Jangan Katakan MAAF

Jangan Katakan MAAF
08


__ADS_3

Alby sabar meladeni Bree. Keduanya seperti murid dan guru privat yang berdebat sejarah.


"Sama halnya di tanah Jawa. Legenda yang terukir di candi. Apa menurut Bri?"


"Pengetahuan? Mengkaji dengan sistematis seluruh perkembangan, proses perubahan, dinamika kehidupan masyarakat yang terjadi di masa lampau."


"Ya, buat pengalaman tapi nggak harus merasakan langsung. Pelajaran yang memiliki kandungan nilai untuk masa depan yang lebih baik," lanjut Bree.


Kenapa Bree merasa seperti anak sekolah dasar yang presentasi di depan guru.


"Apa yang sekarang terjadi?"


"Biasa aja. Seolah itulah masa lalu. Sekarang, ya sekarang."


Duh, berasa Bimbingan Orangtua.


"Ada yang ingin Bri lakukan? Atau tidur?"


Bree ingat sore tadi ingin eksekusi buah sukun yang terlalu matang. Tidak pernah membeli buah itu, membuatnya bingung sampai kapan bertahan disimpan. Alby menghembuskan nafas lega menghindarkan Bree tidak menonton lagi. Imajinasi gadis itu selalu menguar membuat Alby kekeringan.


Alby ingin membantu di dapur, tapi idenya hanya sebatas gorengan dan bagi Bree itu tidak lezat. Tiga buah sukun utuh ini sudah kematangan. Tidak ingin merecoki akan dikenapakan gelondongan buah rasa roti yang teksturnya belenyek itu, Alby menonton One Piece, membiarkan Bree berkutat di dapur.


Dua kawannya datang, sepertinya dari kajian karena Ilham terlihat menyincing sarung dan peci yang menyembul separoh dalam saku kemeja. Levi tanpa topi bucket hat kebanggan dan hanya mengenakan celana pendek, kebiasaan sarung dan pecinya di jok.


Dasar pria-pria slengek.


Ilham menengok dapur menemukan kulit-kulit sukun tergeletak dekat kompor. Dia tahu Bree tidak terlalu suka sukun goreng dan sukun kukus. Sekarang Bree menghaluskan dagingnya yang penuh dalam baskom. Levi mendekat, ikut memperhatikan Bree.


"Dapat dari mana?" tanya Levi.


"Dikasih Ibu belakang."


Bree mengayak tepung di atas daging sukun yang ditampu baskom. Menambahkan kuning telur kocok dan mentega leleh yang sudah tidak panas, lalu mengaduknya. Menambahkan sisa bahan lainnya dan kembali mengaduk. Levi tersenyum lebar menebak adonan Bree.


"Bread fruit waffles?"


Bree sumringah mengangguki tebakan Levi. Jelas tepat karena Levi yang membuat adonan wafle cafe.


"Nggak pake gula?"


"Sengaja."


Levi gemas meremat kepala Bree, terkikik tanpa dosa membuat gadis itu pusing.


Memang owner laknat!


"Ada aja ide. Makan apa sih, otakmu bisa begini."


"Makan nasi lah."


"Minum apa?"


"Rotan!"


Levi dan Ilham terkekeh. Bree kesal kalau ingat disediakan jus buah bit. Bree memaksa kedua pria keluar dapur, tidak pede memasak ada mereka, bukan hanya menyimak melainkan merusuh karena bergurau.


Wafle sukun tersaji di meja, langsung diserbu Levi dan Alby. Ilham masih melongo tidak yakin.


"Enak," celetuk Levi. "Rasanya roti alami."


Melihat Bree asik mengunyah, Alby dan Levi pun tampak menikmati, Ilham akhirnya ikut ambil. Rasa manis dan tekstur lembut dari sukun dalam empuknya wafle langsung melegit di lidah.


"Tambahin buat cafe. Taburannya cinnamon atau gula halus."


Levi dan Alby terkekeh menemukan kawannya kini antusias.


"PR buat kamu." Levi menunjuk Bree dengan tatapannya.


"Bener, kalau toping coklat, ini nggak enak. Nah, sekalian bikin yang adonan coklat." Kini Alby menatap Bree.


"Kapan itu, kamu bikin waffle ubi to? Sekalian aja." Kali ini Ilham menatap Bree.


