.
"Nggak jenak kerja sendirian. Aku capek."
Alby mengajak Bree melanjutkan langkah membujuk supaya beristirahat karena kemungkinan terlalu lelah.
"Mau ngopi apa mau jus?"
"Mau kalian, gan."
"Uluh uluh anak manis ini membutuhkan kami."
"Butuh."
"Eh," Sekali lagi Bree berhenti dan berbalik. "gan, boleh aku minta seorang karyawan cafe?"
"Jangan jangan!" elak Levi.
Levi mendekat. Sedari tadi dia dan Ilham sudah beranjak dari bangku pojok menyimak Bree dari tempat Alby tadi berdiri. Ilham masih anteng di posisinya berdiri.
"Untuk gaji belum sanggup, bos Bre."
"Kapan punya uang, wong jaga cafe diwaktuin. Dibuka pagi sampai malam aja gan? Duabelas jam."
Semangat Bree sungguh kesempatan yang tidak boleh dielak dan jangan ditunda. Tapi mana mungkin mereka membiarkannya bekerja 12 jam sementara cafe internet full hour bukanlah kegiatan yang bisa ditinggal duduk manis.
"Kalau bisa malah enambelas jam, dibagi dua shift."
"Nah." Bree sumringah menyetujui Ilham.
Alby mengajak Bree berlalu dari halaman. Ilham dan Levi diam masih memperhatikan keduanya berlalu.
"Semangat Deli nambah dilema kita."
"Dari semangat Bre udah pasti membuka rejeki kita lebih baik. Yakinin aja, bro."
"Aamiin."
__ADS_1
Owner masih memikirkan menambah karyawan mengingat selama ini operator susah memiliki jam istirahat. Bree sendiri makan menyambi ladeni customer. Dengan konsep operator 1 dan 2 mempermudah kinerja warnet dan cafe sehingga bisa jalan bersama 24 jam. 2 operator selama 8 jam untuk 3 shift.
"Masalahnya gaji dari kita sulit diterima."
"Adanya baru segitu. Bismillah, bro."
Ilham dan Levi kembali ke kursinya. Mereka akan dipercaya memegang pesantren putra. Alby ada tawaran kerja di luar kota. Harapan mereka hanya kepada Bree yang dipercaya memegang cafe. Itu kenapa diringankan dengan adanya tambahan operator. Atau bisa rencana dialih tambahkan karyawan untuk cafe. Seorang operator, seorang barista dan seorang koki untuk 3 shift per 8 jam.
"Bi nggak turun?" Bree merasa tidak enak hati karena Alby menghabiskan waktu di lantai atas.
"Nanti. Malu karena aku di dekat Bri terus?"
"Ya Allah, nggak malu. Enggak enak sama Ilham sama Levi."
"Dilepeh. Pikiranmu ini yang bikin kepercayaan dirimu itu sembunyi."
Bree ikut serta duduk di sofa. Diam memainkan karet rambut yang barusan dilepas ikatan rambutnya.
"Jangan lupa diminum bitnya."
Melalui CCTV Ilham menemukan Bree terduduk menopang kening, atau berdiri menyandarkan kening, yang pasti juga mengurut kening. Anemia membuatnya sering oleng. Alby tahu Bree susah konsumsi obat atau suplemen dan melewatkan sayuran. Perokok dan alkoholik yang bebal tidak menyadari tubuhnya ringkih. Lambung dan pencernaan rentan infeksi. Hanya umbi bit yang terlintas oleh mereka.
"He!" Alby meringis mengelus kakinya seperti dicubit dan bulu kakinya ketarik. Sudah dipastikan ulah kaki Bree mencubit kakinya.
Bree nyengir iba memperhatikan mimik kesakitan Alby yang menatap dirinya.
"Sakit, Bi?"
"Pedes."
"Eit!" Kaki Bree menahan kaki Alby yang akan membalas. "Eit!" Kini tangannya menahan tangan Alby yang menyerang.
"Salahku apa?"
"Dibilang aku nggak doyan bit, masih maksa."
