Jangan Katakan MAAF

Jangan Katakan MAAF
17


__ADS_3

Tangan Bree gemetar, ponselnya ditaruh meja kasir. Cukup keras terbanting. Untung sepi. Emosi sekali dirinya saat ini. Bree berdiri dari duduk.


"Kamu nggak enak badan?" Mendadak Levi mendekati Bree.


Bree mendesis dan mengernyit seperti ingin menangis. Kening dan lehernya berkeringat. Ya, Bree memang menangis. Kini mematung menatap dirinya.


Bree tercenung dikagetkan kedatangan Levi saat matanya memanas. Belum sempat menghindar sudah ketahuan dirinya menangis.


"Lev ...," lirih Bree.


Levi melihat Bree mewek. Bree tidak pernah cengeng.


"Ada yang sakit?" Levi menempelkan punggung tangannya ke kening Bree. "Dingin banget, Bre?"


Bree kejer.


"Yok naik." Levi meraih lengan Bree.


"Nggak mau." Bree menyingkirkan tangannya dari Levi dan bersandar tembok.


"Naik dulu buat istirahat."


"Aku nggak berguna, Lev?" Tubuh Bree lemas lalu jongkok.


"Ngomong apa sih?"


"Aku benci!" Tangis Bree kejer meski berusaha ditahan.


"Kamu kenapa?" Levi memastikan sekali lagi lebih dekat kepada Bree yang berjongkok di lantai. "Ka! Siska!"


Siska muncul dari warnet setengah berlari. "Ya, Kak?" tanyanya melihat Levi merukuk di balik meja bar. "Kak Bri!?" Siska gegas mendekat di posisi Levi, sedang ownernya itu berpindah sisi lain.


"Kakak kenapa? Ada yang sakit?" Siska melihat Bree sedang payah.


"Bujuk naik, Ka," pinta Levi.


"Kak ...."


"Aku nggak papa. Aku bodoh!"


"Nggak ada orang bodoh, Kak. Ayok Kakak ke atas?"


"Yok, Bri?"


Bree mendongak menatap kedua orang di dekatnya. Dia sesenggukan.


"Aku pingin jus ...."


"Ya Allah."


"Ya Tuhan, Kakak."


Levi dengan Siska tertawa.


"Tak buatin jus. Kamu istirahat sana."


"Yok, Kak. Sama aku?"


Bree mengelap air matanya hendak berdiri. Ada Kevin mendekati bar.


"Kakak sakit lagi?" tanya Kevin, hanya gelengan Bree yang dia dapat.


"Lagi manja itu, Vin." Levi terkekeh dibuat geleng-geleng ulah Bree.


Bree sadar malu.


"Aku masih mau di sini, Ka." Bree duduk di kursi.


"Enggak, Bre! Minum obatmu!"


"Tolonglah, Kakak pucat. Dingin banget lo ini." Siska memijit-mijit tangan Bree yang dingin.


Kevin menyerahkan air minum. "Istirahat dulu, Kak." Dia melihat bibir Bree kering dan kening deras keringat.


"Makasih, Vin, Ka." Bree meneguk air putih dari Kevin.


Ternyata Levi sudah di dapur dan mengejus. Tanpa Bree meminta ingin jus apa, Levi tahu kesukaan gadis itu. Siska merangkul pundak Bree setelah meletakkan gelas di meja.


"Kakak istirahat, kafe biar kami yang pegang." Kevin membujuk Bree.


"Aku antar ke atas." Siska masih mengeratkan rangkulan.


"Naik, Bre!"


Bree menoleh ke Levi, bersamaan Kevin dan Siska. Melalui bingkai dinding itu raut Levi terlihat tegas. Bree menciut dan menurutinya, dibantu Siska beranjak.


"Aku sendirian aja, Ka."


"Kakak lemas." Kevin masih membujuknya.


"Enggak. Aku cuma capek, ini masih bisa kontrol."


"Ayok." Levi sudah di bar membawa cup dengan jus berwarna hijau.


Bree ingin menolak, tapi cuma bisa terdiam karena Levi terlihat tegas kali ini. Mendapat senyuman dan anggukan Siska bentuk menyemangatinya, serta Kevin yang mengangguk samar, Bree melangkah.

__ADS_1


"Biar Bre sama aku."


"Ya, Bang."


"Hm. Kakak kalau kenapa-napa tolong kabari aku?" Siska meraih tangan Bree.


Bree tersenyum samar.


