
"Belum mau makan?" tanya seorang perawat yang mengecek kondisi Bree. Menu yang harusnya dari pagi terlihat belum dimakan dengan benar sampai menjelang siang.
"Baru sedikit." Bree menjawab lirih.
"Masih menolak, Mas." Alby menjelaskan yang terjadi saat Bree makan.
"Nggak papa, sedikit sedikit. Tetap dicoba makan. Perlahan aja." Perawat menyuntikkan cairan di kateter. "Sementara masih harus ditambahkan nutrisi lewat infus.
"Nyeri, ya," celetuknya merasakan sedikit sentakan tangan Bree. "Nanti masih disuntikkan juga untuk lambungnya," sambungnya.
"Apa masih malas minum obatnya?" tambahnya lagi.
"Maaf, Mas." Bree malu takut disangka bandel.
"Nggak papa. Wajar. Kalau mual memang di badan nyeri. Dipastikan minum air putihnya teratur, terutama setelah muntah." Dia memantau laju cairan infus.
"Makasih," ucap Bree lirih.
"Sama-sama. Tensinya juga belum naik. Pokoknya untuk makan dicoba bertahap."
Perawat mengakhiri kunjungan dan harus berpindah ke ruangan lain.
"Terima kasih, Mas," ucap Alby dan disahut ramah saat perawat akan keluar.
Sorenya Ahmad datang disusul Yosef dan Kevin. Yang diobrolkan pasti menggosip user, atau kejadian konyol operator dan kejadian ALIF, tentu tersalip macam laporan.
Beberapa karyawan berdatangan setelah jam pergantian shift. Yang Bree dengar di hari kedua hampir seluruh karyawan datang bersusulan dan hanya berkumpul di halaman rumah sakit karena Bree belum bisa dikunjungi. Hanya Levi atau Alby yang bergantian jaga selama itu.
Malam ini Bree seorang diri di kamar inap, setelah meminta Ahmad pulang. Khawatir di perjalanan malam sendirian mengingat di provinsi ini rawan kriminal, bagi Bree seorang Ahmad baru beranjak dewasa. Alby bersama dua owner sedang Mujahadah. Di kamar ada 2 bed pasien tapi satunya kosong. Mengerikan.
Surya datang setelah mengantar orderan online dekat sini.
"Ini makan kapan?" Melihat dua piring di atas nakas. Sepiring masih rapat tertutup dan piring lain hanya berkurang seperti dua sendok makan.
"Siang sama sore."
"Ya dimakan!"
"Itu apa, Mas?" Bree menunjuk kantong plastik yang diikat di tali tas selempang.
"Nasi goreng. Tadi dari customer."
"Mau ...." Bree merengek permohonan.
"Mau, kalau nggak mau ya nanti aku kasih rumah."
"Aku mau."
"La kok kamu! Nggak boleh!"
"Mas Surya makan nanti aku rusuhin?"
"Nggak!"
Surya dan Bree mengobrol. Lumayan lama sampai seorang perawat datang mengecek dan menyuntikkan obat. Sedikit candaan dilontarkan Surya dan perawat perihal makanan Bree yang belum tersentuh.
"Yakin sepanjang hidupku kayak bosen bawaannya."
"La kamu terlahir sebagai makhluk mimpi." Surya tertawa menemukan Bree banyak menguap. Heran, gadis di dekatnya ini hidupnya ngantukan.
Akhirnya Surya ingin makan. Memperbolehkan Bree merusuhi meski sedikit karena pasien belum boleh makan makanan luar. Bree menurut walau menahan pengen dan sedikit memberengut. Ditemani obrolan ringan Bree terkantuk-kantuk. Sementara Surya push-rank sampai Bree perlahan tertidur.
Entah berapa lama Bree tidur saat membuka matanya di kamar sepi. Mungkin Surya pulang. Bree kembali tidur.
Alby datang menemukan Bree sedang tidur. Biasanya dia membawakan snack dari Mujahadah untuk Bree, sengaja tadi dimasukkan kulkas supaya Bree tidak kepinginan.
Alby membersihkan diri setelah menyeka sedikit tubuh Bree dengan waslap basah. Dia ingin menyusul tidur melihat Bree mirip mayat hidup. Bisa dikatakan Bree mirip batang waktu tidur. Ranjang sebelah kosong selalu menjadi tempat Alby merebahkan diri.
