
Rumah telah lama ditinggalkan. Tidak ada seorang pun mengotak-atik segala isinya sampai banyak yang kotor juga berkarat. Bree khawatir rumah mamanya terbengkalai lebih buruk lagi.
Alby mengintip Bree sedang berada di celah sempit, balik tumpukan bata kasar dan hampir menghimpit tembok yang menghubungkan rumah tetangga. Jika badan tergores itu akan perih.
"Ada apa di situ, Bri?"
"Kran ledeng. Dia macet, karatan."
Ternyata Bree blusukan di rumpun berbatang semu. Alby ingat cerita Bree kalau mamanya hobi bertanam dan menghabiskan waktu mengotak-atik tanaman. Mirip anak perempuannya yang Alby kenal, selalu selo merawat tanaman sampai jadi rutinitas. Ya, halaman rumah ini penuh tanaman.
"Keluar." Alby mengkhawatirkan Bree. "Itu nyusul. Kita beli air galon aja."
"Mahal, Bi." Perlahan Bree keluar dari celah.
Frustasi! Kesusahan memutar kran dengan posisi membungkuk terjepit membuatnya pegal dan sesak. Bree menghela napas menenangkan diri karena dia keliyengan.
"Capek perjalanan. Ayok istirahat. Setelah itu kita bereskan apa yang perlu dilakukan dulu."
Ide terbaik karena memang lelah. Perjalanan yang seharusnya 3 jam motoran malah sampai 4 jam lebih. Tadi tiga kali singgah di kedai dan di pom dengan waktu lumayan lama. Hampir serupa naik bus. Naik bus malah stres, itu kenapa Bree malas pulang-pergi.
Berdua mengobrol di ruang tamu, ditemani camilan bekal dan kopi botol varian rasa yang tadi dibeli di market pom. Alby lega oleh tawa Bree. Seperti dulu Bree selalu lepas banyak cerita, bermanja, tanpa ada canggung. Alby sangat nyaman kalau Bree merasa leluasa dengannya.
Tetangga Bree datang acak. Jam lalu lalang. Bahkan hanya lewat saat menoleh ke pintu terbuka kemudian mendekat. Alby juga berkenalan dengan dua orang ibu. Salah satunya memeluk Bree cukup intim. Bree menyebutnya Bude. Rumah beliau di pinggir gang di deretan depan, rumah pertama masuk gang. Rumah Bree nomor dua. Bree sempat lama mengobrol di tepi gang depan rumah. Alby merasakan kehangatan di sini.
"Aku penasaran keliling di sini, Bri."
Dulu perumahan ini sangat asri. Pepohonan rindang meneduhi pinggir jalan. Tiap rumah selalu ditemui pohon berbuah. Di ujung perumahan disebut tahap tiga, tempatnya dolan dan nongkrong. Di sana paling pojok, batas hunian dengan berpetak-petak tambak. Waktu malam hari, di ujung tahap tiga bisa melihat kerlap kerlip lampu kapal di kejauhan. Karena setelah tambak sudah lautan lepas. Itu wilayah pelabuhan. Kalau rumah Bree terletak di tahap 1.
"Sekarang banyak jalan becek, Bi."
Lokasi banjir kerap ditimbun tanah. Belum sempat diratakan dan diblok sudah rusak duluan akibat air meluap tidak permisi, tanpa kenal waktu dan tinggi tiba-tiba.
"Jalan kaki. Sore." Alby sangat ingin dolan.
"Sini luas banget. Banyak tetangga desa masuk juga nyasar, meski udah diancer jalanan lurus nggak usah nuruti belokan gang."
"Cari makan, Bri?"
"Ayok."
Gas di rumah ini habis. Dapur juga kacau. Sampah tercecer sampai nyelempit hampir tertanam tanah. Kulkas ambruk.
Bree mengajak Alby ke warung yang tersedia salad Nusantara, gorengan, juga ada kolak dan es campur.
Alby pesan dua porsi tahu gimbal dan seporsi petis kangkung. Menginginkan antara dua menu itu karena mumpung berada di sini, Bree lama menentukannya, akhirnya Alby pesan sekalian. Dua mangkuk kolak juga tersaji. Kolak santen dan kolak setup.
"Seger setup, Bri."
"Iya. Kalau santen kan seret."
