
"Selamat datang di CofiNet!" Bree menyapa customer yang datang sedangkan Rian tetap menyandang laporan stok.
"Aku yang ke dapur." Rian mengambil alih pesanan dapur membiarkan Bree mengurus pesanan minuman.
"Makasih, Bro."
Alby juga beberapa hari terakhir tidak video call. Padahal setiap malam hal itu tidak pernah ditinggal dengan alasan daripada Bree keluyuran dan tidur di rumah teman. Bree terganggu dengan argumen sendiri dalam pikiran.
Levi datang sudah memasang tampang cengengesan menyapa Bre. Dia heran mendapat tanggapan lesu gadis yang memang sibuk di bar. Hanya tumben tidak ada senyum, biasanya meski fokus mengerjakan sesuatu selalu keramahan diberikan.
Levi mengambil kotak berkakas dari dapur. Didekatinya Bree yang sedang tidak ramah.
"Nggak enak badan, Bre?" Punggung tangan Levi mengecek suhu kening Bree.
"Cek tu laporannya." Bree lekas menjauhkan kening dari tangan Levi.
Levi mulai fokus pada catatan di smartphone warnet dan tablet kafe. Sebentar melirik Bree yang sumringah dengan customer saat mengantarkan 2 cangkir minuman ke meja. Kemudian melirik Bree lagi saat mengambil pesanan dari dapur dan mengantar ke customer.
"Kamu kirim laporan ke Sari?" tanya Levi saat Bree sudah kembali di bar.
"Aku lupa kirim ..., aw!" Bree tersentak mengelus kepalanya akibat jentikan jari Levi.
"Kenapa sih?"
"La kenapa to? Harusnya aku yang tanya kenapa main sentlik kepalaku!?"
"Aku tau aku tau ...." Levi terkikik telunjuknya melambai-lambai. Dirinya menebak Bree sedang kesal. "Aku lihat ini udah dibaca orang kok ngakunya lupa kirim."
"La tadi masih nanya."
"Nggak usah masuk hati. Kita sama tau gimana Sari."
"Apa masalah nonton bola di rumah? Terus nggak dijelasin letak salahku di mana? Apa aku bikin berisik di sana? Apa aku bikin ulah apa? Mungkin di belakangku dia jelekan aku."
"Nggak dikeloni Ilham, paling." Levi terkikik.
"Aku sama Alby juga didiemin. Biarin aja napa sih?"
Bree tidak permasalahkan itu. Masalahnya kini Alby seperti berjarak.
"Aku kirim. Ada lagi yang perlu dibeli?"
"Aku minta garpu dong? Beberapa nanyain garpu." Bree beralih ke Rian yang keluar dapur. "Kembalian masih kurang lima ratus, Bro. Aku tuker receh."
"Yoi!" Rian menyusulkan pesanan ke meja customer yang baru saja dia selesaikan.
"Garpu, sama?" Levi melanjutkan membahas yang ingin dibelanjakan."
"Bakwan kawi." Bree lirih menjawab Levi.
Levi menoleh dan tertawa menemukan Bree menatap dengan raut permohonan.
"Oke! Aku ke proyek dulu."
"Aku masak belum kemakan, Lev!"
"Nanti!"
"Udah diambil Levi." Bree memberitahu Rian perihal laporan stok. "Makasih, Bro," Bree raih recehan dari Rian yang tadi sekalian diambil dari warnet.
"Kamu istirahat dulu, Bro." Rian membuat kopi untuk dirinya.
"Aku belum pengen makan. Kamu atau Siska sana makan di atas?"
"Aku udah tawarin Siska. Nanti, katanya. Kamu yang dari tadi belum stop?" Rian mengambil lembaran uang dari menukar receh. "Nunggu nanti keburu rame."
"Aku lagi nggak pengen makan!"
Rian sontak menatap tatapan kesal Bree.
"Kamu kenapa?" Rian mengejar mata Bree yang lekas dialihkan.
"Enggak."
Selesai merapikan laci kasir Bree duduk menjejeri Rian yang merokok. Rian sunggingkan senyum melihat Bree ikut merokok. Dia belum melihat Bree duduk sejak jam prepare tadi sampai menjelang siang ini.
"Nanti sore ikut aku?"
"Aku mau di rumah, cucian numpuk. Aku pengen tidur."
"Anak-anak mau minum."
"Lagi nggak mood, Bro."