***
Selama delapan hari Bree opname, di hari sembilan diperbolehkan pulang. Kondisinya belum pulih benar. Bree memaksa ingin pulang karena merasa sudah lebih baik sejak dua hari lalu.
Di hari berikutnya Bree sudah siap prepare kafe meski jadwalnya masih diliburkan. Bree ingin mengejar nominal tanpa banyak potong gaji menyelesaikan bulan ini. Tidak ingin seenaknya bersantai dengan memanfaatkan kesehatan yang belum stabil, sementara sikap Sari sudah memuakkan untuk disabari. Rautnya setiap memasuki kafe tidak mengenakkan diterima hati.
Ya, Bree sungguh ingin memakinya.
Rian datang ke kafe tapi merasa tidak bekerja karena Bree melakukan kegiatannya seperti biasa. Levi datang memaksa Bree beristirahat. Seorang Bree mana nurut sekalipun dengan owner.
"Nggak usah spesialkan aku."
"La kamu tinggal di sini, Bre."
"Aku baik, Lev."
"Sini khawatir, Bre."
Kalau memang bertanggung jawab, mereka mengajak Sari dengan dirinya bertemu meluruskan apa yang terjadi, karena suasana tidak nyaman jelas terasa. Kala Ilham datang bersama Sari dibiarkan di parkiran menunggunya mengambil uang belanja stok, atau saat meminjam uang kasir. Ini jelas tampak di luar kebiasaan.
Kalau memang khawatir, kenapa mereka membiarkan Bree dimusuhi istri seorang owner. Betul-betul tidak bisa bersikap dan membuat Bree malas mengambil sikap.
Beberapa hari Rian tetap dipasrahi mengisi absensi kafe menemani Bree. Tapi Bree merasa Rian telah mengawasinya.
"Duduk dulu lah, Bro." Selalu perintah itu yang didapat Bree.
__ADS_1
"Ini kotor." Bree ingin menyapu karena mengotori lantai. Sejak tadi mengotak-atik tanaman.
Rian meletakkan ponsel dan bangkit dari duduknya mendekati Bree.
"Aku yang lanjutkan." Sapu diambil dari tangan Bree lalu menyapu. "Kamu makan sana."
"Mau sandwich manis, Bro?" Bree ingin membuat roti lapis dengan kiwi dan stroberi yang tadi dipisahkan Rian.
"Mau." Rian melihat Bree hendak masuk dapur. "Bri!" Bree menoleh. "Duduk aja," pintanya.
"Aku keburu kepingin." Bree berlalu.
Saat mencuci tangan Bree menarik pelan kulit telapak dan jemari yang mengelupas besar. Kering sekali kulitnya. Sedikit perih.
Bree mengeluarkan keranjang tempat buah-buah yang tidak lagi digunakan kafe. Memilihi buah yang belum layu karena untuk isian iris. Rian selesai menyapu dan mencuci tangannya.
"Alpukat apa pisang, Bro?"
"Alpukat?" Bree beradu mata dengan Rian yang baru membuka kulkas. Jawabannya sambilan permohonan persetujuan, siapa tahu Rian ingin pisang.
"Oke." Alpukat diambil dari kotak lalu mencucinya, kemudian mengambil roti dari lemari dan menjejeri Bree. "Aku aja yang buatkan."
"Apa kamu digaji jadi pengasuhku?"
Rian terpana melihat tatapan Bree tajam menjelaskan ketidaksukaan. Bree baru saja protes menyinggung. Sejauh mengenal pribadi Bree kelihatan tanggapan lembut saja yang keluar, mengomel pun selalu hati-hati memakai kata, selebihnya cenderung pendiam.
"Kami semua khawatir."
Bree masih pucat walau gerakannya kelihatan gesit seperti biasa. Rian sempat melihat Bree menghela dan mendengus napas dengan mata melebar lalu mengerjap, bibirnya mengatup seperti menahan mual. Tampak sekali raut lelahnya.
Rian membelah alpukat, mengkeruk dan melembutkannya. Matanya sesekali menoleh pada Bree yang masih diam menatap dirinya. Bahkan dia melihat kedua mata Bree basah. Pasti masih suka mual.
"Masih pusing kan."
"Maaf, Bro," ucap Bree telah buruk sikap. Bree mengalihkan mata. "Tadi udah sarapan, belum laper lagi. Cuma pingin ngemil manis."
"Gantian aku yang buatkan camilan."