"Sebelum kejadian opname dan makan obat, Bri." Dua telapak tangannya menangkup gemas kedua sisi pipi Bree.
"Ampun, Bi ...," Bree terkekeh tubuhnya sedikit bergetar ulah tangan Alby. "Duh, pusing kepalaku." Sebentar pelipisnya dipijat lembut oleh Alby.
"Aku mau kerjakan tugas sekolah Bunda." Alby berdiri dari duduknya, sejenak meregangkan otot.
"MasyaAllah, anak gantengku rajin dan sholeh."
"Aamiin." Setelah meraih kunci motornya, Alby menangkup pucuk kepala Bree yang sedari tadi menatap dirinya. "Aku pulang."
"Makasih, Bi."
"Sama-sama, Bri."
Bree bersungut merapikan rambut yang diacak Alby sebelum keluar. Dia melihat Alby mematung di depan pintu, keduanya sekali lagi saling menatap.
"Kelupaan apa?" Ekor mata Bree menyisir meja, sofa tempat duduk Alby tadi, juga lantai seraya beranjak dari sofa.
"Nggak ada. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Bree berlalu dari pintu setelah Alby menuruni tangga. Bree ingin mandi dan merealisasi rencana tidur yang sejak pagi tertunda.
****
Bree berkali menghela napas, masih menunduk memejamkan mata, berdiri dengan sebelah tangan di rak helm, tangan satunya berkacak pinggang. Tadi kepalanya tiba-tiba pusing saat meraih helm, pandangannya berkunang, pijakan kakinya terasa dingin menjalar naik ke tubuh.
Bree menarik turun helmnya dari rak. Perlahan melangkah dengan pandangan memburam.
"Ke mana?"
"Astaghfirullah, Mas!" sentak Bree kepada pria jangkung berambut gondrong berdiri dekat pintu.
Tadi Bree sempat menoleh ke pintu saat Surya melangkah depan kamar loker sambil bersuara, lantas membuat jantung Bree berdetak kencang, nafasnya memburu, darah panas mengalir ke seluruh kepala.
Tadinya Surya akan ke dapur, melihat Bree berdiri di kamar loker dengan penampilan siap pergi membuatnya bertanya, malah mendapati Bree kaget antara mendengar suaranya atau melihat dirinya lewat. Surya berhenti dan menengok Bree yang sedang mengatur napas.
"Apa aku begitu menakutkan?" Surya cengengesan di tengah keheranannya.
Pandangan Bree sudah tidak memburam, tapi kini kepalanya berat dan suhu dingin seolah bertabrakkan dengan suhu panas di tubuhnya, Bree sejenak duduk. Dia sering kliyengan, terutama ketika bergerak gesit. Dan entah kenapa dirinya selalu kaget oleh sosok atau suara Surya yang tiba-tiba muncul.
"Nggak ngerti, Mas Surya sering banget bikin aku kaget."
"Lawong kamu aneh." Surya beranjak ke dapur. "Aku gak kagetin kamu, kok mesti lo kaget," terang Surya masih dengan kekehannya.
Jadwal shift Surya di cofigaming libur. Surya memiliki tambahan pekerjaan ojek online. Surya sangat rajin hampir tidak memiliki jam tidur, kecuali pagi dengan 3 jam istirahat. Itupun dipakai mendekati sang anak. Surya sudah berkeluarga dan dua anaknya masih kecil.
"Tadi kamu dapet orderan ke arah sini ya, Mas?"
"Iya."
"Aku buatin kopinya?" pinta Bree melihat Surya yang berjalan ke meja Bar.
"Udah, aku sendiri. Sambil nunggu orderan berikut, aku singgah aja di sini."
"Semangat, Mas Surya! Bagai matahari yang berperan penting menjadi pusat tata surya, Mas Surya juga diberi peran penting sampe topcer dua anak!"
Bree tersenyum lebar memberikan semangat Surya dengan acungan jempol.
"Aduh!"
Bree mengelus kepalanya setelah Surya gemas menjitak. Bree pun memilih diam.
__ADS_1