"Obatmu utuh, Bre?" Levi mengecek bungkusan obat. "Ha?" Memastikan tanggapan Bree yang diam.


"Aku udah nggak papa, Lev."


Levi duduk melihat cup jus Bree.


"Antibiotik juga nggak kamu minum? Vitamin?" Levi masih membolak-balik obat.


"Aku minum pas nggak nyaman."


Levi melihat cup jus di meja, baru beberapa sedotan diminum Bree. Bree rebahan di kasur.


"Habiskan jusnya. Aku tinggal ya. Jangan lupa makan, diminum obatnya."


"Makasih, Lev."


***


Tirai pintu slinding tidak dibuka. Lampu dibiarkan padam. Ruangan gelap. Sedikit cahaya memaksa masuk tirai balkon yang terbuka selarik. Sirkulasi udara pun tidak ada. Pintu juga jendela tertutup. Dalam beberapa minggu ini Bree tidak serajin dulu.


Sosoknya tidak terlihat, padahal kata Levi kemarin kondisinya kacau. Dua hari Alby belum menemukan Bree di rumah, tidak juga di rooftop. Entah pergi ke mana. Kamarnya sepi. Masih sama seperti semula kala Alby menengok kemarin.


Alby termenung berdiri dekat kasur, tempat gadis itu seharusnya beristirahat.


Tadi malam Alby mencari ke tempat Irzi namun nihil. Ponsel Bree tidak aktif. Charger masih tergeletak di tempat sama. Kalau Bree di tempat teman tentu aktif diisi daya, dia tidak bisa berlama-lama membiarkan mati karena kegiatan mengetiknya di ponsel. Laptop dari Alby dikembalikan.


Alby menghela napas berat duduk di tepi kasur.


Di luar jendela jantung Bree berpacu cepat. Ketakutan akan jatuh dari lantai dua bisa mengacaukan tubuh. Entah kanopi yang terbentang bisa menahan berat tubuhnya atau tidak. Kaki kuat mencengkram pijakan selebar tujuh jari. Tangan erat menggenggam sling baja menahan tubuh mematung. Bree merapat di dinding.


Keseharian tidak mengunci jendela mengamankan sementara pemikiran Alby sewaktu-waktu curiga. Apalagi tirai tertutup dan jendela sengaja ditutup menyisakan sedikit untuk nanti bisa dicongkel jari dari luar. Berharap Alby tidak menengok jendela, atau mungkin justru merapatkan jendela! Bree cemas.


Belum ada suara pergerakan menandakan Alby pergi dari kamar. Terakhir didengar masih suara buka pintu dan grasak grusuk samar dalam kamar. Semoga tidak ketahuan mumpet. Sandal aman di balkon setelah terakhir keluar, tempat Irzi, Bree mencucinya, jangan sampai Alby melihat terjemur. Sepatu kelihatan di rak.


Setelah kemarin diminta Levi beristirahat, setiap ada suara mendekat kamar, Bree bergegas sembunyi. Entah saat tidur tadi malam.


Suara pintu ditutup. Bree menunggu sejenak, paling tidak sampai suara menuruni tangga.


Alby di dapur tidak melihat masakan gadis yang biasanya berhemat. Minimal roti atau ubi rebus. Dandang rapi di dinding. Alby lemas meletakkan tangan di meja. Dirinya gagal menjaga Bree. Gadis yang kesehariannya sok mampu itu semakin rapuh akibat sikapnya.


Alby belum bisa lebih terhadap Rima. Namun dari Bree, merasa diperhatikan dengan sikap langsung. Rasa bersalah besar kepada gadis yang merasa dia jadikan tempat sementara, peralihan dari hubungan dengan Rima. Alby meninggalkan lantai dua dengan gontai.


Bree melompati jendela masuk kamar. Dia bernapas besar. Ngeri membayangkan polahnya akan fatal. Telapakannya gatal dan dingin. Kali ini pintu kamar dikunci. Dirinya ingin tidur.


"Aku nggak bisa jangkau Alby. Kangen, Bi." Bree erat memeluk guling. Air matanya jatuh lagi.


Masalah ini sepele. Harusnya tidak menjadi pikiran. Alby hanya pelajaran untuknya. Masih banyak pria yang lebih baik. Ah ... Bukan. Bree bukan gadis baik untuk Alby. Bree meringkuk mengeratkan guling. Tubuhnya bergetar. Tangisnya hebat melepas sesak. Hanya seorang Alby. Bree kali ini sadar menangisi pria brengsek!


