
Hanya Irzi dan Yuwen teman lama Bree yang dikenal Alby. Bree diantarkan pria baru yang belum pernah diketahui lainnya. Dan saling mengenal belum lama.
"Siapa, Roki?"
"Temen Kris."
Sedangkan Kris adalah tetangga kala Bree kost sebelum singgah di ALIF. Kedekatan keduanya tidak seakrab dengan Irzi dan Yuwen. Untuk komunikasi di WA sekedar pesan minuman kemasan.
Kesibukan pondok membuat Alby dan Levi tidak bisa mengantar Bree ke manapun. Bree memiliki kecemasan, takut sewaktu-waktu panik di jalan, itu kenapa Bree ditemani untuk bepergian. Gadis itu juga tidak pernah menggunakan Bus Rapid Transit, mabuk kendaraan menjadi kelemahan berikutnya.
"Kamu nggak peduli keselamatanmu, Bri?"
"Aku bisa jaga diri, Bi."
Kesannya Alby keterlaluan seolah Bree milik sendiri. Bree sungkan minta tolong selain kepada Irzi. Sejak Alby selesai skripsi sampai kembali mengurus usaha ini, sebelum resmi mengurus pondokan, selalu tanggap membantu Bree.
Bree sadar dirinya perempuan diantara teman pria. Namun percaya bagaimana Irzi dan Yuwen bersikap. Kepada Kris dan gerombolannya, sejauh mengenal mereka masih aman, Bree paham harus bagaimana bersikap.
Pagi tadi Bree menghadiri pameran buku dan gelar temu penulis. Irzi ada kegiatan pagi di kampusnya. Kris bekerja shift pagi, mengirim pesan kepada Roki yang kebetulan bekerja malam. Yuwen? Jujur Bree tidak pernah minta tolong apapun kepada Yuwen, kecuali Yuwen yang duluan mengajak ditemani ngopi sepulang dari kerja.
"Lagian aku sering bilang, Bi, nggak enak perasaanku terus-terusan bareng kamu."
"Karna Rima kan, alasanmu?"
"Cewek mana nggak cemburu pacarnya barengan terus sama cewek lain."
"Rima tau kamu. Rima ngerti kondisi kita di sini."
"Urusan alif, Bi. Rima mana ngerti yang pribadi."
Alby diam memandangi Bree. Ya, dirinya memang pernah mengutarakan perasaan meski Bree hanya tahu tentang ingin menjaga dan membantu. Karena Bree terus-terusan katakan tidak enak hati.
Dia dan Rima jarang bertemu karena jauh. Sepulang liburan berempat bersama Ilham dan istri, Rima pertanyakan hubungannya dengan Bree. Ternyata istri Ilham banyak bercerita pada Rima.
"Bri ...."
Bree mendongak ke Alby yang mendekatinya. Alby duduk di hadapannya.
"Aku sayang Bri. Ada rasa ingin terus bantuin meski Bri nggak butuh bantuan. Kayak Bri angkat galon ke dispenser, sok kuat, apa gunanya ada kami, pria yang satu shift bareng kamu?"
"Waktu Bri habiskan seharian bebersih di net, padahal off. Itu memang kebiasaan Bri nggak bisa berdiam diri kalau nggak bisa tidur. Tapi aku tau, Bri juga berharap nemu recehan di bilik karna kehabisan uang?"
"Bri minum sama temen-temen lain, nginap di sana, Ilham dan aku kepikiran."
Alby diam. Bree tidak mengucapkan apapun dan hanya menatap dirinya. Tapi netra beriris gelapnya berkaca. Alby menghela nafas, meraih pucuk kepala Bree.
"Maaf. Tapi aku mohon Bri jangan pikirkan apapun."
"Aku ki mulai ada rasa pengen miliki Alby," batin Bree. Netranya yang sedari tadi mengembun, kini luruhkan air mata.
"He!"
Alby sedikit membelalak, kedua tangannya menangkup dua pipi Bree.
"Maaf, Bri ...,"
"Apa to, wong aku geli liati mukamu, Bi."
Bree terkekeh disela tangisnya, menyela air mata dengan tangannya. Dadanya bergemuruh.