"Nggak bosen kolak santen? Kan mumpung nemu setup."
"Nggak begitu doyan."
Bree mengobrol dengan seorang mbak, kebetulan sedang menunggu pesanan dibungkus. Ibu penjual juga menyambung. Alby menyimak obrolan mereka membicarakan anggota keluarga Bree dan perihal rumah kosong.
Membeli isi ulang air dalam 2 galon. Seingatnya ada 3 galon di rumah. Mungkin terbawa banjir mendengar pintu sempat terbuka lebar oleh arus rob. Bisa juga diambil tetangga. Ada suuzan karena barang rumah sering tiba-tiba berpindah ke rumah tetangga. Cukup untuk membasuh badan.
Lagi-lagi Bree sempat mengobrol dengan beda orang bagi Alby. Usia muda juga tua dan bapak-bapak juga ibu-ibu tampak akrab dengan Bree. Ternyata orang-orang di perumahan seluas ini saling mengenal.
"Mamah warga lama, Bi. Di rumah ini pemilik pertama setelah pembangunan."
"Aku betulan penasaran. Keramaian di sini nyenengin. Nanti keliling sekalian cari makan malem?" Alby masih ingin, Bree tersenyum mengiyakan. Netra mereka bertemu.
Andai Alby tidak terus meyakinkan perasaannya yang membuat Bree ingin membalas perasaan itu. Andai Alby bisa bersikap, memilih Rima namun dengannya tetap seperti awal, atau memilih Bree namun sikap tidak dirubah kebiasaannya. Bree masih menerima kebersamaan dengan Alby. Toh Bree tidak menuntut.
Bree hanya kecewa ketika Alby seolah menguasainya sampai tidak leluasa bersama teman-temannya, tapi Alby masih menginginkan Rima dalam hubungan itu. Apa sebetulnya yang Alby inginkan?
Bree menghela napas memalingkan tatapan karena matanya memanas. Berdiri di ruang tamu pandangan menjelajahi setiap sudut. Rasanya kangen mama. Kangen tinggal di rumah dengan suasana masa kecil.
Semua selalu tidak seseru dulu.
__ADS_1
Apanya yang tidak seru? Alby atau perumahan ini? Ya keduanya. Berdua sama Alby sudah tidak nyaman. Membahas perumahan ini sudah tidak ada yang asik. Semua tinggal kenangan. Banyak pahitnya.
Bree ingin berbenah rumah saja. Melihat tumpukan 3 trash bag di kursi tamu menambah kesalnya. Kain-kain rusak juga kotor sudah disatukan rapi masuk situ hanya tinggal buang, malah sudah didedel lagi. Malas mencuci pakaian sendiri membuat yang ingin dibuang kembali berantakan. Mau berapa tahun lagi? Ada anggota pria yang memiliki kendaraan tidak mikir untuk segera membersihkan.
Bantal dan guling serta kasur lembab berjamur. Seprai masih berada diantaranya tanpa disingkirkan saat menggulung kasur. Semua tertumpuk. Bree ingat setelah kepergian mamanya, sebelum dia kembali ke provinsi luar, seorang diri membersihkan yang tidak diperlukan sementara adik-adiknya entah inginnya apa.
Halaman rumah penuh berantakan sampah plastik dan daun yang terjebak tanah. Tanaman mamanya banyak rusak. Sayang. Sedih. Bree tidak mungkin mampu menyelamatkannya. Sesaat terbawa emosi air matanya luruh. Bree bergerak sementara menahan tangis.
"Bri?" Alby membungkuk menyembulkan muka di mulut pintu.
Alby sejak tadi memperhatikan keluar jendela dan melihat Bree memunguti sampah sambil menahan air matanya tidak jatuh. Ingin membantu tapi gadis itu menolak mengaku juga bingung memulai dari mana dulu. Alby beranjak dari kursi tamu.
"Nggak usah dipaksa, pasti capek."
Sampah-sampah akan susah disapu sekalipun dengan lidi.
"Ngurangin aja, Bi. Pasti sampah datang lagi pas rob."
Lumayan lama berkutat sendiri asal tidak bertumpuk juga berserak. Bree menyudahinya lalu basuh-basuh. Alby memberikan minum.