Apa sih! jadi mbeleber. Yang ubi itu karena banyak sekali stok ubi di lemari. Kolak, kolak teros, goreng, goreng teros, muncul begitu saja menuang adonan waffle setelah eksekusi ubi.


"Kok kalian ke sini sih, gan!"


"Tujuanmu bikin ini apa?" tanya Levi.


"Buat dimakan bareng Alby lah."


"Weenak."


Alby merasa menang, Levi tidak terima, ditertawakan Ilham menyaksikan kedua kawannya ramai saling menimpali. Bree masih ada adonan yang harus dimasukkan ke panggangan. Sukunnya banyak dan semua masuk bahan supaya mendapat porsi banyak untuk dinikmati bersama. Setelah semua matang, Levi mengantarkan ke bawah untuk operatornya nikmati.


Sayangnya Surya sudah tidak ada di sekitar sebelum kedatangan Ilham dan Levi tadi.


Keseruan berempat di lantai atas mengalahkan kantuk yang sebetulnya sudah Bree rasakan. Kebetulan ketiga owner janji nobar. Bree tidak memahami bola, tetapi dua botol soju lecy yang dibawa Levi menjadi incarannya bertahan duduk. Ilham dan Alby tidak minum. Bree puas karena dua botol yang kecil akan diteguk dirinya bersama Levi saja.

__ADS_1


"Besok kamu off lagi ya?" pinta Ilham.


"Gimana to?"


"Sini bakal sibuk, pesantren mau dibangun. Mumpung belum fokus kepengurusan, biar urusan cafe sama kami dulu."


"Kamu backup operator?" usul Alby.


"Boleh." Meskipun tidak yakin karena semua operator masih senggang waktu kuliahnya, mustahil ada yang meminta off.


"Jangan main. Bantuin aja apa yang perlu dibantu," kata Alby lagi.


"Mau nginap sama Yuwen sih. Udah bikin rencana."


"Ngeyel! Kamu siaga, Bre." Levi menarik guling buluk kebanggaan Bree dari pangkuan pemiliknya, dan menimpuk pelan kepala Bree.


Menonton bola serasa tanding bersama, berisik dan tidak mengingat waktu. Tidak mempeduli lelahnya masing-masing. Hingga bola usai di waktu menjelang subuh, ketiganya menyadari gadis yang sedari tadi mondar mandir kamar mandi dan sempat makan menambah dua piring itu, terlelap.


"Tadi sore janjian lewat telpon." Ilham sempat mendengar percakapan sepihak Bree.


Ilham menutup pintu balkon samping, jendela, dan memastikan tirainya tertutup rapat. Alby keluar dari kamar membawakan selimut untuk menyelimuti Bree.


"Nggak ada capek," timpal Alby.


Ketiganya selesai membereskan tempat yang menjadi ajang nobar, bersiap bubar. Levi membenahi guling dipelukan Bree sebelum diselimuti Alby. Ilham mematikan televisi, belum sempat mematikan lampu sudah dicegah Alby. Bree tidak nyaman kalau gelap. Alby menyetel musik dari laptopnya.


"Nina bobo." Levi terkikik.


"Liana bobo," timpal Ilham.


Ilham menutup rapat korden pintu slinding sambil berlalu keluar, disusul Levi. Alby menyusul keluar menutup pintu kaca. Di lantai bawah mereka mengecek warnet sebelum akhirnya pergi dari cofinet.


***


Hari-hari Bree lalui tanpa ketiga ownernya yang mulai fokus kepengurusan pesantren putra di pondok pesantren gang belakang. Sekarang ada dua operator warnet yang otomatis meringankan pekerjaan Bree di cafe.


Bar tidak membutuhkan kinerja barista khusus karena apa yang ada mampu diambil alih operator. Bree cukup mengontrol dan berfokus pada keuangan. Bersyukur anak-anak karyawan yang memang bekerja sambilan kuliah menerima sistem kerja yang ada.


Beberapa karyawan yang merupakan operator lama kembali mengabdi kepada warnet. Mereka yang selesai pendidikan namun belum ada keinginan kembali ke tanah kelahiran, tetap setia bekerja di lingkungan kekeluargaan yang telah lama ditekuni ini.


***


"Seperti kepala gajah?"