Apa harus tampakkan baik-baik saja. Ya, lebih baik cinta dalam diam. Bisa kah? Bree tidak pernah pacaran. Bree belum pernah merasakan ada pria spesial, kecuali teman-teman. Papa pun hanya seorang lelaki yang lewat begitu saja karena hanya dekat di masa kecil.
Bree rindu.
"Bisa lain kali bicara ke kami, kalau butuh sesuatu? Waktu Irzi nggak bisa."
"Sekarang Levi banyak susahnya."
"Ada aku. Ada Surya. Levi memang sabet kerjaan lain."
"Aku ngerti."
"Bri nggak ngerti, karna masih bandel apa-apa larinya ke teman."
"Ada Siska dan ada Ahmad pas nggak sibuk," sambung Alby.
"Kalau belum bicara karna nggak enakan, darimana Bri ngerti mereka nggak mau direpotin? Apa pernah Siska ngeluh pas direpotin Bri?"
"Beda lagi kalau bukan masalah kerjaan, Bi?"
"Emangnya Bri pernah minta tolong apa ke Siska?"
Bree diam, seperti sedang berpikir, tepatnya mengingat.
"Anterin aku pulang sini pas belanja bulanan. Habis nganter ke market, dia nggak mau balek bilangnya balek nanti pengen main sama aku di market."
"Apa Siska ada ngomongin Bri di belakang?"
"Mana orang paham kalau lagi dirasani, Bi."
__ADS_1
Tapi Siska bersikap seperti biasanya. Ceria dan apa yang ada hariannya. Siska kala itu memang kerjakan tugas, dan akan pulang, kemudian Bree ingin bareng karena letak market searah. Tapi Siska justru menemaninya, malah menawarkan diri bolak-balik untuk antarkan Bree kembali ke tempat tinggal.
"Kecuali Siska pandai nutupi sikap," ungkap Bree.
"Itu yang bikin Bri nggak pede. Itu ngerusak diri sendiri, secara nggak langsung bisa merusak kepercayaan ke orang lain."
"Siapa yang sifatnya buruk di sini?" sambung Alby.
"Aku?" Bree menunjuk diri.
Alby mengangguk.
Astaghfirullahaladzim. Alby benar, justru Bree yang punya pikiran jahat dengan suuzan.
"Kita hidup bersosialisasi. Nggak bisa apa-apa sendirian."
"Alby sering katakan itu."
"Kalau memang Bri kebetulan percaya seseorang dan dia udah merusaknya, itu berarti kita dikasih pelajaran. Ya, namanya hidup. Justru kalau kita udah takut duluan, Bri yang nggak niat belajar."
Alby merasa seperti menerangkan seorang anak Sekolah Dasar. Bree juga menyadarinya, sekarang malah tertawa.
"Diberi tau malah he he he heh."
"Aku kayak anak kecil dinasihati papanya, Bi."
Papa malah nggak pernah kasih pengertian ini. Bree kembali diam. Alby mengerti yang terjadi.
"Makan?"
"Nanti."
"Udah makan di luar?"
Bree menggeleng.
"Yok, ikut aku!" Alby berdiri meraih kunci motornya.
"Ke mana?"
"Ayok lah."
Bree berdiri dan meraih tangan Alby yang terulur. ponsel Bree sudah diambil Alby setelah meraih kunci motor. Di tangga pun Alby erat menggandeng Bree. Kemudian paham ketika Alby melepaskan gandengannya, di parkiran ada motor Levi dan mobil Ilham.
Bree melipat bibirnya menahan sakit di hati. Sungguh ini berhasil menyinggungnya.
Di cafe juga ada Sari, istri Ilham. Tersenyum ke arah kedatangan Bree dan Alby.
"Halah! Nggak jelas, mereka masih sok-sok kakak adikan."
Bree tersenyum kecut. Begitulah Sari yang kerap menggoda Bree. Ilham, Sari, dan Yayat seperti comblang untuk Bree antara dengan Alby atau Levi. Begini kah nasib berhubungan dengan manusia yang sudah menikah.
"Ikut ya, Mbak?"
"Ke?"
"Biasa, Mas ajakin nongkrong."
Bree menoleh kepada Alby yang mengangguk. Alby memang mengajak Bree ikut, yang dikira akan pergi berdua.