***


"Bri?"


"Huh?" Badan Bree berat bergerak.


Pipi hangat dalam sentuhan telapak tangan. Aroma segar tercium. Kedekatan seseorang menghangat di tubuh yang tadi sempat menggigil. Alby ....


Bree membuka mata. Termangu dihadapkan Alby duduk tepi kasur. Alby tersenyum menatap lembut. Netra keduanya melekat.


Bree sendu. Mata sembab membengkak dan hidung merah. Keringat menyamarkan air mata. Bantal Bree basah. Alby ingin menyapa namun takut dihindari, sepertinya Bree belum sepenuhnya tersadar. Bree tidak bergeming didekapan. Alby merindukan gadis kecil dalam peluknya. Gadis unik yang membuatnya terbawa perasaannya. Gadis sederhana yang telah mengambil hatinya.


"Bi!" Bree tersentak mengerutkan alis. Bergerak ingin menyingkir.


"Ssuutt! Ssuutt! Bri?" Alby menangkup dua sisi pipi Bree.


"Minggir, Bi!?"


"Maafin aku, Bri. Aku bersalah." Mata Alby memanas mendapati Bree ingin menghindar lagi. Alby berusaha menahan Bree.


"Ini salah, Bi!" Bree menahan tidak menangis depan Alby. "Brengsek!" Bree tersengal dan matanya kembali basah.


Alby menangis. Sesakit ini dikatakan dirinya buruk oleh Bree. Gadis itu memberontak dan merutukinya. Sekejam ini dirinya membuat gadis itu terluka.


"Ya! Bri bener. Aku brengsek. Maki sepuas Bri karna aku tau Bri kesal. Aku salah, Bri."


"Aku bukan siapa-siapa kamu! Nggak perlu sok bersalah. Kamu awas!"


Alby terdiam memegangi Bree. Sebenci ini Bree kepadanya.


"Aku nggak mau jadi tempat pelampiasanmu, Bi!" Tangis Bree pecah.


Bree sekacau ini. Alby tidak menyangka sejauh ini anggapan Bree.


"Aku nggak mau jadi pelacurmu!"


"Aku sayang Bri! Bukan untuk dijadikan tempat melepas nafsu."


"Pembohong! Bodoh! Aku bodoh! Aku ketipu pembohong bodoh kayak kamu! Kamu pengecut!"

__ADS_1


Bree masih berusaha melepas diri dari kukuhnya dekapan Alby. Keduanya bersitegang saling mempertahankan kekuatan.


"Kamu nyatain perasaanmu ke aku tapi nyesel lepas Rima? Aku nggak harepin kamu putus sama Rima, tapi kamu masih bohongi aku seolah hubungan kalian selesai. Kebiasaanmu ke aku hilang nunjukin kamu nggak mau aku. Ternyata kamu sama Rima nggak bermasalah? Omongan Sari bener, Bi. Sari nggak salah bersikap buruk ke aku. Aku perusak!"


"Bri! Dengar!"


Bentakan Alby ciutkan nyali Bree. Bree sesenggukan menatap Alby yang erat menangkup dua pipinya.


"Aku memang sayang Bri. Aku juga sayang hubunganku dengan Rima. Aku salah."


Dada Bree sakit.


"Rima selalu berusaha pertahanin hubungan, meski dia kesakitan ulahku. Rima ada timbal balik, Bri. Aku memang nggak bisa fokus ke Rima tapi dia selalu kirim pesan ambil perhatianku."


"Ke mana kamu, Bri? Bri bilang mau coba jalan sama aku setelah tau hubungan kami nggak bisa diperbaiki. Apa Bri pernah WA kalau memang butuh aku? Aku tunggu Bri respon perasaanku."


"Itu kalau jelas kamu pilih aku, Bi. Tapi maaf, kamu nggak tulus sama aku. Aku udah pernah bilang, aku nggak pede, Bi. Aku rikuh gangguin waktumu. Aku malu memulai WA. Kamu sering dateng, trus ngilang. Kamu sembunyi-sembunyi deketin aku, udah kayak pelanggan butuhin cewek dipake tubuhnya!"


Alby mencengkram dagu Bree. Sebelah tangannya menarik lengan gadis itu, mendudukannya dengan kesal. Bree meringis kesakitan.


"Maumu apa?"


"Aku benci pembohong. Aku benci pengecut. Pria nggak bisa bersikap." Lirih. Bree merasakan rahang dan lengannya sakit tertekan ujung jemari Alby. "Minggir."