Bree menunjuk pattern kelopak bertumpuk lembut mirip rambut kepang menjuntai dari lengkungan layer yang lebar. Levi mengiyakannya meski tidak berniat membuat itu.


Susu dituang lebih rendah, perlahan ditarik ke tepi, membentuk pola rosetta, kemudian meliuk lurus membentuk leher. Setitik tuangan di ujung leher membentuk love menjadi kepala, sebagai tuangan terakhir.


"Angsa," gumam Bree.


"Tema latte art, pekarangan binatang." Levi terkikik menyadari hasil tangannya lebih mirip gajah dalam pola rosetta.


"Cinta binatang," tambah Bree, menggeser cangkir latte art simbol cinta yang dibuatnya tadi.


"Waru," tunjuk Ilham.


"Siang, kawan!"


Sejenak perhatian beralih pada sapaan Alby. Ilham mendekatinya, sementara Bree bersama Levi masih berjibaku di bawah arahan Rangga.


"Bri ...." Alby menyerahkan kantong kresek bening yang memperlihatkan sewadah kudapan manis faforit Bree.


"Makasih." Bree meraih pemberian Alby sambil tersenyum manis semanis kudapan buatan Bunda pria itu. Hanya senyuman reflek kesenangan seperti mendapat hadiah tidak terduga.


Alby dan Ilham tengah mengobrolkan pesantren. Sesekali Levi menimpali meski tetap asik membuat latte art disimak keseriusan Bree mengingat telapak tangannya basah membuat gugup karena tidak percaya diri. Bree tampak senang memperhatikan teknik yang dipakai kawan-kawannya.


Levi membuat love penuh di permukaan latte itu menarik ide usil Bree yang meraih pen. Dua gundukan love diukir sejajar ke atas, lalu di dua sisi badan love dibuat dua garis serupa bulu, kemudian titik 3 membentuk sudut segitiga. Untuk sudut love dicoret lengkungan serupa bibir. Levi dan Rangga tersenyum lebar menebak rombakan Bree.


"Kelinci!"


"Kelinci."


Bree mengangguk di tengah tawa kecilnya. Dia gemas memperhatikan tujuh cangkir coffee latte di atas meja bar dengan bermacam lukisan.


Bree terkesima memperhatikan tujuh cangkir coffee latte bermacam karakter. Ada tulip, rosetta, 3 love mungil bertangkai seperti anak-anak daun waru berguguran, muka gajah, angsa, 2 ekor lebah bersusulan terbang, dan kelinci.


"Apa mereka boleh disimpan?"


Celotehan Bree lelucon bagi ketiga pria yang kini tertawa. Alby sudah sejak tadi masuk ke bilik.


"Dilaminating, Del?" celetuk Ilham.


"Cup sealer," sahut Bree.


Lucu lagi, mana bisa cangkir disegel cup sealer. Mau dialihkan ke cup? microfoam akan buyar. Mana ada pula secangkir latte dilaminating.


Bree membantu Levi dan Ilham meladeni customer yang berdatangan, meski hari ini dirinya diliburkan. Ilham dan Levi ngobrol bersama Rangga yang mengotak-atik peralatan latte art.

__ADS_1


Bree memberikan latte love pattern karyanya pertama tadi untuk Kevin.


"Spesial! Semangat ...," Bree menepuk pundak pemuda kribo berkuncir yang sedang mengoperatori warnet. "sebentar lagi kelar shift."


"Thanks, Kak."


Bree menerima ponsel tertinggal, ditemukan Kevin dari bilik yang dia cek.


Operator memang diharuskan rajin cek tempat, merapikan kembali segala kabinet dan peripheral setelah terpakai user, sebelum disinggahi user berikutnya. Biasanya barang tertinggal diamankan dalam laci khusus.


"Kemungkinan punya Bang Alby."


"Makasih Vin, aku amanin." Bree memasukkannya ke saku seraya berlalu kembali ke bar.


"Weh ...! Curi karya orang lain."


Levi melihat Bree membawa serta dua cangkir latte angsa dan gajah setelah berpamitan naik lantai dua. Bree nyengir melangkah begitu saja meninggalkan bar.


Dua cangkir kopi?


"Maniak," timpal Rangga, sedangkan Ilham hanya melongo memperhatikan gadis itu berlalu.


"Makasih, semuanya!"