"Tak ambil tas dulu."
Ilham berdecak.
"Kayak pacar."
"Tas nggak ada isinya ngapain capek-capek turun naik!" cibir Surya. "Mending kalau dompet beruang, kalau punya kotak mekap."
"Rokok udah ada," kata Alby.
Bree tidak melepaskan tas sekalipun tidak perlukan uang. Dengan tas terasa nyaman membawa pengisi daya, rokok, korek, bahkan meletakkan ponselnya. Juga nyaman menutupi pantat tepos.
Belum sempat naik tangga, tangannya sudah dirangkul Sari. Bree berpikir tidak jadi membawa tas, wong ponselnya disaku Alby. Toh Ilham membawa mobil. Tapi memang tadi dipikirnya Alby akan pakai motor, karena biasanya kalau janjian pakai mobil kunci motornya ditinggal dan disinggahkan saja.
Tumben juga Surya ikut.
Coffee & Resto terletak di pusat kota. Menyajikan hidangan lokal dan minuman khas, tentu ada kopi dan susu. Di sini tersedia menu ramah anak meski juga menawarkan minuman alkohol. Bukan saja pemuda pemudi, orang tua dan anak-anak menikmati berkumpul di sini. Lokasinya satu blok dengan salah satu pabrik cerutu tertua di Indonesia.
Mobil terparkir di salah satu sudut lahan yang luas. Dua security membantu mengaba beberapa mobil yang parkir bersamaan. Seorang security itu gagah. Ops! Dia tinggi besar dan berkulit coklat. Rahang tegas dan sangat maskulin. Alisnya tebal. Jambang tercukur bersih dan rapi. Andai jambang itu tidak dicukur, tentu menggoda iman.
"Tipenya Mbak Bri yang begituan, Mas." goda Sari, terbiasa diajak nonton film India dan Turki oleh seorang Bree Deli Liana.
Bree seakan kaku, melipat bibir rapat seolah menahan histeris, kedua matanya sipit ditelan senyum yang tertahan. Telapak kakinya gatel melangkah diantara yang lainnya. Ingin rasanya menyapa, hatinya juga gatel sekali. Bayangkan saja pria maskulin disapa cewek bulukan minyakan.
"Nggak pede! Nantinya juga nyosor."
Surya ini tidak bisa melihat Bree lega sedikit. Bree mengelus pundaknya yang dikeplak kencang.
Kafe klasik yang asik, suasana cozy mengental begitu memasuki pelataran. Sejumlah foto bersejarah seperti perjalanan pabrik memanjakan mata. Musik akustik membahana memanjakan telinga, diantara riuh renyah tawa dan obrolan manusia. Mereka mendekat ke bar, mengantri sambil melihat-lihat menu.
__ADS_1
Kelewat sore tentu pendopo ramai ditongkrongi. Tapi deretan bangku di sebidang tanah yang luas ini seperti tidak ada habisnya. Mereka duduk di salah satu bangku bermeja bundar, kursinya empat. Seorang pengunjung menyerahkan satu kursi tambahan untuk Levi yang baru ingin mencari kursi nganggur.
Anak-anak berlarian riang di halaman yang sangat luas. Ya, sekali lagi mengatakan, halaman pabrik cerutu ini luas sekali. Bahkan beberapa keluarga memilih lesehan tanpa alas di depan pabrik sana. Pepohonan di pot-pot besar juga meramaikan lingkungannya.
Bree sedang memperhatikan anak-anak berlarian, spontan menoleh tersadar Surya mengarahkan kamera ponsel yang sudah membidiknya.
"Jangan ge er, aku foto daun sebelahmu."
Bree menoleh ke tanaman tanduk rusa menjuntai rimbun dari inangnya, pohon ketapang dengan dedaunan tidak lebat. Tanaman paku tanduk rusa ini besar-besar. Bree merasa dirinya jelek tidak ingin genit mengedipkan satu mata, kemudian dua mata mengedip disertai kode kepala tunjuk pohon sebelah. Alby langsung paham mengeluarkan ponsel milik Bree dari sakunya.
Surya tidak diam, kini dirinya mencuri pose Bree yang bermain-main kamera membidik paku-pakuan itu. Lumayan kesulitan mengambil gambar, Bree terlalu polah berlagak fotografer handal memilih angle fotografinya. Surya tetap mendapat gambar Bree.