Tumben sekali Bree menolak ajakan.
Alby masuk kafe, Bree melihat saat menyesap rokok. Alby dan Rian saling menyapa sedangkan Bree tidak mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
"Hai, Wen?" sapa Bree pada seseorang di seberang telepon. "Ya. Oke."
Rian dan Alby berbasa-basi saat Alby mendekati bar mengambil kantong plastik.
"Sampe nanti." Bree menyudahi telepon dan masih asik bersama ponselnya.
"Yok!" Alby berlalu.
"Ya, Mas!" Rian beralih ke Bree. "Kamu istirahat, Bro. Kafe aku yang pegang."
"Lagi males makan."
"Naik aja, sana."
Bree menatap heran kepada Rian yang masih memandanginya.
"Kamu pucet."
Bree memang merasa pusing. Tadi menahan keliyengan, makanya sekarang memutuskan duduk. Menurutnya sudah biasa.
"Aku nggak papa kok."
"Jangan ngeyel. Biar aku sama Siska yang urusin."
"Nggak papa, sayang nanggung."
"Ayo!" Rian meraih lengan Bree menyuruhnya minggir.
"Aku tadi pusing sebentar. Ini udah nggak papa." Bree ingin menambah kopi dengan cangkir bekas pagi.
"Sana, naik. Aku yang bikinkan." Rian mengambil cangkir dari tangan Bree.
Bree duduk membiarkan Rian membuatkannya kopi. Entahlah dirinya sedang malas banyak bicara ataupun bergerak. Mungkin memang kelelahan tanpa dia rasakan.
"Siang, Kak."
"Selamat siang."
"Aku saja. Kamu ke atas, nanti kopimu aku antar." Rian menyerobot kasir.
"Ealah, uwong." Bree melanjutkan membuat kopi, Rian hanya menoleh sebentar.
Selesai bertransaksi masih melihat Bree berdiri di bar, Rian sekali lagi meminta Bree menyudahi shiftnya atau istirahat barang sebentar.
__ADS_1
"Lekas!"
"Makasih, Bro." Bree kemudian memutuskan naik.
"Makan! Jangan kopi terus!"
"Iyaa!"
Rian karyawan lama sebelum Bree masuk. Dulu operator CofiGaming dan sempat resign. Masih ingin tinggal di provinsi ini memutuskan bekerja kembali di ALIF setelah kuliah selesai.
Bree duduk di kasur ruang depan lantai dua. Setelah menyesap kopi, cangkir diletakkan lantai dan mulai fokus di ponselnya. Jemari terhenti mengetikkan keluh kesah, pikiran Bree kembali teralihkan tentang Alby yang beberapa hari ini seperti beda sikap.
Ponselnya berdering dan muncul nama Levi.
"Ya, Lev?"
"Buka pintunya."
Bree menoleh ke slinding door, tidak mendengar ada orang di sana. Di balik tirai juga tidak tampak bayangan orang. Tadi Bree menguncinya dan tirai ditutup. Ternyata Levi baru muncul depan pintu.
"Bentar." Bree beranjak membuka pintu.
Levi mengakhiri panggilan. Memperhatikan Bree dengan seksama meski gadis itu langsung berlalu.
"Makan, Bri?" tanya Levi kepada Bree yang meraih cangkir di lantai dan hendak masuk kamar.
"Boleh aku rebahan bentar?" Bree ingin menutup pintu melihat Levi berdiri depan kamar.
"Makan dulu."
"Nanti, Lev. Maaf, aku tutup."
Levi memperhatikan pintu kamar yang ditutup Bree. Dirinya masih ingin bicara tapi urung melihat Bree murung.
Tok! Tok!
Hanya deheman Bree menanggapi ketukan.
"Belum makan lo, Bre?"
"Udah." Setidaknya Bree sudah sarapan.
"Kapan? Kamu dari pagi belum kelihatan makan."
Pasti Rian memberitahu.
"Kamu kalau mau makan udah aku panasin lauknya, Lev."
"Ya." Levi berlalu mengetahui akan percuma membujuk Bree.
Bree mengantuk. Rasanya mulai malas untuk bergerak. Kini merebahkan tubuh di kasur menarik selimut dan menindih kepala dengan guling. Posisi sembunyi yang nyaman dengan rebahan miring, tirai kamar belum sempat ditutup. Kepalanya pusing dan sedikit mual.