Bree hendak keluar melihat ada customer datang tapi lebih dulu dicegah Rian. "Sini aja." Rian berlalu.
"Enteng." Bree melanjutkan membuat sandwich.
Bree mendengar menu dapur yang dipesan. Keranjang buah dikembalikan dalam kulkas sekalian potongan tempe marinasi, daun bawang, dan cabe rawit lalap dikeluarkan.
Dua tangkup roti lapis isian stroberi kiwi dengan olesan alpukat disisihkan dulu. Bree menyiapkan bahan pisang goreng dan mendoan. Mengadon tepung untuk kedua menu.
Rian masuk dapur melihat Bree mengirisi pisang kepok. Dua wajan sudah siap memanaskan minyak di atas tungku menyala.
"Ngeyel."
"Sana! Ada kopi di meja."
"Makasih." Bree mengambil satu tangkup sandwich, berlalu meninggalkan Rian.
"Kalau ada apa-apa tetep panggil aku?" pinta Bree melalui bingkai dinding.
"Ya."
Ponsel dimasukkan saku dan mengambil secangkir long black. Bree meninggalkan kafe.
.
.
"Bri." Alby menepuk lembut pipi gadis yang sedang tidur. Bree membuka matanya. Sebentar kemudian terpejam lagi. "Bri?" panggilnya, menepuk lagi pipi Bree.
"Hm ...." Hanya deheman lirih tanggapan Bree.
Bree merasakan perutnya sangat panas dan ada yang mengganjal. Dia lapar.
"Bangun, Bri. Ayo periksa."
Bree lupa ini tiga hari kepulangannya dari rumah sakit. Sore ini harusnya jadwal dia kontrol.
"Aku udah baikan. Nggak perlu kontrol aja, Bi." Bree bangkit.
"Jangan remeh, Bri."
Tidak semangat. Itu yang Bree rasakan dan entah kenapa langkahnya berat mengiringi langkah Alby mengekori Ilham.
"Bre!"
"Ya?" Bree menoleh dan berhenti memperhatikan Levi menyusul menyodorkan tumbler.
"Minummu."
Bree menerimanya, berdua Levi kembali melangkah mendekat ke mobil Ilham.
"Ketinggal." Tadi Alby mengisikannya.
"Sengaja ninggal pasti," timpal Levi.
Bree menerima dengan bingung. Tidak perlu juga membawanya. "Cuma periksa, kan?"
__ADS_1
"Belum tau." Hanya itu jawaban yang diterima Bree dari Alby.
Di rumah sakit tempat Bree dirawat beberapa hari yang lalu, setelah mengisi pendaftaran, tidak perlu lama menunggu giliran untuk bertemu dokter. Namun serangkaian pemeriksaan memakan waktu disertai menunggu hasil. Ternyata Bree disarankan endoskopi.
Dikarenakan keterbatasan biaya hanya suntikan dan resep obat saja yang diberi. Masih harus rutin cek setelah ini. Kini tinggal menunggu obat. Terlintas rasa syukur dibawakan minum. Proses pemeriksaan mengharuskannya minum air bening.
Teringat tadi siang dirinya minum kopi tetapi dokter memaklumi. Kopi dibolehkan karena termasuk cairan bening, tanpa krimer atau susu. Tambahan gula juga kurang dari 5 mili karena hanya sesendok teh peres alias tidak penuh. Entah pengaruh atau tidak, yang pasti tanpa gula pun kopi merangsang berkemih.
Mendengar Ilham membahas soal pembuatan kartu layanan kesehatan gratis, membuat Bree menduga. Lekas pergi dari kehidupan mereka, yang saat ini Bree pikirkan.
"Bubur ayam, Bro." Alby mendengar bunyi keroncong dari perut gadis di sebelahnya.
"Iyo, aku salah arah. Jam segini yang buka di Selatan, Bro." Ilham menyalakan sein mendekati arah putar balik.
Entah jam berapa Bree tidak memperhatikan waktu dan belum memegang ponsel. Seingatnya tadi saat keluar rumah langit sudah gelap dan di dalam rumah sakit yang dia dengar selama hampir 4 jam. Lelah dan jenuh. Pantas saja Bree tidak bergairah berangkat, keraguannya dibukakan kenyataan harus begini harus begitu untuk mendapat pemeriksaan maksimal.
.
.
