Jangan Katakan MAAF

Jangan Katakan MAAF
09


__ADS_3

Bree menoleh mendapati Alby meneguk kopinya.


"Bi, tolong jangan sering ke sini untuk aku."


Alby mengernyit menatap mata sayu gadis di hadapannya yang sedang menerawang lantai. Dagu dari wajah diamond itu diraihnya hingga empat mata saling bertumbuk.


"Aku nggak mau jelaskan lagi. Aku yang punya perasaan ini. Nggak perlu Bri ambil pusing."


"Aku bukan anakmu. Aku bukan adikmu. Aku bukan kekasihmu."


Bree sebetulnya mulai ada perasaan nyaman bersama Alby. Harus secepatnya disingkirkan sebelum hubungan Alby bersama Rima rusak karenanya.


"Haruskah?" tanya Alby.


Bree mengernyit menatap iris coklat terang pria di hadapannya yang sudah menarik perasaan, merasa telah terkunci dan ingin bertahan. Tapi nanti dirinya akan egois. Bree mulai manja bergantung dengan pria berkulit putih ini.


Alby menatap lekat netra beriris gelap Bree. Ingin sekali merengkuh pemilik tatapan yang selalu sendu, kapanpun, sekalipun tidak sedang bersedih. Bree kerap terlihat berpikir banyak hal, menuruti perasaan minder, melamun. Alby sungguh ingin menemaninya sepanjang waktu.


"Aku bukan pengidap kanker."


"Tapi pengidap rusak hati."


"Astaghfirullah, Bi."


"Bree Deli Liana gadis sehat dan kuat. Nggak ngerti kenapa aku diharuskan menjaga gadis itu, meskipun dia slebor, dia konyol. Mungkin karena dia antik."


"Apa Bree Deli Liana gadis boneka?"


"Mungkin. Dia nggak lucu kayak boneka sih."


"Atau robot yang harus dirawat manusia?"


"Dia sendiri yang merobotkan diri."


Bree tertawa kecil.


"Soalnya dia sederhana, perawatannya nggak mahal meski merusak diri sendiri. Mungkin dia selalu sibuk karna ingin mengalihkan diri dari pikiran aneh-aneh."


Bree terdiam. Dirinya pun tidak mengerti apa yang diinginkan.


"Turun yok Bri?"


Alby mensejajarkan cangkir kosong di tengah meja, mengelap bercak di permukaan meja dengan tisu dan mendekatkan asbak diantara cangkir. Kopi sudah habis.


Bree menuruti langkah Alby keluar. Halaman parkiran tampak penuh, juga terdengar keramaian di outdoor. Bahkan di meja dekat bar disinggahi teman-teman CofiGaming sedang mabar bersama Levi. Kevin pun ikut serta.


"Ramainya."


"Ya ampun, turun aja minta dititah," ledek Surya membuat Bree mendesis.


"Woah!" Bree sumringah melihat banyaknya botol hijau 600 ml tergeletak di meja. Pantas saja ponselnya penuh notifikasi pesan dan panggilan dari mereka.


Setelah membalas sapa salam jotos, Bree menarik kursi dan duduk menimbrung. Sudah ada dua botol kosong yang artinya mereka sudah lama di sini. Bree mengangkat botol yang baru dibuka tertuang sedikit, dengan tersenyum penuh arti memperhatikan satu-satu teman. Malah mendapati mereka tertawa melihat kelopak matanya membintit sempurna.


"Jangan minum, Del, tambah habis itu mata kamu."


"Tidur! Malah nimbrung."


"Malah kamu bangunin?"


Jari Alby mengetuk pelan kepala Bree yang menuang isi botol ke gelas.


"Melek kok. Aku cengkiwing ketimbang dia kayak anak kucing ngringkuk di kandang."


"Bismillah." Bree meneguk sebagai pembukaan dirinya. Sebelah tangannya reflek mengelus kening juga telinga yang diserang Surya dan Yosef. Sedang teman lainnya melongo.


"Ini jahat, nggak pantes minta berkah."


"Sengaja merusak diri kok minta perlindungan."


"Biar nanti langsung datang tambahan, setelah ini habis."


"Masih banyak, Briii!"


"Bobol brankas! Lanjut!"


Levi melihat Bree menyerahkan tuangan berikut ke samping.


"Kebalik. Sini, muternya."


"Oke." Bree alihkan sodoran gelas ke sebelah kiri dirinya, sambil berdendang. "Terima gelas Baaang ...."