Bersantai bersama ponsel sesekali diselingi obrolan. Menonton berdua di ponsel Alby. Notif pesan masuk dari Rima digeser oleh Alby. Alasan menonton. Bree kesal dengan sikap pengecut Alby.
"Kamu cuma nggak usah pake bohong, Bi."
"Aku sama dia waktu itu kres. Dia masih WA aku, ya aku biasa WA dia. Tapi karna ngerasa baik-baik baru kami mencoba lagi."
"La kan dulu kamu santai apa-apa cerita ke aku. Aku nggak minta itu. Sekarang kamu udah beda lo, Bi. Ya perubahanmu udah nunjukkin kita nggak perlu deket lagi."
"Nah. Itu mau kamu?"
"Itu maunya semua orang. Nggak ada pacar yang bisa terima dikhianati. Terus kamu, aku, satu lingkungan kerja. Ditambah istrinya sahabatmu brengat-brengut ke aku, sahabatmu juga bagian lingkungan kerja. Aku nggak nyaman."
"Semua karna mulut Sari."
"Sari nggak salah. Dia perantara buat aku sadar diri nggak ngarepin kamu. Kamunya perbaiki hubungan sama Rima. Tapi kamu, Ilham sama Levi beda ke aku, kayak diem-diem jaga jarak sama aku. Eh kamu bisa lebih romantis sama Rima." Bree memasang senyum.
"Aku udah biasain sendirian lagi lo, Bi. Ya aku cuma punya temen-temenku. Kamu malah kayak jauhin aku dari mereka."
"Penasaran gimana maksudmu?" Kali ini Alby bersuara.
"Kamu kan sama Rima jarang ketemu. Katamu jauh. Kamunya sering ketemu aku, mungkin karna aku gampangan. Begitu aku mulai pede, sesuai katamu kalau aku ada perlu apa kudu diutarakan jangan dipendam, eh kamunya nggak sesuai omongan. Itu nggak komitmen, Bi. Syukur aku belum jual diriku ke kamu ...!"
Bree reflek menghindari tangan Alby yang terangkat.
"Aku kenal kamu tanganku enteng pingin melayang!" Gigi Alby mengerat bicara lantang tapi suara ditahan. Raut menggeram wajahnya merah oleh marah.
Dada Bree berdegup kencang.
"Aku benci kamu, Bi!" Bree menahan suara. Dalam rumah bisa terdengar keluar. "Aku benci sikapmu!"
"Aku emang penipu, Bri! Iya! Aku pengecut!" Alby memukul dada.
Alby seperti tidak memiliki pembelaan. Bree sinis.
"Kalau akuin itulah kamu, alasanmu apa buat aku diboseni temen-temenku? Setiap aku sama mereka selalu kamu gangguin."
"Bilang kalau kamu keganggu!"
"Awalnya cuma takut kamu ngomel. Kebiasaan aku memang takut kamu marah. Aku sih tau kamu nggak pernah, cuma kesel. Malah kamu ngampiri ke rumah temenku. Mereka ngiranya aku memang punyamu."
Alby diam.
"Aku syukur kamu jagain, Bi. Aku memang males keluar wong nyaman mager di kamarku. Tapi pas mendadak ngeri sendirian aku milih keluar. Aku seneng pas kamu dateng. Yo cuma khawatir apa pemikiran anak-anak lainnya, terutama sahabatmu yang tau kamu punya Rima."
Alby masih diam.
"Kamu pernah khawatir kalau aku kenapa-napa ulah pria-pria itu? Bi, bisa jadi kamu yang ada maksud apa-apa ke aku?"
Bree membelalak kaget Alby bereaksi mendekat. Kaki kanan Bree akan turun tapi Alby mencekal tangan kirinya, ditahan tidak menghindar. Tatapan keduanya lekat. Tubuh Bree didesak bersandar tembok. Bree menekuk kaki hingga lututnya mengenai dada Alby ....
"Bi!" Bree rebah kakinya ditarik Alby dengan cepat. Tangan yang dipegang Alby terasa sakit dieratkan ke kasur.
__ADS_1
"Aku kecanduan peluk Bri," lirih Alby suaranya berat. "Aku pengen rasain tubuh Bri."
Jantung Bree berdegup cepat, wajahnya merasakan napas Alby berhembus dekat. Bree mendorong dada Alby dengan satu tangannya namun berat, justru Alby makin mengeratkan tangan yang ditahan. Kaki Bree dikunci lutut Alby.