Gadis itu selalu menolak difoto. Tapi kalau ada yang diam-diam mengambil fotonya ya paling pertama rewel minta dikirimi. Surya mengirimkan foto-foto ke WA Bree.
"Harusnya kirim ke Mas levi atau ke Mas Alby juga, Mas," kata Sari.
Beberapa makanan datang di meja bersama minumnya lengkap.
"Makasih, Mas."
"Terima kasih."
"Buat nakutin tikus." Levi terkekeh.
"Dipajang warnet sama cafe, nemenin penghuni pas sepi," tambah Ilham.
"Ujug-ujug fotoku berubah pose, Ham ...." Bree memasang muka ketakutan membuat yang lainnya terbahak.
"Turunannya Yao Ming," celetuk Surya.
Yao Ming, meme Yao face.
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi
Bersenang-senanglah karna hari ini yang kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
"Bersenang senang lah karna waktu ini yang kan kita banggakan di hari tua ...."
Bree menyanyi lebih kencang dari Sari dan Levi. Dan lebih ekspresif dari keduanya yang tanpa ekspresi. Malu sendiri ketika lirikan sepuluh mata menyorot dirinya. Malu lagi diberi senyum menawan si pengantar yang membawakan camilan. Pesanan lengkap di atas meja. Ucapan terima kasih dari Bree lebih pelan dari pertama.
"Ada tambahan lainnya?"
"Ini dulu," sahut Alby.
"Thanks, Mas," ucap Ilham.
Sampai jumpa kawanku
Smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
Smoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan ....
Alunan klasik bertajuk Kisah Klasik diiringi musik akustik menjeda 'senang sendiri'. Serempak pengunjung mendendang bersama vokalis, lupakan kegiatan masing-masing. Kebersamaan ini melalaikan waktu.
Lagu yang disuguhkan selaras dengan konsep kafe. Berhubung lagu ini juga dari band yang sepanjang masa masih menjadi idola. Klasik. Lawas tetapi tidak kolot, tidak ketinggal zaman sehingga selalu asyik. Pengunjung yang membaur juga dari segala usia. Sungguh suasana yang tidak bisa tergantikan.
Surya sodorkan sekuntum bunga tapak dara merah muda kepada Bree. Nyanyian Bree terhenti dan tertawa diantara tawa kawanannya. Bree menerima pemberian Surya. Sungguh geli.
"Nggak ge er, Bri!" Belum mengucap terima kasih, Bree ditantang Surya. "Berani kasihkan ke yang nyanyi di panggung?"
"Kasih! Kasih!"
Sari dan Levi menyemangati.
Di sana ada seorang anak perempuan memberikan coklat ke sang vokalis. Bree tidak berani. Ilham masih terpingkal memperhatikan Surya dan Bree. Alby tersenyum lebar mendukung kepercayaan diri Bree. Lah Surya?
"Nih! Biar nggak malu-maluin cuma satu." Surya petik dua bunga yang tumbuh aksial dari semak perdu dekat tempatnya duduk.
"Mau kalah dari anak kecil?" Surya masih merusuh.
Sejenak menghela napas panjang. Bree risih, tapi entah apa yang membuatnya malam ini sedang senang, ditepisnya malu. Tidak biasanya Bree tidak membantah digoda Surya.
Indikasi alkaloid apa di bunga ini? Kimia dalam otak meningkat, darahnya berdesir. Apa dalam bunga tapak dara terkandung senyawa morfin? Atau nikotin? Sungguh, dopaminnya bekerja.
Bree mendekat. Diserahkannya tiga batang mungil bunga kelopak bertajuk lima ke seorang yang dari tadi menyanyi di atas panggung.
"Misi, Mas, maaf dari temenku." Dengan gerakan bibir yang jelas.
Bree deg-degkan seiring sorakan pengunjung dan musik di sekitarnya. Jantungnya terasa sekali berdenyut cepat dan tidak teratur. Suhu tubuhnya naik seketika. Ini lebih heboh dibanding anak kecil yang maju ke panggung tadi.
__ADS_1
"Wow!" Seruan dengan mic.