"Asek!"


Gadis pendiam tapi polahnya tidak disangka-sangka membuat ribut. Kehadiran Bree menyenangkan mereka. Andre yang berjaga shift 1, ikut sesekali minum, tentu dengan tanggung jawab.


Musik warnet yang mengisi ruangan dan riuh obrolan manusia yang memenuhi meja cafe, dikalahkan berisik suara game dari smartphone masing-masing. Mereka yang mengantri bilik kosong dengan sabar juga asik mabar. Gelegar kendaraan yang lalu lalang di jalan depan ikut meramaikan malam.


Hingga mabar terhenti disusul 11 botol minuman fermentasi habis. Sejenak obrolan disertai berbenah tempat, menutup waktu dini hari, kemudian membubarkan diri.


Bree terhuyung menapaki anak tangga diikuti Levi dan Alby. Di belakang, Levi berjaga-jaga gadis itu bisa terjatuh, meski yakin seorang Bree selalu pandai mengontrol diri. Tetapi tentu si doyan tidur tekatkan malas efek menguatnya kantuk dari alkohol tadi. Alby meraih lengan Bree sebelum menarik guling, menuntunnya ke kamar mandi untuk bebersih.


Dengan lemas Bree meraih selimut. Levi yang selesai membersihkan diri, membanting tubuh di kasur, menyerahkan guling kepada Bree.


"Makasih. Guling bantal kalian ambil sendiri di lemari kamar."

__ADS_1


Alby baru keluar dari membersihkan diri, menemukan Bree melangkah masuk kamar, sedangkan Levi sudah memejamkan mata.


***


Alby meraih ponselnya yang menggetarkan kasur dan mematikan alarm pagi yang berisik. Pergerakannya mengusik Levi yang juga terganggu oleh deringan alarm dari ponsel sendiri. Mereka terduduk saling berpandangan karena masih ada satu lagi ponsel berisik yang belum disudahi pemiliknya.


Seseorang meringkuk terbungkus rapat dalam selimut. Levi dan Alby tertawa kecil memperhatikan wajah lelap gadis yang entah sejak kapan berada diantara keduanya.


Levi membangunkan Bree yang hanya bergerak sedikit kaget tanpa membuka mata. Alby datang dari kamar membawa ponsel milik Bree yang masih bunyi alarm, diletakkan depan mukanya yang tidur miring, tapi getaran dan berisiknya alarm tidak mengusik pemiliknya. Alby memindahkan ponsel ke lengannya yang terbungkus selimut, tetap tidak tergugah.


"Bre!"


Tepukan lembut pada pipi Bree hingga tepukan kencang bahkan tepukan berkali diusahakan Levi untuk membangunkannya, Bree hanya menggeliat, berganti arah. Tetap terlelap. Levi harus mengurus biji kopi pagi ini, dia pamit memasrahkan Bree kepada Alby.


Dengan sigap Alby menggendong tubuh Bree ke kamar mandi, didudukan dekat bak mandi. Heran sekali Bree kembali memejamkan mata setelah terbuka sejenak. Alby meraupkan air ke muka Bree membuatnya tersadar.


"Bangun, Bri."


"Duh, adem."


Bree bergerak sekedar menyandarkan tangan ke mulut bak dan menyandarkan kepala di sebelah lengan. Sungguh matanya berat untuk dibuka.


Alby yakin kantuk masih membuat malas, apalagi kondisi Bree mabuk. Sekali lagi Alby gunakan air dicipratkan ke muka lelah Bree. Empat kali usaha akhirnya Bree terbangun.


"Mandi."


Decakan lirih terdengar dari mulut Bree yang menekuk kedua tangan di atas lutut untuk menenggelamkan muka di sana.


"Aku udah bangun, tungguin bentar, Bi."


Alby keluar mengambilkan air hangat untuk dirinya minum, lalu memberikan kepada Bree walau berat hati di dalam kamar mandi. Untungnya Bree sadar posisi, kebiasaan basmalahnya tidak terucap.


"Kelewat subuh, Bri."


"Oke, aku mandi, Bi."


Alby mandi dan berwudhu di kamar mandi bawah. Kemudian salat di musala lantai dua. Alby sungguh dibuat geleng-geleng kepala menemukan Bree tertidur di atas sajadah dengan mukena terpakai.