Menyeberangi jalan dari parkiran mobil langsung mengarah tenda bubur ayam malam. Ilham bersama Alby menuju ke gerobaknya. Tidak memesan minum, Ilham dan Levi ingin wedangan angkringan yang baru terlihat.
Dingin menyelinap meski di sekitarnya ramai orang dan berada tidak jauh dengan kompor karena diapit beberapa tenda kaki lima. Bahkan posisi Bree tidak jauh dari kompor gorengan yang menyala di bawah wajan besarnya.
"Pakai, Bri." Alby memberikan jaketnya untuk melapisi pakaian Bree.
Rindu. Lagi-lagi melanda Bree.
"Aku nggak menggigil, Bi." Bree tidak enak dipandang Ilham dan Levi.
Bree merasa sudah memakai bertumpuk baju. Kaos pendek harian dilapisi kaos lengan panjang berkerah turtleneck dilapisi sweater rajut tebal berkupluk. Meski tadi saat periksa merasa ribet menanggalkan semua baju sampai bersisa kaos pendek saja.
"Dipakai, Bri."
"Sampe kecu." Levi memperhatikan bibir dan kuku Bree membiru. Bree reflek melihat jemarinya yang mengerut.
Teringat waktu Alby mendadak berhentikan motor ke tepian memberikan jaket. Padahal baju Bree sudah berlapis tetapi tangannya sangat dingin, dirasakan Alby saat tangan mereka sempat bersinggungan. Kebiasaan Alby setiap mereka di perjalanan, yaitu menyentuh tangan Bree kemudian memberi jaketnya.
Setelah lama sering bersama membuat Alby berani membawa tangan Bree masuk ke saku jaketnya. Bree suka karena suhu tubuh Alby selalu hangat. Itu tidak berlaku saat mereka bersama Levi dan Ilham, paling Alby memulai dulu bertanya, "Dingin?" baru memberi jaketnya. Namun beberapa masa ini semua itu pergi.
Hari ini Bree kembali merasakan hangatnya bagian dalam jaket Alby.
"Woi!" Levi mengibaskan tangan depan pandangan Bree.
"Diminum, Del!"
"Malah ngalamun."
Bree baru sadar sudah dihadapkan segelas wedang jahe. Yang lainya wedang uwuh dan jahe susu. Tidak lama setelahnya 4 mangkuk bubur ayam datang.
Bree melihat Ilham menunjuknya saat Levi menunjuk gorengan.
"Kalau pengen ya beli aja nggak usah mikir aku."
Pasalnya Bree mengabaikan diri. Mengurangi ini, dia tetap makan. Jangan itu, dia tetap makan. Gorengan memang menggiurkan. Sebetulnya bukan masalah di gorengannya, mungkin faktor lain seperti cabai, juga bisa pengaruh dari Bree melewatkan gizi lainnya tapi malah makan gorengan terus. Apapun itu, kekurangan dan berlebihan tetap tidak baik berhubungan kala ada sesuatu pada kondisi di tubuh.
.
.
"Istirahat, Del."
"Makasih, gan." Bree menuju lantai dua.
"Bri."
"Ya?" Bree terhenti saat akan masuk kamar. Ternyata Alby menyusul ke atas.
"Diminum dulu obatnya." Alby masuk dapur mengambilkan minum di gelas. Mulut tumbler kecil tentu tidak nyaman meneguk air lewat situ untuk menelan obat.
"Bisa nanti, Bi." Bree sudah menerima gelas air putih dari Alby.
"Sini. Minum sekarang." Alby mengajaknya duduk dan mengeluarkan obat dari plastiknya. Mengecek mana saja yang harus diminum sekarang, dia persiapkan.
Menahan mual, kali ini Bree sudah lebih baik minum obatnya. Padahal beberapa obat yang kemarin tidak diminum teratur.
"Makasih, Bi. Aku masuk kamar dulu." Bree beranjak mengambil obat dari meja.
"Bri?" Alby terhalang pintu kamar yang ditutup Bree.
Alby merogoh saku terhenti di tangga, membuka ponselnya yang ramai berdering pesan masuk grup.
[Aku besok mulai shift.], pesan WA Bree.
[Tunggu kamu pulih.], tanggapan Ilham.
[Istirahat saja dulu kak.], tanggapan Siska.
Alby kembali menemui gadis itu. Pintu kamar diketuk memanggil nama gadis di dalam kamar.
"Bri?"
"Ya, Bi?"
__ADS_1
"Ayo bicara?"