"Aku benci urusan sama kamu, Bi!"
"Bri urusanku."
Bree meninju dada Alby. Tidak berpengaruh Alby bisa menahannya.
"Aku penasaran, Bri."
"Brengsek!"
Bree menampar dan memukuli Alby tapi tangannya ditarik cepat. Kini kedua tangan Bree digenggaman Alby seiring wajah turun semakin mendekat. Matanya menatap sayu. Tubuh Bree meremang saat Alby menciumnya.
Air mata Bree luruh memberontak dari kungkungan Alby. Dua tangan Bree kuat ditahan ke tembok dan kepala dicengkram Alby mempertahankan ciuman.
"Ampun, Bi ...," mohon Bree pada Alby yang menciumi lehernya. Kepalanya sakit oleh ujung jemari Alby.
Alby mengerutkan alis menatap Bree sesenggukan.
"Enggak, Bi ...." Bree masih memohon pada Alby yang menatap sayu.
Kerongkongan Bree ngilu. Alby kembali menciumnya. Bree memberontak tubuhnya dikuasai Alby di kasur.
"Heng?"
Alby menatap Bree yang tersengal-sengal.
"Udah."
Alby kembali menciumi Bree. Kali ini meninggalkan jejak ciumannya di bawah bahu Bree.
"Sakit." Gigi Alby menggigitnya.
Alby kembali menatapnya. Alis Alby terangkat dan bibirnya menyungging sinis yang samar. Badan Bree sakit semua. Bree lemas.
Alby melihat Bree melemah. Air matanya deras mengalir dan sesenggukan. Tidak ingin berhenti, Alby meraba perut Bree yang bajunya sedikit tersingkap. Bree menamparnya setelah berhasil melepaskan satu tangan.
Mata Alby tajam menatap kesal, bibirnya mengatup geram. Otot-otot Bree terasa lemas saat Alby kasar membuatnya tangannya terkunci. Alby menciumi perut Bree .... berdesir hebat darah Bree.
"Alby!" bentak Bree.
Alby tidak perduli.
"Cukup, bangsat!"
Alby masih tidak perduli, ciumannya mulai ke bawah pusar, sesaat Bree menegang. Bree tidak mampu berteriak kencang.
"Ampun, Bi .... Aku mohon ...."
Alby merasakan tubuh Bree semakin lemah dan lembab keringat dingin. Alby menghentikannya. Bree sudah basah keringat. Perlahan Bree berhasil lepas dari Alby kemudian miring meringkuk. Alby menghela napas menjejeri rebah dan miring menghadap Bree yang memejamkan matanya menggigit bibir. Tangis Bree mereda namun air matanya tidak berhenti mengalir.
Napas Alby terasa di wajah, Bree membuka mata menyorotkan amarah pada pria brengsek itu. Bree beringsut mundur hanya mampu berpindah arah miring membelakangi.
Merasa bersalah, iba tapi ingin marah, Alby memeluk pinggang Bree lalu menariknya kasar. Bree terpekik. Sesaat tubuhnya yang lelah sedikit hangat dipelukan Alby.
Bodoh! Masih saja terbawa perasaan oleh pelukan Alby. Bree dengan kasar menyingkirkan tangan Alby dan beranjak dari kasur. Alby bangkit. Tubuh Bree lunglai menjauh dari kasur kamar depan.
"Peluk Rimamu!"
"Rima! Rima! Urusanku sama kamu belum selesai!"
Bree ke kamar belakang melalui dinding penyekat yang tidak berpintu. Bree tidak meresponnya. Terlihat Bree menggelar kasur ke ranjang lain. Kasur itu berjamur. Di kamar itu kasur-kasurnya tidak layak pakai.
"Gitu caramu? Siapa yang menghindar?"
Bree ingin tidur. Meringkuk berbantalkan sebelah tangan. Suara Alby membuatnya ngeri. Bree menutupi telinga dengan tangannya.
Alby masih menatap yang hanya kelihatan pucuk kepala Bree membelakanginya. Keseluruhan Bree tertutup tembok pembatas. Alby menghela napas besar. Dirinya masih marah namun tatapan iba Bree membuatnya mengalah. Alby merebahkan tubuhnya.
__ADS_1