Samar-samar masih terdengar suara di ruang depan. Sepertinya Levi duduk di sofa. Selang menit suara Ilham terdengar. Ilham dan Levi membicarakan proyek. Ternyata suara Alby juga menyambung.
Mata Bree sejak tadi terpejam di balik guling. Suara pria di depan perlahan menghilang di pendengaran, pikiran Bree tertutup menyusul pejaman mata yang melekat terbawa lelap.
***
Bree terganggu getaran ponsel di lengan tangannya. Saat mata terbuka menemukan Alby berjongkok di hadapan.
"Hai, Bri."
Hanya senyuman kecil sebagai tanggapan sapa. Bree meraih ponselnya yang belum lama diletakkan lantai oleh Alby. Waktu menunjukkan jam 7, Bree sedikit bingung menemukan di luar jendela langit terang.
"Masih pusing?" Alby memperhatikan Bree duduk melihat arah jendela. "Bri tidur dari kemarin siang."
Oh Allah .... Bree mengusap muka hendak beranjak dari kasur.
"Bri libur dulu, kafe dipegang yang lainnya."
"Badan Bri panas." Alby mencoba sentuh kening Bree.
"Kelamaan badan nempel di kasur. Aku mau mandi, Bi." Genggaman tangan Alby erat.
"Bri ...."
Netra keduanya melekat. Bree tidak ingin beralih dari mata beriris coklat terang milik Alby. Bree menyadari ingin menjauhkan perasaan yang sudah jelas sebuah kesalahan.
"Makan."
Bree menoleh ke cangkir yang masih tergeletak di lantai, dekat ponsel. Kopinya kemarin belum terminum.
"Nggak usah diminum." Alby hendak menyingkirkan kopi dingin. Dia tahu Bree tidak akan peduli kopinya dari kapan pasti tetap diminum.
"Ayo keluar?" Alby membuka pintu lebar-lebar.
Kepala Bree pusing sekali setelah dipakai menoleh sana-sini. Malas beranjak namun dipaksakan. Alby memperhatikan Bree lesu.
"Basuh muka." Alby membiarkan Bree duluan keluar kamar.
Bree seperti tidak memiliki semangat bicara. Alby memberikan segelas air untuk Bree minum setelah keluar kamar mandi.
"Makasih, Bi." Bree menerimanya dan duduk di sofa.
Gelas diletakkan di meja. Alby duduk di sofa masih memperhatikan Bree.
"Kenapa?"
Bree hanya menggerakkan sedikit bibir menelan saliva. Tetap terkatup tanpa suara.
"Bri kenapa?"
Bree mengganti posisi duduk melipat kaki di atas sofa menghadap meja. Bree menoleh ke Alby yang menopang kepala dengan sebelah tangan di meja, menatap lekat dirinya.
"Kamu nggak ke pesantren, Bi?"
Hanya gelengan kepala menanggapi.
"Siapa yang gantiin kafe?"
"Ada. Istirahat, nggak perlu mikirin kafe dulu."
"Aku udah istirahat dari kemaren." Bree mengalihkan pandangan dari Alby.
"Minum dulu." Alby mencegah Bree mengambil rokok. Gelas air putih diberikan kepada Bree.
"Ya."
"Beli bubur?"
Bree gelengkan kepala meletakkan gelas setelah minum.
"Ada yang dipikirin?"
"Otakku belum mati."
Alby yakin ada yang mengganggu benak Bree dengan jawaban ketusnya. Keterdiaman Bree membuat Alby tidak ingin memaksakan obrolan. Alby ikut merokok.
"Sana, Bi, lakukan kegiatanmu."
Alis Alby berkerut menatap Bree.
__ADS_1
"Tumben pagi-pagi udah sampe sini, pasti ada kegiatan."
"Bri males ketemu aku?"
Pertanyaan yang membuat Bree ilfeel.
"Aku lagi nggak ada kegiatan. Bri keganggu aku di sini?"
"Ini bukan tempatku."
"Kamu kenapa?" Alby bingung dengan sikap Bree.
Tidak ada tanggapan dari Bree. Bree bingung apa yang terjadi, perubahan kebiasaan Alby sedangkan Ilham lama tidak muncul di CofiNet. Tampak jelas Sari membenci entah apa kesalahannya. Bree hanya tidak mengerti memulai dari mana menjelaskannya.
"Makan dulu biar ada tenaga."