Bree teringat ponsel di saku celananya karena mengganjal pantat ketika duduk di kasur. Menekan tombol power dan muncul catatan.


Tanpa dikunci layar?


Bree mengenal beberapa catatan, ada daftar film. Film anime salah satunya One Piece kesukaan Alby di laptopnya. Juga terketik 'Bunda' dan 'Ayah' yang mungkin maksudnya file milik mereka dengan kode yang Bree tidak mengerti maksud lainnya. Terlintas kemungkinan kode untuk membedakan jenis file yang digarap ke perangkat lain.


Bree beranjak akan menyerahkan ponsel ke Ilham atau Levi. Menekan tombol keluar catatan. Tapi kemudian langkahnya terhenti ketika wallpaper memperlihatkan gadis berkerudung dengan pipi tembam bermata belok. Rima, kekasih Alby, Bree pernah sekilas melihat wallpaper ini. Ya, ini memang ponsel milik Alby.


Setelah beberapa purnama kebersamaannya dengan Alby, banyak yang pria itu ceritakan termasuk tentang Rima. Dalam akun instagram milik Rima banyak foto-foto tidak berkerudung tapi beberapa foto mengenakan mukena sedang bersama Ibunya. Bree memuji keceriaan kekasih Alby. Sedikit tahu tentang cerita mereka tanpa rasa penasaran.


Rima adalah teman di kampus yang sempat berkeluh kesah kepada Alby dan nyaman sehingga keduanya menjadi kekasih. Alby terbuka kepada Bree, bercerita banyak hal, menunjukkan banyak hal. Tersadar sudah lancang, Bree lekas mematikan ponsel. Rima gadis yang beruntung. Bree tersenyum. Tapi dadanya bergejolak, matanya menghangat.


Ya Allah, ini kenapa?


"Aku lupa kasihkan ini," Bree menyerahkan ponsel kepada Levi. Para pria lebih sering bertemu. "punya Alby."


"Simpan dulu?"


"Titip, Lev."


Niat sebelum meminum latte, Bree ingin memfotonya dulu untuk diupload story. Sebelum mengetikkan caption, teringat kembali wajah Rima.


Aah ..., otaknya terisi kekasih Alby!


"Tak kira kamu tiduran di kamar rumah."


"Dari pondok."


Alby memperhatikan bantal penuh titik-titik basah. Tentu bukan bekas ileran. Diperhatikannya mata Bree yang sedikit sembab meski mukanya sudah segar setelah dicuci.


"Besok pagi aku nggak bisa ke cafe, mungkin Levi yang datang." Alby membuka tudung saji, menemukan semangkuk semur paha ayam.


"Makan? Aku rebus sayur sebentar."


"Bri belum makan? Yuk makan bareng, lauk ini aja."


"Aku nanti, Bi."


Alby mengambil alih piring di tangan Bree dan mengambil lagi satu piring lain di rak. "Temani aku."


Setelah mengambil sendok, diraihnya tangan Bree mendekat countertops kitchen set.


Bree meraih sepiring nasi yang disodorkan Alby. "Makasih, Bi." Bree menyendokkan lauk. "Besok ada kegiatan?"


"Ke material sama Ilham."


"Selalu lancar. Yang rajin ikut kegiatannya."


"Aamiin. Terima kasih juga Bri sarankan aku gabung ke kegiatan mereka."


Berdua saling membalas senyum. Bree dan Alby duduk di meja ruang depan memulai makan.


"Bri ngantuk?"


Alby menemukan Bree tampak lemas beberapa kali menguap kantuk. Keduanya menikmati rokok dan kopi latte yang sedari sore dibiarkan dingin. Selesai makan tadi, lauk dipanaskan sambil mencuci peralatan makan.


"Masih. Tadi nggak bisa merem lagi terus pengen lanjut nonton film. Makasih laptopnya."


"Sama-sama. Mau sampai kapan makasihnya? Kalau nonton lewat laptop, kan nggak akan panas dingin nemu iklan horor."


Alby menatap senyuman malu gadis di hadapannya, mengamati area mata dan hidung yang masih memerah. Dia tahu Bree sering menangis di malam hari. Juga tahu ratapan yang dialami Bree kala terbangun tengah malam. Meski tidak mengatakan apapun, Alby bisa menyimpulkan yang dialami Bree.


Bree ragu ingin bicara.

__ADS_1


__ADS_2