"Setelah menurutku kamu aman. Tanpa seenaknya jalan sama banyak pria nggak jelas! Aku minggir."


"Mereka temen-temenku, nggak pernah anggep aku pelampiasan."


"Sok tau!"


Tubuh Bree menegang karena bentakan Alby. Air mata Alby masih mengalir meski bicara tegas.


"Aku tau. Justru aku ketipu sama Alby."


Kening Alby berkerut dengan tatapan masih tajam menyorot.


"Alby yang penasaran mau sentuh tubuhku? Mungkin mumpung ini ada yang gratis? Oh, nggak gratis, aku selama ini dihidupi Alby. Aku murah? Karna aku udah gampangan ngerusak hubunganmu sama Rima yang kamu jagain, lima tahun! Aku kegatelan, Bi!" Bree menantang tatapan Alby.


"Mending aku jual tubuh ...."


PLAK!


Tamparan Alby keras menjejak perih di pipi. Sakit. Tubuh Bree panas dingin. Mendadak gemuruh hebat menggetarkannya. Bree menangis.


"Maaf, Bri. Maaf ...." Alby memeluk Bree.


Bree hangat dalam tubuh Alby. Elusan lembut tangan Alby yang bergetar bisa dirasakan di belakang kepala, bersamaan getaran tubuh Bree yang luruh.


"Maaf ...." Alby mengecup lembut pucuk kepala Bree.


Sakit setelah reflek menampar karena kesal dengan perkataan Bree. Alby lega saat Bree menggenggam lengan dan pinggang kaosnya. Pelukan semakin dieratkan.


Suhu panas tubuh Alby menenangkan Bree. Elusan punggungnya dari tangan besar Alby mulai meredakan tangisnya.


"Aku nggak mau Bri berpikir buruk banyak hal. Aku kangen Bri tersenyum. Aku kangen suara Bri nawarin makan. Bri juga udah lama nggak nanyain kondisiku. Aku kangen Bri manja minta apapun ke aku. Aku kangen, Bri. Maaf. Aku minta maaf buat Bri jauh dari aku."


Bree melemah. Pegangan tangannya jatuh. Alby mengira Bree pingsan, kala matanya menatap mata Bree yang mendongak ....


"Aku ngantuk, Bi. Aku capek." Bree lelah. Rasa kantuk menjalari, matanya pedih. Kehangatan Alby barusan menghipnotisnya.


"Tidur." Alby membantu Bree merebahkan tubuh. Kini dirinya ikut rebah memeluk Bree.


Bree ingin menghindari melihat Alby. Cukup tidur dan melupakan barang sejenak meski nanti bangun tidur dirinya akan kehilangan lagi. Bree membelakangi Alby.


"Maaf, Bri." Sekali lagi terucap. Alby mengecup kepala Bree yang tidak ingin menanggapinya.


"Tidur, Bri." Alby masih mendengar helaan napas Bree. Menyentrap ingusnya berkali-kali, sepertinya Bree masih menangis.


.


.


"Masih di sini, Bi?" Bree melihat Alby duduk di sebelahnya. "Nggak ada urusan di pesantren? Cofigaming? Rima?"


Alby tidak suka Bree menyebutkan Rima.


"Bangun tidur jangan banyak pertanyaan, Bri. Minum dulu." Alby bangkit ingin mengisikan tumbler Bree.


"Em, Bi." Bree beranjak. "Aku yang ambil. Aku nggak bisa manja sama kamu setelah ini. Aku kangen terbiasa sendiri. Itu normal. Nggak sakit hati."


Alby mengerutkan kening. Tapi dia tetap beranjak membiarkan Bree yang baru bangun.


"Besok kita ke rumah Mama. Prepare setelah makan, Bri."


"Kok mutusin?"


"Bukannya kamu pengen pulang?"


"Aku. Bukan kita." Bree beranjak dari tempat tidur. "Aku balek setelah pengajuan resign. Tenang aja, kamu nggak ada beban setelah ini."


"Aku nggak terbebani."


"Kamu jadi pria tanpa sikap karna aku masih di hidupmu."


"Kamu karyawan kami. Kamu tinggal di sini. Selaku owner, kami bertanggung jawab."

__ADS_1


"Hanya karyawan?" Bree tersenyum sinis. "Tenang aja, karyawan nggak berguna ini bentar lagi pergi."


__ADS_2