"Ya."
"Aku juga mau makan."
"Buang aja lauknya aku panasin terakhir kemaren siang."
"Masih enak, tadi aku panasin."
Apa Alby sudah lama di sini? Tidak ada bau masakan saat keluar kamar juga di dapur.
"Semalem anak-anak di sini. Aku naik tapi Bree tidur."
Bree tidak terbangun sama sekali. Kebelet juga saat bangun tadi.
"Ayok makan? Bri belum makan dari kemarin."
"Aku nggak penting, nggak usah peduliin." Bree tersenyum sinis.
"Kamu kenapa?"
Bree kembali diam.
"Aku bikin salah?"
"Sana lah, Bi. Makan dulu katanya mau makan. Aku mau tidur."
"Bri!"
Bree urung beranjak setelah menyundut rokok. Tatapan Alby tegas.
"Ngomong kalau ada yang mau diomong."
"Kamu mau sampaikan apa? Ada info kafe?" Bree belum membuka ponselnya.
"Kan aku udah nggak dibutuhin."
"Kamu duduk!" Alby mencekal tangan Bree sebelum jadi pergi.
"Lepas!" Bree tidak berhasil menyingkirkan genggaman Alby.
"Duduk sini!"
Alby lepaskan tangan Bree setelah kembali duduk.
"Apa yang kamu pikirin?"
"Nggak penting."
"Makan! Kalau mau tidur setelah makan."
"Aku mau siap-siap ke kafe, ini bukan jadwal liburku."
"Bri pucet. Istirahat. Anak-anak udah atasi kafe."
"Aku nggak mau ngrepoti lainnya."
"Kalau kamu sakit juga lainnya yang repot."
"Aku mau kelarin jadwal. Bulan besok aku resign."
Alby diam menatap kesal Bree yang masuk kamar. Bree keluar sudah berganti pakaian.
"Nggak usah kerja dulu. Kamu udah dikasih waktu istirahat." Alby memperhatikan Bree di dapur membuka kulkas.
"Habiskan bulan ini aku jangan dikasih libur." Bree mengambil buah dan mencucinya di wastafel. "Aku butuh uang buat balik."
"Bri pengen pulang? Kapan, aku anter."
"Nggak usah repot, aku bukan siapa-siapa."
"Duduk dulu, Bri!"
Alby kesal Bree bicara tidak jelas dengan mondar-mandir dari kamar ke dapur ingin masuk kembali ke kamar.
"Aku kejar waktu."
"Bri!"
Bree muncul lagi dari kamar urung mengambil ponsel dan charger. Bentakan Alby menciutkan nyali.
"Duduk!"
"Hm?" Bree bertanya setelah duduk.
"Bulan besok aku selakan waktu anter kamu pulang."
"Jauh, Bi. Kegiatanmu banyak. Kasihan Rima pas mendadak pengen ketemu eh kamunya nggak di kota ini."
"Hubungan kami sempet cekcok."
Deg!
"Karna aku?"
"Karna mulut Sari."
"Menyangkut aku?"
"Cuma kebiasaan mulut Sari."
Bree masih menunggu cerita Alby.
"Waktu ramai-ramai mabar di kafe, Sari bikin story foto CCTV aku duduk berhadapan sama kamu."
Bree mengingat saat anak-anak CofiGaming datang dan minum. Alby duduk diantara Surya dan Ilham di depan Bree.
"Rima kirim pesan ke aku, tanya maksud story Sari. Dari tangkapan layar cuma ada aku sama kamu. Kayak disengaja, kelihatan sedikit lengan Surya, padahal kita ramai-ramai. Keterangannya cuma kata wuih sama emoji jempol."
Rima, Ilham dan Surya memang suka goda Bree dengan comblang antara Levi atau Alby. Hanya Alby yang lebih banyak waktu dan sering bersama Bree. Tapi bukankah Levi duduk di sebelah dirinya.
"Sari memang suka comblangin aku sama kamu atau Levi. Apa ada story lain selain fotoku sama kamu?"
"Waktu Rima buka lagi story udah dihapus Sari. Cuma foto kita yang ditunjukkin."
"Udah dijelasin ke Sari dan Rima?"
__ADS_1
Kemungkinan Sari keceplosan kemudian menghapus karena sadar ada kontak Rima tersimpan. Bree masih berpikir positif.
"Aku udah jelasin posisi di situ ramai."