Levi datang menengok Bree yang tergeletak tak berdaya di kamarnya, berselubung mukena, beralaskan sajadah. Alby yang tadi di bawah mengejus buah pisang, sudah tiba di lantai dua.


"Masih kena efek sedatif." Levi tertawa menunjuk Bree.


"Dasarnya narkolepsi." Alby menggoyangkan lengan Bree sampai terbangun.


"Jam berapa ini?" Levi menunjuk jam dinding, meminta Bree memperhatikan jam itu.


Bree mendongak tengok jam. "Jam tujuh."


"Jam berapa cafe buka?" Levi menunjuk lantai, dengan polosnya Bree menoleh ke lantai membuat dirinya dan Alby tertawa.


Bree menutup wajah yang malu sempurna dengan tangan masih diselubung mukena, tertawa konyol disela istighfar lirih. Dirinya seperti terhipnotis jari Levi. Kedua pria itu sudah membuatnya jadi bahan guyonan.


"Sudah cek stok?"


Bree terhenyak bangkit, dia lupa kemarin dipasrahi stock opname.


"Duh!" Kepalanya mendadak pusing.


Bree tegakkan punggung menekuk lutut, perlahan mengatur napas memijat ujung jembatan hidung. Kepalanya sedikit menengadah dengan siku tangan ditopang lutut. Sejenak membuka mata, meringis kepada Alby yang berjongkok memijat sebelah telapak tangannya.


"Wonder woman ngelag. Minum, Bre." Levi mengulurkan air putih hangat dan diminum Bree.


"Udah, Bi. Makasih."


"Makasih, Lev."


"Habiskan dulu jusmu, baru siap-siap."


"Jus apa?" Bree menyusul keluar kamar setelah merapikan mukena dan sajadahnya.


"Diminum Alby apa Levi aja?"


"Aku, udah."


"Punyaku masih, di bawah."


Alby sengaja membuat seteko jus pisang untuk siapa saja yang ingin meminumnya. Mengingat semalam banyak yang pada mabuk.


"Iya, aku minum." Bree kembali masuk kamar untuk bersiap kerja. Setelah mencuci mukanya yang terasa kuyu, dia turun membawa gelas jusnya.


"Lev! Apa kopinya udah datang?"


"Udah, Bre!"


Levi yang tadi mengambil makan, membawanya turun menyusul Alby dan Bree.


Alby membantu prepare sementara menunggu Ilham. Pagi ini Bree bersama Levi yang bekerja. Ilham datang mengecek laporan stok dari Bree. Rencananya apa yang habis akan segera dibeli sekalian mengurus pembelian material.


"Selamat pagi, Kak!" Levi menyapa customer yang masuk, kemudian terkikik karena terkecoh mereka user warnet.


Tiga pemuda itu melewati Bree yang sedang merawat tanaman. Senyum sapa saling bersahutan.


"Sekalian dipesan kopinya, Mas."


"Thanks, Kak."

__ADS_1


"Nanti, nyusul."


Bree menoleh ke Levi dengan julurkan lidah. Levi melempar kain serbet kepada Bree. Titis sekali lemparannya tersampir di tangan Bree yang menekuk siku.


Tidak lama, seorang dari tiga pemuda tadi mendekati bar memesan 2 kopi serta 3 roti panggang. Bree bergegas meraih memo yang ditempel di register untuk segera ke dapur.


"Selling skillmu boleh juga," puji Levi.


"Alhamdulillah. Rezeki cafe salih. User gak pengen minum juga sellingku nggak guna."


"Anak pinter." Levi bangga mengacak pucuk kepala Bree yang rambutnya dikuncir setengah ekor kuda. Menambah manis gadis berwajah tirus itu.


"Kakak beli tanaman lagi?" Siska masuk dapur langsung menuduh Bree.


Dua orang pengantar tampak menurunkan beberapa pot tanaman hias dan tanaman buah dari mobil pick up.


"Mas Ilham?"


Siska mengangguk serta mengangkat dua bahunya. Mungkin ownernya yang beli karena seniornya sudah memberi jawaban yang artinya bukan dirinya.


"Simpan uang gaji Kakak!"


"Aku simpan, sayang."


Siska lah yang pertama mengomel kala Bree membeli tanaman. Apalagi tanaman itu diletakkan di ruang cafe dan warnet.


Lucunya, Siska kerap membelikan keperluan bulanan pribadi Bree dan selalu menolak diganti uang ataupun diganti keperluan pribadinya.


Siska telaten mencacah sayuran yang digunakan untuk spring roll dengan menyambi membuatkan pesanan jus. Bree belum bisa membantu karena menyambi gorengan pisang dan rice bowl di samping roti panggangnya.


"Aku yang antarkan rotinya. Bilik 8, kan?"


Gadis ceria itu mencium pipi Bree tanda ijin meletakkan lepek roti panggang ke tray.


"Banyak lo, Ka."


"Gunanya apa dua operator? Lima kali bolak-balik nggak akan ganggu pelayanan. Kakak ada tugas tambahan, tuh atur letak tanaman bos!"


Bree tertawa menyimak monyong Siska. Kalau dipikir memang ALIF CofiNet sudah mirip kebun. Sudah tentu anak-anak kepayahan menyapu dan mengepel lantai ruangan yang dipenuhi kaki-kaki rak tanaman.


Dan ya, Siska bahkan sekalian mengantarkan pesanan lainnya, merebut tugas Bree, menimbulkan keirian Levi. Siska ini gadis cerewet yang ringan sekali menyahut perintah owner.


"Mas Levi cuma berdiri di bar lo. Kakakku kan banyak sekali kerjaan dan aku juga banyak kerjaan."


Bree tertawa menang menyaksikan keseruan mereka beradu canda. Bree menata tanaman, apa yang perlu dipindahkan, mana ruangan yang tampak gundul, bagaimana letak cocoknya, sebelum memasukkan tanaman yang baru datang. Untuk tanaman buah tentu diletakkan di teras dan halaman, kecuali jeruk santang madu.


Lucu sekali tanaman bonsai itu, apalagi mungilnya jeruk santang sudah tumbuh penuh meski belum kuning. Gemas. Tanpa planter bag dan pot ukuran sedang sudah tentu menarik diletakkan dalam ruangan.


"Aku ngerasa ada di dalam kebun."


Levi tertawa dengan gumaman Bree. Dirinya hanya membantu mengangkat pot besar. Bree selalu tidak ingin diganggu jika sudah berkehendak. Toh pengamatannya selalu cocok dengan keuletan gadis itu.


"Bismillah, buka cabang cafe rumah kaca."


"Aamiin." Bree sumringah menatap Levi.


Levi terkikik melihat mata Bree berair. Gadis itu memang unik, sedikit saja merasa senang bisa seperti menangis.


Memang Bree mirip anak kecil yang banyak mimpi kehidupan komik. Lihat saja rooftop bisa disulap kebun bunga. Kursi outdoor hilang satu dibawa kabur dan disulap jadi singgasana putri dibawah naungan Antigonon Leptopus, tanaman rambat yang orang sebut air mata pengantin. Punggung kursinya juga dirambati tanaman berbunga mungil serupa jantung berwarna merah muda itu.


"Gedungnya kayak di kinokimi, konsep indoornya pake retrorika, Lev."


"Kebakar, Bre!"


Atap dan dinding kaca memberi efek panas dan pengap. Rumah kaca juga berdampak merusak bumi. Bree meringis membayangkan perabot kertas yang terpapar sinar matahari dalam kaca.


Sorenya Ilham dan Alby datang. Ilham terpukau oleh ruangan yang sudah terasa sekali perkebunan. Tidak salah mempercayakan Bree mengurusi tanaman.


"Dibuat jus jeruk."


Tanpa ekspresi Ilham berceletuk random jemarinya mengelus buah jeruk santang.


"Tinggal metik," terang Levi masih dengan tawanya.


"Menghitung hari udah panen," timpal Alby.


"Tak jual."


Mendapat tatapan ketiga ownernya, Bree nyengir.


"Pasang CCTV." Alby menunjuk satu-satu buah.


"Ya Allah, segitunya."


"Ini juga investasi, Del."


"Ya ampun, gan." Bree tertawa heran sama ownernya. Dihargai semua.


Ke empatnya berkumpul di satu meja. Masing-masing bekerja selagi sepi order. Levi dan Alby berkutat depan laptop. Bree mencatat pendapatan di buku besar, sedangkan Ilham membaca laporan masuk termasuk kritik saran usahanya lewat ponsel.


***


"Aku nggak bisa terus-terusan bergantung sama Albi."


"Terus milih barengan sama teman-temanmu yang nggak jelas?" Alby menatap tajam tatapan Bree.

__ADS_1


__ADS_2